Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Anak yang Dijadikan Tameng
Kendra dibawa ke Rumah Sakit Cakra Medika.
Nadira menolak menjadi dokter penanggung jawab karena konflik kepentingan, tapi ia tetap mendampingi dari jarak aman sampai dokter anak selesai memeriksa. Kendra hanya mengalami dehidrasi ringan, memar kecil di pergelangan tangan, dan syok. Secara fisik ia baik-baik saja.
Secara emosional, tidak ada yang bisa memastikan.
Laras duduk di luar ruang periksa, kedua tangannya menggenggam tas. Ia menangis tanpa suara. Setiap kali Arga lewat, ia mencoba memanggil, tapi Arga tidak berhenti.
Bima keluar dari lift bersama seorang penyidik Polri. Di tangannya ada ponsel pelaku dan salinan rekaman suara.
Arga berdiri di ujung koridor.
"Putar."
Bima melirik Nadira.
Nadira berdiri di dekat Maya. Ia bisa saja pergi. Ini urusan Laras, Arga, dan anak itu. Tapi Kendra tadi menggenggam tangannya dan meminta maaf. Nadira tidak bisa pergi begitu saja.
Bima memutar rekaman.
Suara perempuan terdengar samar, tapi cukup jelas.
Bawa anak itu. Jangan sakiti. Simpan di tempat yang sudah kukirim. Pastikan mudah ditemukan setelah aku telepon Arga. Aku cuma butuh dia panik.
Laras menegang.
Maya langsung berkata, "Itu suaranya."
Laras berdiri. "Bukan."
Arga menatapnya. "Laras."
"Itu bukan aku!"
Bima memutar bagian lain.
Kalau anak itu menangis, beri air. Jangan pukul. Aku ibunya, aku tahu dia takut gelap. Jangan matikan lampu.
Koridor sunyi.
Tidak ada yang bicara.
Wajah Laras putih seperti kertas.
"Aku..." Bibirnya bergetar. "Aku tidak bermaksud..."
Arga menutup mata.
Nadira merasakan perutnya mual.
Maya mengumpat pelan.
"Kamu menculik anakmu sendiri," kata Arga. Suaranya rendah, tapi lebih menakutkan daripada teriakan.
Laras menggeleng panik. "Tidak. Aku tidak menculik. Aku cuma... aku cuma ingin kamu sadar. Kamu mulai menjauh dari Kendra. Dia sedih. Aku pikir kalau dia hilang sebentar, kamu akan ingat betapa pentingnya dia."
"Dia anak kecil."
"Aku tidak menyakitinya!"
"Kamu membuatnya takut."
"Aku ibunya!"
Arga menatapnya tajam. "Justru karena kamu ibunya, kamu seharusnya menjadi tempat paling aman untuk dia."
Laras menangis keras. "Aku kehilangan semuanya, Mas! Bayu mati, kamu menjauh, Kendra mulai memanggilmu Om, semua karena Nadira!"
Nadira tidak bergerak.
Arga melangkah maju. "Jangan sebut nama Nadira untuk membenarkan kegilaanmu."
"Kamu membelanya lagi."
"Karena dia tidak salah."
"Dia mengambil kamu."
"Aku bukan milikmu."
Laras tertawa patah. "Tapi dulu kamu selalu datang. Setiap Kendra sakit, kamu datang. Setiap aku butuh bantuan, kamu datang. Kamu membuatku percaya aku masih punya keluarga."
"Aku salah karena tidak memberi batas. Tapi kamu salah karena mengubah bantuan menjadi hak."
Laras menutup wajahnya.
Pintu ruang periksa terbuka. Kendra keluar bersama dokter anak dan perawat. Anak itu melihat ibunya menangis, lalu melihat Arga.
"Mama?"
Laras langsung menghapus air mata. "Sayang..."
Kendra mundur satu langkah.
Gerakan kecil itu membuat Laras hancur.
"Kendra, sini sama Mama."
Kendra menatap Arga. "Om, Mama yang suruh orang bawa Kendra?"
Tidak ada orang dewasa yang siap menjawab pertanyaan itu.
Nadira berjongkok di dekat Kendra. "Kendra, sekarang yang penting Kendra aman. Orang dewasa akan bicara pelan-pelan."
"Tapi Mama bohong?"
Nadira menatap mata anak itu. Ia tidak bisa berbohong. Ia juga tidak ingin menghancurkan Laras di depan anaknya.
"Mama melakukan kesalahan besar."
Kendra menangis.
Tangis Kendra tidak keras. Justru itu yang membuat Nadira lebih sakit.
Anak itu menangis seperti takut suaranya akan membuat orang dewasa makin marah. Bahunya bergetar kecil, bibirnya ditekan rapat, dan air matanya jatuh tanpa ia seka.
Nadira pernah melihat tangis seperti itu di panti asuhan dulu. Anak-anak yang terlalu cepat belajar bahwa kesedihan mereka bisa merepotkan orang lain akan menangis diam-diam. Mereka tidak meminta dipeluk, tapi tubuh mereka menunggu seseorang cukup peka untuk mendekat.
Nadira mengulurkan tangan perlahan.
"Boleh Tante peluk?"
Kendra menatapnya, lalu mengangguk kecil.
Nadira memeluknya hati-hati. Anak itu langsung mencengkeram bajunya.
Di belakang mereka, Laras melihat pemandangan itu dengan wajah hancur.
Laras mendekat, tapi Kendra bersembunyi di belakang Nadira.
Itu membuat Laras seperti ditampar oleh seluruh dunia.
"Kendra..."
Nadira memejamkan mata sebentar. Ia tidak ingin berada di posisi ini. Ia bukan ibu Kendra. Ia bukan keluarga mereka. Tapi anak itu memilih bersembunyi di baliknya karena ia merasa lebih aman di sana.
Arga bicara pada penyidik dengan suara tertahan. "Proses sesuai hukum. Tapi pastikan pendamping anak hadir. Jangan periksa Kendra tanpa psikolog."
Penyidik mengangguk.
Laras menjerit. "Mas Arga, kamu mau memenjarakan aku?"
"Aku mau Kendra aman."
"Dia anakku!"
"Dan kamu membahayakan dia."
Laras berlutut. "Aku mohon. Jangan bawa aku. Aku tidak bisa jauh dari Kendra. Aku cuma panik. Aku cuma takut kamu pergi. Aku cuma..."
Maya tidak tahan. "Cukup. Semua orang punya takut, Bu Laras. Tidak semua orang menculik anak sendiri."
Laras menatap Maya dengan benci. "Kamu diam. Kamu tidak tahu rasanya jadi janda."
Maya hendak membalas, tapi Nadira menahan tangannya.
Nadira berdiri. "Bu Laras."
Laras menatapnya.
"Saya tidak tahu rasanya jadi janda. Saya juga tidak tahu rasanya membesarkan anak sendirian. Tapi saya tahu rasanya digunakan sebagai alasan oleh orang lain. Kendra tidak boleh menjadi alasan Anda."
Laras menangis lagi, tapi tidak ada yang mendekat.
Penyidik membawa Laras untuk dimintai keterangan. Karena kasus melibatkan anaknya sendiri, prosesnya akan hati-hati. Tapi ia tetap harus ikut.
Kendra menangis saat melihat ibunya pergi. Nadira menemaninya sampai psikolog anak rumah sakit datang.
Arga berdiri di luar ruangan, wajahnya seperti batu.
Maya menghampirinya.
"Aku mau marah sama kamu," katanya.
Arga menatapnya. "Silakan."
"Tapi kamu sudah cukup hancur."
"Belum cukup."
Maya menghela napas. "Jangan jadikan rasa bersalahmu beban baru buat Nadira."
"Aku tahu."
"Beneran tahu?"
"Aku sedang belajar."
Maya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. "Bagus. Karena Nadira bukan pusat rehabilitasi laki-laki bersalah."
Arga hampir tersenyum pahit. "Kalimatmu selalu tajam."
"Aku jurnalis."
Di dalam ruangan, Nadira duduk bersama Kendra. Anak itu memegang gelas air hangat.
"Tante Nadira marah sama Mama?"
Nadira berpikir sebentar.
"Tante marah pada perbuatannya."
"Tapi Mama sayang Kendra."
"Mungkin Mama sayang. Tapi orang yang sayang juga bisa melakukan kesalahan."
Kendra menunduk. "Kalau Mama salah, Kendra harus benci Mama?"
Pertanyaan itu membuat Nadira terdiam.
Ia teringat dirinya sendiri. Pada Arga. Pada Mama Prameswari yang belakangan sering membuatnya tertekan soal perceraian. Pada orang-orang yang menyayangi tapi juga melukai.
"Tidak harus," jawab Nadira pelan. "Tapi Kendra boleh sedih. Boleh marah. Boleh takut. Semua perasaan itu boleh."
Kendra menatapnya. "Tante juga?"
"Iya. Tante juga."
Anak itu menyandarkan kepala ke lengan Nadira.
Nadira membiarkannya.
Dari pintu kaca, Arga melihat semua itu.
Ada rasa yang sulit ia jelaskan. Nadira, perempuan yang paling disakiti oleh kekacauan ini, justru menjadi orang paling lembut pada anak yang pernah dipakai untuk menyakitinya.
Arga merasa malu pada dirinya sendiri.
Beberapa jam kemudian, Kendra dijemput oleh kakak Bayu dan istrinya. Mereka menangis melihat kondisi anak itu, lalu berterima kasih pada Nadira berkali-kali.
Nadira hanya berkata, "Jaga dia. Jangan biarkan orang dewasa berebut di depan dia."
Setelah mereka pergi, koridor akhirnya sepi.
Nadira duduk di kursi tunggu. Tubuhnya terlihat habis.
Arga mendekat perlahan.
"Aku antar pulang?"
Nadira menatapnya. "Mas masih bisa menyetir?"
"Bima yang menyetir."
"Bagus. Karena kalau Mas menyetir dalam kondisi seperti ini, aku yang akan melaporkan."
Arga mengangguk. "Baik, Dokter."
Nadira berdiri, tapi langkahnya goyah sedikit. Arga mengangkat tangan, berhenti sebelum menyentuh.
"Boleh?"
Nadira menatap tangannya.
Lalu mengangguk.
Arga memegang siku Nadira dengan hati-hati.
Tidak erat. Tidak menguasai.
Cukup untuk menjaga.
Maya melihat dari jauh dan tidak berkata apa-apa.
Untuk malam ini, itu sudah cukup.
Di belakang mereka, ruang pemeriksaan anak kembali sunyi. Boneka dinosaurus Kendra tertinggal di kursi, kecil dan miring, seperti saksi bisu bahwa orang dewasa bisa membuat medan perang dari hati seorang anak. Nadira melihatnya sekilas, lalu meminta perawat menyimpannya baik-baik sampai Kendra siap mengambilnya.