Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 Kecambah Pertama
Ayam jantan baru saja berkokok ketika Lian Yue membuka matanya. Rasa pusing semalam masih tersisa. Ia memijat pelipisnya beberapa kali sebelum perlahan duduk di atas dipan kayu.
"Jadi... itu harga yang harus kubayar."
Kemampuan yang dimilikinya memang luar biasa, tetapi bukan tanpa batas. Semakin lama ia menggunakannya, semakin lemah tubuhnya.
Baginya, itu justru kabar baik.
Setidaknya ia tidak akan tergoda mengandalkan kekuatan tersebut untuk menyelesaikan semua masalah.
Di dunia tempat ia berasal, orang yang terlalu bergantung pada satu hal biasanya menjadi orang pertama yang mati.
Lian Yue merapikan selimutnya, lalu keluar dari kamar. Seperti biasa, hal pertama yang di lihatnya adalah Han Zheng yang sudah lebih dulu bangun.
Pria itu sedang menimba air dari sumur. Melihat Lian Yue keluar, ia segera meletakkan ember di tanah.
"Wajahmu pucat. Apa kau kurang tidur?" tanyanya dengan sedikit cemas.
Lian Yue tersenyum tipis. "Mungkin hanya sedikit lelah."
Han Zheng mengernyit. "Kalau begitu hari ini jangan bekerja terlalu berat."
Lian Yue hanya mengangguk. Ucapan sederhana itu kembali membuatnya merasa hangat. Tidak ada yang pernah menyuruhnya beristirahat di kehidupan sebelumnya. Saat seseorang jatuh sakit, yang lain hanya akan meninggalkannya.
Di dunia yang dipenuhi kelaparan, belas kasihan adalah kemewahan.
Namun di rumah kecil ini. Seseorang justru mengkhawatirkan keadaannya.
.
.
Setelah sarapan, Han Zheng bersiap pergi ke ladang. Sebelum berangkat, ia mengambil cangkul tua.
"Hari ini aku ingin membersihkan bagian ladang sebelah timur."
Lian Yue menoleh. "Itu bagian yang paling tandus, bukan?"
Han Zheng mengangguk sambil tersenyum pahit. "Ayah selalu berkata, kalau bagian itu bisa ditanami, berarti seluruh ladang akan hidup."
"Tapi sampai sekarang..."
"...tidak ada yang berhasil."
Lian Yue terdiam. Bagian itulah yang semalam ia sentuh. Ia tidak mengatakan apa pun.
"Aku ikut."
Han Zheng tampak ragu. "Tubuhmu masih kurang sehat."
"Aku hanya ingin melihat."
Han Zheng melihat keteguhan di mata istrinya itu. Membuat pria itu akhirnya mengangguk. "Baik."
.
.
Ladang keluarga Han berada di pinggir desa. Tanahnya lebih tinggi dibanding ladang milik warga lain sehingga air lebih sulit mengalir ke sana. Itulah sebabnya hasil panen mereka selalu menjadi yang terburuk.
Begitu tiba, Han Zheng langsung berhenti melangkah.
"Kok bisa..."
Lian Yue ikut memandang ke depan. Di tengah hamparan tanaman jagung yang menguning, terdapat satu petak kecil yang tampak sedikit berbeda.
Daun-daunnya memang belum hijau sepenuhnya. Namun warnanya jelas lebih segar dibandingkan tanaman di sekitarnya. Tanah di bawahnya juga tampak lebih lembap.
Han Zheng berjongkok. Tangannya menyentuh permukaan tanah. "Semalam tidak hujan. Lalu kenapa bagian ini..."
Ia memungut segenggam tanah, butirannya lebih halus. Tidak sekering biasanya.
Lian Yue pura-pura ikut mengamati. "Mungkin karena embun."
Han Zheng menggeleng. "Embun tidak mungkin sebanyak ini."
Meski merasa aneh, ia tidak terus memikirkannya. Baginya, selama tanaman bisa tumbuh lebih baik, itu sudah cukup.
"Kalau benar tanah ini mulai pulih...mungkin kita masih punya harapan."
Mendengar kalimat itu, Lian Yue diam-diam menghela napas lega. Syukurlah.
Perubahannya tidak terlalu mencolok.
.
.
Menjelang siang, beberapa petani dari ladang sebelah mulai berdatangan. Mereka sedang beristirahat sambil membawa kendi air.
Seorang pria bertubuh gemuk melirik ke arah Han Zheng. "Itu ladangmu?"
Han Zheng mengangguk. Pria itu mengerutkan kening.
"Aneh. Bagian itu terlihat lebih hijau."
Petani lain ikut mendekat. "Benar juga. Padahal kemarin masih layu."
Han Zheng hanya mengangkat bahu. "Aku juga baru sadar pagi ini."
Pria gemuk itu mendengus pelan. "Keberuntunganmu lumayan."
Meski ucapannya terdengar biasa, sorot matanya menyimpan sedikit rasa iri. Lian Yue memperhatikan semuanya dalam diam.
Di dunia mana pun, saat seseorang mulai memiliki sesuatu yang lebih baik, akan selalu ada orang yang merasa tidak senang.
Ia mencatat wajah pria itu dalam ingatannya. Bukan untuk membalas apa pun. Melainkan agar lebih berhati-hati.
.
.
Sore harinya, Lian Yue pergi ke belakang rumah untuk mengambil daun-daun kering. Baru beberapa langkah, ia mendengar suara riuh dari atas pohon.
["Dia datang!"]
["Manusia aneh itu datang lagi!"]
Beberapa burung pipit segera beterbangan turun. Salah satunya membawa sebutir biji kecil di paruhnya.
["Ini untukmu."] Burung itu menjatuhkan biji tersebut di depan kaki Lian Yue.
Lian Yue lalu memungutnya. "Biji apa ini?"
["Buah liar."]
["Manis."]
["Kami suka."]
Lian Yue tersenyum. "Terima kasih."
Burung-burung itu langsung berkicau riuh.
["Dia mengucapkan terima kasih!"]
["Manusia lain biasanya cuma mengusir kita."]
["Aku suka manusia ini."]
Lian Yue terkekeh pelan. Hubungannya dengan hewan-hewan kecil itu semakin akrab. Meski demikian, ia tetap berhati-hati. Tak boleh ada orang yang melihatnya berbicara sendiri.
.
.
Menjelang malam, saat seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam, Tuan Han tiba-tiba berkata, "Besok kepala desa akan mengumpulkan seluruh warga."
Han Zheng mengangkat kepala. "Ada apa?"
"Tidak tahu. Katanya soal pajak musim gugur."
Mendengar kata "pajak", wajah Nyonya Han langsung pucat. "Tahun ini panen saja belum tentu berhasil..."
"Kalau pajaknya naik lagi..." Kalimat itu terputus.
Tak seorang pun sanggup melanjutkannya. Suasana meja makan mendadak sunyi. Lian Yue menatap mangkuk buburnya, ingatan tentang dunia asal kembali muncul.
Saat persediaan makanan menipis, yang paling menderita selalu rakyat kecil.
Ternyata... Dunia yang damai pun memiliki caranya sendiri untuk menyiksa orang miskin. Ia mengepalkan tangannya meremat sumpit makannya perlahan.
Kalau ingin keluarga Han hidup lebih baik, memperbaiki ladang saja tidak cukup. Mereka juga harus menghadapi orang-orang yang memegang kekuasaan.
Di luar rumah, angin malam kembali bertiup pelan. Seekor burung hantu bertengger di dahan pohon tua sambil mengamati rumah keluarga Han.
Matanya yang tajam mengarah ke desa. Lalu ia bergumam pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
["Musim gugur ini..."]
["...desa akan kembali gaduh."]
Lian Yue yang kebetulan mendengarnya perlahan mengangkat kepala. Jantungnya berdegup pelan. Entah mengapa...
Ia merasa pertemuan warga besok bukan sekadar soal pajak. Dan firasatnya jarang sekali meleset.
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang