Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahui Anakku Hera!
Jeslyn melangkah masuk tanpa rasa takut. Suara langkah sepatunya terdengar tegas di lantai marmer. Ia memberikan senyum tipis yang sopan, namun matanya memancarkan ketajaman yang membuat suhu ruangan mendadak turun beberapa derajat.
"Selamat siang semuanya," ujar Jeslyn tenang.
"Saya Jeslyn, wali dari Lucian. Maaf saya terlambat, saya rasa saya melewatkan banyak ocehan tidak bermutu di sini."
Meila, yang masih terbakar amarah, langsung berdiri berkacak pinggang.
"Oh, jadi kamu wali dari anak berandal ini? Baguslah! Dengar, ya, karena kamu yang bertanggung jawab, saya ingin anak ini dikeluarkan hari ini juga! Dia sudah membuat Marco saya terluka parah!"
Jeslyn menatap Meila dari atas ke bawah, tatapannya meremehkan.
"Ibu Marco, saya rasa definisi berandal itu harus Ibu pelajari lagi. Sebelum menuntut sekolah mengeluarkan anak saya, apakah Ibu sudah menanyakan pada anak Ibu, siapa yang memulai perkelahian ini?"
"Apa maksudmu?! Marco anak baik! Dia tidak mungkin memukul duluan kalau bukan anak buangan ini yang memprovokasinya! Lagipula, siapa yang peduli? Orang tua anak ini saja tidak tahu di mana, sudah dibuang oleh keluarganya, masih saja diberi sekolah di sini!" Meila tertawa sinis, diikuti tawa dua ibu lainnya.
Mendengar kata anak buangan, aura Jeslyn berubah. Wajahnya yang tadi tenang seketika menjadi dingin, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang berbahaya.
"Anak buangan?" Jeslyn melangkah maju, berdiri tepat di depan Meila.
"Jaga mulut Ibu. Ibu tidak tahu apa-apa tentang kehidupan anak saya. Kalau Ibu tidak bisa mendidik anak Ibu untuk tidak menjadi penindas, setidaknya belajarlah untuk tidak mempermalukan diri sendiri dengan mulut sampah seperti itu."
"Kamu! Berani-beraninya kamu—"
"Ya, saya berani!" potong Jeslyn tajam.
"Saya wali sah Lucian, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun, apalagi orang tua yang tidak becus mendidik anak, menghina putra saya di depan mata saya!"
Ruangan itu mendadak hening. Pihak sekolah, termasuk guru BK yang tadinya hanya terdiam, tampak terkejut melihat Jeslyn yang mungkin dimata Lucian biasanya dikenal sebagai wanita boros dan acuh, kini berdiri dengan ketegasan yang mengintimidasi.
Jeslyn kemudian mengabaikan ketiga ibu-ibu itu dan beralih ke arah Lucian. Matanya melunak saat melihat wajah lebam remaja itu. Hati Jeslyn terasa dicubit. Ia berjalan mendekat, berjongkok sedikit di depan Lucian agar matanya sejajar.
"Lucian, lihat Mami," bisik Jeslyn lembut.
Lucian awalnya membuang muka, masih terjebak dalam rasa malu dan harga dirinya yang terluka. Namun, tangan Jeslyn dengan lembut menyentuh dagunya, memaksa Lucian menatapnya. Jeslyn mengusap sudut bibir Lucian yang terluka dengan ibu jarinya, wajahnya tampak kesal sekaligus sedih.
"Mami tidak suka ada luka di sini," gumam Jeslyn dengan nada yang terdengar tulus, bukan akting.
"Wajah menawan kamu jadi rusak gara-gara orang-orang yang tidak tahu diri ini."
Lucian mematung. Tatapan mata biru itu bergetar, menatap Jeslyn dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa terkejut, bingung, sekaligus perasaan hangat yang aneh.
Jeslyn berdiri tegak kembali, menoleh ke arah guru BK dengan tatapan tajam.
"Bapak, saya minta sekolah mengusut tuntas masalah ini sekarang juga. CCTV di koridor dan kamar mandi harus diperiksa. Saya tidak terima putra saya disudutkan sendirian padahal dia jelas-jelas dikeroyok oleh tiga orang."
"Nyonya, tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi!" potong Jeslyn tegas.
"Jika sekolah tidak mampu bersikap adil, saya tidak keberatan memindahkan Lucian ke sekolah lain dan menyeret masalah ini ke jalur hukum atas tuduhan bullying dan penganiayaan. Saya rasa pihak yayasan akan lebih tertarik mendengar laporan dari pengacara saya daripada mendengar rengekan ibu-ibu ini."
Ketiga ibu-ibu itu ternganga. Mereka tidak menyangka wanita berwajah menggemaskan ini bisa mengeluarkan ancaman yang begitu mengerikan.
Guru BK itu berkeringat dingin, segera mengangguk. "Ba-baik, Nyonya Jeslyn. Kami akan segera memeriksanya."
"Bagus," kata Jeslyn. Ia menoleh ke arah Lucian, Marco, dan kedua anteknya.
"Kalian semua, keluar. Biarkan orang tua yang menyelesaikan ini."
Lucian berdiri, melirik Jeslyn sebentar sebelum melangkah keluar dengan bahu yang kini terasa sedikit lebih ringan. Di belakangnya, Marco dan antek-anteknya mengikuti dengan wajah pucat pasi, tak berani menoleh sedikit pun.
Jeslyn kembali menatap tiga ibu di hadapannya dengan tatapan menantang.
"Sekarang, mari kita bicara tentang bagaimana cara mendidik anak yang benar, bukan hanya sekadar memanjakannya dengan harta."
Jeslyn duduk di kursi dengan anggun, siap untuk perang yang sesungguhnya. Ia baru saja membuktikan satu hal, siapa pun yang berani mengusik Lucian di bawah pengawasannya, akan berhadapan dengan sisi paling bar-bar dari Jeslyn yang selama ini tidak pernah mereka bayangkan.
Setelah perdebatan di ruangan dingin itu Jeslyn melangkah keluar dari ruang BK dengan dagu terangkat. Di belakangnya, tiga ibu-ibu tadi Meila, serta dua ibunya Fabian dan Valery mengikuti dengan wajah pucat pasi. Ketegangan di dalam ruangan tadi baru saja mencapai puncaknya setelah rekaman CCTV diputar. Terbukti jelas Lucian hanya membela diri dari pengeroyokan brutal yang dipimpin Marco.
"Jangan pikir kalian bisa lepas begitu saja," celetuk Jeslyn tanpa menoleh, suaranya dingin dan tajam.
Meila, yang tadinya masih sempat berusaha memasang topeng sombong, mendesis, "Jangan sombong, kamu! Aku punya koneksi di hukum, jangan pikir kekayaan keluarga kalian bisa menekan kami!"
Jeslyn berhenti melangkah, lalu berbalik perlahan. Senyum remeh tersungging di bibirnya.
"Oh, keluarga kaya? Yang mana nih? Yang perusahaan propertinya lagi di ambang kebangkrutan atau yang suaminya baru saja ketahuan menggelapkan pajak?"
Ketiga ibu itu ternganga. Jeslyn mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan satu foto keluarga: Keith berdiri gagah dengan Lucian yang masih remaja di sampingnya, di sebuah acara kenegaraan yang prestisius.
"Kenalkan, ini suamiku, Keith Emmanuel Zephyr. Putra bungsu keluarga konglomerat yang menaungi hampir 60% proyek di kota ini," ujar Jeslyn santai.
"Kalian yakin mau melawan keluarga Zephyr? Atau mau saya telepon suami saya sekarang untuk memutus semua kerjasama bisnis dengan perusahaan suami kalian dalam lima menit?"
Suasana hening. Wajah mereka yang tadi sombong seketika berubah jadi abu-abu. Mereka tidak tahu Lucian adalah putra dari Keith Emmanuel Zephyr pria yang paling berpengaruh di bisnis kota ini. Fakta bahwa mereka selama ini menindas pewaris tunggal keluarga besar itu membuat lutut mereka lemas.
"Kami... kami tidak tahu..." suara Meila bergetar.
"Makanya, punya mulut jangan cuma buat makan gorengan dan gibah," potong Jeslyn tajam.
"Anak kalian pantas diskors, dan saya akan pastikan catatan kriminal ini ada di rapor mereka. Sekarang, pergi dari hadapan saya sebelum saya berubah pikiran dan benar-benar menghancurkan bisnis keluarga kalian!"
Ketiganya lari terbirit-birit, meninggalkan Jeslyn yang menghela napas panjang sambil mengelus perut buncitnya. "Dasar wanita-wanita drama."
Jeslyn kemudian menoleh ke koridor, matanya menyapu area sekolah. Tak jauh dari sana, ia melihat sosok Lucian yang sedang berdiri di dekat pohon besar, bersama Daniel dan seorang gadis berambut panjang.
Mata Jeslyn menyipit. Hera? Nama itu memicu alarm bahaya di otaknya. Hera... gadis yang jadi penyebab Lucian mati di gang sempit dalam novel itu?.
Dari kejauhan, Hera tampak terisak, memegang tangan Lucian dengan mimik wajah yang sangat kasihan.
"Lucian, aku... aku menyesal banget. Gara-gara Marco cemburu melihat kita bicara, kamu jadi harus babak belur begini," isak Hera.
Lucian hanya diam, wajahnya datar meski ada sedikit keraguan di matanya saat Hera menyentuh lukanya.
Jeslyn merasa darahnya mendidih. Tanpa aba-aba, ia berjalan cepat dengan langkah lebar yang mengintimidasi.
"Woi! Lucian!"
Lucian menoleh, wajahnya yang bonyok menegang.
Jeslyn tidak memedulikan tatapan heran Daniel. Ia langsung menarik kerah baju Lucian, menjauhkannya dari Hera.
"Sudah selesai drama melow-nya? Kita pulang sekarang!"
Hera terlonjak kaget, matanya yang berair menatap Jeslyn dengan ketakutan. "T-tante... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak menyangka Marco akan se-nekat itu..."
Jeslyn melirik Hera dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh selidik. "Minta maaf itu gampang, Dek. Tapi lihat nih, anak saya bonyok gara-gara kamu sana-sini buat nyari perhatian. Kamu nggak capek?"
"Apa yang kamu?" tanya Lucian, alisnya bertaut bingung.
"Mami bilang apa, Lucian? Kamu jangan terlalu bodoh! Cewek muka dua kayak gini itu bukan buat dilindungi, tapi buat dihindari!" sahut Jeslyn ketus, tangannya menarik lengan Lucian dengan kuat.
Daniel, yang sejak tadi ternganga, akhirnya bersuara, "Nyonya, tunggu! Hera itu cuma korban juga, dia nggak tahu kalau Marco bakal nekat—"
"Korban? Korban apa?" Jeslyn memotong dengan nada sarkastik.
"Korbannya adalah Lucian yang babak belur, sementara si korban yang asli ini cuma nangis-nangis cari simpati. Daniel, kamu juga, jangan mau disetir sama cewek yang punya hobi gonta-ganti cowok buat jadi koleksi!"
Hera menangis lebih kencang, "Tante, saya benar-benar tidak bermaksud seperti itu! Saya sangat peduli pada Lucian!"
"Peduli? Kalau peduli, kamu nggak bakal bikin dia jadi target sasaran orang gila kayak Marco," balas Jeslyn dingin. Ia menatap Lucian dengan sorot mata yang menuntut.
"Dan kamu, Lucian. Mami bakal hukum kamu di rumah nanti karena ceroboh banget jadi orang sampai bisa dikeroyok begini. Sekarang, ayo pulang!"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi!" Jeslyn menarik Lucian dengan paksa menuju parkiran.
"Nyonya Jeslyn, tunggu sebentar!" Hera mencoba mengejar, tapi tatapan tajam Jeslyn membuatnya terhenti di tempat.
"Jangan berani-berani mendekati Lucian lagi, Hera. Kalau sampai aku lihat kamu nangis di depan dia lagi, aku nggak akan segan-segan buat bikin hidup kamu lebih ribet dari sekarang. Paham?"
Jeslyn membawa Lucian pergi, meninggalkan Hera yang mematung dengan air mata yang mulai kering, dan Daniel yang masih bingung dengan perubahan drastis ibu tiri Lucian yang kini berubah menjadi sosok pelindung paling sangar yang pernah ia temui.
Di dalam mobil, suasana sangat hening. Lucian menatap keluar jendela dengan tangan yang masih gemetar karena amarah yang dipendam, sementara Jeslyn masih terengah-engah karena emosi yang meluap.
"Lucian," panggil Jeslyn pelan, suaranya sedikit melunak tapi tetap tegas.
"Dunia ini luas, jangan habiskan waktumu buat cewek-cewek yang cuma tahu caranya menangis. Mami di sini bukan buat jadi pajangan, Mami bakal jadi tameng kamu. Tapi tolong, jangan bikin Mami jantungan dengan cara terluka begini lagi. Kamu ngerti?"
Lucian menoleh, menatap mata Jeslyn yang kini tampak tulus namun lelah. Untuk pertama kalinya, Lucian mengangguk perlahan.
"Aku mengerti."
"Bagus," Jeslyn tersenyum miring, sisi bar-barnya kembali muncul.
"Sekarang, kita mampir ke minimarket buat beli es krim. Kamu harus makan es krim biar luka di mulutmu itu sedikit reda, lalu sesampainya di rumah, bersiaplah, karena Mami bakal kasih ceramah panjang lebar!"
Lucian hanya bisa memutar bola mata, namun entah kenapa, rasa sesak di dadanya perlahan memudar. Ternyata, memiliki seseorang yang cerewet dan bar-bar untuk membelanya, jauh lebih baik daripada sendirian menghadapi dunia yang kejam.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.