Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Modus
Narendra menghabiskan wedang jahe sampai tetes terakhir.
"Saya biasanya sendirian di sini," katanya sambil meletakkan mangkuk. "Kalau sakit, ke dokter juga sendiri."
Sekar meliriknya. "Mas tidak tinggal dengan keluarga?"
"Tidak. Belum ada istri juga."
Sinyal itu begitu terang hingga Narendra sendiri merasa canggung. Sekar melihat jari manisnya yang bersih, lalu teringat peringatan Nindy tentang laki-laki mapan yang pura-pura lajang.
"Semoga cepat sembuh," jawabnya aman.
Narendra tidak mendapat respons yang diharapkan. Ia berdiri untuk pulang. Di depan pintu, ia mengulurkan tangan.
"Mulai sekarang kita tetangga."
Sekar ragu sesaat sebelum menyambut. Telapak tangan Narendra hangat, genggamannya mantap tetapi singkat.
"Tetangga," ulang Sekar.
Narendra masuk ke unit seberang, menutup pintu, lalu menyandarkan punggung di sana. Senyum yang sejak tadi ditahan akhirnya muncul.
***
Sabtu siang, Nindy datang membawa skincare, cokelat, dan dua kantong buah.
"Rumah baru harus diisi makanan dan racun konsumtif," katanya.
Sekar tertawa dan memeluknya. Mereka berkeliling unit. Nindy memeriksa kunci jendela, tombol darurat, dan lorong sebelum akhirnya mengakui tempat itu sangat aman.
"Rp3,5 juta? Ini bukan murah lagi. Ini mukjizat properti."
"Eyang kenal Bu Laksmi."
"Tetap saja. Unit depan isinya siapa?"
"Cucu Eyang. Mas Narendra."
Nindy berhenti menyusun buah. "Pelanggan kebaya itu?"
Sekar mengangguk.
"Yang ketemu kamu di pameran?"
"Iya."
"Yang kamu bilang pasti sudah nikah?"
"Ternyata belum. Katanya."
Nindy mendekat dengan mata menyipit. "Kar, ini terlalu kebetulan."
Sekar menceritakan wedang jahe dan cara Narendra menekankan bahwa ia hidup sendiri. Nindy langsung menunjuk pintu seberang.
"Modus. Seratus persen modus."
"Dia sakit beneran."
"Sakit dan modus bisa terjadi bersamaan. Hati-hati. Cowok mapan yang pura-pura single paling bahaya."
Sekar teringat tidak ada bekas cincin di tangan Narendra. Namun ketenangan dan barang-barang yang dikenakannya menunjukkan dunia mereka berbeda.
"Aku cuma tetangga."
"Bagus. Tetap begitu sampai identitasnya jelas."
Nindy lalu membuka mesin pencari dan mengetik nama Narendra. Hasilnya terlalu banyak, sebagian hanya nama depan tanpa foto. Sekar tidak tahu nama keluarga pria itu, perusahaan tempatnya bekerja, atau bahkan unit tersebut benar-benar rumah singgahnya.
"Lihat? Kamu nggak tahu apa-apa," kata Nindy. "Jangan langsung percaya karena dia dekat sama Eyang."
"Aku juga belum bilang percaya."
"Tapi wajahmu berubah kalau menyebut namanya."
Sekar melempar bantal sofa. Nindy menangkapnya sambil tertawa.
Mereka kemudian memasang tirai tipis di ruang kerja, menyusun buah ke kulkas, dan menempel daftar nomor darurat di pintu. Nindy juga membawa satu kamera kecil untuk menghadap pintu masuk.
"Hadiah pindahan," katanya. "Kalau ada orang datang tanpa izin, kamu bisa lihat dari ponsel."
Sekar memeluknya sekali lagi. Dukungan Nindy selalu berbentuk sesuatu yang bisa dipakai, bukan sekadar kalimat manis.
Nindy pulang sore setelah dipanggil ibunya. Sebelum lift menutup, ia masih mengingatkan, "Jangan lengah sama tetangga gantengmu."
***
Di unit seberang, Narendra menelepon Reno.
"Ada teman saya suka perempuan yang tinggal di seberang unitnya," katanya.
Reno diam dua detik. "Teman kamu namanya Narendra?"
"Bukan."
"Baik. Teman fiktifmu sudah kenal berapa lama?"
"Beberapa minggu."
"Sudah ajak makan?"
"Belum."
"Kirim bunga?"
"Belum."
"Tapi sudah tinggal seberang?"
Narendra melihat jendela Sekar yang terang. "Unitnya milik Bagas. Eyang yang menyewakan."
Reno tertawa keras. "Ndra, orang naksir baru kirim bunga. Kamu naksir langsung beliin gedungnya."
"Aku tidak beli gedung untuk dia."
"Belum."
Narendra memijat pelipis. "Apa yang harus dilakukan?"
Tawa Reno berhenti. Ia tampak terkejut Narendra benar-benar meminta saran.
"Cari alasan wajar untuk sering bertemu. Jangan pamer uang. Jangan menyuruh Fikri mengatur semuanya. Dan dengarkan dia."
Narendra duduk di sofa. "Alasan wajar seperti apa?"
"Makan. Belanja. Bantu sesuatu di rumah. Hal biasa."
"Aku bisa mengirim makanan."
"Bukan kirim makanan. Makan bersama. Dan jangan pesan satu restoran penuh cuma supaya sepi."
Narendra mengerutkan kening. "Kenapa tidak?"
"Karena itu menakutkan bagi orang yang baru kenal. Kamu harus menunjukkan bahwa kamu bisa hadir, bukan menunjukkan kamu bisa membeli semuanya."
Nasihat itu lebih sulit daripada menyusun negosiasi. Narendra terbiasa menyelesaikan masalah dengan sumber daya, akses, dan keputusan cepat. Sekar justru membutuhkan hal-hal yang tidak bisa diperintahkan: rasa aman, waktu, dan kejujuran.
"Dia baru pindah dari keluarganya," kata Narendra.
"Berarti jangan menekan. Tawarkan bantuan, biarkan dia memilih."
"Kalau dia menolak?"
"Terima. Lalu tawarkan lagi di kesempatan berbeda, bukan lima menit kemudian."
Narendra menyimpan setiap kalimat seperti mencatat poin rapat. Reno kembali tertawa ketika menyadarinya.
"Satu lagi," ujar Reno. "Jangan pakai istilah `ada teman saya`. Kamu buruk sekali berbohong."
"Hanya itu?"
"Untuk orang normal, iya. Untukmu, mungkin butuh panduan tertulis."
Narendra menutup telepon setelah Reno kembali tertawa. Ia berdiri di depan jendela. Tepat di seberang celah antarbangunan, lampu ruang tamu Sekar menyala hangat.
Untuk pertama kalinya, pria yang selalu punya strategi lima tahun ke depan tidak tahu apa yang harus dilakukan besok pagi.
Ia membuka percakapan Sekar, mengetik pertanyaan apakah ia sudah makan, lalu menghapusnya. Mengetik tawaran mengirim sarapan, menghapus lagi. Pada akhirnya Narendra hanya meletakkan ponsel dan menunggu, sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan dalam urusan apa pun.
Menunggu satu perempuan membuka pintunya lagi ternyata jauh lebih menegangkan daripada menunggu keputusan bisnis bernilai triliunan.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰