Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Badai Jodoh Datang Melanda
Iring-iringan dua puluh truk tronton yang parkir berjejer berhasil membuat kemacetan yang panjang di wilayah lintas barat Sumatera.
Tidak hanya itu saja, di sepanjang jalan Tarusan, kegemparan yang luar biasa pun terjadi di kalangan etek-etek (tante/bibi) yang tiba-tiba merasa begitu bangga pada anak bujang asli kampung ini yang berhasil mengalahkan retail besar di pusat kota.
Warga sekampung, yang mayoritas merupakan dunsanak satu suku yang menganut sistem matrilineal, langsung berkumpul di sekitar ruko dengan mata berbinar-binar.
Bagi emak-emak di sana, Budiman bukan lagi sekadar pemilik kedai biasa. Dia bagai gadiang sanyao (gading senyawa) yang artinya putra pribumi yang sangat sukses. Dia merupakan aset berharga asli kampung halaman yang haram hukumnya jika sampai lepas ke tangan wanita luar!
Di tengah kesibukan Anto, Roni, dan para pekerja yang kewalahan memindahkan ribuan dus mi instan serta minyak goreng murah dari truk, pelataran parkir Budiman Mart mendadak diisi oleh kaum ibu yang menarik gadis-gadis muda bersama mereka.
"Diman! Oii Diman! Coba kau tengok dulu ke luar sebentar," panggil Etek Nur, salah satu tetangga terdekat, sambil menarik seorang gadis muda yang tampak malu-malu.
"Ini ada keponakan dari keluarga suami Etek. Dia baru pulang merantau dari Pekanbaru. Namanya Mimi, dia pandai memasak, taat beribadah, pandai mengaji, cocok sekali jadi induak beras di rumah kau!"
Belum sempat Budiman menjawab, Etek Suni dari suku lain langsung menyenggol lengan Etek Nur dengan sengit.
"Eeei, Nur! Antri lah dulu! Uni yang duluan sampai," decaknya. "Diman, kau tengok pula kemenakan awak ini. Kulitnya putih bersih, lulusan sarjana akuntansi, pas sekali untuk bantu kau dalam menghitung uang Budiman Mart yang tak habis-habis itu! Namanya Mila," terangnya melirik gadis yang tampak percaya diri di sampingnya.
"Eeeii ... Jangan Diman! Mila itu perawatannya mahal kali. Mending sama anak Uni," timpal Uni Linda yang kena skakmat oleh pengacara kemarin.
"Vini bisa bantu memviralkan kedai kamu ini. Jadi, karena dia lah warung kamu jadi terkenal, Diman. Kalau bukan karena dia, tak akan ada yang tau kamu jual mie rasa aneh itu," cecar Uni Linda tak mau kalah.
'Kalau Budiman jadi menantuku, aku bisa meminta kembali uang dua puluh juta dulu sama dia. Terus, nanti gak perlu lagi beli sembako. Bisa dikasih gratis tiap hari,' batinnya penuh intrik.
Budiman yang berdiri di ambang pintu ruko hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rambut yang belum sempat dipotong, kini semakin acak-acakan karena stres yang semakin maksimal.
Jiwanya yang baru saja remuk karena gagal miskin, kini harus menghadapi gempuran emak-emak yang berebut ingin menjadikannya menantu agar keluarga mereka ikut kelimpahan rezeki.
"Etek-etek sekalian ... Ambo mohon maaf banget. Sampai saat ini, ambo belum terpikir untuk menikah. Uang Ambo ..." Kalimat Budiman sedikit terjeda. Setelah skian detik berpikir, akhirnya ...
" ... ah, sudahlah," gumam Budiman dengan suara parau penuh keputusasaan.
Dia ingin sekali mengatakan sedang pusing karena kebanyakan uang. Namun, jika hal itu ia sampaikan, pasti akan membuat para Etek-Etek semakin agresif menariknya menjadi menantu di keluarga mereka.
Kerusuhan antar-suku di desa kecil yang memperebutkan si anak bujang pribumi nan kaya itu semakin memanas. Sampai memicu perdebatan riuh khas warung di nagari ini di pelataran parkir Budiman Mart.
Di saat suasana memanas hingga mencapai titik didih, suara deru mesin mobil-mobil mewah mendadak menghentikan kerusuhan antar emak-emak tersebut.
Tiga mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan toko, membelah kerumunan warga. Pintu mobil pun terbuka, dan detik itu pula membuat seluruh orang-orang yang memenuhi pelataran Budiman Mart menjadi senyap dengan seketika.
Vilmey turun dari mobil. Ia tampil dengan sangat memukau, anggun, dan luar biasa berkelas dalam balutan gaun Cheongsam modern berwarna merah menyala dengan sulaman benang emas yang membentuk motif burung phoeniks.
Di belakangnya, berbaris beberapa pria dan wanita paruh baya berwajah oriental dengan pakaian formal yang memancarkan aura konglomerat, didampingi oleh dua orang pria berkemeja necis yang membawa koper hitam, yang merupakan tim pengacara keluarga mereka.
"Saudara Budiman ... Ehem ... Bolehkah aku ikut memanggilmu dengan Uda Budiman?" tanya Vilmey dengan suara lembut.
Budiman semakin mengerutkan keningnya. Karena dari gelagat gadis kaya itu, Budiman seakan sadar bahwa gadis bermata sipit itu memiliki rasa untuknya. Semua usaha yang dilakukan membantu diam-diam itu, tentu saja bisa ditebak dengan mudah.
Sedangkan dari pasukan emak-emak tetangga, mata mereka langsung melotot. Etek Nur menelan ludah, sementara Etek Suni langsung berbisik dengan heboh.
"Onde mande ... siapa pula gadis Tionghoa mentereng ini? Masa pakai baju merah menyala di siang panas terik begini?"
Kedatangan rombongan Vilmey langsung memicu benturan budaya yang luar biasa epik. Hukum adat matrilineal bertemu dengan tradisi pelamaran Tionghoa peranakan kelas atas.
"Tunggu dulu, Piak! Kau itu siapa? Mau apa ke sini?" interogasi Etek Nur, langsung maju memasang badan. (Piak \= panggilan untuk anak perempuan yang lebih muda \= Upiak/Upik)
Vilmey menatap mereka dengan tenang. "Rencananya, kami ingin menyatukan aliansi kami agar tak ada lagi yang bisa mematahkan usaha yang kami rintis bersama," terang Vilmey tanpa ragu dan malu.
Para emak-emak langsung berbisik heran dengan pernyataan yang disampaikan Vilmey. Lalu, muncul gadis berkulit putih bersih bernama Mila.
"Cece? Apa ini maksudnya kamu ingin mengajak Uda Diman kami ini menikah denganmu?"
Lalu mata ibu-ibu di sana langsung menatap Vilmey dengan tajam.
"Di kampung kami ini, kalau mau mengambil menantu bujang, ada tata kramanya! Kami dari pihak perempuan yang akan mencarikan dunsanak yang sepadan untuk putra daerah kami!"
Salah satu perwakilan keluarga Vilmey, seorang pria tua yang mungki adalah paman tertuanya, maju dengan dagu terangkat, memegang buku silsilah keluarga dan catatan fengshui.
"Kami datang ke sini bukan untuk berdebat soal adat kampung," ujar sang Paman dengan logat Tionghoa-Padang yang kental.
"Kami datang membawa niat baik dan hitungan Bazi (fengshui kelahiran). Menurut hitungan kami, shio Budiman dan Vilmey ini adalah kombinasi naga dan burung phoeniks. Kalau mereka menikah, Budiman Mart bukan hanya menguasai Sumatera Barat, tapi bisa go international sampai ke Amerika sana! Dalam koper ini ada proposal aliansi bisnis dan mahar yang akan kami berikan kepada Nak Budiman!"
"Eh, tidak bisa begitu! Di Minangkabau ini, sistemnya matrilineal! Suku anak harus jelas, garis keturunan dari ibu! Tidak bisa asal hitung naga-naga saja!" sahut Etek Suni tidak mau kalah, memicu sorakan setuju dari warga lokal yang mulai merapatkan barisan.
Sementara itu, Budiman semakin mengacak rambutnya yang tak lagi berbentuk, mana belum mandi, baju kaos putih longgar yang kucel, wajah tampak aur-auran, masa menjadi rebutan?
[ bersambung ]