Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan
Hana menatap putranya lama. Pertanyaan El bukan hanya sekadar rasa ingin tahu. Dari tatapan matanya, Hana tahu ada sesuatu yang membuat anaknya terluka. Ada sesuatu yang membuat El melihat Chelsea dengan cara yang berbeda.
Padahal selama ini, El adalah orang yang paling Hana percaya untuk menjaga Chelsea. Gadis kecil yang dulu datang ke rumah mereka dengan tubuh mungil dan mata penuh ketakutan. Gadis kecil yang bahkan tidak tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga.
“El …,” ucap Hana dengan suara yang terdengar pelan.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Itu tak seperti yang kamu dengar dan bayangkan.”
El terdiam. Matanya tetap menatap ibunya.
“Mommy tahu kamu mungkin terkejut. Tapi cerita sebenarnya tidak seperti itu.”
Hana menunduk sebentar, mencoba memilih kata-kata yang tepat. “Ibunya Chelsea menikah setelah Mommy berpisah dengan suami pertama Mommy.”
Kalimat itu membuat El sedikit terdiam. “Tapi .…” El mengerutkan kening. “Tapi ibunya yang menyebabkan Mommy berpisah dengan suami pertama, kan?”
Nada suara El terdengar penuh kekecewaan. Hana terdiam. Ada rasa sakit lama yang sebenarnya sudah ia kubur bertahun-tahun lalu. Bukan karena ia melupakan, tapi karena ia memilih untuk berdamai.
“Sudahlah, El.” Hana tersenyum kecil, meski matanya terlihat sedih. “Yang penting sekarang Mommy akhirnya mendapatkan suami yang baik seperti Daddy kamu.”
Tatapan El berubah. Ia tidak menyangka ibunya bisa mengatakan itu dengan begitu tenang.
“Mom .…” Suara El mulai meninggi. “Terbuat dari apa hati Mommy?”
Hana langsung terdiam. Ia tak pernah mendengar El berkata dengan nada tinggi.
“Kenapa Mommy mau menjaga dan merawat anak dari wanita yang pernah merenggut kebahagiaan Mommy?”
Suara El terdengar bergetar. Bukan hanya marah, tapi juga merasa tidak terima. Ia merasa selama ini ibunya terlalu baik. Terlalu mudah memaafkan.
“Wanita itu mengambil sesuatu yang seharusnya milik Mommy. Tapi kenapa setelah itu Mommy malah membesarkan anaknya seperti anak sendiri?”
“El.”
Arsaka yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Nada suaranya masih tenang, tapi ada ketegasan di dalamnya.
“Itu bukan salah Chelsea.”
El langsung menatap ayahnya. “Dad, aku tahu Chelsea tidak memilih dilahirkan seperti itu.”
“Tapi tetap saja .…” El berhenti sebentar. Tatapannya berubah. Ia lalu melanjutkan ucapannya dengan suara pelan tapi tegas. “Dia anak seorang pelakor.”
Ruangan itu langsung terasa dingin. Dan kalimat berikutnya yang keluar dari mulut El membuat suasana semakin buruk.
“Dan mungkin saja dia akan menuruni sifat ibunya.”
Wajah Arsaka langsung berubah. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Bukan karena El membicarakan masa lalu Hana. Tapi karena anak yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri baru saja dihina oleh kakaknya.
“El.”
Suara Arsaka terdengar lebih berat. Namun sebelum emosinya benar-benar naik, Hana langsung berdiri.
“Tenang, Mas.” Hana menyentuh lengan suaminya.
“El lagi emosi.” Ia menatap Arsaka dengan lembut. “Dia mengira Mommy masih terluka. Dia bermaksud membela Mommy, walaupun sebenarnya itu tidak perlu.”
Perlahan Arsaka mengembuskan napas. Ia kembali duduk. Sementara El masih berdiri dengan wajah penuh pertanyaan.
Hana berjalan mendekati putranya. “El .…”
Ia menatap anaknya dengan penuh kasih. “Dengar Mommy.”
El masih diam.
“Sikap dan sifat seseorang itu tidak hanya ditentukan oleh siapa orang tuanya.”
Hana berhenti tepat di depan El. “Tapi dari lingkungan tempat dia tumbuh.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Chelsea dibesarkan dengan cinta. Dia dibesarkan dengan perhatian. Dia tahu bagaimana rasanya dicintai.”
Hana tersenyum kecil. “Mommy yakin Chelsea adalah wanita yang baik. Ia dititipkan saat ibunya. Ibunya juga sudah tenang di alam sana. Tak baik kita masih membicarakan orang yang telah meninggal."
El menggeleng pelan. Ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau ternyata Chelsea anak wanita yang menyakiti mommynya.
“Dan sebenarnya .…” Hana melanjutkan. “Ibunya juga wanita yang baik.”
El langsung menatap ibunya. “Mom masih membelanya?”
Suara El terdengar tidak percaya. Hana terdiam.
“Mungkin caranya mendapatkan pria yang dia cintai dulu memang salah.”
Hana menunduk. “Tapi bukan berarti seluruh hidupnya hanya ditentukan oleh kesalahan itu.”
El masih tidak menerima. “Mom.”
Ia tertawa kecil karena tak tahu terbuat dari apa hati wanita yang telah melahirkan dirinya itu. “Kenapa Mommy masih terus membelanya?”
Pertanyaan itu membuat Hana diam.
“Apa kelebihannya?” El menatap ibunya. “Kenapa Mommy tidak pernah mengatakan pada Chelsea kalau dia adalah anak dari wanita yang pernah merebut kebahagiaan Mommy?”
Kalimat itu membuat seseorang yang sejak tadi berdiri di ujung tangga membeku. Dialah Chelsea.
Awalnya ia hanya ingin mengambil air minum. Ia terbangun karena merasa haus, lalu berniat turun ke dapur. Tapi langkahnya berhenti ketika mendengar suara El.
Saat pria yang ia cintai itu bersuara tinggi, hal yang tak pernah dilakukannya. Chelsea berdiri diam di balik dinding. Tangannya perlahan menutup mulut. Menahan suara yang hampir keluar. Ibunya, wanita yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita singkat. Wanita yang tidak pernah ia tanyakan karena takut menyakiti perasaan Mom dan Dad. Ternyata memiliki masa lalu yang begitu rumit.
Dan El tahu. Pria yang ia cintai itu mengetahui semuanya. Bahkan sebelum dirinya sendiri. Air mata mulai menggenang di mata Chelsea.
Tapi ia tetap diam. Ia ingin tahu. Apa lagi yang akan El katakan.
Sementara di ruang keluarga, El masih berdiri dengan emosi yang belum mereda. “Aku cuma tidak mengerti, Mom. Kenapa Mommy bisa menerima semuanya? Kenapa Mommy bisa mencintai Chelsea seperti anak sendiri?”
“Padahal .…” Ucapan El berhenti sejenak. “Padahal dia adalah bagian dari orang yang pernah menyakiti Mommy.”
Hana menatap putranya sedih. “El .…”
Namun El masih belum bisa berhenti. Pikirannya sudah dipenuhi oleh perkataan Zoya. Tentang masa lalu dan pengkhianatan. Tentang sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui.
Ia tidak melihat Chelsea sebagai gadis kecil yang dulu selalu berlari memanggilnya. Ia hanya melihat sebuah hubungan yang menurutnya tidak adil.
Hana menggeleng pelan. “Kamu salah, El.”
“Tidak, Mom." El langsung membalas. “Aku hanya melihat kenyataan.”
“Tidak begitu kenyataan nya, El.” Suara Hana kali ini lebih tegas. Arsaka kembali ingin bersuara tapi Hana melarang dengan menggelengkan kepala. Ia tahu suaminya itu keras dan takut nanti akan membuat El makin salah paham.
“Kamu melihat luka yang bahkan bukan milik kamu. Mama yang mengalami dan merasakannya. Mommy justru bahagia, jika Mommy masih bersama pria itu, Mommy tak akan bertemu pria sebaik Daddy kamu."
El terdiam. Namun hatinya masih menolak. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Akhirnya El menghela napas kasar. Ia berbalik. “Aku mau ke kamar.”
Tidak ada yang menjawab. El mulai berjalan menuju tangga. Baru beberapa langkah, ia berhenti. Di ujung tangga ia melihat ada seseorang yang berdiri diam. Gadis yang selama ini selalu ia lindungi dan yang selalu ia anggap adiknya. Chelsea.
Mata mereka bertemu. Saat ini, El melihat Chelsea bukan sebagai gadis kecil yang selalu tersenyum. Tapi sebagai seseorang yang baru saja mendengar semua kata-kata yang tidak seharusnya ia dengar.
Wajah El langsung berubah. Kaget dan panik, ada sedikit rasa bersalah. Sementara Chelsea hanya berdiri diam. Gadis itu tidak menangis atau marah. Hanya menatap El dengan mata yang penuh luka.
Di belakang El, Hana juga menyadari keberadaan Chelsea. Dan wajahnya langsung pucat.
“Chelsea .…”
Suara Hana hampir berbisik. Tapi semuanya sudah terlambat. Karena Chelsea sudah mendengar semuanya.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka