Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang yang semakin jauh
Mereka membawa Leon ke kantor polisi lebih dulu, untuk mencari alamatnya di sana.
Mereka turun, jam di tangan Zura menunjukan pukul 20:09.
Mereka bergegas turun, dan masuk ke dalam kantor.
"Hallo pak, ada yang bisa saya bantu?"
Salah satu polisi yang tengah berjaga di depan pintu, tersenyum ramah, dia tau siapa Jody, makanya langsung mempersilahkan mereka masuk.
"Saya ingin mencari alamat"
Sahut Jody.
"Mari lewat sini"
Polisi tersebut menuntun mereka.
"Ndan"
Setelah mengantarnya, polisi itu kembali ke luar.
Jody dan Monica duduk di hadapan polisi yang tengah berkutat dengan berkas, Zura dan Leon hanya diam berdiri memperhatikan.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Tanya polisi itu.
"Begini, saya ingin anda mencari alamat seorang pemuda, namanya, Leon"
Sahut Jody.
Polisi itu segera membuka komputer nya, dan mengetikan sesuatu di sana.
Dahinya mengkerut.
Leon menatap polisi itu penuh harap.
'semoga dia menemukan alamatnya'
Batinnya.
Polisi itu menatap Jody, tersenyum tipis.
"Boleh saya tau nama panjangnya?"
Mereka semua menatap Leon.
Namun Leon hanya diam bingung.
"Siapa nama panjang mu, anak muda?"
Tanya polisi.
Leon menunjuk dirinya, polisi itu mengangguk.
"Leonard Anvincet Hills"
Sahutnya dingin.
Polisi mengangguk, lanjut mencari nama itu di komputernya.
"Leonard Anvincet Hills"
Gumam polisi itu.
Polisi terus mencari di komputer.
Hasilnya tidak ada.
Dahinya mengkerut.
Mencoba sekali lagi.
Leon sedikit bingung dengan polisi di depannya.
Tapi dia tak peduli, yang ada di pikirannya sekarang adalah, pulang.
Tapi hasilnya selalu sama.
Tidak ada Nama
Tidak ada alamat
Intinya, tidak ada identitas.
Polisi itu menatap Leon.
" Apa itu benar namamu?"
Mereka semua menatap Leon, Leon mengangguk yakin.
" Lo jangan bohong, bakal sulit nyari nama Lo kalo itu gak asli"
Ucap Zura, tangannya melipat, menatap Leon lurus.
Leon menggeleng keras.
"Itu memang namaku, untuk apa aku berbohong?"
Kekeh Leon.
Jody mengenal nafas pelan.
"Jadi namanya tidak di temukan?"
Polisi menggeleng.
terus menatap Leon, yang tampak aneh menurutnya.
"Apa kau seorang model?"
Semua mengerutkan kening, menatap Leon yang lagi-lagi menggeleng.
"Melihat dari pahatan wajahmu, kamu seperti bukan dari negara ini. apa kamu ingat di mana tempat tinggal mu? Mungkin aku bisa mencarinya"
Tanya polisi itu, karna dia mengira bahwa Leon kehilangan ingatannya.
Leon mengangguk cepat, maju selangkah menatap polisi itu tajam.
"Aku dari lunaventia"
Ucapnya tegas.
Zura yang sudah mendengar ini berkali-kali, memijat keningnya pusing.
"Gue bilang jangan bohong, lunaventia itu cuma negara fiksi, yang artinya enggak ada di dunia!"
Sahut Zura lelah.
Tapi Leon kekeh dengan pendiriannya.
"Jika Lunaventia tidak ada, lalu selama ini aku tinggal di mana?"
Suara Leonard terdengar lebih keras dari biasanya.
"Apa kalian pikir aku berbohong?"
Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lain.
"Aku lahir di sana. Aku tumbuh di sana. Aku memiliki keluarga di sana."
Rahangnya mengeras.
"Jadi bagaimana mungkin kalian berkata kerajaan itu tidak pernah ada
Tekan Leon dingin, dia sudah lelah sebenarnya, mendengar Zura terus mengatakan jika lunaventia adalah negara yang tidak ada.
Mereka heran, polisi memangku tangannya di meja, melipat bibir ke dalam, matanya menelisik Leon dari atas sampai bawah, lalu menatap Jody yang menunduk lelah.
" Anda menemukan pria ini di mana? Pak Jody,"
Tanyanya.
Jody membuang pandangannya ke samping, jika dia bilang Leon di temukan di rumahnya, sudah pasti dia akan di anggap pencuri.
Jody menatap polisi itu lagi, tersenyum ramah.
"Tidak apa jika datanya tidak di temukan, ini sudah malam, mungkin aku akan mengurusnya lagi besok."
Jody berdiri dari duduknya.
Monica menatap Jody protes.
"Terus dia? Mau tinggal di rumah kita lagi?"
Tanyanya tak suka, bahkan matanya sudah mendelik pada Leon.
Leon merasa kesal dan sedikit tidak nyaman di tatap seperti itu oleh Monica, dia hanya bisa membuang pandangannya dengan sedih.
Jody tersenyum tenang, memegangi bahu Monica dan menuntunnya untuk keluar dari sana.
"Begini mami ku yang tercinta, jika dia tidak tinggal di rumah kita, dia mau tinggal di mana? Kamu tega emangnya? Dia belum tau di mana rumahnya, mungkin besok papi bakal cari tau di RSJ, siapa tau dugaan Zura benar dia ODGJ"
Jody memelankan akhir kalimatnya.
Meskipun dia ragu.
Monica cemberut, membuang pandangannya.
"Kalau dia nyuri gimana?!"
Sahutnya ketus.
Jody mengangkat dagu Monica memaksa untuk menatapnya.
"Dia di rumah kita udah 1 hari, dan gak ada kan barang yang hilang satu pun?"
Sahutnya lembut, berusaha meyakinkan.
Monica ngangguk ketus, dan masuk ke mobil.
Zura melipat tangannya, menatap Leon yang menatap tembok dengan perasaan sedih.
'*ganteng gitu padahal*,'
Batinnya geli.
Dia menepuk pundak Leon, membuat Leon
sedikit tersentak.
Dia refleks memegangi telinganya.
Mantap Zura was-was.
Zura tersenyum tipis, yang malah membuat Leon sedikit ketar-ketir.
"Ikut ke rumah gue lagi aja, besok kita cari lagi"
Ucapnya pelan, sedikit mengangkat alis.
Lalu berjalan lebih dulu ke luar.
Leon perlahan menurunkan tangannya, menatap punggung Zura yang sudah menghilang dari pintu.
'*dia tidak memarahi aku*?'
Batinnya sedikit lega.
1 detik
2detik
3det-
Brak...
Pintu kantor polisi di buka dengan sekali sentakan, sampai semua yang di dalam terkejut.
Alis Zura menukik, menatap Leon tajam.
" Lo mau ikut pulang gak? Atau mau di sini aja? Lama banget Lo!"
Sentak nya sedikit berteriak sinis.
Para polisi menggangga, mereka menatap Leon yang juga sama terkejutnya.
Bagai kambing di cocok hidung, Leon mengangguk, dan berjalan cepat keluar.
'*gadis ini benar-benar galak*'
Batinnya ngeri.
Excel mondar-mandir di teras rumah, tangannya melipat, alis menukik, dengan bibir mengerucut lucu.
Dia terus menghela nafas kasar, dan melihat pergelangan tangannya.
Excel menghentakkan kakinya ke lantai, dengan tangan mengepal di udara.
"Iiihk!! Mami pada ke mana si?! Lama banget!"
Gerutunya.
Farah duduk diam di kursi, hanya menonton Excel yang uring-uringan.
Excel menatap tajam Farah yang tengah duduk santai seraya ngemil kacang.
"Ate.... jangan diem aja! Telpon mami!"
Teriak nya nyaring.
Farah berdecak kesal, tapi bibirnya tersenyum lebar.
Dia membuka ponsel dan menelfon Monica.
"Maaf, nomer yang anda tuju tidak dapat di hubungi, silahkan coba beberapa saat lagi"
Farah menatap Excel polos, mengedip ngedip kan mata.
Excel membuang nafas, cemberut menatap gerbang di kejauhan.
Farah kembali duduk di kursi dan memainkan ponselnya.
Mata Excel semakin menyipit, ketika mobil yang di bawa Jody berhenti di depan pintu garasi.
Anak kecil itu menyilangkan tangannya, memasang ekspresi marah.
Monica berjalan cepat menghampiri Excel yang sudah menunggunya.
"Excel..."
Monica hendak memeluknya, tapi Excel segera menghindar dan membelakangi Monica.
Monica menarik tubuh, sedikit tidak mengerti.
"Kenapa nih anak mami?"
Monica mengendong Excel yang sedikit berontak.
"Mami gak sayang aku!"
Sahutnya masih mode marah.
Monica memelototkan matanya geli, terkekeh pelan.
"Kok ngomongnya gitu? Hmm.."
Tanyanya seraya menciumi Excel.
Excel semakin cemberut.
"Karna mami gak ajak aku!"
"Jadi kamu marah sama mami?"
"Hemm..."
Excel ngangguk.
Tapi sedetik kemudian matanya berbinar ketika mendapati Leon dan Azura yang berjalan ke arahnya.
"Om raja?"
Panggilnya.
Leon hanya menatap datar, Zura terkekeh pelan, mencubit pipi Excel pelan.
"Kasian, gak di notice!"
Excel hendak memukul Zura.
" Sakit!! Ka Azura jelek!"
namun gadis itu keburu menghindar seraya memeletkan lidahnya.
Leon tersenyum tipis, saking tipisnya sampai tidak ada yang melihat.
Dia mendadak merindukan Arselia dan Dhapne.
'apa, mereka merindukan ku?'
Batinnya sendu.
Melihat interaksi mereka.
Bersambung...
jangan lupa like sama coment nya ya, biar semangat aku nulisnya🦋