NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 - Kebanyakan

Faris masih berdiri mematung di depan gerobak martabak. Sementara Marlina menunggu jawabannya dengan spatula di tangan. Aroma mentega yang dipanggang memenuhi udara, tetapi otak Faris seolah berhenti bekerja.

"Jadi... original pakai apa?" tanya Marlina sekali lagi sambil tersenyum.

Faris berkedip cepat. "Hah?"

"Iya. Keju? Cokelat? Kacang? Wijen?"

"Oh....Eee....O... semuanya."

Marlina mengangkat alis.."Semuanya?"

"Iya."

Sistem langsung berbunyi.

[Host baru saja memilih paket "asal jawab".]

Faris mengabaikannya.

Marlina kembali bertanya.."Ukuran biasa atau besar?"

"Besar."

"Berapa?"

Faris menatap wajah Marlina beberapa detik. Bukannya menjawab, pikirannya malah melayang pada masa SMA ketika gadis itu sering duduk di dekat jendela kelas sambil membaca buku.

"Dua."

"Baik."

Marlina mulai menuang adonan ke atas loyang panas.

Faris masih berdiri di sana sambil menatap gerakan tangannya. Entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Sistem kembali berbunyi.

[Host menatap target selama 17 detik tanpa berkedip.]

"Diam."

[Host terlihat seperti ikan yang lupa menutup mulut.]

Faris buru-buru menutup mulutnya.

Marlina kembali bertanya. "Mau ditambah martabak tipis kering? Lagi banyak yang pesan."

Faris yang masih linglung langsung mengangguk. "Iya."

"Berapa bungkus?"

"Tiga."

"Baik."

Beberapa menit kemudian...

"Mau terang bulan mini juga? Anak-anak biasanya suka."

"Iya."

"Berapa?"

"Dua."

Marlina mulai terlihat bingung. "Oke..."

Tak lama kemudian seorang pegawai lain ikut membantu membungkus pesanan.

"Mas, minuman sekalian?"

"Iya."

"Teh botol?"

"Iya."

"Dua?"

"Iya."

Sistem kembali tertawa.

[Host telah memasuki mode belanja tanpa berpikir.]

Faris baru tersadar ketika Marlina mulai menghitung total belanja.

"Jadi semuanya..."

Ia melihat layar kalkulator.

"...empat ratus delapan puluh lima ribu rupiah."

Faris membeku. "Hah?"

Marlina ikut tertawa kecil. "Kau tadi bilang iya terus sih."

Faris langsung memegang dahinya. "Aduh... Aku... nggak sadar."

Marlina menahan tawanya. "Nggak apa-apa. Kalau memang kebanyakan bisa dikurangi."

Faris menggaruk tengkuk dengan wajah merah. "Iya... dikurangi."

Akhirnya pesanan diubah menjadi satu martabak manis ukuran besar rasa cokelat-keju, satu martabak telur spesial, dan dua minuman. Totalnya turun jauh menjadi sekitar seratus tiga puluh ribu rupiah.

Faris mengembuskan napas lega. Sistem masih belum berhenti mengejek.

[Host hampir membeli martabak untuk satu RT.]

"Diamlah!"

Setelah pembayaran selesai, suasana kembali hening. Faris sebenarnya ingin mengajak Marlina berbicara lebih lama. Namun semua kata yang sudah disiapkannya seolah menghilang.

"Eee... Kerja di sini?"

Begitu kalimat itu keluar, Faris langsung ingin menepuk dahinya sendiri.

'Tentu saja kerja di sini. Masa lagi piknik?' batinnya.

Namun Marlina hanya tersenyum. "Iya."

"Baru beberapa bulan bantu usaha keluarga."

"Oh..."

"Kamu sendiri?"

Faris mengangguk pelan. "Baru mulai kerja juga."

"Wah... syukurlah."

Kembali hening. Mereka saling menatap beberapa detik. Di belakang Faris, pelanggan lain mulai berdatangan.

Marlina tersenyum sopan. "Semoga suka martabaknya."

"Iya..."

"Terima kasih."

Faris membawa kantong plastik itu sambil berjalan menjauh. Begitu langkahnya menjauh beberapa meter, ia mengembuskan napas panjang.

"Aduh..."

Sistem langsung menyahut.

[Host memperoleh nilai 12 dari 100 untuk kemampuan berbicara dengan cinta pertama.]

"Cuma dua belas?"

[Nilai tersebut sudah termasuk bonus keberanian datang membeli martabak.]

"Kejam sekali."

[Host bahkan tidak bertanya nomor telepon.]

[Tidak bertanya kabar.]

[Tidak bertanya apakah masih sendiri.]

[Tidak bertanya apa pun yang penting.]

Faris menutup wajahnya. "Iya... iya..."

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi kenangan lama. Saat masih duduk di bangku SMA, Marlina merupakan salah satu siswi paling ramah di sekolah. Ia tidak pernah menjadi ketua kelas. Tidak pula terkenal karena prestasi luar biasa. Namun senyumnya selalu membuat suasana menjadi cerah.

Faris masih ingat bagaimana dia sering sengaja datang lebih pagi hanya agar bisa melihat Marlina berjalan melewati koridor sekolah. Ia juga ingat ketika mereka pernah sekelompok saat pelajaran Biologi.

Marlina pernah meminjam penggarisnya sambil berkata, "Terima kasih, Faris."

Hanya dua kata sederhana. Namun Faris mengingatnya selama bertahun-tahun. Sayangnya dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Bukan karena tidak mau. Melainkan karena merasa dirinya tidak pantas.

Saat itu keluarganya hidup pas-pasan. Seragam sekolahnya bahkan sudah beberapa kali dijahit. Sementara Marlina dikenal banyak siswa. Banyak pula yang menyukainya.

Termasuk sahabatnya sendiri, Rizal. Faris masih ingat bagaimana Rizal pernah berkata dengan penuh semangat.

"Aku suka Marlina."

Sebagai sahabat, Faris hanya tersenyum. Padahal saat itu hatinya seperti diremas. Tidak lama kemudian Rizal benar-benar berpacaran dengan Marlina.

Sejak saat itu Faris memutuskan mengubur perasaannya. Ia memilih menjauh.nTidak pernah menceritakan kepada siapa pun.nBahkan kepada Rizal sendiri.

"Apa mereka masih bersama, ya..." gumam Faris pelan.

Sistem menjawab santai.

[Data tidak tersedia.]

"Jangan-jangan... Mereka sudah menikah."

Semakin dipikirkan, semakin besar rasa penasarannya.

"Aduh... Kenapa tadi aku nggak tanya?"

[Karena Host kehilangan kemampuan berbicara.]

"Benar juga..."

Faris hanya bisa tertawa pahit. Beberapa menit kemudian ia sampai di rumah.

Siti yang sedang menyiram tanaman langsung menoleh. "Ris?"

"Iya, Bu."

"Kamu beli apa banyak sekali?"

Faris mengangkat kantong plastik. "Martabak."

Siti membelalakkan mata. "Sebanyak itu?"

Bu Nuri yang kebetulan sedang datang juga ikut menghampiri. "Ya Allah... Ini buat hajatan?"

Faris baru sadar memang jumlahnya lumayan banyak. Ia buru-buru mencari alasan. "Oh... Tadi...nPak Bandi kasih bonus."

Siti terlihat terkejut. "Bonus?"

"Iya."

"Katanya karena aku membantu pekerjaan hari ini."

Siti tersenyum bangga. "Alhamdulillah. Berarti kamu memang bekerja dengan baik."

Faris mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bu."

Mereka kemudian membuka seluruh kotak martabak di meja makan. Beberapa menit kemudian masalah baru muncul.

"Ris..." Siti tertawa kecil. "Ini terlalu banyak."

Bu Nuri ikut mengangguk. "Kita bertiga mana habis."

Faris ikut tertawa. "Iya juga."

Akhirnya Siti memiliki ide. "Bagikan saja ke tetangga."

"Iya."

"Kasihan kalau sampai basi."

Tak lama kemudian beberapa potong martabak dibungkus ulang. Bu Nuri membawa sebagian untuk keluarganya. Sisanya dibagikan kepada beberapa tetangga sekitar. Semua tampak senang.

Malam mulai turun. Setelah makan malam, Faris masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Namun bukannya mengantuk yang muncul justru wajah Marlina.

"Masih sama..." gumamnya. "Senyumnya juga nggak berubah."

Ia memejamkan mata. Bayangan masa SMA kembali memenuhi pikirannya. Andai dulu ia sedikit lebih berani andai dulu ia sedikit lebih percaya diri, mungkin hidupnya akan berbeda.

Sistem tiba-tiba berbunyi.

[Host menyesal.]

"Sedikit."

[Tingkat penyesalan: 41%.]

"Cukup akurat."

[Host ingin bertemu lagi.]

Faris tidak menjawab. Karena memang benar. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Bzzzt...

Bzzzt...

Faris mengambil ponsel dari atas meja. Matanya sedikit membesar ketika melihat nama pengirim. Dia tak lain adalah Vanessa.

"Aneh... Dia dapat nomor HP-ku dari mana?"

Sistem menjawab santai.

[Kemungkinan diperoleh dari Pak Bandi.]

"Benar juga."

1
Ambu Rinddiany Thea
ikut bahagia ya ris ..
Ita Xiaomi
Faris, jaga dan rawat ibu dgn baik.
Rommy Wasini Khumaidi
alhamdulillah,bu Siti sembuh,Faris punya banyak poin
Sri Supriatin
semangat thor n lanjuut 🙏🙏
Ita Xiaomi
Alhamdulillah Bu Siti udah sehat walafiat.
Ita Xiaomi
Perjuangan seorang anak utk ibu tercinta.
Rommy Wasini Khumaidi
masih penasaran dengan hasilnya,sayangnya selesai babnya😭😭
Rommy Wasini Khumaidi
semangat Faris,kamu pasti bisa
Ita Xiaomi
Semangat Faris.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.
Ita Xiaomi
Anak yg berbakti 👍
Ambu Rinddiany Thea
semangat faris demi ibu mu . semoga misinya lancar ya is .. doa para pembaca selalu bersamamu 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
ayok Ris kamu bisa,nanti author yang kasih tau caranya🤣
Rommy Wasini Khumaidi
kalau didunia nyata ada pil semacam ini pasti laris bgt,berapapun akan dibayar bagi mereka yang kaya raya
Ambu Rinddiany Thea
sistem nya ga bisa bantu gt , malah ngajak debat mulu .. ga tau gt yg baca udh mulai nyesek 😭😭😭
Rommy Wasini Khumaidi
😭😭ikut sedih aku Ris,gimana rasanya ketika kita dapat kerjaan ingin membahagiakan orang tua malah orang tua tidak bisa ikut menikmati
Ita Xiaomi
Mewek bacanya. Sedih banget😭😭😭
Ita Xiaomi
😭😭😭
Ita Xiaomi
Semangat bekerja Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
lah,murah amat 100rb thor?dapat hp apa tambah tunai 61rb
Desau: maaf typo kak. harusnya sejuta 🤭
total 1 replies
Ita Xiaomi
Berharap pd selamat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!