"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Hampir Saja
Jam kerja akhirnya usai.
Alena memutuskan pulang lebih awal. Ia sudah tidak ingin menunda lagi. Hari ini juga, ia berniat meminta pertanggungjawaban Arsen atas fitnah yang telah menghancurkan nama baiknya di kantor.
Memang benar, ia adalah istri Arsen Bhaskara. Namun, ia tidak pernah menggunakan status itu untuk mendapatkan keuntungan. Apalagi sampai merayu atasan demi memperoleh proyek atau diangkat menjadi karyawan tetap.
Semua yang ia raih adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Alena baru saja melangkah melewati pintu utama. Tapi, suara percakapan dari ruang keluarga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Apa kamu yakin cara ini akan berhasil, Arsen?" tanya Hana. "Mama sudah memperhatikan Alena beberapa hari ini. Tapi, dia terlihat biasa saja."
Sudut bibir Arsen terangkat membentuk senyum tipis. "Aku mendapat laporan kalau di kantor, dia mulai dijauhi teman-temannya. Jadi, kita tunggu saja, Ma."
Arsen menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Cepat atau lambat, tekanan itu akan membuatnya menyerah. Dia pasti keluar dari perusahaan itu atas kemauannya sendiri."
Hana mengangguk puas. "Bagus. Biar dia tahu akibat berani melawan kita."
"Itu memang tujuanku." Tatapan Arsen berubah dingin. "Aku ingin melihat dia berlutut memohon padaku. Setelah itu, aku akan menceraikannya," ucapnya dengan senyum penuh kemenangan. "
DEG!
Ucapan itu menghantam dada Alena.
Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Dadanya naik turun menahan amarah.
Selama beberapa detik, ia memejamkan mata dan menarik napas panjang.
Hampir saja ia kehilangan kendali dan masuk jebakan mereka.
Kini ia sadar, kalau sekarang ia meluapkan emosinya, itu artinya tujuan Arsen akan tercapai. Pria itu menginginkan dirinya hancur, kehilangan pekerjaan, lalu kembali bergantung padanya.
Tidak. Ia tidak akan memberikan hal itu terjadi.
Ia membuka matanya perlahan dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya. Ia lalu kembali melangkah, melewati ruang keluarga dengan santai seolah tidak mendengar apa pun.
Hana yang melihat kemunculan Alena langsung memberi isyarat kepada Arsen dengan dagunya.
Arsen menoleh, menatap wajah Alena yang terlihat tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dan, saat Alena hendak menaiki tangga menuju lantai atas, suara Arsen menghentikan langkahnya.
"Tumben sekali jam segini kamu sudah pulang."
Alena berhenti, lalu berbalik perlahan. "Kebetulan pekerjaanku selesai lebih cepat. Jadi, aku bisa pulang lebih awal," jawabnya santai. "Tidak seperti seseorang yang mengaku lembur, padahal justru menghabiskan waktu bersenang-senang dengan wanita lain."
Wajah Arsen langsung mengeras. Ia berdiri dari duduknya.
"Apa maksudmu?" bentaknya. "Kamu sedang menyindirku?"
Alena terkekeh pelan. "Menyindir mu?" Ia mengangkat sebelah alis. "Kalau kamu merasa tersindir, mungkin memang ada yang perlu kamu renungkan."
"Kamu...!"
Arsen mengepalkan tangan. Tapi, Alena sudah kembali berbalik untuk menaiki tangga.
"Kamu benar-benar tidak tahu diri!" seru Arsen. "Kamu bekerja di perusahaan lain hanya untuk melawan suamimu sendiri."
Alena kembali berbalik sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Arsen dengan senyum penuh ejekan.
"Kenapa kamu terus mengungkit soal itu? Jangan-jangan, kamu sebenarnya takut kalah dariku, ya?"
Wajah Arsen memerah karena marah. "Alena!" bentaknya.
Tapi, Alena sama sekali tidak gentar. "Kamu pikir, aku tidak tahu kalau kamulah yang menyebarkan rumor di kantorku?"
Tatapan Arsen berubah sesaat, tetapi ia segera menutupinya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Oh ya?" Alena tersenyum tipis. "Baiklah, anggap saja aku salah. Tapi, aku ingin memberitahumu satu hal." Alena menatap Arsen lurus.
"Apapun yang kamu lakukan, tidak akan bisa membuat ku berhenti bekerja. Apalagi, gosip murahan seperti itu." Ia menggeleng pelan. "Fitnah seperti itu terlalu lemah untuk menjatuhkan ku."
Setelah mengatakan itu, Alena berbalik dan menaiki tangga dengan langkah mantap, tanpa menoleh lagi.
Sementara di ruang keluarga, Arsen hanya bisa berdiri dengan rahang mengatup kuat. Ia merasa rencananya tidak berjalan sesuai harapan. Dan, hal itu membuat harga dirinya semakin terluka.
"Bagaimana ini, Arsen?" Hana bertanya dengan wajah gelisah. "Alena semakin lama semakin berani. Tidak hanya membantah, sekarang dia bahkan berani melawan kita."
Arsen mengembuskan napas kasar. "Tenang saja, Ma. Aku akan mencari cara lain."
Meski terdengar tenang, sorot matanya dipenuhi amarah. Tatapannya masih tertuju ke arah lorong yang baru saja Alena lewati.
Kedua tangannya mengepal erat, sementara rahangnya mengeras menahan emosi. Belum pernah sekali pun ia merasa dipermalukan seperti ini.
Dalam benaknya, ia bertekad akan membuat Alena membayar semua penghinaan itu.
***
Malam semakin larut, Arsen memutuskan pergi ke apartemen Erina. Baginya, hanya wanita itulah yang mampu membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Tidak lama kemudian, ia tiba di depan unit apartemen milik Erina. Ia membuka pintu dan langsung masuk dengan raut wajah yang muram.
"Arsen!"
Tanpa banyak bicara, Arsen melewati Erina begitu saja dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia menyandarkan kepala sambil memejamkan mata beberapa saat.
Erina menghela napas. Ia berjalan menuju dapur dan kembali dengan secangkir kopi hitam. Lalu, ia meletakkannya di atas meja sebelum duduk di samping Arsen.
"Ada apa lagi, Sayang?" tanyanya lembut. "Kamu terlihat sangat kesal."
Arsen membuka matanya perlahan. "Aku bukan hanya kesal. Tapi, aku sangat marah."
"Karena Alena lagi?"
Arsen mengangguk. "Aku sudah menyebarkan rumor di WIN Group kalau Alena memanfaatkan statusnya sebagai istriku untuk merayu atasannya demi mendapatkan proyek dan diangkat menjadi karyawan tetap. Dengan begitu, dia akan dijauhi rekan-rekannya. Syukur-syukur dia dipecat. Kalau tidak, setidaknya dia merasa tertekan lalu mengundurkan diri."
Arsen tertawa sinis. "Tapi yang terjadi justru sebaliknya."
"Apa maksudmu?"
"Dia masih bertahan. Bahkan, tadi dia berani mengejekku di depan Mama."
Rahang Arsen kembali mengeras mengingat kejadian itu.
Erina menggeleng pelan. "Seharusnya dari dulu kamu langsung menceraikannya saja. Jadi, kamu tidak perlu repot melakukan semua ini."
Arsen tersenyum hambar. "Tidak semudah itu."
"Kenapa?"
"Sebelumnya, aku tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengajukan gugatan perceraian."
Erina menghela napas. "Menurutku, sudah tidak mencintainya lagi saja sudah menjadi alasan." Ia menatap Arsen dalam-dalam. "Tapi sekarang, kamu justru terlihat seperti terobsesi menjatuhkan Alena."
Kalimat itu membuat Arsen terdiam. Ia tidak bisa membantah karena apa yang Erina katakan memang benar.
Awalnya, ia hanya ingin berpisah dan membuat Alena pergi tanpa membawa apapun. Tapi sekarang, semuanya sudah berubah.
Ia ingin menghancurkan Alena dan melihat wanita itu kehilangan harga diri, pekerjaan, dan akhirnya memohon kepadanya.
Karena, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya yang seorang pengusaha besar, dipermalukan oleh wanita yang selama ini hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga.
Melihat Arsen terdiam, Erina mengusap dadanya dengan lembut.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu langsung menceraikannya sekarang?"
Arsen menggeleng pelan. "Tidak sekarang."
"Kenapa?"
Tatapan Arsen berubah serius. "Aku tidak mau hartaku terbagi saat proses perceraian."
Ia menggenggam tangan Erina. "Bukankah dulu kamu juga setuju dengan rencana itu?"
Erina mengangguk pelan. "Itu memang benar. Tapi, aku tidak suka melihatmu terus memikirkan Alena."
Arsen mengusap lembut pipi Erina. "Tenang saja. Aku akan segera menyelesaikan semua ini."
"Maksudmu?"
"Aku akan membuat Alena tidak punya pilihan selain menyerah. Begitu dia kehilangan segalanya, aku akan menceraikannya."
Erina menatap pria itu beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah." Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arsen dan memeluknya erat. "Aku akan bersabar menunggumu."
"Terima kasih, sayang." Tanpa peringatan, Arsen mengangkat Erina ala bridal. "Sekarang, waktunya mengunjungi anak kita."
Erina tersipu malu. Dia menyandarkan kepalanya di dada Arsen, saat pria itu membawanya ke kamar.
aduhh😂😂😂
😂😂😂😂