NovelToon NovelToon
Raya Gadis Desa Terhina, Dinikahi CEO Tampan

Raya Gadis Desa Terhina, Dinikahi CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.

Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.

Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.

Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi menaklukan Juan

Sudah genap satu minggu Raya tinggal satu atap, bahkan satu kamar, bersama Juan sejak akad itu terucap.

Bagi Raya, usaha kecilnya untuk meluluhkan hati sang suami belum menunjukkan hasil yang berarti. Ia berusaha menjadi istri yang baik, mulai dari menyiapkan pakaian kerja, memasak sarapan, hingga mengingatkan Juan untuk beristirahat. Sesekali ia mencoba bersikap lebih dekat, seperti merapikan kerah kemeja atau membetulkan dasi Juan. Namun, semua itu selalu dibalas dengan wajah datar dan rahang yang mengeras.

"Hem... sabar ya, Raya. Baru juga seminggu," gumamnya pelan sambil tersenyum kepada diri sendiri. "Semoga suatu hari nanti Bang Juan benar-benar membuka hatinya."

Pagi itu Raya sudah sibuk sejak subuh. Kemeja hitam, jas, dasi berwarna marun, jam tangan, hingga dompet Juan sudah ia tata rapi di atas tempat tidur.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Juan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Aroma sabun yang segar memenuhi ruangan.

"Bang, bajunya sudah Raya siapkan."

Juan hanya mengangguk singkat.

"Hm."

Melihat Juan masih sibuk mengeringkan rambut, Raya spontan mengambil handuk kecil dari tangannya. "Biar Raya saja."

"Hm?"

Tanpa menunggu jawaban, Raya berdiri di hadapan Juan lalu mulai mengusap pelan rambut pria itu.

Juan membeku.

Tatapannya terpaku pada wajah istrinya yang tampak begitu serius mengeringkan rambutnya.

Beberapa helai rambut Raya yang terlepas dari ikatan sesekali jatuh menutupi pipinya. Dengan gerakan alami, gadis itu meniup pelan helaian rambut tersebut sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat hati Juan terasa tidak tenang.

"Sudah, Bang."

Kini Raya mulai merapikan kerah kemeja Juan. Jemarinya bergerak pelan membetulkan posisi kerah, lalu memasangkan dasi dengan telaten.

Juan berusaha mengalihkan pandangan.

Aneh...

Padahal selama ini tidak pernah ada perempuan yang sedekat ini dengannya.

Namun justru gadis desa yang polos itu mampu membuatnya salah tingkah.

"Bang."

"Hm?"

"Kalau berdiri diam terus begini, Raya susah pasang dasinya."

Juan baru menyadari sejak tadi dirinya memang mematung.

"Iya." Jawabannya singkat.

Raya tersenyum kecil. "Nah... sekarang baru rapi." Ia menepuk pelan dada kemeja Juan untuk memastikan tidak ada lipatan yang tersisa.

Seketika tubuh Juan menegang.

"Bang?"

"Kamu selesai?"

"Iya."

"Kalau begitu cepat sarapan."

Juan segera melangkah menuju meja makan kecil di sudut kamar.

Raya mengernyit heran.

"Aneh..."

Kenapa Bang Juan kelihatannya gugup, ya?

Apa benar beliau sedang kurang sehat?

Di meja makan, Raya menyodorkan segelas air putih dan dua potong roti bakar yang baru ia masak dibawah bersama dengan Bu Sinta.

"Bang, diminum dulu."

Juan menerima gelas itu tanpa banyak bicara.

Sementara Raya duduk di hadapannya sambil memperhatikan suaminya makan.

Diam-diam ia tersenyum. Setidaknya, selama seminggu ini Juan tidak pernah menolak masakan atau perhatian yang ia berikan.

Mungkin...

Ini juga sebuah kemajuan.

Batin Raya.

Setelah sarapan selesai, Juan berdiri sambil merapikan jam tangan di pergelangan kirinya.

Raya ikut berdiri.

"Bang."

"Apa lagi?"

Dengan langkah kecil Raya mendekat. "Kalau kata Mama..."

Juan langsung menatapnya. "Kenapa Mama?"

"Katanya... sebelum suami berangkat kerja biasanya pamit sama istrinya."

Juan mengangkat sebelah alis.."Terus?"

Raya menunjuk pelan dahinya sendiri.

"Biasanya dikasih cium di sini."

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Juan menatap wajah Raya yang penuh harap.

Kemudian...

Jari telunjuknya terangkat dan mendorong pelan dahi Raya. "Drama queen."

Raya kehilangan keseimbangan satu langkah.

Bukannya kesal, ia malah terkekeh pelan.

"Yaah... gagal lagi."

Juan mengambil kunci mobil.

Saat hampir membuka pintu, langkahnya terhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata singkat,

"Jaga rumah."

"Iya, Bang."

"Kalau butuh apa-apa bilang ke Mama."

Raya tersenyum semakin lebar.

"Siap."

Juan kembali berjalan keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat.

Dasar gadis aneh...

Kenapa setiap hari selalu berhasil membuat suasana jadi berbeda?

Di Desa Sukarumpi...

Seperti biasa, warung sayur Bu Rina menjadi tempat berkumpul para ibu setiap pagi.

"Aduh, Bu Maimun sekarang makin kelihatan berseri-seri."

"Ya iyalah. Katanya menantunya orang kaya."

Bu Maimun tersenyum tipis sambil sengaja membenarkan gelang emas yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Alhamdulillah, namanya juga rezeki anak."

Bu Siti mendengus pelan.

"Huh... siapa tahu ada maksud lain."

"Maksud apa?"

"Mana ada orang baru kenal langsung dinikahi, terus maharnya sampai ratusan juta."

Bu Mustika ikut menyahut.

"Jangan-jangan Raya cuma dimanfaatkan."

Ucapan itu membuat beberapa ibu saling berpandangan.

"Kasihan juga kalau begitu."

"Iya. Bisa saja siangnya disuruh kerja terus."

"Tapi semoga saja tidak."

Meski tetap memasang wajah tenang, hati Bu Maimun mulai terusik.

Bayangan Raya tiba-tiba memenuhi pikirannya.

Selama ini ia memang sering bersikap keras kepada putrinya.

Namun bagaimanapun juga...

Raya tetap darah dagingnya.

Kalau sampai anaknya benar-benar menderita di rumah suaminya...

Maimun tidak yakin dirinya akan sanggup tinggal diam.

Entah untuk pertama kalinya, sejak Raya pergi meninggalkan rumah...

Ada rasa khawatir yang perlahan menyusup ke dalam hati seorang ibu.

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bu Shinta mengira udh terjadi sesuatu dgn mereka berdua 😊
Lisa
Bagus banget Raya kejarlah impianmu di kota..puji Tuhan Raya bertemu dgn Pak Bram & Bu Shinta.
Lisa
Tinggalin aj Ibu kamu Raya..toh di g menghargai kamu..udh pindah aj dr desa itu dan kerja di kota.
Lisa
Aku mampir Kak
falea sezi
bloon pergi dr situ ngapain mau maunya hasil. krja diambil semua
roses: kak makasih ya, kamu rajin banget baca semua karya author
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!