NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Gosip BEM

Kampus Universitas Nusantara pagi ini terasa lebih bising dari biasanya. Matahari baru saja naik, namun koridor gedung BEM sudah dipenuhi oleh lalu-lalang pengurus organisasi yang tampak sibuk dengan tumpukan berkas dan rencana kerja. Di tengah keramaian itu, Bimo Saputra—staf Media Kreatif yang hobi menguping dan ahli dalam segala jenis gosip kampus—sedang asyik duduk di meja resepsionis sambil memperhatikan layar ponselnya.

Bimo adalah tipe orang yang tahu segalanya bahkan sebelum pengumuman resmi dikeluarkan. Baginya, setiap gerak-gerik ketua BEM adalah konten, dan hari ini, kontennya jauh lebih menarik dari sekadar demo gedung baru.

"El, jujur sama gue," suara Bimo memecah konsentrasi Kaelith yang sedang menatap layar laptop di ruangannya. Bimo masuk tanpa mengetuk, wajahnya terlihat sangat antusias.

Kaelith tidak mendongak, matanya masih terpaku pada laporan keuangan yang ia selidiki. "Apa lagi, Bim? Kalau lo mau minta tambahan anggaran buat konten TikTok, nanti aja."

"Bukan soal anggaran, Bos!" Bimo menarik kursi di depan Kaelith dan duduk dengan gaya sok rahasia. "Ini soal Mbak Reporter cantik itu. Naura, kan namanya?"

Kaelith seketika berhenti mengetik. Ia perlahan mendongak, menatap Bimo dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa sama dia?"

"Wah, wah, tatapannya dingin banget, nih," Bimo terkekeh. "Kemarin ada yang lihat lo jemput dia di depan kantor redaksinya. Terus, gosipnya, lo berdua masuk ke kafe yang 'ngumpet' itu. El, lo tahu kan kalau gosip di kampus ini lebih cepat menyebar daripada virus flu? Semua orang di BEM lagi tanya-tanya, apa benar Ketua BEM kita lagi pdkt sama jurnalis investigasi?"

Kaelith menghela napas panjang. Ia sudah menduga ini akan terjadi. "Itu urusan profesional, Bim. Dia reporter, gue narasumber. Ada data yang harus gue serahkan buat kepentingan kampus."

"Profesional? Oke, gue percaya," Bimo mengerling jahil. "Tapi kenapa harus jemput pakai mobil pribadi? Kenapa harus ke kafe yang sepi? Dan yang paling penting, kenapa muka lo tadi langsung berubah pas gue sebut nama dia?"

Kaelith memutar bola matanya. "Lo terlalu banyak nonton drama, Bim. Mending lo urus tuh desain poster buat acara seminar minggu depan. Jangan bikin gosip yang aneh-aneh, atau gue cut anggaran divisi lo."

Bimo tertawa terbahak-bahak. "Ancaman lo basi, El. Tapi serius, kalau beneran lo lagi pdkt, gue dukung. Mbak Reporter itu cantik banget, dan gue lihat dia cukup berani pas demo kemarin. Cocoklah sama lo yang kadang-kadang nyebelin."

"Keluar, Bim," perintah Kaelith datar.

"Oke, oke, gue keluar!" Bimo bangkit berdiri, tapi sebelum mencapai pintu, ia berhenti sejenak. "Oh ya, Keisha baru aja nanya-nanya soal lo ke gue. Kayaknya dia curiga lo lagi nyembunyiin sesuatu. Hati-hati, dia kan Kepala Humas, kalau dia sudah mulai curiga, bisa repot urusannya."

Pintu tertutup. Kaelith kembali sendirian, namun pikirannya kini tidak bisa fokus pada laporan keuangan. Nama Keisha Valencia muncul di kepalanya. Keisha adalah salah satu teman terdekatnya di BEM, namun belakangan ini, ia merasa gadis itu terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya.

Kaelith meraih ponselnya, melihat daftar panggilan, lalu jarinya terhenti di nama Naura. Ia ingin memastikan Naura tidak terganggu dengan gosip-gosip konyol di kampus, namun ia sadar, menghubungi Naura sekarang hanya akan membuat gosip itu semakin panas.

Sementara itu, di kantor redaksi, Naura tidak jauh berbeda nasibnya dengan Kaelith. Alyssa sudah menunggunya dengan tatapan 'interogasi' sejak Naura baru saja duduk.

"Jadi?" Alyssa bersandar di meja Naura. "Semalam lo pergi sama Kaelith, kan? Gue lihat mobil dia berhenti di depan kantor pas jam pulang."

Naura mencoba tetap tenang, ia membuka file di komputernya. "Gue ada urusan kerja sama dia, Al. Jangan mulai deh."

"Urusan kerja atau urusan hati?" goda Alyssa. "Naura, lo itu reporter. Gue tahu bedanya tatapan orang yang lagi bahas investigasi sama tatapan orang yang lagi kasmaran. Tadi pagi, pas lo masuk, lo senyum-senyum sendiri pas baca pesan di ponsel. Itu bukan tatapan orang yang lagi bahas korupsi, Nau!"

Naura mendesah. "Gue cuma... dia kasih gue data penting. Itu saja."

"Data penting atau nggak, yang jelas satu kantor sekarang lagi bahas lo," Alyssa menunjuk ke arah beberapa rekan kerja mereka yang sesekali melirik ke meja Naura sambil berbisik-bisik. "Apalagi Mas Dimas. Dia dari tadi lihatin lo terus dengan tatapan tajam. Hati-hati, Nau, Dimas itu sudah lama nungguin lo. Kalau dia tahu lo dekat sama Kaelith, bisa perang dingin kantor kita."

Naura menoleh ke arah Dimas. Benar saja, pria itu sedang berdiri di dekat mesin photocopy, namun matanya tertuju lurus ke arah Naura. Tatapannya dingin dan menuntut penjelasan.

"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Kaelith, Al. Serius," ucap Naura, meski hatinya merasa sedikit bersalah.

Tiba-tiba, ponsel Naura berbunyi. Pesan masuk dari Bimo—staf media BEM yang entah bagaimana mendapatkan nomornya.

“Mbak Reporter! Hati-hati ya kalau ke kampus. Gosip soal lo sama Kaelith sudah nyebar ke seluruh penjuru BEM. Keisha, Kepala Humas BEM, lagi ngamuk-ngamuk karena merasa nggak diajak diskusi soal 'kerja sama' kalian. Good luck!”

Naura membaca pesan itu dengan mata terbelalak. "Sial," umpatnya pelan.

"Kenapa lagi?" tanya Alyssa.

"Ternyata gosipnya bukan cuma di kantor gue, tapi sudah nyebar ke BEM juga," Naura menunjukkan ponselnya ke Alyssa. "Gue rasa, gue bakal jadi target si Keisha dalam waktu dekat."

"Keisha?" Alyssa tahu siapa gadis itu. "Dia itu tipe yang nggak bakal ngebiarin orang lain 'ngambil' apa yang dia anggap miliknya. Kalau lo beneran dekat sama Kaelith, lo harus bersiap buat drama yang lebih besar."

Naura menatap ponselnya dengan cemas. Ia baru saja memulai investigasi yang berbahaya, dan sekarang, ia harus menghadapi drama kampus yang sangat tidak ia inginkan.

Namun, di tengah kecemasannya, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini dari Kaelith.

“Jangan dengerin gosip kampus. Fokus saja sama investigasi. Gue yang bakal urus anggota BEM gue, termasuk Keisha. Lo cukup tenang dan tetep fokus jadi reporter hebat. Nanti siang gue samperin buat bahas kelanjutan datanya.”

Membaca pesan itu, rasa cemas Naura sedikit berkurang. Ada sesuatu dalam nada bicara Kaelith yang membuatnya merasa aman. Kaelith tidak pernah memintanya untuk menjauh, justru pria itu meyakinkannya untuk tetap fokus.

"Dia bilang apa?" tanya Alyssa.

"Dia bilang jangan dengerin gosip," jawab Naura singkat.

"Wah, protektif juga ya," Alyssa terkekeh. "Oke, terserah lo mau ngomong apa. Tapi Nau, kalau lo beneran terjebak di tengah-tengah antara Dimas dan Kaelith, jangan salahin gue kalau kantor ini bakal jadi tempat paling nggak nyaman di dunia."

Naura hanya bisa terdiam. Ia tahu, peringatan Alyssa bukan hal yang sepele. Dimas adalah senior yang sangat ia hormati, sementara Kaelith adalah narasumber yang sedang ia lindungi. Jika pilihannya harus mengorbankan salah satu, Naura tidak tahu mana yang harus ia pilih.

Di saat yang bersamaan, Kaelith di ruangannya sedang berdebat sengit dengan Keisha. Pintu ruangannya tertutup rapat, namun suara Keisha yang tinggi bisa terdengar hingga ke lorong.

"El! Kamu tahu kan kalau kita punya aturan soal hubungan pribadi di organisasi? Kenapa kamu malah dekat sama reporter yang kerjaannya cuma cari sensasi?" teriak Keisha.

Kaelith menatap Keisha dengan tenang. "Ini urusan pekerjaan, Keisha. Naura sedang meliput kasus yang penting bagi kampus. Kenapa kamu harus sebaper ini?"

"Bukan baper! Tapi kamu mempermalukan BEM dengan gosip-gosip ini!" balas Keisha.

"Gosip itu akan hilang kalau kalian nggak bahas," Kaelith berdiri, mendekati Keisha. "Denger, Keisha. Apa yang gue lakuin nggak ada hubungannya sama posisi gue di BEM. Tolong jaga profesionalisme lo."

Keisha menatap Kaelith dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya keluar dari ruangan dengan membanting pintu. Kaelith menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Ia tahu, gosip ini baru permulaan dari konflik yang lebih besar.

Naura, di sisi lain, masih berusaha fokus pada pekerjaannya, namun otaknya tidak bisa berhenti memikirkan Kaelith. Ia merasa, keputusannya untuk ikut campur dalam kasus korupsi yayasan kampus ini telah mengubah hidupnya menjadi sebuah film drama yang penuh dengan intrik.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari fokus. Investigasi ini harus tetap berjalan. Tidak peduli gosip apa yang beredar, tidak peduli siapa yang marah, kebenaran tentang aliran dana yayasan kampus harus terungkap. Dan ia harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar reporter yang "cari sensasi", seperti yang Keisha katakan.

Ia menatap meja kerjanya yang penuh dengan catatan. "Gosip kampus memang menyebalkan," pikirnya, tapi kebenaran jauh lebih penting. Namun, di lubuk hatinya yang terdalam, ia sadar bahwa ia juga mulai memikirkan Kaelith dengan cara yang berbeda. Ia mulai peduli pada pria itu, lebih dari sekadar narasumber berita. Dan itulah yang membuatnya merasa sangat terancam dengan situasi saat ini.

Ia tidak boleh baper. Tidak boleh. Tapi, mampukah ia menahan perasaannya saat Kaelith selalu datang dengan senyum miring dan perhatian kecil yang tulus? Naura belum punya jawabannya. Yang ia tahu, hari-harinya tidak akan pernah membosankan lagi.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!