Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Alasan yang Memalukan
Galang masih berdiri di depan kamarnya, saat Bu Sumarni menghampirinya. Setelah ditunjukkan oleh Galang bahwa pintu kamarnya dikunci yang membuat dirinya marah, Bu Sumarni ikut marah.
"Istrimu itu sudah kurang ajar, Galang." semburnya. "Jangan dikasih hati. Dia yang numpang di rumahmu, dia juga yang berani-beraninya mengusirmu dari kamar sendiri."
Galang mengembuskan napas panjang. Entah kenapa, kali ini ia tidak langsung ikut memaki Arini. Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Selama menikah dengannya, Arini tidak pernah membantah. Tidak pernah melawan. Tidak pernah berani melakukan hal-hal seperti ini. Namun sekarang? Perempuan itu seolah berubah menjadi orang lain.
Dengan kesal, Galang mengeluarkan ponselnya lalu mencari nama Arini di daftar kontak. Dia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak ada jawaban.
Galang mengernyit. Ia mencoba lagi. Tetap tidak diangkat. Sekali lagi. Masih sama. Wajahnya semakin gelap "Kurang ajar!" geramnya sambil menurunkan ponsel. "Dia sudah mempermainkanku. Awas saja kalau dia kembali nanti."
Bu Sumarni yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung menyambar ucapan itu. "Sudah, ceraikan saja dia. Ngapain istri seperti itu dipertahankan?"
Galang yang masih emosi spontan mengangguk kecil. Namun ketika kata *cerai* benar-benar masuk ke dalam pikirannya, ekspresinya berubah.
"Apa? Cerai?" katanya cepat.
"Iya, cerai."
"Nggak... nggak. Kayaknya kalau cerai nggak deh, Bu."
Bu Sumarni menatap putranya dengan heran.
"Kenapa nggak?"
Galang terlihat berpikir sejenak. Alasannya sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Dan sangat memalukan jika diucapkan dengan jujur. Karena selama ini, keberadaan Arini telah membuat hidupnya begitu nyaman. Dia tidak perlu memikirkan sarapan. Tidak perlu mencuci pakaian. Tidak perlu membersihkan rumah. Tidak perlu mengurus kebutuhan sehari-hari. Semuanya selalu tersedia. Dan semuanya dilakukan oleh Arini. Gratis.
"Kita masih butuh tenaganya, Bu," jawab Galang akhirnya.
Bu Sumarni mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Ibu merasakan sendiri kan? Baru beberapa jam Arini nggak ada, rumah sudah kacau begini."
Bu Sumarni langsung terdiam. Mau tidak mau, ia harus mengakui bahwa perkataan itu benar. Pagi tadi mereka terlambat sarapan. Rumah berantakan. Piring menumpuk. Tidak ada yang membereskan.
Bahkan hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele tiba-tiba terasa merepotkan ketika Arini tidak ada.
Namun Bu Sumarni masih berusaha mempertahankan pendapatnya. "Ah, soal itu gampang. Tinggal ambil pembantu saja langsung."
Galang menggeleng cepat. "Pembantu?"
"Iya."
"Nggak, Bu."
"Kenapa lagi?"
Galang menghela napas. "Bayar pembantu itu mahal."
Bu Sumarni terdiam. "Mending sama dia saja," lanjut Galang tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Semuanya gratis."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Seolah Arini bukan seorang istri. Bukan pasangan hidup. Bukan perempuan yang selama ini mengurusnya dengan penuh pengorbanan. Melainkan hanya tenaga kerja yang kebetulan tinggal serumah.
Dan yang lebih menyedihkan, Galang bahkan tidak menyadari betapa kejamnya pemikiran itu. Bu Sumarni yang mendengar alasan tersebut justru mengangguk setuju.
"Iya juga ya."
"Kan?"
"Kamu memang pintar, Lang."
Galang tersenyum tipis. "Makanya."
"Ya sudah, terserah kamu saja deh."
Percakapan itu berakhir begitu saja.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membicarakan perasaan Arini. Tidak ada yang bertanya apakah perempuan itu terluka. Tidak ada yang memikirkan alasan mengapa Arini pergi.
Yang mereka pikirkan hanyalah satu hal. Siapa yang akan mengurus mereka jika Arini benar-benar tidak kembali.
Sementara di tempat lain, tanpa mereka sadari, Arini sedang mulai menata hidupnya kembali. Arini bertekad untuk mandiri dan tidak lagi berpusat pada keluarga yang hanya memandangnya sebagai pelayan tanpa upah. Toh dia sudah mandiri sejak masih kanak-kanak, sepertinya tidak akan susah untuk memulainya kembali.
"Maaas, cepatlah! Lama banget sih?"
Suara Mayang menggema dari bawah tangga. Sejak hampir setengah jam lalu dia sudah berdandan rapi dan siap pergi. Namun Galang tak kunjung turun.
Karena kesal menunggu, Mayang akhirnya naik ke lantai atas. "Mas Galang!"
Langkahnya melambat ketika melihat Galang dan Bu Sumarni berdiri di depan kamar utama. Pintu kamar itu tertutup rapat.
"Kok masih di sini?" tanyanya.
Galang menunjuk pintu di depannya. "Kamar ini dikunci."
Mayang mengerutkan dahi. "Ya terus?"
"Kuncinya dibawa Arini."
Mayang langsung mendecak. "Halah, biarin aja. Nanti juga bisa panggil tukang kunci."
Namun Bu Sumarni tidak bisa menerima hal itu.
"Wanita itu semakin kurang ajar. Berani-beraninya mengunci kamar suaminya sendiri."
Mayang mengangguk cepat. "Makanya, Bu."
Galang tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya masih tertuju pada pintu itu. Di dalam hatinya ada kemarahan yang sulit dijelaskan. Namun kemarahan itu sebenarnya bercampur dengan sesuatu yang lain. Kegelisahan.
Karena untuk pertama kalinya, Arini melakukan sesuatu tanpa meminta izin atau mempertimbangkan perasaannya.
Padahal yang tidak diketahui Bu Sumarni adalah kenyataan yang selama ini disembunyikan Galang.
Rumah itu bukan miliknya. Rumah itu milik Arini.
Dibeli dengan uang Arini jauh sebelum mereka menikah. Sertifikatnya atas nama Arini.
Bahkan sebagian besar isi rumah itu juga dibeli oleh Arini.
Namun selama dua tahun pernikahannya, Galang membiarkan keluarganya percaya bahwa rumah itu adalah miliknya.
Dia tidak pernah meluruskan kesalahpahaman tersebut. Dan sekarang, ketika Arini mengunci kamar lalu pergi membawa kuncinya, Galang tidak bisa berbuat banyak.
Karena jauh di dalam hati, dia tahu Arini memiliki hak atas rumah itu. Meski demikian, harga dirinya membuatnya sulit menerima kenyataan tersebut.
"Mas, sudahlah." Mayang menarik lengannya.
"Ngapain sih mikirin kamar terus? Kita jalan-jalan aja!"
Galang akhirnya menghela napas. "Iya."
Mereka bertiga mulai berjalan menuju tangga.
Di tengah jalan, Bu Sumarni bertanya,
"Emang kalian mau ke mana?"
"Jalan-jalan keliling Bandung lah, Bu. Apalagi?" jawab Mayang dengan semangat.
"Mau pakai apa? Kan mobil Galang dipakai istri tak tahu diri itu?"
Kalimat itu membuat Galang sedikit menegang.
Mobil yang dimaksud memang selama ini dipakai Galang. Dan seperti rumah itu, mobil tersebut juga sebenarnya dibeli oleh Arini. Namun lagi-lagi, Bu Sumarni tidak mengetahui hal itu.
"Pakai angkutan online lah, Bu," jawab Mayang santai.
Bu Sumarni mengangguk. "Kalau gitu, ibu ikut."
Mayang yang sedang menuruni anak tangga langsung berhenti. "Hah? Ikut?"
"Iya."
"Nggak, nggak, nggak."
Bu Sumarni mengernyit. "Kenapa?" Mayang melipat tangan di dada.
"Ibu ini gimana sih? Aku mau menikmati waktu berduaan sama Mas Galang. Harusnya honeymoon, ini cuma jalan-jalan Kota Bandung doang."
Ucapan itu membuat Bu Sumarni terdiam. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di hatinya.
Dulu, setiap kali Arini pergi ke mana pun, dirinya selalu diperlakukan dengan baik. Dia diajak.
Diperhatikan. Bahkan sering kali dibelikan berbagai kebutuhan tanpa harus meminta.
Sedangkan sekarang, baru sekali ingin ikut jalan-jalan, dia sudah ditolak terang-terangan.
"Ya sudah." Nada suara Bu Sumarni berubah dingin. "Kalian pergi saja."
Mayang langsung tersenyum lega. "Nah, gitu dong."
"Tapi nanti pulangnya beli makanan. Ibu nggak mau masak lagi."
Mayang tertawa kecil. "Tenang aja, Bu. Yang penting ada uang, semua bisa diatur."
Bu Sumarni hanya mengangguk pelan. Namun setelah mereka berdua berjalan menuruni tangga, pikirannya masih tertinggal di depan kamar yang terkunci itu.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah terlintas di benaknya. Jika Arini memang tidak memiliki apa-apa seperti yang selalu dia yakini, bagaimana mungkin perempuan itu bisa pergi dengan begitu tenang?
Tanpa menangis. Tanpa memohon. Tanpa meminta untuk diterima kembali. Seolah-olah dia sama sekali tidak takut kehilangan tempat tinggal maupun kehilangan Galang.
Dan tanpa disadari siapa pun, sedikit demi sedikit kebohongan yang selama ini dibangun Galang mulai menunjukkan retaknya.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.