Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Titah Pemusnahan Mutlak
Derasnya aliran udara yang terbelah oleh liukan tubuh raksasa Naga Hitam Mo Long di atas langit Kota Gusu perlahan-lahan mulai stabil. Sisa-sisa petir emas milik ribuan tentara langit telah lenyap ditelan napas api neraka ungu, menyisakan kegelapan awan badai sepekat tinta yang mengunci seluruh perimeter kota fana.
Di pelataran halaman rumah sewaan yang telah hancur berantakan, Mo Jue masih berdiri kokoh dengan satu tangan zirahnya mencengkeram telak leher Panglima Gao tinggi-tinggi di udara.
Tubuh raksasa sang panglima surgawi tergantung lemas, zirah emasnya memancarkan bunyi derit halus yang kaku. Sepasang matanya yang semula dipenuhi keangkuhan ras dewa, kini bergetar horor menatap wajah zirah hitam naga kegelapan Mo Jue yang berada hanya beberapa senti di depan wajahnya.
Energi kegelapan dingin milik sang Raja Iblis terus menyusup paksa, membekukan meridian emas di tubuh Panglima Gao hingga ia terus memuntahkan darah keperakan yang kotor ke atas tanah.
BOOM!
Mo Jue tidak langsung mencabut nyawa Panglima Gao. Dengan sekali kebasan tangan murninya yang memikul kekuatan otot raksasa, ia menghempaskan tubuh sekarat sang panglima kembali ke dalam cekungan kawah batu pelataran halaman.
Hantaman itu begitu keras hingga membuat sisa-sisa tiang bambu teras rumah mereka bergetar hebat.
Mo Jue melangkah tegak di tepi kawah, jubah hitam agungnya berkibar ditiup angin badai malam tiruan.
Sepasang mata ungunya yang menyala mengerikan menatap lurus ke arah kegelapan di sudut lambung kiri halaman. Rasa sayang yang teramat pekat kepada anak dan istrinya kini telah berselimut utuh oleh murka kegelapan yang menuntut pertumpahan darah absolut bagi faksi-faksi luar yang serakah.
"Chi Yan. Keluar dari takhtamu," perintah Mo Jue rendah, namun vibrasi suara baritonnya yang berat bergema dahsyat, merobek sekat dimensi udara bumi fana dalam hitungan sepertiga detik.
WUSSS!!!
Sebuah pusaran api hitam legam yang teramat pekat mendadak meledak dahsyat dari balik celah ubin batu halaman yang hancur. Hawa panas yang mematikan menyembur keluar, berbenturan dengan kabut es murni hingga menciptakan kepulan asap putih tebal yang bergulung-gulung memenuhi pelataran.
Dari balik kobaran api neraka kegelapan yang mengerikan tersebut, sesosok pria raksasa berambut merah menyala dengan baju zirah besi berduri seberat ratusan ton melangkah keluar dengan gagah.
Dia adalah Jenderal Perang Utama Chi Yan—sang pembantai berdarah dingin dari lingkaran dalam takhta Mo Jue yang mengendalikan seluruh divisi militer pasukan api neraka Alam Kegelapan.
Bruk!
Jenderal raksasa itu langsung menjatuhkan lututnya yang kokoh ke atas tanah yang membeku, menghantam lantai batu dengan khidmat yang teramat pekat di depan kaki tegap Mo Jue.
"Hamba Jenderal Chi Yan, menghadap Yang Mulia Raja Iblis Mo Jue!" seru Jenderal Chi Yan dengan suara baritonnya yang menggelegar, menggetarkan sisa dinding batu halaman.
"Merasakan gejolak riak energi takhta Anda membelah dimensi, segenap garis depan pasukan api neraka hamba telah bersiap di balik gerbang bawah, menanti komando dan titah perang dari Anda, Yang Mulia!"
Di balik jendela kamar tidur utama yang terbuka sedikit, Shen Liya yang mendekap erat tubuh Gu Yu kecil seketika terpaku dilingkupi rasa syok yang teramat masif. Kemunculan satu per satu jenderal perang legendaris Alam Kegelapan di halaman rumah sewaan mereka menjadi bukti nyata bahwa suaminya sama sekali tidak sedang bermain-main malam ini.
Pria berzirah hitam itu sedang membentangnya seluruh struktur kekuatan militer tertingginya demi membentengi hidup mereka dari amarah jagat raya.
Gu Yu kecil menatap Jenderal Chi Yan yang berambut merah menyala dengan sepasang mata sehitam tintanya yang berkilat ungu penuh takjub.
"Ibu... paman raksasa itu membawa kobaran api yang sangat keren di tangannya."
Di dekat kaki kecil sang pangeran cilik, Xiao Bai merunduk siaga di atas lantai kayu kamar. Bulu-bulu perak di tubuh harimau putih kecil itu ikut memancarkan uap es tipis, ikut merasakan gejolak energi perang yang kian memuncak dari luar jendela.
Mo Jue berdiri tegak di depan Jenderal Chi Yan. Ia menurunkan pandangan matanya yang ungu menyala, menatap dingin ke arah peta dimensi bumi fana yang terbentang di dalam memorinya—koordinat di mana markas pusat Tiga Sekte Besar manusia fana yang serakah berada.
"Chi Yan," panggil Mo Jue, suaranya terdengar sangat rendah, datar, namun sarat akan kekejaman mutlak yang membekukan darah bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Dewa Tinggi Ling Cang menggunakan keserakahan manusia fana untuk memburu anak dan istriku di bawah fitnah benih kutukan. Tiga Sekte Besar manusia fana di dunia bawah ini telah menolak kedamaian bumi dan memilih menjadi anjing buruan surga demi keabadian palsu."
Mo Jue mengangkat tangan kanannya, mengacungkan tiga jarinya yang berselimut lempengan zirah hitam ke udara.
"Bawa seluruh pasukan api nerakamu bergerak sekarang juga secara memencar. Gunung Guntur milik Sekte Sembilan Pedang, Lembah Racun, dan Altar Utama Sekte Awan Darah... bumi hanguskan markas pusat ketiganya hingga rata dengan tanah malam ini juga," titah Mo Jue, mengalun bagai vonis mati yang tidak bisa diganggu gugat oleh kekuatan mana pun di tiga alam.
"Jangan sisakan sehelai pun kain zirah, sebutir pun pusaka, atau satu pun jiwa dari para kultivator serakah di dalam markas mereka. Hapus eksistensi mereka dari sejarah bumi fana, dan tinggalkan jejak takhtaku di atas tanah mereka. Biarkan dunia bawah dan langit atas tahu... apa konsekuensi bagi mereka yang berani mengusik ketenangan keluargaku."
Mendengar titah pemusnahan mutlak yang baru saja dijabarkan itu, Jenderal Chi Yan menyeringai kejam, memperlihatkan barisan taring iblisnya dengan binar kegembiraan perang yang meluap-luap.
"Hamba menerima perintah suci, Yang Mulia! Malam ini... ketiga markas sekte kotor yang berani mengusik Nata Agung dan Pangeran Cilik tersebut akan resmi dihapus dari muka bumi fana seutuhnya!"
Jenderal raksasa itu bangkit berdiri, lalu menghentakkan kapak raksasanya ke tanah. Dalam hitungan sepertiga detik, tubuh raksasanya bersama ribuan bayangan pasukan api neraka hitam meledak lenyap menembus gerbang dimensi bawah, meluncur cepat menyebar memencar meninggalkan Kota Gusu menuju tiga koordinat markas pusat faksi manusia fana tersebut di pelosok bumi.
Sementara itu, di halaman rumah, langit di atas awan telah sepenuhnya bersih. Naga Hitam Mo Long meliuk anggun kembali masuk ke dalam robekan dimensi ruang hampa setelah melumat habis seluruh sisa dua ribu tentara langit.
Lan Shuo dan Feng Wu berdiri siaga mengawal di sisi lambung kiri dan kanan teras kamar, melipat sepasang lengan zirah mereka dengan kesetiaan penuh demi memastikan tidak ada sebutir pun bahaya luar yang menembus area tempat sang Ratu berada.
Mo Jue berjalan kembali mendekati tubuh lemas Panglima Gao yang masih terjerembap di kawah batu pelataran. Ia mencengkeram kembali rambut emas sang panglima, memaksanya menengadah menatap wajah zirahnya yang sedingin es abadi, bersiap menanamkan pesan kutukan berdarah yang akan mengguncang singgasana Istana Surgawi Ling Cang.