"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
Aroma gurih dari sup ayam hangat dan nasi goreng mentega yang baru matang memenuhi seluruh penjuru ruang makan apartemen. Setelah menyelesaikan urusan dapurnya dengan telaten, Queen bergegas masuk ke kamar mandi tamu di lantai bawah untuk membersihkan diri. Air hangat yang mengguyur tubuhnya sedikit membantu meredakan rasa kaku di otot-ototnya, meskipun sensasi berdenyut di area paling sensitifnya masih terasa begitu nyata.
Beberapa menit kemudian, Queen keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar. Ia mengenakan dress tidur berbahan katun lembut berwarna putih salju di atas lutut, membiarkan rambut bergelombangnya yang setengah basah tergerai di bahu. Dengan perlahan, ia melangkah menuju ruang makan di mana Arga ternyata sudah duduk dengan rapi di salah satu kursi kayu minimalis.
Arga yang saat itu sudah mengenakan kembali kemeja flanelnya yang kusut mendongak saat mendengar suara langkah kaki. Pandangan mata elangnya seketika terkunci pada cara berjalan Queen. Gadis itu melangkah dengan sangat lambat, dengan kedua kaki yang sedikit terbuka alias agak ngangkang, menahan rasa perih yang teramat sangat akibat keliaran dan kebrutalan tindakan Arga semalam.
Melihat pemandangan itu, terbesit rasa bersalah yang teramat pekat kembali menusuk dada Arga. Rahang tegasnya mengetat rapat. Begitu Queen berhasil mendudukkan diri di kursi tepat di hadapannya dengan ringisan kecil yang disembunyikan, Arga berdehem pelan, memecah keheningan pagi yang canggung.
"Queen," panggil Arga, suaranya bariton, berat, dan terdengar begitu kaku.
Queen mendongak, menyunggingkan senyum manis tak berdosa khas dirinya. "Iya, Pak Arga ganteng? Cobain deh masakan aku, dijamin bikin ketagihan kayak yang semalam."
Arga mengabaikan godaan tersebut. Ia menatap lekat-lekat pada manik mata bulat milik mahasiswinya itu dengan tatapan yang sarat akan penyesalan seorang pria dewasa. "Saya... saya ingin meminta maaf atas apa yang terjadi semalam. Saya berada di bawah pengaruh alkohol dan kehilangan kendali diri. Tindakan saya bener-bener keterlaluan dan sudah merenggut sesuatu yang berharga dari kamu."
Queen terdiam sejenak. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap wajah kaku sang dosen dengan binar mata yang justru terlihat sangat tenang dan penuh kasih.
"Aku memaafkan Bapak kok," jawab Queen dengan nada bar-bar yang teramat santai, seolah kehilangan kesucian bukanlah akhir dari dunianya. "Tapi... ada satu syarat mutlak."
Arga mengerutkan dahi tegasnya. "Apa syaratnya?"
"Mulai detik ini, Pak Arga harus jadi kekasih aku. Titik, gak boleh nolak, gak ada alesan!" tuntut Queen dengan sifat cegil-nya yang egois namun terdengar teramat manis di telinga Arga.
Arga langsung mengembuskan napas panjang, menggelengkan kepalanya pelan mendengar permintaan yang dinilainya teramat impulsif itu. "Itu mustahil, Queen. Hubungan ini tidak masuk akal. Umur kamu dan saya berbeda jauh, kamu baru dua puluh tahun dan saya sudah kepala tiga. Lagipula... saya masih memiliki istri yang sah. Secara hukum dan moral, saya tidak bisa menduakan komitmen saya."
Queen tidak menunjukkan raut kecewa. Ia justru tersenyum miring, sebuah senyuman penuh ironi yang langsung menusuk tepat ke pusat luka di hati Arga. "Kenapa mustahil, Pak? Istri Bapak aja bisa selingkuh berkali-kali di belakang Bapak, lalu kenapa Bapak gak bisa selingkuh juga? Kalau Bapak takut dihujat, tenang aja... aku mau kok jadi selingkuhan Pak Arga. Aku gak bakal nuntut Bapak buat cerai sekarang, yang penting Bapak cuma milik aku di luar rumah Bapak."
Kata-kata Queen yang frontal mengenai perselingkuhan Keysha seketika membungkam mulut Arga. Pria itu mematung, menyadari bahwa pembelaannya atas nama 'kesetiaan' dan 'pernikahan' kini telah runtuh tak bersisa sejak ia menyaksikan pengkhianatan di restoran kemarin siang. Menatap mata bulat Queen yang begitu keras kepala namun memancarkan ketulusan yang aneh, benteng pertahanan Arga akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia menyerah kalah pada takdir gila ini.
"Baik," ucap Arga dengan suara bariton yang berat, pasrah pada egonya yang telah lumpuh. "Saya mengiyakan ajakanmu. Kita... berhubungan."
Mata Queen seketika berbinar cerah, senyum kemenangan merekah indah di wajah baby face-nya. "Beneran, Sayang?!"
"Tapi ada satu syarat dari saya," potong Arga dengan tatapan mata yang kembali menajam penuh wibawa. "Hubungan ini harus di-privat sepenuhnya di khalayak umum. Tidak ada satu orang pun di kampus yang boleh tahu, termasuk kedua sahabat dekatmu, Alya dan Karin. Saya tidak ingin posisi saya sebagai dosen dan statusmu sebagai mahasiswi memicu skandal yang lebih besar."
"Siap, Bos! Apapun demi pacar baru aku yang ganteng ini," sahut Queen riang, sama sekali tidak keberatan menjadi rahasia terbesar dalam hidup Arga.
Setelah kesepakatan tersembunyi itu terjalin, mereka berdua melanjutkan sarapan pagi dengan suasana yang jauh lebih hangat. Setelah selesai makan dan merapikan meja, Queen mengajak Arga untuk duduk bersama di ruang tengah guna menonton televisi.
Namun, baru beberapa menit acara televisi berlangsung, Arga menyadari perubahan gelagat pada kekasih mudanya itu. Queen terus-menerus bergerak gelisah di atas sofa satin. Wajah manisnya sesekali mengernyit menahan sakit, dan tangannya berulang kali meremas ujung dress tidurnya. Tampaknya, bagian intim gadis itu bener-bener terasa sangat janggal, perih, dan tidak nyaman akibat gesekan brutal yang ia terima semalam dari pria bertubuh kekar seperti Arga.
Arga yang memperhatikan dari samping mendadak merasa dadanya berdenyut kasihan. Rasa bersalah kembali mendera. Tanpa membuang waktu, Arga bangkit berdiri dari sofa.
"Kamu tunggu di sini. Jangan banyak bergerak," perintah Arga dengan nada kaku yang sarat akan perhatian tersembunyi.
"Bapak mau ke mana?" tanya Queen lemas.
"Membeli obat," jawab Arga singkat. Pria itu langsung keluar dari apartemen, mencari apotek terdekat di sekitar gedung untuk membeli salep khusus luka luar pada area sensitif wanita.
Tidak butuh waktu lama bagi Arga untuk kembali. Begitu pintu apartemen terbuka, Arga melangkah masuk dan langsung menyodorkan sebuah kantong plastik kecil berisi salep medis ke hadapan Queen.
Queen yang melihat hal itu merasa hatinya mendadak dipenuhi oleh letupan bunga-bunga yang indah. Ia merasa sangat senang dan tersentuh karena diperhatikan secara detail oleh pria kaku yang kini telah resmi menjadi kekasihnya. Jiwa cegil-nya yang penuh tipu muslihat nakal pun langsung bergejolak kembali.
"Wah... makasih ya, Sayang. Tapi..." Queen sengaja menggantung kalimatnya, menatap salep itu dengan wajah yang dibuat sesedih dan sepasrah mungkin. "Aku gak bisa pakainya, Pak. Aku gak bisa lihat lukanya di sebelah mana... Gimana kalau kamu aja yang mengoleskannya buat aku? Kalau kamu nolak, luka ini gak bakal sembuh-sembuh, dan aku bakal terus jalan ngangkang di kampus nanti."
Arga membelalakkan matanya, wajah tegas bapak-bapak usia 30 tahun itu seketika memerah sempurna hingga ke daun telinganya. "Queen! Jangan gila! Kamu bisa mengoleskannya sendiri dengan cermin!"
"Gak mau! Pokoknya harus kamu!" tantang Queen bar-bar, melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang dikerucutkan manja.
Arga meremas pelipisnya, ngos-ngosan menahan rasa malu yang luar biasa akibat kelakuan kekasih mudanya ini. Menyadari bahwa Queen tidak akan pernah mengalah dan rasa kasihan melihat gadis itu kesakitan, Arga akhirnya mengembuskan napas pasrah untuk kesekian kalinya hari ini.
"Baik. Saya yang oleskan... tapi saya akan menutup mata," putus Arga tegas, mencoba menjaga sisa-sisa kewarasannya.
Melihat kelakuan Arga yang bener-bener kaku dan bersikeras menutup matanya demi sopan santun yang sudah telat itu, Queen tersenyum geli. Ia menganggap kekasih dewasanya ini terlihat teramat lucu dan menggemaskan di balik aura dinginnya.
Queen berbaring telentang di atas sofa, perlahan menyibak sedikit ujung dress tidurnya ke atas, mengekspos paha mulusnya. Sementara itu, Arga duduk di tepi sofa dengan mata yang terpejam rapat. Jemari telunjuknya yang kokoh telah diolesi sedikit salep dingin beraroma herba.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, tangan Arga bergerak meraba di dalam kegelapan, mencari letak area terlarang milik Queen. Begitu ujung jarinya yang hangat dan sedikit kasar menyentuh permukaan kulit sensitif di pusat keintiman Queen yang sedang terluka, tubuh Queen seketika menegang.
Sent...
"Nngghhh... Ahhh..."
Sebuah desahan lembut yang teramat pasrah dan sarat akan gairah instan lolos begitu saja dari bibir ranum Queen. Sentuhan jari Arga yang mengoleskan salep dengan pijatan perlahan di atas lukanya terasa begitu dingin namun membakar di saat yang bersamaan, mengirimkan gelombang sengatan listrik yang membuat napas Queen memburu pendek.
Arga mengetatkan rahangnya rapat-rapat, mencoba sekuat tenaga menulikan telinganya dari suara desahan sensual yang bisa memicu monster di dalam dirinya kembali terbangun. Dengan gerakan yang dipercepat namun tetap lembut, Arga menyelesaikan tugasnya mengoleskan salep tersebut di area inti Queen, lalu dengan cepat menarik tangannya kembali dan membuka matanya yang tampak kembali sedikit menggelap.
Begitu proses pengobatan yang menegangkan itu selesai, Queen tidak membuang kesempatan. Dengan gerakan secepat kilat, ia bangun dari posisi berbaringnya, melingkarkan kedua lengan lentiknya di leher kokoh Arga, lalu menarik tubuh tegap pria itu hingga wajah mereka menyatu seutuhnya.
Queen langsung mencium bibir Arga dengan penuh kerinduan dan kehangatan yang teramat romantis. Bukan ciuman brutal karena nafsu seperti semalam, melainkan sebuah lumatan lembut yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh rasa cinta dan kepemilikan yang ia miliki untuk pria kaku ini.
Arga yang awalnya terkejut, perlahan-lahan mulai terbawa suasana. Rasa hangat dari bibir manis Queen seolah menjadi penawar racun atas segala kepedihan hatinya. Tangan kokoh Arga bergerak naik, memeluk pinggang ramping Queen, membalas lumatan bibir gadis itu dengan kelembutan yang teramat dalam di bawah keheningan ruang tengah yang romantis.
Di dalam pagutan bibir mereka yang manis, Queen tersenyum di dalam hatinya. Ia tahu betul... saat ini Arga mungkin belum mencintainya. Pria ini menerimanya karena rasa bersalah, pelampiasan ego, dan keterpaksaan. Namun, melihat bagaimana Arga memperlakukannya dengan penuh kelembutan pagi ini, Queen bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan menggunakan seribu satu cara cegil-nya untuk membuat sang Dosen Killer jatuh cinta setengah mati kepadanya, hingga tidak ada lagi ruang untuk wanita lain di dalam hati pria itu selain dirinya.