Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vyora dan Temannya
Ruang tengah berdinding tanah liat itu tak lagi terasa kelewat sepi. Kehadiran Cate, Uchi, dan Takahiro seolah menyalakan kembali perapian tak kasatmata yang sudah lama padam di hati ibunda Vyora.
Wajah wanita paruh baya itu semringah, tawanya sesekali renyah mengudara, seakan ia sedang dikelilingi oleh anak-anak kandungnya sendiri yang telah lama pergi.
Mengesampingkan penat yang membebani bahunya, Vyora akhirnya bisa bernapas lega. Ia duduk bersila di sisi kiri Cate, sementara sahabatnya itu tampak pasrah terhimpit oleh sang ibu di sisi kanan.
"Kebetulan Ibu dan Ayah masih belum tidur," kata Vyora tenang. "Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan sama kalian."
Seolah menulikan telinga, wanita paruh baya itu sama sekali tak merespons putrinya. Ia malah makin asyik unyeng-unyeng dan mencubit gemas kedua pipi Cate, membuat rambut pendek gadis berambut merah itu berantakan ke segala arah bak sarang burung.
Vyora mengabaikan pengabaian itu. Tekadnya sudah bulat demi rencana yang telah ia susun sebelumnya, jadi ia memilih untuk merangkai kembali kalimatnya.
Namun, sebelum bibirnya terbuka, bayangan sang ayah muncul dari ambang pintu dapur. Pria tua itu melangkah pelan, kedua tangannya berhati-hati membawa nampan berisi tiga cangkir teh mengepul dan sepiring jagung rebus utuh yang baru matang.
"Apa yang ingin kau katakan, nak?"
Suara parau yang termakan usia itu memecah fokus ruangan, berhasil membuat Vyora, Uchi, dan Takahiro menoleh serempak ke arah pria yang kini meletakkan nampan di atas meja usang mereka.
"Aku dan yang lainnya berencana untuk kembali menanam benih padi besok pagi."
Pernyataan itu bekerja bak sihir pembeku. Tangan sang ibu yang sedang asyik menekan pipi Cate seketika terhenti di udara. Tingkahnya yang kelewat riang mendadak lenyap tanpa sisa.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Cate; ia lekas menjauhkan wajah, meringis kesakitan sambil mengusap-usap kedua pipinya yang memerah panas dengan telapak tangan.
"Untuk apa?"
Hanya dua kata itu yang lolos dari bibir ibu Vyora. Nadanya berubah. Pandangan wanita itu merosot tajam, menatap kosong pada lantai tanah di bawah telapak kakinya.
Menyadari pertanyaan sang ibu terbalut oleh aura murung dan putus asa, Vyora mencoba membalas dengan intonasi setenang mungkin untuk meyakinkan.
"Aku lakukan ini demi—"
Brak!
Sang ibu menggebrak meja kayu di hadapannya dengan keras. Tubuh rentanya mendadak bangkit berdiri. Tatapan matanya yang tadi jenaka kini menyala oleh amarah yang berbaur dengan kepedihan mendalam.
"Buat apa kamu sampai melakukan hal sejauh ini, huh?!"
Hentakan meja yang menggelegar itu membuat bahu Uchi terlompat kaget, begitu pula Takahiro yang refleks menegakkan punggungnya.
"Ibu sudah berapa kali katakan padamu, berhentilah bekerja terlalu keras."
Bahu wanita itu mulai bergetar. Pertahanannya runtuh. Air mata yang tak sanggup lagi ia bendung mulai menetes lambat, membelah keriput di pipinya.
"Ibu nggak mau kamu yang menanggung semua resiko. Ibu sudah kehilangan kakakmu, dan sekarang kamu ingin menambah penderitaan ibu?"
Kata-kata itu menohok ulu hati Vyora. Keringat, lumpur, dan lelah yang ia pikul selama tiga tahun seolah dianggap semu dan tak bernilai di mata wanita yang melahirkannya.
Hatinya menjerit perih. Dengan pandangan yang kini ikut mengabur oleh genangan air mata, Vyora membalas dengan suara pecah.
"Aku lakukan ini semua demi ibu, juga demi ayah. Aku nggak mau lihat kalian kelaparan tiap malam, aku juga nggak mau kalian terus berhutang buat beli makanan. Oleh sebab itu aku terus berusaha keras buat terlihat kuat!"
Udara di ruangan itu terasa menyesakkan. Cate tak tahan lagi melihat pemandangan memilukan di depan matanya.
Sebagai sahabat yang paling tahu sekeras apa Vyora banting tulang, ia memotong jarak dan memeluk gadis berambut abu-abu itu dengan erat.
Hati Cate tak bisa berbohong, ia ikut menangis, merasakan kepedihan yang sama merobek dadanya.
"Sudah cukup! Hentikan," bisiknya bergetar di dekat daun telinga Vyora, mengusap punggung sahabatnya itu.
Di seberang meja, bersebelahan dengan Uchi, Takahiro tertunduk diam. Kedua tangannya yang bertumpu di paha mengepal teramat kuat.
Matanya menatap tajam ke arah kolong meja. Ia mungkin tak paham seutuhnya akar masa lalu keluarga ini, namun keputusasaan dalam nada suara Vyora menampar ingatan masa lalunya sendiri.
Ia tahu betul rasa sakitnya ketika usaha mati-matian yang kita berikan sama sekali tak dihargai.
Tak ingin api emosi membakar habis kewarasan keluarganya malam ini, sang ayah yang sudah duduk menempati posisi kepala keluarga mencoba mengambil alih kendali.
"Kalian pulanglah," tutur pria paruh baya itu dengan nada berat, mencoba mengusir halus demi mendinginkan suasana. "Hari sudah makin gelap, jangan sampai orang tua kalian khawatir."
"Tidak. Kami tidak akan pulang sebelum kami bisa membantu Vyora."
Penolakan itu datang dari Uchi. Suaranya bermula pelan, namun berangsur meninggi hingga menggema di penjuru ruangan.
Matanya yang sempat terpejam menahan ketegangan, kini terbuka lebar, menembakkan sorot tajam ke arah ayah Vyora.
"Aku tidak bisa hanya diam saja! Sebagai satu-satunya orang kota di sini, aku tidak terima dengan argumen konyol yang kalian katakan."
Fisik Uchi mungkin yang paling mungil di antara mereka, namun nyali yang ia tunjukkan saat ini menjulang bak raksasa.
"Kalian terlalu banyak membuang sumber makanan yang sudah Tuhan berikan, dan juga tidak menghargai usaha yang sudah Vyora lakukan."
Semua keluh kesah yang selama ini ia pendam saat masih hidup di kota modern Terrovia—melihat tumpukan makanan layak konsumsi yang disia-siakan manusia—kini meledak keluar secara alami. Uchi tak lagi peduli pada etika bertamu atau risiko diusir; nuraninya yang bicara.
"Kami datang ke sini untuk membantu, bukan membebani!"
Dari tempatnya duduk, Takahiro menatap gadis mungil itu dengan mata sedikit melebar. Kekaguman merayap di dadanya.
Apa yang diteriakkan Uchi tak bisa dibantah, membiarkan sisa sumber kehidupan membusuk adalah sebuah kebodohan.
Rasa percaya diri yang sempat terkubur kini tersulut kembali. Sebagai pemuda yang membawa pola pikir dari era modern, Takahiro mengangkat wajahnya dan menyambar ketegasan Uchi.
"Yang dikatakan dia benar," timpal Takahiro lugas, menatap kedua orang tua Vyora bergantian. "Kami datang ke sini untuk membantu Vyora-san. Sebagai ketua tim, aku berjanji... akan kuusahakan yang terbaik buat kalian."
Mendengar frasa yang dilontarkan pemuda di sebelahnya, Uchi menoleh patah-patah dengan kening berkerut. 'Ketua tim? Sejak kapan dia jadi ketuanya?' batin gadis itu sedikit heran.
Namun, kebingungan itu segera ia tepis ke sudut pikiran. Terlepas dari klaim sepihak Takahiro yang sok berkuasa, Uchi akhirnya bisa merasakan percikan dari sebuah kerja sama. Untuk pertama kalinya, di tengah ruangan yang masih menegang ini, nyawa dari sebuah tim yang sesungguhnya telah lahir.