NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Firasat Akhir Hayat sang Ibu

Langkah-langkah kecil itu terasa begitu konstan di atas jalan setapak yang dipenuhi kerikil tajam. Gu Yu berjalan di sebelah kiri ibunya, sebelah tangan kecilnya menggandeng erat jemari Shen Liya yang terasa sedingin es. Di punggungnya, sebuah buntalan kain berisi pakaian ganti dan sisa obat kering bergoyang pelan seirama dengan ayunan langkahnya.

Pedang kayu kecilnya tetap terikat kokoh, bertindak sebagai pelindung imajiner bagi sang ibu.

Perjalanan dari Desa Awan Putih menuju wilayah timur, tempat Gunung Han berdiri, memakan waktu hampir dua pekan. Bagi manusia fana, jarak tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih bagi seorang wanita yang separuh jiwanya telah digerakkan oleh sisa-sisa kultivasi yang sekarat.

"Ibu, apakah kita harus beristirahat di bawah pohon itu?" tanya Gu Yu kecil, mendongak menatap wajah Shen Liya.

Sepasang mata sehitam tinta milik bocah itu memancarkan kedewasaan yang teramat pekat. Sejak mereka memulai perjalanan, Gu Yu menolak untuk mengeluh lelah bahkan untuk sekali pun. Baginya, setiap kerutan menahan sakit di wajah ibunya adalah alarm darurat yang menuntutnya untuk menjadi sekokoh dinding batu.

Shen Liya memaksakan seulas senyuman, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. "Tidak apa-apa, Yu'er. Sedikit lagi kita akan sampai di perbatasan Hutan Bambu Ungu. Ibu masih bisa bertahan."

Kenyataannya, di dalam rongga dadanya, Shen Liya merasa seolah-olah ada ribuan ulat es yang sedang mencabik-cabik meridian utamanya.

Racun Jue Qing San yang sempat jinak berkat energi Gu Jue delapan tahun lalu, kini telah menyebar hingga ke pinggiran inti sucinya. Firasat sebagai makhluk spiritual membisikkan sebuah kepastian yang kejam di telinganya: sukmanya tidak akan bertahan melewati musim gugur tahun ini. Umurnya mungkin hanya tersisa hitungan bulan, atau bahkan minggu.

Satu-satunya hal yang menopang kesadaran Shen Liya saat ini adalah tatapan mata hitam putranya. Mata yang selalu mengingatkannya pada pria dingin yang dulu dengan ketus menyuruhnya minum obat, namun diam-diam membentangkan seluruh energinya demi menyembunyikannya dari amarah langit.

"Yu'er..." panggil Shen Liya, menghentikan langkahnya sejenak di bawah bayangan pohon besar di tepi jalan.

Gu Yu ikut menghentikan langkahnya, menatap ibunya dengan saksama. "Ibu butuh minum air?"

Shen Liya menggeleng. Ia berlutut di depan putranya, menyamakan tinggi tubuh mereka. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia merapikan kerah jubah rami abu-abu milik Gu Yu yang sedikit berantakan.

"Jika nanti kita tiba di Gunung Han... dan jika ternyata pondok Ayahmu sudah tidak ada, atau jika Ayahmu tidak mengenali kita lagi... ber janjilah pada Ibu bahwa kau tidak akan membencinya," bisik Shen Liya, air mata samar mulai menggenang di sudut mata indahnya.

Gu Yu menyipitkan mata hitamnya, sebuah reaksi penolakan alami yang sangat mirip dengan ekspresi Gu Jue saat merasa terganggu. "Mengapa Ayah tidak mengenali kita? Bukankah Ibu bilang Ayah adalah orang yang sangat hebat? Jika dia sehebat itu, dia seharusnya tahu bahwa kita sedang berjalan mencarinya."

Shen Liya tersenyum getir, mengelus pipi mulus putranya. "Dunia ini penuh dengan perubahan, Yu'er. Ibu yang bersalah karena pergi tanpa pamit darinya delapan tahun lalu. Jika dia marah, itu adalah haknya. Tapi Ibu hanya ingin kau tahu... Ayahmu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa kau percayai setelah Ibu tiada nanti."

Mendengar frasa "setelah Ibu tiada", kepalan tangan kecil Gu Yu mengencang di sisi tubuhnya. Tanpa disadari oleh bocah itu, di dalam inti spiritualnya yang tersembunyi, sekerat riak energi kegelapan yang pekat bergejolak tipis, memicu hembusan angin dingin yang mendadak berputar di sekitar kaki mereka.

Gu Yu menolak menerima takdir kematian ibunya. Jika ayahnya adalah seorang tabib hebat yang diceritakan ibunya selama ini, maka pria bernama Gu Jue itu harus mengembalikan kesehatan ibunya, atau ia tidak akan pernah sudi memanggilnya ayah.

"Aku mengerti, Ibu. Aku tidak akan membencinya, asalkan dia bisa membuat Ibu kembali tersenyum tanpa menahan sakit," jawab Gu Yu dengan nada suara yang sengaja dibuat setegas mungkin, mencoba menenangkan kecemasan sang ibu.

Shen Liya menghela napas lega, memeluk tubuh kecil putranya erat-erat sebelum akhirnya kembali bangkit berdiri. Mereka berdua melanjutkan perjalanan, berjalan menembus barisan bukit yang mulai diselimuti oleh kabut putih yang tebal—pertanda bahwa mereka telah memasuki wilayah terluar dari Gunung Han.

Sementara itu, jauh di balik sekat dimensi fana, di dalam megahnya Istana Kegelapan Alam Iblis.

Mo Jue sedang duduk tegak di atas singgasana batu hitamnya yang dikelilingi oleh pilar-pilar api neraka hitam yang berkobar sunyi. Jubah zirah kegelapan miliknya memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat barisan pengawal iblis di luar aula tidak berani menarik napas terlalu keras.

Sepasang matanya yang berwarna ungu menyala menatap lurus ke arah sebuah cermin gaib kecil yang melayang di depan telapak tangannya.

Cermin itu memantulkan sebuah laporan spiritual senyap yang dikirim oleh Pelindung Kanan, Feng Wu, dari dunia fana.

“Yang Mulia... Dewi Shen Liya dan putra Anda, Gu Yu, telah meninggalkan Desa Awan Putih. Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju Gunung Han. Kondisi spiritual sang Dewi... kian memburuk. Sisa racun langit telah mencapai inti sucinya.”

Membaca laporan tersebut, sepasang mata ungu Mo Jue berkilat tajam. Tekanan spiritual di dalam aula utama mendadak melonjak hebat, membuat pilar-pilar api hitam meledak lebih tinggi dan meretakkan beberapa bagian ubin giok hitam di bawah singgasananya.

"Delapan tahun... kau membesarkan anakku dalam penderitaan fana seperti itu, Liya," desis Mo Jue, suaranya bergaung rendah penuh dengan amarah yang bercampur dengan rasa sakit batin yang mendalam.

Selama delapan tahun ini, Mo Jue menahan diri untuk tidak menjemput mereka secara paksa karena ia tahu ego seorang dewi langit milik Shen Liya akan menolak tinggal di Alam Iblis. Namun sekarang, setelah wanita itu bersedia melangkah kembali ke tempat perjumpaan pertama mereka demi mencari pertolongan "Gu Jue sang tabib fana", Mo Jue tidak memiliki alasan lagi untuk bersembunyi dalam bayangan.

"Lan Shuo," panggil Mo Jue rendah.

Dari balik kegelapan pilar istana, Pelindung Kiri Lan Shuo—sang kakak—melangkah maju dengan langkah anggun namun berwibawa, lalu berlutut dengan khidmat di depan singgasana.

"Hamba berada di sini, Yang Mulia."

"Siapkan Mata Air Spiritual di Lembah Bayangan. Bersihkan seluruh areanya dari polusi energi iblis luar, buat suasananya sebersih mungkin seperti udara alam fana," perintah Mo Jue, matanya kembali berubah menjadi hitam sepekat malam saat ia berdiri dari singgasananya.

Lan Shuo mendongak dengan tatapan terkejut.

"Yang Mulia... apakah dewi langit itu akan kembali?"

"Dia sedang berjalan menuju pondok fana lamaku bersama putraku," jawab Mo Jue, melangkah turun dari altar singgasana. Jubah zirahnya seketika meleleh menjadi asap hitam, kembali berganti menjadi jubah rami abu-abu kasar yang sederhana—wujud dari Gu Jue sang tabib fana yang telah mati delapan tahun lalu.

"Aku akan turun ke dunia fana hari ini. Sandiwara penantian ini sudah cukup. Aku akan menjemput mereka berdua."

Lan Shuo menatap perubahan wujud rajanya dengan hati yang tersentuh. Sebagai sosok kakak, ia bisa melihat bahwa di balik kekejaman Mo Jue sebagai Raja Iblis, ada bagian dari jiwanya yang hanya akan hidup ketika ia kembali menjadi "Gu Jue" di depan wanita langit tersebut.

"Hamba akan melaksanakan perintah dengan sempurna, Yang Mulia. Semoga kepulangan Anda membawa kebahagiaan bagi Istana Kegelapan," ujar Lan Shuo khidmat sebelum akhirnya tubuhnya melesat pergi untuk menyiapkan keperluan medis spiritual tingkat tinggi di Lembah Bayangan.

Mo Jue menghentakkan kaki kanannya ke lantai giok hitam istana.

Wusss!

Sebuah pusaran asap kegelapan melilit tubuh tegapnya, menyeret eksistensinya keluar dari dimensi Alam Iblis dan membawanya meluncur cepat menuju bumi fana, menuju sebuah pondok bambu kosong di Gunung Han yang hari ini akan ia bangun kembali demi menyambut kepulangan keluarga kecilnya.

Matahari hampir tenggelam sepenuhnya ketika Shen Liya dan Gu Yu kecil akhirnya menapakkan kaki di tanah Hutan Bambu Ungu kaki Gunung Han. Kabut tebal bergulung menyambut kedatangan mereka, persis seperti suasana malam pelarian Shen Liya delapan tahun yang lalu.

Shen Liya menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah hamparan tanah kosong yang dipenuhi oleh semak belukar hijau. Matanya membelalak, dan jantungnya terasa seperti berhenti berdetak seketika.

"Pondoknya... pondoknya sudah tidak ada," bisik Shen Liya, tubuhnya mendadak lemas hingga ia terpaksa bertumpu pada bahu kecil Gu Yu untuk menahan berat badannya.

Harapan terakhirnya runtuh. Tempat persembunyian Gu Jue telah rata dengan tanah, menyisakan kekosongan yang membuktikan bahwa pria itu mungkin telah pergi, atau telah melupakan semua memori tentang dirinya. Rasa putus asa yang teramat sangat bercampur dengan keganasan racun yang mendadak melonjak membuat kesadaran Shen Liya kian menipis.

"Ibu! Ibu, bertahanlah!" teriak Gu Yu kecil dengan panik, mencoba menopang tubuh ibunya yang perlahan merosot jatuh ke atas rumput yang basah.

Namun, di tengah kepanikan bocah berusia tujuh tahun itu, kabut tebal di depan mereka tiba-tiba berputar cepat, terbelah menjadi dua bagian seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang sedang membuka jalan pintu masuk.

Dari balik pekatnya kabut hutan bambu, sesosok pria berpakaian jubah rami abu-abu kasar melangkah keluar dengan sangat tenang.

Tangannya yang jemarinya panjang dan kokoh tampak sedang memegang sekeranjang anyaman bambu berisi tanaman obat kering. Wajahnya yang tampan beralur dingin menatap lurus ke arah mereka berdua.

Pria itu adalah Gu Jue.

"Di gunungku... aku tidak menerima tamu yang gemar menangis di atas rumput basah," ujar Gu Jue, suaranya yang rendah, dalam, dan magnetis menggema di antara batang-batang bambu, persis seperti kalimat pertama yang ia ucapkan delapan tahun lalu.

Shen Liya mendongak dengan sisa kesadarannya yang kabur. Menatap wajah pria di depannya, air matanya menetes deras membasahi pipi pucatnya. "Ah... Ah Jue... kau... kau masih di sini..."

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh rapuh Shen Liya ambruk sepenuhnya, pingsan ke dalam kegelapan.

Namun, tubuhnya tidak menghantam tanah yang dingin. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia, Gu Jue telah menjatuhkan keranjang obatnya dan menangkap tubuh Shen Liya ke dalam dekapan hangatnya, mendekap erat wanita yang selama delapan tahun ini memenuhi seluruh penantian panjangnya.

Gu Yu kecil seketika terpaku, tangan kecilnya secara insting langsung mencengkeram hulu pedang kayu di punggungnya, menatap tajam ke arah pria asing yang kini sedang memeluk ibunya dengan tatapan mata yang sarat akan ketegangan emosional yang teramat pekat.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!