Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Kehangatan Lima Kelopak Bunga
Hari berikutnya berganti. Han Yu terbangun di dalam paviliunnya dengan tubuh yang terasa sangat bugar. Karena merasa bosan terus mengurung diri di atas pohon dewa, dia memutuskan untuk berjalan-jalan santai menyusuri area pemukiman di sekitar Kota Linglong. Namun, baru beberapa saat dia melangkah menikmati pemandangan, jalannya mendadak dihadang oleh sekelompok wanita kultivator dari ras suci yang berjumlah lima orang. Mereka dengan ramah dan penuh antusias mengundangnya untuk bergabung dalam sebuah perjamuan makan malam bersama di salah satu paviliun pribadi.
Melihat tidak ada niat buruk atau hawa membunuh di dalam pancaran mata hijau mereka, Han Yu dengan sangat senang hati menyetujui ajakan tersebut. Tidak lama kemudian, dia sudah duduk dengan nyaman di sebuah meja kayu cendana, bercengkrama dengan akrab bersama kelima wanita jelita tersebut. Segera setelah hidangan disajikan, salah satu dari mereka yang merupakan seorang pemilik kediaman bernama Yue Yin memulai obrolan hangat. Dari untaian kalimat yang mengalir, Han Yu mengetahui bahwa Yue Yin adalah seorang janda yang kehilangan pasangan kultivasi gandanya dalam pertempuran berdarah melawan para manusia lima tahun yang lalu. Selain itu, sangat jelas terlihat dari riak wajah mereka bahwa setiap wanita di meja tersebut memiliki kisah masa lalu yang kelam, penuh kesepian, dan menyedihkan.
"Ayo, Kakak Han Yu, silakan dinikmati hidangannya! Jangan sungkan," ucap Su Rong, seorang kultivator wanita dengan raut wajah yang sangat lembut, rambut pirang cerah yang lebat, dan sepasang mata hijau yang memancarkan kehalusan budi bahasa.
"Luar biasa!" Han Yu tersenyum sangat lembut, menyendok sup herbal spiritual di hadapannya lalu mencicipinya perlahan. "Mmmm! Rasa sup ini benar-benar sangat lezat, Nyonya Yue Yin!"
"He-he. Aku sangat senang mendengarmu memuji masakanku yang sederhana ini," jawab Yue Yin, wanita bertubuh jangkung dengan keanggunan matang dan rambut tebal yang indah. Sedetik kemudian, pipinya merona merah padam. "Lagipula, bagimu aku hanyalah Yue Yin, tidak perlu terlalu formal. Watak dan ketampanan surgawimu benar-benar sanggup memukau siapa saja di lembah ini."
"Aduh, Kakak Yue Yin, apakah kamu sudah benar-benar melupakan keberadaan kami di sini karena terpesona olehnya?" goda seorang wanita kultivator lain yang sangat menarik dan ramping bernama Mo Ran, seraya memainkan rambut halusnya yang sangat panjang.
"Biarkan saja dia, Mo Ran. Kakak Yue Yin kita sudah terlalu lama menderita dalam kesepian batin; sekarang saatnya hatinya kembali berkembang," timpal wanita berwajah halus dan cantik dengan sepasang mata yang memancarkan kebijaksanaan mendalam bernama Li Xian.
"Tapi tetap saja aku merasa sangat iri melihat kedekatan kalian," ucap seorang wanita kultivator bertubuh menggoda dengan rambut pirang yang dibiarkan tergerai bebas bernama Mei Ruo.
Han Yu hanya tersenyum lembut menanggapi candaan mereka, berusaha memberikan perhatian yang adil kepada setiap wanita di ruangan itu agar tidak ada yang merasa diabaikan. Dia melirik ke arah luar jendela perunggu dan menyadari bahwa langit malam telah berubah menjadi sangat gelap pekat. Efek alkohol spiritual yang mereka minum mulai menghangatkan suasana, membakar dinding pertahanan emosional para janda kesepian itu.
"Terima kasih banyak telah bersedia menghabiskan malam yang indah ini bersamaku, para nona yang rupawan," Han Yu tersesap sisa araknya lalu tersenyum sangat manis sambil bangkit berdiri dari cursunya. "Hari sudah sangat larut, jadi aku harus segera pamit undur diri. Sebagai bentuk penghormatan, tentu saja aku akan mengantar kalian semua kembali ke kediaman masing-masing dengan aman."
Han Yu dengan hati-hati mengembalikan kursi gioknya ke posisi semula. Namun, sebelum dia sempat melangkah menuju pintu, Mo Ran tiba-tiba mendekat dengan berani dan merengkuh lehernya erat. Aroma harum tubuhnya berbaur dengan uap arak yang memabukkan. Han Yu yang terbawa suasana langsung meraih pinggul montok Mo Ran, mengangkat tubuh matang itu rapat ke dadanya dan mendaratkan sebuah ciuman yang sangat dalam, basah, dan panas di bibirnya.
Suara erangan manis dan napas yang memburu dari Mo Ran bergema keras di dalam ruangan sebelum ciuman intim itu terlepas. Seutas air liur tipis yang berpendar keemasan akibat stimulasi energi spiritual sempat menghubungkan bibir mereka berdua bagaikan jembatan asmara sebelum Mo Ran menjilat bibirnya sendiri dengan tatapan lapar dan mulai menanggalkan hanfu sutranya hingga terjatuh ke lantai. Tindakan berani itu seketika pemprotes reaksi berantai, diulangi oleh keempat wanita lainnya di dalam ruangan tersebut yang sudah benar-benar kehilangan akal sehat akibat pengaruh pesona aura kegelapan dan karisma Han Yu yang memabukkan.
Yue Yin melangkah maju, membuka jubah luarnya hingga memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang berlekuk sempurna dengan payudara besar yang membusung kencang. Han Yu hanya bisa tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya pasrah menyambut badai gairah yang datang menerjang. Dia ditarik ke atas dipan besar di tengah ruangan. Kelima wanita matang itu mengerubungi tubuh kekarnya tanpa ampun, menanggalkan pakaian Han Yu dengan jemari mereka yang gemetar tidak sabar.
Malam itu berubah menjadi pergulatan kedagingan yang luar biasa liar. Han Yu menggunakan ketahanan fisik stamina kelas satu miliknya untuk menghadapi serangan bertubi-tubi dari kelima wanita tersebut. Suara tamparan kulit yang basah, desah napas yang saling memburu, serta erangan kenikmatan yang sangat keras bersahut-bersahutan memenuhi paviliun sepanjang malam. Han Yu membenamkan dirinya berkali-kali ke dalam kehangatan tubuh Yue Yin dan Mo Ran, memuaskan dahaga asmara mereka yang telah gersang selama bertahun-tahun, meninggalkan noda-noda kepuasan di atas seprai sutra hingga fajar menyingsing.