Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kesempatan
Di sudut kota dagang Kerajaan Iblis yang sibuk namun terasa dingin baginya, Roven duduk bersandar di sebuah peti kayu tua sambil menghitung isi kantong uangnya. Logam-logam berkilau itu semakin menipis; kini yang tersisa hanyalah beberapa keping koin emas dan perak yang cukup untuk bertahan hidup beberapa pekan ke depan. Di sudut gudang sewaannya, tumpukan barang dagangan masih menggunung tinggi tanpa ada tanda-tanda akan dilirik pembeli. Gulungan kain sutra impor, karung-karung garam kasar, rempah-rempah beraroma tajam, hingga perkakas rumah tangga tersusun rapi dalam debu.
Roven menghela napas panjang, embusan napasnya terdengar berat di tengah ruangan yang senyap. "Kalau bulan depan situasinya masih seperti ini..." gumamnya pelan pada diri sendiri, "...aku benar-benar selesai."
Dulu, Roven bukanlah tipikal pedagang yang gagal. Pada masa jayanya, ia cukup dikenal luas karena keberaniannya merambah jalur perdagangan kecil yang dihindari pedagang lain—ia mendatangi desa-desa terpencil Ras Manusia, pemukiman tersembunyi para elf di pinggir hutan, hingga perkampungan ras beastman yang sulit dijangkau. Para pedagang besar di kota sering menganggapnya bodoh. Mereka bilang, berdagang di desa kecil berarti keuntungan yang didapat sangat tipis, sementara jarak tempuhnya jauh dan risikonya luar biasa besar.
Namun, Roven selalu memegang prinsip yang berbeda. "Kalau semua pedagang hanya berebut keuntungan di kota besar, lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup orang-orang di desa kecil?" pikirnya waktu itu.
Prinsip itulah yang membuatnya memiliki banyak pelanggan setia yang menghormatinya. Sayangnya, Roven memiliki satu sifat fatal di dunia perdagangan modern: ia terlalu jujur. Jika harga pasar barang sedang turun, ia akan menurunkan harga jualnya secara adil kepada pembeli. Jika ada barang dagangannya yang cacat atau kualitasnya kurang baik, ia tidak pernah menutupinya dan langsung mengatakannya secara terang-terangan. Akibat kejujuran yang berlebihan itu, margin keuntungannya selalu tipis dan ia kesulitan membangun cadangan kekayaan yang besar.
Kehancuran kecil itu bermula ketika usahanya mulai menunjukkan secercah perkembangan. Merasa di atas angin, Roven meminjam modal dalam jumlah besar kepada serikat pedagang utama untuk memperluas skala usahanya. Ia membeli sebuah kereta kuda berlapis baja yang lebih besar, menyewa beberapa pegawai baru yang cekatan, dan membuka rute perdagangan lintas wilayah yang baru.
Lalu, malapetaka itu datang. Perang besar antara kerajaan kembali pecah. Jalur-jalur perdagangan utama mendadak ditutup oleh militer. Kereta dagangnya yang baru sempat dirampok di tengah perjalanan, dan beberapa desa langganannya kosong ditinggal mengungsi oleh penduduknya akibat ketakutan. Di tengah omset yang terjun bebas, utang-utang pinjamannya tetap berjalan dengan bunga yang menumpuk. Bisnisnya runtuh perlahan-lahan. Kini, dari kejayaan kecil yang sempat ia raih, ia hanya menyisakan satu kereta tua yang hampir reot dan dua orang pegawai setia yang masih mau menemaninya di saat-saat sulit.
Sementara nasib Roven dipertaruhkan di sudut kota, suasana di ruang sidang utama Istana Kerajaan Iblis terasa jauh lebih serius. Jenderal Varkas Vane baru saja kembali dari misi penyelidikannya dan berdiri tegak untuk menyampaikan laporan lengkap di hadapan sang penguasa tertinggi, Raja Iblis.
Varkas memaparkan setiap detail yang ia saksikan dengan sangat cermat: keberadaan desa misterius di dalam Hutan Kematian, eksistensi Ras Kelinci yang hidup damai, seorang pandai besi tua bernama Brom, petak-petak sawah berpola rapi, bengkel kerja yang fungsional, hingga kualitas hasil panen luar biasa yang belum pernah mereka temukan di wilayah lain.
Raja Iblis mendengarkan seluruh pemaparan itu dengan seksama tanpa menyela sepatah kata pun. Ketika Varkas selesai berbicara, seorang menteri senior langsung maju dan memberikan usulan spontan, "Yang Mulia, jika tempat itu memang memiliki potensi sebesar itu, kita bisa langsung mengirimkan tim pedagang istana untuk menjalin monopoli perdagangan dengan mereka."
Raja Iblis menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak."
Semua menteri yang hadir langsung terdiam, menunggu alasan sang penguasa.
Raja Iblis berdiri dari singgasananya, melangkah tenang ke dekat jendela besar yang menghadap ke arah pegunungan timur. "Apa yang kita miliki saat ini baru sebatas laporan pengamatan. Belum ada jaminan pasti bahwa hubungan dagang itu akan berjalan mulus atau bahkan diterima oleh mereka."
Ia berbalik, menatap para menterinya satu per satu. "Jika kita mengirim pedagang terbaik dari istana lalu misi itu gagal di tengah Hutan Kematian, kerajaan akan kehilangan orang-orang paling berpengalaman yang sangat kita butuhkan. Dan jika mereka tewas di tangan monster atau karena salah langkah, kita kehilangan aset berharga. Aku tidak ingin mempertaruhkan nyawa orang-orang terbaikku... untuk sesuatu yang peluang keberhasilannya masih belum pasti."
Varkas mengangguk dalam diam; ia sangat setuju dengan logika rasional sang raja.
Raja Iblis kemudian tersenyum tipis, sebuah ide cemerlang melintas di benaknya. "Sebaliknya... bagaimana kalau kita memberikan kesempatan ini kepada para pedagang independen biasa di luar sana?"
Seorang menteri dengan keraguan di wajahnya bertanya, "Lantas, bagaimana jika mereka gagal?"
"Mereka mendaftar dan ikut secara sukarela atas kemauan mereka sendiri," jawab Raja Iblis tegas. "Dan jika misi ini berhasil, kerajaan tetap memperoleh jalur perdagangan baru yang sangat berharga tanpa harus mengorbankan pasukan atau aset inti."
Semua pejabat istana akhirnya memahami kejeniusan strategi tersebut.
Beberapa hari kemudian, sebuah pengumuman resmi kerajaan ditempel di papan pengumuman di berbagai kota besar. Kerajaan Iblis secara terbuka mencari pedagang independen untuk sebuah misi ekspedisi perdagangan khusus dengan persyaratan yang ketat: harus berpengalaman dalam perdagangan lintas wilayah, tidak memiliki catatan kecurangan atau penipuan, bersedia melakukan perjalanan jarak jauh yang berbahaya, memiliki kapasitas negosiasi yang baik dengan berbagai ras, serta lulus dari serangkaian ujian seleksi ketat. Sebagai gantinya, seluruh biaya perjalanan akan ditanggung penuh oleh pihak istana, dan keuntungan penjualan dijamin besar. Namun, satu hal yang dirahasiakan rapat-rapat: tujuan akhir dari misi tersebut sama sekali tidak disebutkan.
Reaksi para pedagang di pasaran bermacam-macam. Pedagang-pedagang besar yang sudah mapan tertawa meremehkan, "Jika tujuannya dirahasiakan begini, sudah pasti jalurnya sangat berbahaya." Pedagang kaya raya menolak mentah-mentah, "Untuk apa mempertaruhkan nyawa demi keuntungan yang belum jelas?"
Namun, bagi para pedagang kecil yang terpuruk di ambang kebangkrutan, pengumuman itu adalah secercah harapan terakhir. Salah satunya adalah Roven. Ia memegang selembar selebaran pengumuman itu dengan tangan gemetar, menatapnya lama sekali di bawah temaram lampu meja. Ia menoleh kepada dua pegawainya yang setia dan berkata dengan suara serak, "Ini... mungkin ini adalah kesempatan terakhir kita."
Hari seleksi tiba. Sekitar tiga puluh pedagang dari berbagai penjuru berkumpul di halaman ujian istana. Sebagian besar dari mereka berasumsi bahwa mereka akan diuji seputar kemampuan menghitung angka atau kalkulasi keuntungan mata uang. Ternyata, dugaannya meleset jauh.
Ujian pertama bukan tentang angka, melainkan kejujuran. Para peserta dihadapkan pada berbagai skenario moral perdagangan. Contohnya: Bagaimana tindakanmu jika barang yang kau jual ternyata memiliki cacat tersembunyi yang tidak disadari pembeli? Sebagian besar peserta menjawab dengan lihai bahwa mereka akan tetap menjualnya selama si pembeli tidak komplain, atau menaikkan harga komoditas lain untuk menutup potensi kerugian. Ketika giliran Roven, ia menjawab dengan sederhana namun tegas, "Aku akan jujur menjelaskan kondisi barang apa adanya kepada pembeli sebelum transaksi terjadi." Para penguji hanya mengangguk dan mencatat sesuatu di lembaran mereka.
Ujian kedua menguji kemampuan negosiasi lintas budaya. Peserta diminta untuk menyelesaikan sengketa dagang fiktif antara dua kelompok ras dengan kebiasaan yang sangat berbeda. Poin penilaiannya bukan mencari siapa yang meraup keuntungan finansial terbesar, melainkan bagaimana menciptakan kesepakatan damai agar kedua belah pihak tetap mau melanjutkan hubungan dagang jangka panjang. Di sinilah Roven bersinar terang; pengalaman masa lalunya yang terbiasa berdagang dengan elf, manusia, dan beastman membuatnya jauh lebih fleksibel dan adil dibandingkan peserta lain.
Ujian ketiga menguji mental dan keberanian. Seorang penguji senior maju ke depan dan melontarkan pertanyaan terakhir, "Bagaimana jika tujuan akhir dari misi dagang ini ternyata berada di wilayah yang paling berbahaya dan mematikan di dunia?"
Mendengar pertanyaan itu, beberapa pedagang langsung ciut nyali dan memilih mengundurkan diri di tempat. Roven terdiam cukup lama, memikirkan utangnya, sisa hidupnya, dan prinsip hidup yang ia pegang selama ini. Ia mengangkat wajahnya dan menjawab mantap, "Selama risikonya sepadan dengan apa yang didapat... aku akan pergi."
Satu demi satu nama peserta dipanggil oleh panitia kerajaan. Roven mengepalkan tangannya erat-erat di balik jubahnya yang usang, jantungnya berdegup kencang karena namanya belum juga dipanggil.
Lalu, suara petugas memanggil, "...Roven."
Ia mengangkat kepalanya dengan penuh kelegaan.
Di belahan dunia yang berbeda, tepatnya di dalam kompleks akademi militer khusus yang megah di ibu kota Kerajaan Manusia, delapan orang remaja yang dipanggil sebagai pahlawan dari dunia lain tengah menjalani rutinitas harian mereka. Sudah genap dua bulan sejak mereka menjejakkan kaki di dunia fantasi ini, dan perbedaan cara pandang di antara mereka mulai terlihat sangat kontras seiring berjalannya waktu.
Pagi itu, instruktur kerajaan mengadakan sesi sparing dan ujian keterampilan antar pahlawan di arena latihan utama. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang paling kuat di antara mereka, melainkan untuk memahami perkembangan kemampuan unik serta peran spesifik yang didapatkan masing-masing individu dari anugerah dewa saat pemanggilan pertama.
Delapan pahlawan tersebut memiliki spesialisasi tempur dan sihir yang luar biasa:
Kenji – Mengambil kelas legendaris Sword Saint, memiliki kecepatan tebasan luar biasa dan penguasaan pedang yang hampir menembus batas manusia.
Rina – Memilih jalur Archmage, penyihir elemen tingkat tinggi yang mampu merapal mantra pemusnah massal tanpa waktu chanting yang lama.
Sarah – Menempati peran Saintess of Healing (Healer utama), satu-satunya yang mampu memulihkan luka fatal dan keletihan spiritual secara instan.
Hiroki – Menguasai kelas Vanguard Spearmaster, petarung garis depan dengan jangkauan serangan luas dan daya tahan fisik yang kokoh.
Mika – Menjadi Phantom Ranger (Archer elit), pemanah bermata elang yang mampu menembak target bergerak dari jarak ribuan meter dengan presisi mutlak.
Daiki – Memegang kelas Iron Fortress Paladin, pelindung mutlak dengan sihir pertahanan perisai cahaya yang hampir mustahil ditembus monster tingkat tinggi.
Yuki – Mengambil jalur Shadow Assassin, spesialis penyusup dan pembunuh senyap yang bergerak dalam kegelapan mutlak.
Emi – Memiliki kelas langka Grand Chrono-Mage (Support/Mage pengendali waktu dan buff), penyokong strategis yang mampu mempercepat waktu pemulihan rekan atau memperlambat musuh.
Setelah sesi latihan yang melelahkan selesai, para pahlawan berkumpul di teras batu untuk beristirahat sambil menikmati udara siang. Di sanalah perbedaan pendapat kecil mulai memecah konsentrasi mereka.
Kenji, dengan semangat membara khas protagonis cerita fantasi pada umumnya, mengepalkan tinjunya. "Kita sudah berlatih selama dua bulan penuh! Kapan kita benar-benar dikirim ke garis depan untuk mengalahkan Raja Iblis dan menyelamatkan dunia ini?"
Rina mendengus pelan sambil merapikan jubah sihirnya. "Jangan gegabah, Kenji. Kau dengar sendiri kan kata instruktur, kekuatan monster di luar sana tidak bisa disamakan dengan boneka latihan di sini."
Sarah menatap mereka berdua dengan pandangan ragu. "Lagi pula... kita bahkan belum pernah melihat wujud pasukan iblis itu secara langsung. Rasanya aneh jika kita harus membunuh seseorang yang bahkan belum pernah kita temui."
Daiki mengangguk setuju. "Sarah benar. Bukankah tugas utama kita seharusnya melindungi umat manusia? Tapi sejauh yang kita lihat di ibu kota ini, keadaannya baik-baik saja dan tidak terlihat seperti sedang di ambang kehancuran total."
Yuki menyandarkan punggungnya ke dinding pilar, berkata dengan nada sinis namun realistis, "Karena para petinggi kerajaan memang sengaja menyembunyikan realitas perang dari pandangan kita. Kita ini hanya dijadikan simbol atau senjata pamungkas peliharaan istana."
Suasana di antara mereka mulai diselimuti ketegangan kecil. Belum sempat perdebatan itu membesar, bel istana berbunyi menandakan kelas teori politik dunia bersama guru besar kerajaan dimulai.
Di dalam kelas, sang guru membentangkan peta dunia yang sangat besar di hadapan mereka. Baru pada sesi inilah para pahlawan muda tersebut mendapatkan informasi geopolitik yang sesungguhnya—bahwa dunia ini tidak sesederhana cerita dongeng tentang kebaikan melawan kejahatan mutlak:
Bangsa Elf memilih jalan isolasionisme total dan menolak memihak manusia dalam perang.
Para Beastman hidup netral di hutan rimba, tidak peduli siapa yang menang asal wilayah mereka tidak diganggu.
Ras Dwarf tersebar di berbagai kerajaan, menjual senjata kepada siapa saja yang sanggup membayar harga tertinggi.
Dan yang paling mengejutkan: tidak semua iblis adalah prajurit haus darah; sebagian besar dari mereka hanyalah rakyat biasa yang juga menderita akibat krisis ekonomi dan peperangan panjang.
Mendengar penjelasan itu, Emi mengangkat tangannya dengan ragu. "Kalau begitu... jika situasinya serumit ini, kenapa perang antara manusia dan iblis ini tidak pernah mau berhenti?"
Guru tua itu terdiam cukup lama, memandang para pahlawan muda dengan tatapan penuh makna sebelum menjawab, "Karena perang besar tidak selalu dimulai oleh mereka yang mati-matian bertempur di garis depan, anak-anakku. Seringkali, perang dipelihara oleh mereka yang duduk nyaman di balik tembok istana demi keuntungan kekuasaan."
Kalimat itu menggantung berat di dalam ruangan kelas, menanamkan benih-benih keraguan moral yang mendalam di dalam hati para pahlawan untuk konflik yang akan mereka hadapi di masa depan.
Malam harinya, setelah kelas usai, semua pahlawan kembali ke kamar asrama masing-masing di sayap timur istana. Di luar jendela kamar mereka, pemandangan ibu kota Kerajaan Manusia tampak sangat damai, dihiasi lampu-lampu jalan yang berpijar indah.
Namun, di dalam kesunyian malam itu, masing-masing dari mereka mulai menyadari satu kenyataan mutlak: dunia baru yang mereka datangi ini ternyata jauh, jauh lebih rumit, abu-abu, dan penuh intrik daripada sekadar narasi kekanak-kanakan tentang "manusia melawan iblis".