Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
Aroma pekat dari asap cerutu premium berpadu dengan wangi minyak pelumas mesin arloji mahal yang khas memenuhi setiap sudut ruang kerja pribadi milik Kyle Ernest di lantai satu rumah Menteng. Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun kilau cahaya kuning dari lampu meja kuningan antik masih menerangi jemari panjang Kyle yang bergerak lincah menari di atas baris-baris dokumen proyek pembangunan properti komersial terbaru milik perusahaannya. Di sudut kiri meja kaca besar itu, sebuah layar laptop menampilkan siaran langsung dari kamera pengawas CCTV terenkripsi yang memperlihatkan sebuah kawasan kompleks apartemen elit di pinggiran kota London.
Suara ketukan di pintu kayu jati kembar ruangan itu terdengar dua kali secara konstan dan teratur. Asisten pribadi kepercayaan Kyle seorang pria paruh baya yang mengetahui seluruh rahasia hidup dan transaksi keuangan gelap milik Kyle melangkah masuk ke dalam ruangan setelah mendapatkan izin lisan dari atasannya.
"Pak Kyle, ini adalah berkas laporan transaksi keuangan triwulan terbaru untuk rekening bank luar negeri yang terdaftar atas nama Nona Kinara Inka. Berdasarkan data valid dari sistem, semua dana transferan rutin bulanan yang Anda kirimkan selalu dicairkan secara tunai dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah dana tersebut masuk ke rekening beliau."
Asisten pribadi itu meletakkan seberkas dokumen tipis berlogo bank internasional ke atas meja kerja Kyle dengan sikap takzim.
Kyle tidak langsung mengalihkan pandangan matanya dari dokumen proyek yang sedang ia periksa. "Apakah ada laporan visual terbaru mengenai kondisi kesehatannya di sana? Bagaimana dengan lingkungan sosialnya di sekitar apartemen tersebut?"
"Nona Kinara terlihat sangat sehat dan sering kali menghabiskan waktu luangnya untuk mengunjungi beberapa kelab malam elit serta butik mode mewah di kawasan kelas atas Mayfair, Pak. Seluruh akomodasi dan fasilitas hidupnya terpenuhi dengan sangat baik tanpa ada kekurangan sedikit pun. Namun... pihak keamanan dari orang tua Anda sampai saat ini masih memperketat pengawasan di sekitar bandara internasional agar Nona Kinara tidak memiliki celah untuk kembali ke Indonesia."
Kyle Ernest meletakkan pena hitamnya ke atas meja dengan gerakan yang pelan namun tegas. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk, seolah-olah gumpalan es yang menjalar dari bola mata kelabunya mampu membekukan lembaran kertas draf di hadapannya dalam sekejap.
{Lima tahun yang lalu. Ibu dan Papa membuang Kinara secara paksa ke seberang lautan hanya karena dia tidak berasal dari latar belakang keluarga konglomerat yang setara dengan silsilah Ernest. Mereka berdua tidak pernah tahu seberapa besar pengorbanan dan ketulusan hati Kinara yang selalu setia menemaniku saat aku berada di titik terendah kehidupanku dulu sebelum memimpin perusahaan ini.}
Di dalam labirin ingatan Kyle, sosok Kinara Inka adalah representasi dari seorang wanita cantik nan seksi yang sangat rapuh. Wanita yang menangis tersedu-sedu hingga jatuh pingsan saat dipaksa naik ke dalam kabin pesawat lima tahun lalu, sembari mengucapkan janji setia bahwa ia akan selalu menjaga kesucian hatinya hanya untuk seorang Kyle Ernest.
Kyle sama sekali tidak pernah mengetahui atau mungkin egonya menolak untuk melihat fakta realita yang ada bahwa di balik layar monitor CCTV terenkripsi itu, Kinara Inka sebenarnya sedang tertawa riang di atas sofa beludru kelab malam bersama jajaran pria-pria asing, menghabiskan dana ratusan juta rupiah milik Kyle setiap minggu dengan senyuman licik yang sangat terlatih. Bagi Kinara, Kyle Ernest hanyalah sebuah mesin ATM berjalan yang sangat bodoh dan mudah dimanipulasi hanya dengan derai air mata palsu dari kejauhan.
"Tetap lakukan pengawasan ketat terhadap pergerakannya di sana. Pastikan seluruh kebutuhan materi dan fasilitas hidupnya tercukupi tanpa ada hambatan sedikit pun. Jangan sampai ada satu pun informasi mengenai bantuan dana ini yang bocor ke telinga kedua orang tuaku."
"Baik, Pak Kyle. Laporan Anda sudah saya catat dengan baik. Dan... mengenai perkembangan kondisi Nona Nadine di rumah ini?"
Asistennya melirik sekilas ke arah wajah atasannya dengan ragu.
Kyle terdiam selama beberapa detik mendengar nama istri kontraknya disebut. Bayangan wajah anggun berparas unik milik Nadine yang tersenyum riang penuh kepuasan setelah menerima transferan tambahan uang memasak tempo hari mendadak melintas di dalam benaknya, mengusir sejenak ketegangan pikirannya.
"Dia hanya sebatas partner kontrak pernikahan yang profesional, tidak lebih. Dia sangat tahu di mana posisi batasannya berdiri, dan dia hanya peduli pada aliran uang masuk ke rekeningnya. Karakter transparan seperti itu justru sangat memudahkan diriku untuk mengendalikannya tanpa perlu mengkhawatirkan drama perasaan."
Kyle bersandarkan pada kursi kebesarannya, mengibaskan tangan kanannya memberikan isyarat agar sang asisten segera keluar meninggalkan ruang kerjanya. Pria itu kembali menatap layar laptopnya, tenggelam kembali dalam ilusi cinta masa lalu yang semu, tanpa menyadari bahwa wanita yang baru saja menjadi tamengnya di meja makan memiliki potensi besar untuk mengubah seluruh dunianya secara permanen.