NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Pil Kebahagiaan

Perang baru saja mendapat harga.

Harga itu tidak hanya berupa saham, jabatan, atau reputasi.

Ada nama Mira di dalamnya.

Selama beberapa hari setelah gala, PIK villa terasa lebih sunyi. Tidak ada yang memutar musik di dapur. Sari lebih sering menunduk. Pak Hadi bergerak seperti biasa, tapi suaranya lebih rendah. Bahkan Boba seolah tahu rumah ini sedang berkabung untuk seseorang yang baru sebentar kami kenal.

Brandon belum tertangkap.

Secara resmi, ia "tidak dapat dihubungi untuk sementara". Secara tidak resmi, semua orang tahu Veronica dan Denny sedang menyembunyikannya.

Video ia mendorong Celine sudah menyebar. Video dari parkiran tidak lengkap, tapi cukup untuk membuat polisi mulai bertanya. Hendra menahan semua akses perusahaan Brandon. Steven dan Reza mengunci jalur finansialnya.

Celine sendiri tidak menghubungiku. Aku juga tidak menghubunginya. Luka di antara kami terlalu banyak untuk diselesaikan lewat satu pesan. Tapi Natasha mendapat kabar dari Vincent bahwa Celine tidak berhenti menangis sejak sadar. Bukan karena Brandon. Karena video itu membuat seluruh Jakarta tahu apa yang selama ini ia telan sendirian.

Aku tidak tahu harus merasa apa.

Kasihan tidak menghapus semua kejahatannya.

Tapi kebencianku pada Brandon tumbuh lebih cepat.

Aku pikir orang seperti Brandon akan bersembunyi.

Ternyata egonya lebih besar daripada rasa takut.

Steven menyebutnya pola pelaku yang belum pernah benar-benar dihukum.

"Dia tidak mencari aman," kata Steven malam sebelumnya. "Dia mencari cara merasa menang lagi."

Dan orang yang butuh merasa menang akan membeli apa pun yang menjanjikan kuasa.

Pada hari kelima puluh dua, ia menghubungiku lewat nomor asing.

Aku sedang di ruang keluarga PIK, memeriksa pesan Natasha tentang kondisi Celine yang masih dirawat, ketika ponselku bergetar.

"Keira."

Suara Brandon terdengar serak.

Aku langsung memberi isyarat pada Anto, yang berdiri dekat pintu. Anto menekan earbud, wajahnya berubah fokus.

"Brandon."

"Jangan pura-pura kaget. Aku tahu kau pegang obat itu."

"Obat apa?"

"Yang membuat Celine bicara."

Aku diam.

Di kepalaku, Si Kepo langsung berdenting.

[Target meminta Truth Serum.]

[Peringatan: risiko tinggi.]

Brandon tertawa pendek. "Kau pikir aku bodoh? Malam itu bukan kebetulan. Celine tidak mungkin berani bicara kalau tidak ada sesuatu."

Untuk sekali ini, ia hampir benar.

"Apa maumu?"

"Jual padaku."

Aku menatap meja.

Di atasnya ada foto berita Mira. Wajah gadis itu muda, biasa, tersenyum canggung. Ia mungkin punya keluarga. Mungkin punya rencana. Mungkin hanya bekerja malam itu untuk uang tambahan.

Brandon membunuhnya karena takut.

Sekarang ia ingin membeli senjata untuk menyerang Reynard.

"Untuk apa?" tanyaku pelan.

"Itu bukan urusanmu."

"Kalau aku yang menjual, itu urusanku."

Ia mendesis. "Aku akan bayar. Berapa pun."

[Opsi tersedia: Euphoria Pills.]

Panel Si Kepo terbuka.

[Efek: euforia kuat, rasa percaya diri ekstrem, dorongan impulsif, risiko adiksi tinggi.]

[Catatan: pemakaian berulang menyebabkan kerusakan fisik dan mental.]

Aku menatap opsi itu lama.

Ini bukan Truth Serum.

Ini pisau yang orang itu minta sendiri tanpa tahu sisi tajamnya menghadap ke mana.

"Aku tidak punya banyak," kataku.

Brandon langsung diam.

Lalu suaranya merendah. "Jadi kau punya."

"Ada yang lebih kuat dari obat bicara."

"Apa?"

"Pil yang membuat orang merasa tidak takut. Lebih percaya diri. Lebih... bahagia."

Di seberang, napasnya berubah.

Orang seperti Brandon tidak butuh kebenaran.

Ia butuh ilusi bahwa ia masih berkuasa.

"Berapa?"

"Dua puluh juta rupiah per pil."

"Kau merampokku?"

"Kau bilang berapa pun."

Ia memaki pelan.

Aku menunggu.

Di dekat pintu, Anto sudah memberi tanda bahwa panggilan dilacak. Tapi aku tahu Brandon tidak akan cukup bodoh berada di tempat yang mudah ditemukan.

"Aku mau sepuluh."

"Pembayaran dulu."

"Kau tidak percaya padaku?"

"Tidak."

Jawaban itu keluar begitu cepat sampai Si Kepo menampilkan ikon tepuk tangan kecil.

Brandon tertawa lagi, kali ini lebih kasar. "Kau berubah, Keira."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Tetap saya terima."

Pembayaran masuk lewat rekening perantara satu jam kemudian. Pak Hadi dan Steven langsung menandainya sebagai bukti. Aku tidak mengirim barang sendiri. Terlalu bodoh.

Si Kepo menyediakan kapsul kecil melalui Ruang Penyimpanan. Bentuknya putih polos, tidak mencolok. Aku memasukkannya ke botol vitamin mahal, lalu mengirim lewat kurir yang sudah dikendalikan Aegis Security. Isinya dilacak. Jalurnya direkam.

Sebelum paket keluar, aku menatap botol itu lama.

Ada bagian dari diriku yang masih bertanya apakah ini membuatku sama buruknya.

Lalu aku teringat ponsel Mira yang retak di lantai parkiran.

Tidak.

Aku tidak sedang menabur jebakan ke orang tak bersalah.

Aku menaruh cermin di depan monster dan membiarkannya jatuh cinta pada bayangannya sendiri.

Reynard masuk ke ruang kerja ketika semua selesai.

"Kau menjual sesuatu pada Brandon."

Itu bukan pertanyaan.

Aku menoleh.

"Kau dengar dari Steven?"

"Aku dengar dari wajahmu."

Aku menghela napas. "Dia meminta obat yang membuat orang bicara."

"Kau memberi?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku memberi sesuatu yang membuat orang seperti dia menjadi lebih dirinya sendiri."

Reynard menatapku lama.

Di kepalaku, aku tidak berusaha menyembunyikan apa pun. Euphoria Pills. Efek. Risiko. Strategi.

Matanya menggelap.

"Itu berbahaya."

"Dia juga."

"Keira."

"Mira mati."

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Aku menatap tanganku sendiri. "Aku tahu ini bukan bersih. Aku tahu. Tapi dia akan terus memakai orang lain sebagai senjata. Kali ini, aku membuat senjata itu mengarah kembali padanya."

Reynard duduk di depanku.

"Jangan lakukan sendirian."

Aku mengangkat mata.

Bukan jangan lakukan.

Jangan lakukan sendirian.

Itu bedanya.

"Baik," kataku.

Ia menggenggam tanganku. "Mulai sekarang, semua langkah terhadap Brandon harus lewat aku, Steven, atau Anto."

"Kau mengaturku?"

"Aku menjagamu."

Aku ingin membantah, tapi genggamannya hangat, dan untuk pertama kalinya, dijaga tidak terasa seperti dikurung.

Malam itu, laporan pertama masuk.

Kurir berhasil.

Brandon mengambil botol itu di sebuah apartemen servis di Jakarta Selatan, memakai topi dan masker. Kamera Aegis menangkap tangannya gemetar ketika membuka tutup botol.

Steven memperbesar rekaman. "Lokasi aman. Tidak ada warga biasa di sekitar. Tim hanya memantau, tidak masuk."

Reynard mengangguk.

Aku tahu mereka menjaga agar jebakan ini tidak menyeret orang lain.

Itu membuat napasku sedikit lebih lega, tapi tidak membuat hatiku ringan.

Ia menelan satu pil.

Lima menit kemudian, ia tertawa.

Tertawa terlalu keras.

Lalu memukul meja sambil berkata pada orang di sebelahnya, "Aku belum kalah. Mereka semua akan lihat."

[Efek awal aktif.]

[Adiksi psikologis: mulai.]

Aku menatap layar, tidak merasa senang.

Hanya dingin.

Tiga hari kemudian, nomor asing itu menelepon lagi.

Aku tidak mengangkat. Steven mengalihkan rekaman otomatis.

Suara Brandon masuk, serak, cepat, dan bergetar.

"Keira. Beri aku seratus lagi."

Di layar, Si Kepo berkedip.

[Status: ikan menggigit kail.]

Aku menutup mata.

Jaring sudah bergerak.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!