NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KILATAN TAKJUB DI DEPAN CERMIN

Malam itu, setelah pulang dari toko hijab bersama Aisyah, suasana kamar Maira terasa jauh lebih hidup. Di bawah temaram lampu kamar, ia tampak begitu bersemangat. Di atas kasur kapuknya, kantong plastik pembungkus jilbab tadi sudah terbuka. Maira mengambil jilbab instan berbahan kaos terlebih dahulu. Untuk yang satu ini, ia tidak menemukan kesulitan sama sekali. Tinggal blusukan ke kepala, merapikan bagian depannya sebentar, selesai.

Namun, perhatian Maira kemudian teralih pada selembar kain segi empat berwarna krem teduh yang masih terlipat rapi. Ia mengambil kain itu, lalu berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang sudah buram.

Maira memandangi kain persegi itu dengan kening berkerut. “Ini... gimana cara pakainya, ya?” gumam Maira kebingungan.

Ia memutar-mutar kain itu di tangannya. “Yang dipakai Aisyah waktu di kafe tuh gimana, sih? Oh, diginiin mungkin, ya.”

Maira mencoba melipat jilbab itu secara memanjang hingga membentuk persegi panjang, lalu meletakkannya di atas kepala. Ia menarik ujung kanan dan kirinya ke bawah dagu. Namun, saat melihat pantulan dirinya di cermin, Maira langsung cemberut. “Loh, kok pendek banget di bagian depan? Perasaan Aisyah gak sependek dan seaneh gini deh bentuknya. Ah, gagal.”

Sambil mengembuskan napas frustrasi, Maira melempar jilbab itu ke atas kasur. Sesaat ia berpikir untuk menyerah saja, namun rasa penasaran dan keinginan kuat di hatinya mengalahkan rasa malas itu. Ia berjalan mengambil ponsel pintar Infinix miliknya yang tergeletak di atas meja kecil. Jemarinya dengan cepat membuka aplikasi video pendek untuk mencari tutorial.

“Cara memakai jilbab segi empat simpel untuk pemula.”

Maira memperhatikan video step-by-step yang muncul di layarnya dengan saksama. Matanya berkedip-kedip menyadari kebodohannya sendiri. “Ohhh... pantesan aja pendek! Ternyata dijadiin bentuk segitiga dulu toh lipatannya, bukan persegi panjang. Elah, Maira... Maira,” runtuknya pada diri sendiri sambil tertawa kecil.

Ia kembali mengambil kain krem itu. Kali ini, ia mengikuti instruksi video dengan saksama. Melipatnya secara diagonal hingga membentuk segitiga sempurna, meletakkannya di atas kepala dengan kedua sisi sama panjang, lalu menyatukannya di bawah dagu dengan sebuah peniti kecil yang untungnya sempat ia beli tadi. Terakhir, sesuai tutorial, ia menarik kedua ujung jilbab itu dengan rapi lalu mengikatnya dengan manis ke arah belakang leher.

Begitu jemarinya selesai merapikan sisa kain yang mencuat, Maira perlahan mendongakkan kepalanya untuk menatap cermin.

Deg.

Sebuah kilatan takjub yang luar biasa bersama rasa tidak percaya seketika menghampiri dadanya. Jantung Maira berdegup kencang memandangi pantulan sosok wanita yang ada di dalam cermin. Wanita di dalam cermin itu tampak begitu anggun, bersih, dan memancarkan aura kesejukan yang belum pernah Maira lihat sepanjang hidupnya.

“Ini... beneran gue?” batin Maira lirih.

Ia menyentuh pipinya sendiri, memastikan bahwa yang di depan cermin itu bukanlah ilusi. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dirinya hanya akan terlihat menarik jika memakai pakaian ketat dan riasan tebal ala wanita malam. Namun nyatanya, dengan balutan kain sederhana yang menutup kepala dan lehernya ini, ia justru merasa jauh lebih dihormati, bahkan oleh dirinya sendiri. Sebuah senyuman manis nan indah yang teramat tulus terukir di bibirnya yang dilapisi pelembap. Malam itu, Maira tidur dengan perasaan damai yang seutuhnya.

Keesokan harinya, atmosfer di dalam kafe tempat Maira bekerja terasa sedikit berbeda. Maira datang melangkah melewati pintu masuk dengan penampilan yang berubah total. Ia mengenakan pakaian yang tertutup sepenuhnya—kemeja longgar berlengan panjang yang dipadukan dengan rok panjang berpotongan lurus. Kepalanya telah terbalut rapi oleh jilbab segi empat krem hasil latihannya semalam, yang diikat rapi ke belakang leher, memperlihatkan potongan leher pakaiannya yang sopan. Sentuhan riasan tipis dan natural di wajahnya membuat pesona Maira naik berkali-kali lipat. Ia terlihat begitu menawan dan anggun.

Aisyah yang kebetulan sedang mengelap meja konter kasir langsung menghentikan aktivitasnya begitu mendengar lonceng pintu berbunyi. Gadis itu menatap kedatangan Maira dengan sepasang mata yang nyaris tak berkedip sama sekali. Mulutnya sedikit terbuka karena saking terkejutnya.

Maira yang merasa ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Ia berjalan menghampiri sahabatnya itu sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Aisyah. “Hey, Syah... jangan lupa ngedip, hey! Entar mata Lo keluar baru tahu rasa,” goda Maira mencoba mencairkan suasana.

Aisyah tersentak dari lamunannya, lalu refleks memegang kedua pundak Maira dengan wajah yang dipenuhi binar kebahagiaan. “Ini... ini beneran Mbak Maira? MasyaAllah... Mbak, demi Allah, Mbak Maira cantik banget! Cantik parah!” puji Aisyah berapi-api dengan tulus.

Maira tertawa renyah, rasa percaya dirinya perlahan bangkit. “Iya, Syah. Gue juga sejujurnya gak nyangka kalau bakal kelihatan secantik ini. Gimana, gak kalah cantik dan adem dari Lo, kan?” canda Maira sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aisyah ikut tertawa. “Ih, Mbak Maira mah aslinya emang udah cantik, sekarang makin berlipat ganda karena dapet cahaya hidayah!”

Namun, perubahan drastis penampilan Maira hari itu tentu saja tidak luput dari perhatian dan pandangan sinis beberapa pengunjung kafe yang sudah sering datang ke sana. Di salah satu meja sudut, dua orang wanita muda tampak saling berbisik sambil melirik ke arah Maira dengan tatapan menilai.

“Eh, lihat deh. Itu pelayan yang biasanya dandan seksi dengan baju ketat itu, kan? Gila ya, pangling banget hari ini. Tiba-tiba insyaf atau gimana?” ucap salah satu pengunjung dengan nada berbisik yang masih bisa terdengar.

Temannya yang duduk di hadapannya mencibir, menimpali dengan nada julid yang kentara. “Halah, palingan juga cuma musiman. Paling nanti dilepas lagi jilbabnya. Fomo aja mungkin itu mah, kan temen kerjanya si Aisyah pake jilbab syar'i, jadi dia pengen ikutan biar dapet perhatian. Kita lihat aja bertahan berapa hari.”

Mendengar bisikan-bisikan miring itu, senyuman di wajah Maira sempat memudar sedikit. Dadanya terasa agak sesak dihantam prasangka buruk orang lain. Namun, sebelum Maira sempat merasa jatuh, Aisyah dengan sigap mengambil nampan berisi pesanan kedua wanita julid tersebut.

Aisyah berjalan menghampiri meja mereka, lalu meletakkan cangkir kopi dan camilan dengan gerakan yang teramat sopan. Bukannya marah atau membalas dengan ketus, Aisyah justru menegakkan tubuhnya dan menyunggingkan sebuah senyuman manis nan teduh kepada kedua pengunjung itu.

“Permisi, Kak, ini pesanannya. Oh iya, kalau begitu... saya minta doanya saja ya dari Mbak-Mbak sekalian, supaya teman saya itu bisa terus diistiqomahkan hatinya oleh Allah untuk terus berhijab,” ucap Aisyah dengan nada suara yang sangat lembut, namun telak membuat kedua wanita itu langsung bungkam karena malu dan salah tingkah.

Melihat pembelaan halus dari Aisyah, perasaan Maira kembali menghangat. Sepanjang sisa shif kerja hari itu, Maira terlihat sangat ceria. Berbeda dengan hari-hari lalu di mana ia tersenyum hanya sebagai topeng profesionalitas kerja, hari ini senyumannya benar-benar lepas. Untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan apa itu ketenangan batin yang sesungguhnya saat bekerja.

Sore pun tiba, waktu shif kerja mereka akhirnya selesai. Setelah berganti pakaian biasa, Maira dan Aisyah berdiri di depan area parkir kafe sambil mengobrol santai, menunggu jemputan masing-masing.

Tak lama kemudian, suara deru mesin motor matic yang halus terdengar mendekat. Motor itu berhenti tepat di depan mereka berdua. Sang pengendara membuka kaca helm-nya, menampilkan seraut wajah bersih yang sudah sangat Maira kenali. Itu Fatih.

“Assalamualai—kum...” ucap Fatih. Namun, kalimat salamnya mendadak terjeda di tengah jalan. Lelaki itu mendadak melongo, terpaku memandangi pemandangan yang ada di depannya.

Sepasang mata teduh Fatih menatap ke arah Maira. Pandangannya terkunci pada sosok gadis yang beberapa hari lalu ia temukan menangis kacau di pinggir jalan, yang kini telah berubah menjadi sosok wanita anggun berbalut hijabn yang menutup rapat auratnya. Fatih menatap Maira sedikit lebih lama dari biasanya—sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada wanita mana pun.

Menyadari kekhilafannya yang sempat terpesona, Fatih langsung tersadar. Ia beristighfar di dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya cepat, lalu membuang pandangannya ke arah lain untuk menjaga pandangannya. “Astaghfirullahaladzim...” batin Fatih merutuki dirinya sendiri.

Aisyah yang menyadari perubahan sikap kakaknya langsung menyenggol lengan Fatih dengan antusias. “Mas... ini Mbak Maira, loh! Gimana? Cantik banget dan pangling, kan, Mas?” ucap Aisyah dengan nada menggoda yang bersemangat.

Fatih tidak langsung menjawab. Ia perlahan kembali menoleh, namun kali ini ia hanya menatap sekilas sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Sebuah senyuman manis, tulus, dan teramat teduh yang entah mengapa mampu meluluhkan sudut hati wanita mana pun yang melihatnya, termasuk Maira yang kini mendadak merasakan pipinya memanas karena tersipu malu.

“Alhamdulillah ya, Mbak Maira,” ucap Fatih dengan nada suara yang berwibawa namun lembut. “Semoga selalu istiqomah dalam berhijab.”

Maira menundukkan kepalanya sedikit, mencoba menyembunyikan rona merah di kedua pipinya yang tak bisa disembunyikan. “Aamiin... makasih, Fatih,” jawab Maira pelan, suaranya terdengar sangat halus.

Tepat pada saat itu, sebuah motor dengan jaket hijau khas ojek online berhenti di dekat mereka. Sang driver melambaikan tangan ke arah Maira. “Mbak Maira, ya? Sesuai aplikasi?”

Maira mengangguk, lalu menoleh ke arah Aisyah dan Fatih untuk berpamitan. “Eh, itu Grab pesanan gue udah datang. Yaudah, kalau gitu gue duluan ya, Syah, Fatih. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab Fatih dan Aisyah kompak secara bersamaan.

Mereka berdua memandangi kepergian motor ojek online yang membawa Maira hingga kendaraan itu hilang ditelan ramainya arus lalu lintas sore hari. Setelah memastikan Maira sudah jauh, Aisyah langsung berbalik badan menghadap kakaknya dengan kedua tangan bersedekap di dada, memasang wajah menginterogasi.

“Mas... sebenarnya ada hubungan apa sih antara Mas Fatih sama Mbak Maira?” tanya Aisyah penasaran, menyelidiki. “Tadi pas di dalam kafe, Mbak Maira sempat cerita sama Aisyah. Katanya, Mas Fatih itu udah pernah menyelamatkan hidupnya sampai dua kali. Mas gak pernah cerita ya sama Aisyah!”

Fatih hanya terkekeh pelan mendengar cecaran pertanyaan dari adik perempuannya itu. Ia membenarkan posisi kaca helm-nya, lalu tersenyum misterius. “Bukan Mas yang menyelamatkan hidup Mbak Maira, Aisyah... tapi Allah yang menyelamatkannya lewat perantara Mas. Mas cuma kebetulan ada di sana.”

Aisyah mengerucutkan bibirnya kesal karena jawaban diplomatis kakaknya. “Iya, Aisyah juga tahu kalau itu atas kehendak Allah, Mas Fatih sayang... cuman maksud Aisyah tuh, Aisyah pengen tahu cerita detail kejadiannya kayak gimana! Kok bisa pas banget gitu, loh.”

Fatih menjulurkan tangannya, lalu menyentuh pucuk kepala Aisyah yang terbalut jilbab instan dan menggoyangkannya pelan dengan gemas. “Rahasia dong. Lagian itu kan aib masa lalu orang, gak baik diumbar-umbar. Udah ah, gak usah kepo. Ayo cepat naik ke motor, kita pulang sekarang. Nanti Umi di rumah keburu khawatir nungguin kita kemalaman.”

Aisyah akhirnya mendengus pasrah, namun ia tetap naik ke jok belakang motor Fatih dengan senyuman yang tak kunjung hilang. Di sepanjang perjalanan pulang, Fatih mengendarai motornya dengan pikiran yang sesekali melayang pada bayangan wajah Maira yang berbalut hijab tadi. Di dalam hatinya, sebuah doa tulus ia rapalkan agar gadis itu senantiasa dijaga hatinya oleh Sang Pemilik Hidayah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!