NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Pelajaran Pertama

Keira tidak menjawab pertanyaan Bayu malam itu.

Keesokan paginya, saat langit Megawan masih abu-abu dan ibu-ibu kompleks baru membuka pintu untuk menyapu halaman, ia sudah berdiri di ujung gang dengan napas berat.

Tubuh ini buruk.

Terlalu berat, terlalu lambat, paru-parunya cepat panas, lututnya protes setelah dua putaran kecil mengelilingi perumahan. Namun tubuh buruk masih bisa dilatih. Tubuh lemah masih bisa diperbaiki.

Yang tidak bisa diperbaiki adalah orang yang menyerah pada tubuhnya sendiri.

Keira menyeka keringat dengan ujung kaus. Dari depan rumah, Bayu muncul dengan seragam sekolah dan tas ransel lama. Ia berdiri ragu di dekat pagar.

"Mbak, kamu... lari?"

"Kelihatan seperti tidur?"

Bayu bingung sebentar, lalu tertawa kecil. Suara itu pendek, seolah ia belum terbiasa tertawa di rumah ini.

"Aku tunggu. Kita berangkat bareng?"

Keira menatap kaki kirinya. "Kamu kuat jalan?"

"Kuat." Bayu cepat menjawab. "Kalau pelan-pelan."

Mereka naik angkot di ujung jalan. Keira duduk dekat pintu, Bayu di sebelahnya. Bau bensin, parfum murah, dan gorengan pagi bercampur di udara. Beberapa penumpang melirik Keira, mungkin mengenal gadis gendut yang sering jadi bahan omongan di sekolah. Keira tidak peduli.

SMAN 7 Megawan menyambut mereka dengan gerbang biru, lapangan basah, dan suara siswa yang terlalu ramai untuk pagi hari.

"Eh, lihat. Si gendut masuk lagi."

"Kirain masih opname."

"Jangan-jangan pingsan karena diet gagal."

Tawa pecah di dekat kelas XII IPA.

Bayu berjalan lebih pelan. Bahunya menegang.

Keira terus masuk.

Di kelas, beberapa siswa sengaja menaruh tas di kursinya. Di atas meja, buku matematikanya sudah sobek di bagian sampul. Ada coretan spidol hitam.

Gajah masuk UI? Mimpi.

Seisi kelas menunggu reaksinya.

Bu Ratna belum datang. Itu membuat keberanian anak-anak itu sedikit lebih besar. Seseorang dari belakang menirukan suara langkah berat. Seseorang lain memotret meja Keira dan mengirimnya ke grup kelas. Notifikasi beruntun terdengar dari beberapa ponsel.

Bayu berdiri di pintu, wajahnya berubah merah. Ia ingin masuk membantu, tetapi kelas Keira bukan kelasnya. Lagi pula, kalau ia maju, ejekan akan pindah ke kakinya.

Keira melihat semua itu dalam satu sapuan mata.

Keira mengangkat buku itu, melihat coretan, lalu meletakkannya kembali.

"Yang nulis ini," katanya datar, "tulisannya jelek."

Tawa yang hampir keluar langsung tersangkut.

Seorang siswi bernama Rika, teman dekat Nadira Sutanto, menyilangkan tangan. "Wah, habis sakit jadi galak ya?"

Keira duduk. "Galak itu kalau aku sudah berdiri."

Rika membuka mulut, tetapi bel masuk berbunyi.

Bu Ratna datang membawa map. Pelajaran berjalan dengan canggung. Beberapa siswa masih berbisik. Revano Wibowo, cowok populer yang duduk dua baris di depan, sempat menoleh. Ingatan lama Keira memberi tahu bahwa pemilik tubuh ini dulu menyukai Revano sampai rela diejek.

Keira bahkan tidak memberi satu detik tatapan lebih.

Saat istirahat pertama, Rika dan dua teman Nadira menunggu di dekat toilet perempuan.

"Mbak Keira," panggil Rika dengan suara dibuat manis. "Nadira titip salam."

Keira mencuci tangan.

Di cermin, ia melihat salah satu dari mereka mengangkat gayung berisi air pel.

Gerakannya lambat sekali.

Sebelum air itu sempat dilempar, kaki Keira sudah menendang pintu bilik di sebelahnya. Pintu itu menghantam tangan si pembawa gayung. Air kotor tumpah ke lantai, sebagian mengenai sepatu mereka sendiri.

"Aduh!"

Keira berbalik, memegang pergelangan Rika, lalu memutarnya sedikit. Tidak sampai patah. Cukup untuk membuat gadis itu berjinjit kesakitan.

"Sampaikan salamku ke Nadira."

Rika meringis. "Lepas!"

"Bilang padanya, kalau mau main, datang sendiri."

Ia melepaskan tangan Rika. Tiga gadis itu mundur bersamaan. Salah satu hampir terpeleset air pel.

Saat Keira keluar dari toilet, keributan lain terdengar dari ujung koridor.

"Jalan pakai kaki atau pakai rem, Yu? Lama amat."

Beberapa siswa laki-laki tertawa. Seorang anak mendorong bahu Bayu hingga buku di tangannya jatuh. Bayu membungkuk memungutnya, wajahnya merah tetapi mulutnya tertutup rapat.

"Si pincang cocoknya sekolah di rumah saja."

Keira berhenti.

Bayu melihatnya dan langsung panik. "Mbak, nggak apa-apa."

Keira berjalan mendekat.

Anak laki-laki yang mengejek masih tertawa ketika kerah seragamnya tiba-tiba dicengkeram. Tubuhnya terdorong ke dinding. Suara tawa di koridor mati.

"Ulangi."

Anak itu menelan ludah. "A-apa?"

"Kata yang tadi."

"Aku cuma bercanda."

Keira menarik kerahnya lebih tinggi sampai ujung sepatunya hampir tidak menapak sempurna.

"Minta maaf."

Teman-temannya mundur. Beberapa siswa mengangkat ponsel, tetapi tidak ada yang berani terlalu dekat.

"Keira, lepasin. Nanti guru lihat," bisik Bayu.

"Bagus. Biar guru dengar juga."

Anak itu mulai pucat. "Maaf."

"Ke dia."

Ia menoleh kaku ke Bayu. "Maaf, Yu. Aku nggak akan bilang begitu lagi."

"Lebih jelas."

"Maaf, Bayu. Aku nggak akan panggil kamu begitu lagi."

Keira melepaskannya.

Anak itu hampir jatuh, lalu lari dengan wajah malu. Koridor yang semula ramai menjadi sangat sunyi. Bayu berdiri di samping Keira, matanya merah, jari-jarinya menggenggam buku terlalu kuat.

"Mbak..."

"Lain kali kalau ada yang bicara begitu, panggil aku."

"Aku nggak mau Mbak tambah masalah."

Keira menatapnya sekilas. "Masalahnya sudah ada. Tinggal dipilih, mereka yang takut atau kamu yang terus diam."

Di ujung koridor, Revano mendengar kalimat itu.

Ia baru saja keluar dari ruang OSIS bersama dua temannya. Biasanya, ketika Keira melihatnya, gadis itu akan gugup, menunduk, atau pura-pura lewat dua kali. Hari ini, ia bahkan tidak menyadari keberadaannya.

Salah satu teman Revano berbisik, "Bukannya dia dulu suka sama lo?"

Keira kebetulan lewat di dekat mereka. Revano, entah kenapa, bertanya, "Keira, kamu baik-baik saja?"

Gadis itu berhenti setengah detik.

Matanya bergerak ke wajah Revano. Tidak ada malu. Tidak ada senang. Tidak ada apa pun.

"Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?"

Revano terdiam.

Temannya tertawa canggung. "Kirain lo masih suka sama Revano."

Keira menatap anak itu, lalu menatap Revano lagi.

"Aku tidak pernah melihatnya."

Setelah itu, ia berjalan pergi bersama Bayu.

Di belakang mereka, bisik-bisik pecah lagi, tetapi nadanya berubah. Tidak lagi sekadar mengejek. Ada rasa ragu di dalamnya.

"Dia benar-benar Keira?"

"Kok matanya serem banget?"

"Raka sampai minta maaf, loh."

Bayu mendengar semuanya. Biasanya, suara seperti itu akan membuatnya ingin menghilang. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia berjalan di samping Keira dengan punggung sedikit lebih tegak.

Keira tidak menggandengnya. Ia hanya menyesuaikan langkah agar Bayu tidak tertinggal. Justru karena itu, dada Bayu terasa lebih hangat.

Revano tetap berdiri di tengah koridor, merasakan sesuatu yang aneh menekan dadanya.

Seolah baru pertama kali ia sadar bahwa gadis yang selama ini ia abaikan mungkin tidak pernah benar-benar melihatnya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!