"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Di Selaras Kantin
Lorong gedung fakultas yang semula terasa mencekam setelah kelas Pak Labib seketika menguap begitu Yuna melangkah keluar. Kalimat terakhir suaminya—terutama bisikan "Istriku" yang diucapkan dengan suara beratnya—sukses membuat wajah Yuna terasa seperti direbus. Demi mendinginkan pipinya yang merona merah dan menenangkan hatinya yang berantakan, Yuna memutuskan melipir ke kantin.
Kantin pusat siang itu sangat ramai. Aroma ayam geprek dan soto bercampur dengan riuh rendah obrolan mahasiswa yang mengeluhkan tugas kuliah. Yuna langsung menuju ke stan lemari pendingin, mengambil sebuah es krim cornetto cokelat boba kesukaannya, lalu mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.
"Yun! Sini!"
Dinda melambaikan tangan dari sebuah meja kayu panjang di sudut kantin yang agak teduh di bawah pohon beringin. Di mejanya sudah ada semangkuk bakso dan segelas besar es teh manis.
Yuna berjalan mendekat, lalu mengempaskan tubuhnya di bangku panjang di sebelah Dinda. Ia segera membuka bungkus es krimnya dan menggigit bagian atasnya dengan brutal, seolah-olah sedang melampiaskan sisa kegemasannya.
"Busyet, pelan-pelan dong makannya. Itu es krim, bukan musuh lu," komentar Dinda ngeri melihat cara Yuna makan. Dinda menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik. "Tapi muka lu kenapa merah banget gitu deh? Masih emosi ya gara-gara dihukum Pak Labib tadi?"
Yuna hampir saja tersedak boba di dalam es krimnya. Ia buru-buru menelan es krim dingin itu hingga tenggorokannya terasa beku.
"Ah? N-nggak kok. Ini... panas banget kantinnya, gerah," kilah Yuna sambil mengibaskan sebelah tangannya ke wajah, berpura-pura kepanasan. Alibi yang cukup aman, mengingat cuaca siang itu memang sedang terik-teriknya.
"Ya lagian Pak Labib tega banget sih, parah," gerutu Dinda sambil menusuk baksonya dengan garpu. "Gue tahu dia galak dan perfeksionis, tapi sampai menyuruh lu bawa kursi sendiri ke depan meja dia? Itu namanya mempermalukan mahasiswi tercinta tahu nggak! Untung lu nggak nangis di tempat, Yun. Kalau gue jadi lu, udah pura-pura pingsan biar digotong ke UKS."
Yuna hanya bisa meringis dalam hati. 'Gimana mau nangis, Din? Orang di depan meja itu dia malah curi-curi pandang sambil ngomongin menu makan malam.'
"Sudahlah, Din. Nggak usah dibahas lagi. Lagian emang salah kita juga tadi malah asyik gosip di jam kelas dia," ujar Yuna, mencoba membela suaminya secara halus tanpa menimbulkan kecurigaan. "Anggap aja pelajaran buat kita biar besok-besok nggak berisik lagi."
Dinda menghela napas pasrah, lalu menyedot es teh manisnya sampai berbunyi. "Iya sih, untung hari ini nggak ada tugas yang dikumpulin. Coba kalau ada, terus kita kena hukum begitu, bisa dapat nilai E otomatis di KHS kita."
Dinda tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Yuna, merendahkan volume suaranya kembali ke mode detektif gosip. "Tapi, Yun... pas lu duduk di depan tadi, lu sempat merhatiin nggak? Pak Labib beneran pakai parfum yang beda, kan? Bau-baunya kayak wangi jeruk-jeruk segar gitu, bukan wangi mint kayu yang biasa dia pakai."
Yuna membeku dengan sendok es krim yang menggantung di depan mulutnya. Jantungnya berdegup kencang lagi. Sabun mandi bergamot miliknya memang memiliki aroma jeruk purut yang sangat khas dan dominan.
"M-masa sih? Gue nggak merhatiin, Din. Gue udah terlanjur takut dan stres duluan duduk di sana," jawab Yuna cepat-cepat, langsung menyuapkan sisa es krimnya hingga habis demi menyumbat mulutnya sendiri agar tidak salah bicara.
"Ah, lu mah nggak peka," cibir Dinda kecewa. "Gue yakin seratus persen, Pak Labib itu pasti udah dijodohin sama cewek pilihan ibunya, atau dia emang lagi nyembunyiin pacar rahasia. Gila ya, misterius banget hidup tuh dosen."
Yuna hanya tersenyum misterius sambil membuang bungkus es krimnya ke tempat sampah dekat meja mereka. Di dalam hati, Yuna tertawa kecil bercampur geli. Biarlah seluruh kampus menganggap hidup Pak Labib penuh misteri dan teka-teki. Yang jelas, sore nanti setelah jam kuliah yang padat ini selesai, sang "dosen misterius" itu akan pulang ke rumah yang sama dengannya, memakai celemek abu-abu, dan memasak makan malam spesial hanya untuk dirinya.
Baru saja Dinda selesai mengunyah baksonya, suasana di meja mereka mendadak berubah tegang. Bukan karena Yuna, melainkan karena pandangan Dinda yang tiba-tiba terkunci ke arah selasar lurus yang membatasi kantin dengan gedung dekanat.
"Yun, Yun... lihat arah jam dua lo," bisik Dinda dengan nada super heboh, menyenggol siku Yuna berkali-kali hingga es teh manisnya hampir tumpah.
Yuna menoleh perlahan, mengikuti arah pandang sahabatnya. Di sana, berjalan beriringan di bawah naungan atap selasar, adalah Pak Labib. Pria itu masih membawa tas kerjanya, namun langkahnya kali ini diselaraskan dengan seorang wanita berambut sebahu yang memakai blazer merah marun yang pas di tubuhnya.
Bu Citra.
Dosen muda matang berusia 28 tahun yang mengajar mata kuliah Estetika Bentuk. Di kalangan mahasiswa, Bu Citra bukan cuma terkenal karena kecerdasannya, tapi juga karena rumor gencar bahwa ia sudah lama menaruh hati pada Pak Labib. Bahkan, banyak yang menjuluki mereka sebagai "Pasangan Serasi Fakultas Arsitektur" karena sama-sama rupawan dan berpendidikan tinggi.
"Tuh, kan! Apa gue bilang," bisik Dinda makin menjadi-jadi. "Lihat deh cara Bu Citra senyum ke Pak Labib. Centil banget nggak sih menurut lo? Tapi pas banget tahu, yang satu ganteng kaku, yang satu cantik anggun. COCOK!"
Yuna terdiam. Dadanya mendadak terasa sedikit sesak melihat pemandangan itu.
Dari kejauhan, Bu Citra tampak sedang membicarakan sesuatu—kemungkinan besar soal koordinasi mata kuliah—sambil sesekali tertawa kecil dan menatap Labib dengan binar mata yang tidak bisa dibohongi. Sementara Labib? Pria 31 tahun itu tetap menampilkan wajah datarnya, sesekali mengangguk sopan sebagai rekan kerja profesional.
Namun, tepat saat mereka melintasi area depan kantin, Labib seolah memiliki radar tersendiri. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu memalingkan wajahnya langsung ke arah meja sudut tempat Yuna dan Dinda duduk.
Mata elang di balik kacamata itu bertubruk lurus dengan mata Yuna.
Yuna yang tertangkap basah sedang memperhatikan suaminya bersama wanita lain, langsung membuang muka dengan cepat. Ia berpura-pura sibuk mengaduk sisa boba di cup es krimnya yang sudah kosong. Rasa kesal yang tadi sempat reda karena gombalan Labib di kelas, kini mendadak naik lagi ke permukaan—kali ini bercampur dengan rasa panas aneh yang membakar dadanya. Cemburu.
"Eh, Pak Labib ngeliat ke sini ya tadi?" tanya Dinda bingung, menengok ke kanan dan kiri. "Ih, serem. Apa dia tahu ya kita lagi ngomongin dia sama Bu Citra?"
"Nggak tahu, Din. Udah ah, yuk masuk kelas lagi. Bentar lagi jam satu, kelas Studio Gambar mau mulai," ajak Yuna ketus. Ia langsung berdiri, menyampirkan tas ranselnya dengan sentakan kuat.
"Loh, Yun? Kok buru-buru banget? Masih ada lima belas menit lagi tahu," protes Dinda heran melihat perubahan suasana hati sahabatnya yang mendadak drastis.
"Gue mau nyiapin kertas kalkir dulu di studio," jawab Yuna tanpa menoleh lagi, melangkah cepat meninggalkan kantin.
Sementara itu, di selasar dekanat, Labib memperhatikan punggung istrinya yang menjauh dengan langkah kaki yang menghentak-hentak kesal. Pria itu menghela napas pendek di dalam hati. Ia tahu betul arti dari bahasa tubuh Yuna. Tadi pagi istrinya merajuk karena dihukum kursi depan, dan sekarang... tampaknya daftar dosanya bertambah karena Bu Citra berjalan di sebelahnya.
"Pak Labib? Anda mendengarkan saya?" tanya Bu Citra, menyadari fokus lawan bicaranya sempat teralih.
"Ah, ya. Maaf, Bu Citra," sahut Labib, kembali memasang wajah dingin dan profesionalnya yang mutlak. "Mengenai jadwal revisi kurikulum tadi, silakan kirimkan drafnya ke email saya. Saya harus segera ke ruang dosen karena ada urusan yang harus diselesaikan."
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Labib mengangguk sekilas lalu melangkah lebar mendahului Bu Citra. Pikirannya kini tidak lagi berada pada rapat fakultas atau kurikulum baru, melainkan pada bagaimana cara meredakan badai cemburu yang tampaknya sedang berkecamuk di hati mahasiswi berumur 21 tahun yang kini sah menjadi tanggung jawabnya itu.