Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 - Rumah Wiratama
Rania datang ke rumah utama Wiratama membawa dua kotak kue mahal.
Ia memilih waktu saat Arkan tidak ada. Menurut informasi dari sopir lama, Arkan sedang rapat di luar kota sampai sore. Nenek Ratih biasanya minum teh jam sepuluh di ruang kaca. Rayyan sekolah. Itu waktu terbaik untuk terlihat baik tanpa harus berhadapan dengan terlalu banyak mata.
Namun begitu masuk, ia melihat Naya di ruang keluarga.
Perempuan itu berdiri dekat meja, membantu Lila melepas jaket sekolah. Rayyan duduk di karpet, memamerkan robot kecil kepada Lila. Dua anak itu baru pulang lebih cepat karena ada kegiatan guru.
Rania berhenti di ambang pintu.
Kotak kue di tangannya terasa berat.
"Kenapa dia di sini?" tanyanya sebelum sempat menata suara.
Nenek Ratih yang duduk di kursi rotan menoleh pelan.
"Selamat pagi juga, Rania."
Rania memaksa tersenyum. "Maaf, Nek. Aku cuma kaget. Rumah ini bukan tempat umum."
Naya berdiri tegak. "Saya juga tidak berencana lama."
Rayyan langsung berkata, "Tante Naya antar Lila. Aku yang minta Lila main sebentar."
Rania menatap Rayyan. "Rayyan, kamu tidak boleh sembarangan membawa orang ke rumah."
Rayyan mengerutkan kening. "Ini rumah Papa."
"Dan Mama juga bagian dari keluarga ini."
Rayyan diam, lalu berkata jujur, "Mama Rania tidak tinggal di sini."
Wajah Rania memerah.
Nenek Ratih mengangkat cangkir teh, menyembunyikan senyum tipis.
"Anak ini makin pintar bicara," katanya.
Rania menahan malu. "Nek, aku ingin bicara soal Rayyan. Dia akhir-akhir ini terlalu dekat dengan orang luar. Aku khawatir."
"Orang luar yang menyelamatkan nyawanya?"
"Aku berterima kasih. Tapi berterima kasih bukan berarti membiarkan dia mengambil posisi ibu."
Naya menggenggam tangan Lila.
"Saya tidak mengambil posisi siapa pun."
Rania menatapnya. "Benarkah?"
Rayyan berdiri. "Tante Naya tidak ambil apa-apa. Aku yang suka Tante."
"Rayyan!"
Anak itu tersentak. Lila langsung mundur ke belakang Naya.
Nenek Ratih meletakkan cangkir keras di meja.
"Jangan bentak anak di rumahku."
Rania menelan amarah.
"Maaf, Nek."
Nenek Ratih menatapnya lama.
"Kamu selalu bicara soal posisi ibu. Tapi ibu yang baik tidak sibuk mempertahankan kursi. Dia sibuk memastikan anaknya merasa aman."
Rania tersenyum kaku. "Aku ingin Rayyan aman. Justru karena itu aku khawatir. Naya punya masa lalu. Dia mantan napi. Anak yang dia bawa juga belum jelas statusnya. Bagaimana kalau nanti orang-orang bicara?"
Naya menunduk, tetapi bukan karena malu. Ia menahan diri agar tidak membuat keributan di depan anak-anak.
Nenek Ratih berkata dingin, "Orang-orang sudah selalu bicara. Kita tidak bisa mengatur mulut mereka. Kita bisa mengatur siapa yang boleh masuk rumah ini. Dan hari ini aku yang mengizinkan Naya masuk."
Rania membeku.
"Nek..."
"Kalau kamu keberatan, kamu boleh pulang."
Rania merasa seluruh wajahnya panas.
Di saat itu, Lila tiba-tiba menarik ujung baju Naya.
Naya menunduk. "Kenapa, Nak?"
Lila menunjuk ke arah pintu taman. Seekor kucing kecil lewat di luar kaca.
Rayyan langsung berkata, "Kita lihat!"
Ia menggandeng tangan Lila tanpa berpikir. Lila kaget, tetapi tidak menarik diri. Dua anak itu berlari kecil ke taman, diikuti pengasuh.
Nenek Ratih memperhatikan mereka.
"Mereka terlihat seperti saudara," katanya pelan.
Rania hampir menjatuhkan kotak kue.
Naya juga membeku.
Nenek Ratih menatap Rania.
"Lucu, bukan?"
Rania tertawa kecil, terlalu tinggi. "Anak-anak memang cepat akrab."
"Tidak semua."
Naya merasa harus pergi sebelum ruangan itu meledak.
"Nek, saya pamit. Lila..."
"Biarkan dia main sebentar," kata Nenek Ratih. "Aku ingin melihatnya."
Naya ragu.
Rania langsung menyambar, "Tidak perlu. Naya pasti sibuk bekerja. Aku bisa mengantar anak itu pulang nanti."
"Tidak," kata Naya dan Nenek Ratih bersamaan.
Rania tersenyum makin kaku.
Nenek Ratih berkata, "Aku punya sopir."
Rania duduk dengan gerakan tertahan.
Ia kalah di rumah ini. Untuk sekarang.
Namun kekalahan kecil itulah yang membuatnya mengambil keputusan bodoh.
Sore hari, ketika Naya kembali menjemput Lila, rumah Wiratama sempat ramai karena Rayyan jatuh di taman dan lututnya lecet. Semua orang bergerak ke arah anak laki-laki itu. Lila yang takut keramaian mundur ke sisi lain dekat lorong servis.
Seorang asisten rumah tangga baru, yang sebenarnya dibayar orang Pradipta, mendekatinya.
"Lila, Mama Naya tunggu di luar."
Lila menatapnya.
Wanita itu tersenyum. "Ayo. Jangan takut."
Lila ragu. Ia melihat ke arah taman, tetapi Naya belum datang. Rayyan sedang dikelilingi orang. Suara ramai membuat dadanya sesak.
Wanita itu mengulurkan tangan.
Lila tidak mengambilnya, tetapi ia mengikuti dari jarak satu langkah.
Di pintu samping, sebuah mobil abu-abu menunggu.
Baru ketika pintu mobil terbuka dan ia melihat pria asing di dalam, Lila sadar ada yang salah.
Ia berbalik hendak lari.
Tangan besar menutup mulutnya.
Boneka kelinci kecilnya jatuh di dekat pot tanaman.
Lima menit kemudian, Naya sampai di rumah Wiratama.
Ia melihat Rayyan duduk di kursi taman, lututnya diplester, wajahnya bersalah.
"Tante, Lila marah? Aku jatuh, dia tadi takut."
Naya menoleh mencari.
"Lila di mana?"
Pengasuh saling pandang.
Nenek Ratih berdiri.
"Bukankah dia denganmu?"
Darah Naya langsung membeku.
"Lila?"
Tidak ada jawaban.
Naya berlari ke dalam rumah. "Lila!"
Rayyan ikut berdiri, panik. "Lila!"
Arkan tiba tepat saat rumah mulai kacau. Ia melihat Naya berlari dari lorong servis dengan boneka kelinci kecil di tangan.
Wajahnya putih.
"Dia hilang," kata Naya.
Arkan mengambil boneka itu. Matanya berubah sedingin besi.
"Tutup semua gerbang. Periksa CCTV. Sekarang."
Rania yang baru muncul dari ruang depan memegang ponsel dengan tangan gemetar.
Untuk satu detik, Naya melihat sesuatu di wajahnya.
Bukan kaget.
Takut ketahuan.
Naya melangkah ke arahnya.
"Kamu."
Rania mundur. "Apa?"
"Di mana anak saya?"
"Kamu gila? Aku baru..."
Naya mencengkeram bahunya.
"Di mana Lila?"
Rayyan mulai menangis. "Papa, cari Lila. Papa!"
Arkan menatap Rania, lalu Naya.
"Kalau ini ulahmu," katanya kepada Rania, suaranya rendah, "tidak ada keluarga Pradipta yang bisa menyelamatkanmu."
Rania tidak pernah melihat Arkan menatapnya seperti itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar mungkin ia sudah melangkah terlalu jauh.
Arkan bergerak lebih cepat dari semua orang di ruangan itu.
"Raka, blokir pintu belakang. Suruh satpam kirim rekaman lima belas menit terakhir ke ponselku. Jangan tunggu izin siapa pun."
"Baik, Pak."
"Pak Surya, telepon pos keamanan komplek. Kalau ada mobil keluar membawa anak kecil, tahan di gerbang."
Pak Surya yang biasanya tenang langsung berlari.
Naya masih mencengkeram lengan Rania. "Kamu pakai siapa? Satpam? Sopir? Orang rumah?"
Rania berusaha menepis. "Lepas! Aku bisa laporkan kamu."
"Laporkan," kata Naya. Suaranya pecah, tapi matanya tidak berkedip. "Biar polisi datang dan dengar aku tanya di mana anakku."
Rayyan menangis semakin keras. Ia memukul dada Arkan dengan kedua tangan kecilnya.
"Papa, Lila takut gelap. Dia takut orang marah. Papa cepat."
Kalimat itu membuat wajah Arkan berubah.
Ia menunduk dan memegang bahu Rayyan. "Dengar Papa. Kamu ikut Mbak Yuni ke kamar. Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun selain Papa."
"Aku mau cari Lila."
"Kamu bantu Papa dengan tetap aman."
Rayyan menggigit bibir sampai merah, lalu mengangguk sambil menangis.
Saat Yuni membawa Rayyan pergi, ponsel Arkan berbunyi. Video dari CCTV halaman samping masuk.
Layar menunjukkan seorang asisten rumah tangga baru, perempuan paruh baya bernama Sumi, berjalan sambil membawa tas belanja besar. Di sampingnya, Lila tampak menunduk, menggenggam boneka kelinci. Sumi tidak menariknya kasar, tetapi tubuh Lila kaku seperti anak yang diancam.
Naya melihat layar itu.
"Itu bukan pergi sendiri."
Arkan mengirim video itu ke Raka.
"Cari Sumi. Cari keluarganya. Cari siapa yang memasukkan dia kerja di sini."
Rania mundur satu langkah.
Arkan melihat gerakan itu.
"Kamu kenal dia?"
"Tidak."
"Kalau begitu kenapa kamu takut?"
Rania memaksa tertawa. "Karena kamu menuduhku seperti penjahat."
Naya menatapnya dengan kebencian yang bersih dan tajam.
"Penjahat masih bisa takut pada Tuhan. Kamu takutnya cuma ketahuan."
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕