Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Bel masuk berbunyi nyaring.
"Yah..."
Alesha yang baru saja menghabiskan suapan terakhir baksonya langsung memasang wajah sedih.
"Baksonya belum sempat aku pamitin."
Dinda menatapnya datar.
"Memang harus pamitan?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena kita belum tentu bertemu lagi."
Dinda langsung menutup wajahnya.
"Astaga..."
Alesha kemudian menoleh ke mangkuk kosongnya.
"Terima kasih atas pengabdianmu."
Kevin yang belum sempat pergi langsung menggeleng pelan.
"Sudah selesai dramanya?"
Alesha mengangguk.
"Sudah."
"Ayo masuk kelas."
"Iya."
Mereka pun berjalan kembali menuju gedung kelas.
Di tengah perjalanan, Alesha tiba-tiba berhenti.
"Eh..."
Dinda ikut berhenti.
"Kenapa lagi?"
Alesha menepuk-nepuk saku rok seragamnya.
"Lho?"
"Lho kenapa?"
"Mana HP-ku?"
Dinda langsung ikut panik.
"Tadi masih ada?"
"Iya!"
Alesha mulai membuka tasnya dengan panik.
"Buku..."
"Ada."
"Tempat pensil..."
"Ada."
"Dompet..."
"Ada."
"HP..."
"Nggak ada!"
Dinda langsung ikut membantu mencari.
"Astaga, jangan bilang jatuh di kantin."
Alesha memegang kepalanya.
"Foto-foto Pingky ada di situ."
"Ayo balik!"
Mereka berdua langsung berlari kecil kembali ke kantin.
Di belakang mereka, Kevin yang melihat tingkah adiknya hanya menghela napas.
"Kenapa lagi?"
Reza yang masih berada di dekat koridor ikut menoleh.
"Ada apa?"
"Katanya HP hilang."
"Hah?"
Reza dan Arka ikut berjalan menuju kantin.
Sesampainya di sana, Alesha langsung membungkuk melihat ke bawah meja.
"HP... kamu di mana..."
Bahkan ia sempat mengintip ke bawah kursi.
"Keluar dong..."
Dinda sampai geleng-geleng kepala.
"Itu HP, bukan kucing."
"Tapi dia suka ngumpet."
Beberapa siswa yang melihat tingkah Alesha mulai ikut mencari.
Lima menit berlalu.
HP itu tetap tidak ditemukan.
Alesha mulai lesu.
"Jangan-jangan benar hilang..."
Kevin menghela napas.
"Coba ingat terakhir dipakai kapan."
Alesha berpikir keras.
"Hmm..."
"Tadi..."
"Pas..."
Ia mendadak membeku.
Semua menatapnya.
"Kenapa?"
Alesha perlahan memasukkan tangannya ke saku blazer yang sejak tadi ia kenakan.
"Lho..."
Ia mengeluarkan sebuah ponsel berwarna putih.
Semua langsung terdiam.
Dinda berkedip.
"Itu..."
Reza menahan tawanya.
"Itu HP siapa?"
Alesha tersenyum canggung.
"Punyaku."
Hening selama beberapa detik.
Lalu...
"Hahahaha!"
Dinda tertawa paling keras.
Reza sampai membungkuk sambil memegang perutnya.
Kevin memejamkan mata sambil mengusap pelipis.
"Alesha..."
Alesha nyengir tanpa rasa bersalah.
"Hehe..."
"Aku lupa tadi masukin ke saku blazer."
Reza masih belum berhenti tertawa.
"Sekolah ini hampir geger gara-gara HP yang ternyata ada di kantong sendiri."
Alesha menggaruk belakang kepalanya.
"Namanya juga lupa."
Dinda menunjuk wajah Alesha.
"Kamu itu benar-benar paket lengkap."
"Absurd."
"Ceroboh."
"Drama."
"Tapi bikin orang ketawa."
Alesha langsung mengangkat dagunya.
"Itu namanya talenta."
Kevin menepuk pelan kepala adiknya.
"Itu namanya bikin panik."
"Aduh."
Alesha mengusap kepalanya sambil meringis pura-pura kesakitan.
"Baiklah."
"Mulai sekarang sebelum panik..."
"Aku cek saku dulu."
"Nah."
Kevin mengangguk puas.
"Itu baru benar."
Arka yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya menggeleng kecil.
"Lain kali lebih teliti."
Alesha memberi hormat dengan gaya bercanda.
"Siap, Pak Ketua."
Melihat gaya hormat yang terlalu berlebihan itu, sudut bibir Arka kembali terangkat tipis.
Reza yang melihatnya langsung berbisik pelan.
"Ketua..."
"Hm?"
"Kayaknya mulai sekarang tugas OSIS bukan cuma patroli."
"Terus?"
"Jagain Alesha biar nggak panik sendiri."
Alesha yang mendengar itu langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Protes!"
"Aku bisa jaga diri."
Baru selesai mengucapkan kalimat itu, ia melangkah tanpa melihat jalan.
"Bruk!"
Keningnya pelan menabrak tiang koridor.
"Aduh!"
Semua kembali terdiam.
Lalu...
Tawa kembali pecah di sepanjang koridor sekolah.
Bahkan beberapa guru yang lewat ikut tersenyum melihat tingkah Alesha yang mengusap keningnya sambil mengomel pada tiang.
"Kenapa sih kamu diem di sini dari tadi?"
Dinda sampai memegangi bahu Alesha karena terlalu banyak tertawa.
Sementara Kevin hanya bisa menggeleng sambil bergumam,
"Ya... ini memang Alesha."
Setelah kejadian menabrak tiang, Alesha masih mengusap-usap keningnya.
"Aduh... sakit."
Dinda sudah tidak sanggup berdiri tegak karena terlalu banyak tertawa.
"Les... itu tiangnya nggak salah apa-apa."
Alesha langsung menunjuk tiang itu.
"Dia yang tiba-tiba muncul."
Kevin menghela napas panjang.
"Tiangnya dari tadi memang di situ."
Alesha memicingkan mata ke arah tiang.
"Hmm... berarti dia jago nyamar."
Reza kembali tertawa.
"Tiang nyamar jadi tiang?"
"Iya."
"Itu namanya menyatu dengan lingkungan."
Semua kembali tertawa.
Bahkan Arka sampai menundukkan kepalanya sebentar untuk menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.
Alesha yang melihat itu langsung menunjuk Arka.
"Nah!"
Semua menoleh.
"Pak Ketua ketawa lagi!"
Arka langsung kembali memasang wajah datarnya.
"Tidak."
"Jelas-jelas tadi senyum."
"Itu bukan senyum."
"Lalu?"
"Refleks."
Reza langsung menepuk bahu Arka.
"Ketua, percuma ngeles."
Alesha menyilangkan kedua tangannya.
"Berarti aku lucu."
Reza mengangguk mantap.
"Bukan lucu."
"Terus?"
"Kocak tanpa disengaja."
"Ih."
Alesha pura-pura cemberut.
"Kalian jahat."
Dinda langsung merangkul bahu sahabatnya.
"Nggak jahat."
"Kamu memang hiburan gratis sekolah ini."
Alesha tiba-tiba mengangguk serius.
"Kalau begitu..."
Semua menunggu kelanjutannya.
"Besok aku buka loket."
"Loket apa?" tanya Kevin.
"Yang mau lihat tingkahku bayar dulu."
Reza langsung menjawab cepat.
"Nggak jadi."
"Kenapa?"
"Soalnya tiap hari sudah dapat gratis."
"Huft."
Alesha menghela napas dramatis.
"Bisnisku gagal sebelum dimulai."
Kevin tertawa kecil.
"Sudah, masuk kelas."
"Iya."
Mereka kembali berjalan menuju kelas masing-masing.
Namun baru beberapa langkah, Alesha tiba-tiba berhenti lagi.
"Eh."
Kevin langsung menutup mata.
"Apa lagi?"
Alesha menepuk-nepuk kepalanya.
"Benjol nggak ya?"
Dinda mendekat lalu memperhatikan kening Alesha dengan wajah serius.
"Hmm..."
"Gimana?"
"Ada."
"Astaga!"
Alesha langsung panik.
"Besar?"
Dinda menahan tawanya selama beberapa detik.
"Lumayan."
Alesha langsung mengeluarkan cermin kecil dari tasnya.
"Aduh! Nanti aku jelek."
Dinda akhirnya tidak kuat lagi dan tertawa.
"Hahaha! Bohong!"
Alesha langsung mendelik.
"Dinda!"
"Mana ada benjol."
Alesha mengembuskan napas lega.
"Kirain beneran."
Kevin menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu gampang banget dikerjain."
"Iya ya..."
Alesha baru sadar.
"Tunggu!"
Ia langsung mengejar Dinda yang sudah berlari lebih dulu.
"Dinda! Sini kamu!"
"Tolong! Ada orang balas dendam!"
Suara tawa mereka menggema di sepanjang koridor.
Beberapa siswa yang melihat hanya ikut tersenyum melihat tingkah dua sahabat itu.
Sementara Arka berdiri beberapa saat memperhatikan Alesha yang berlari mengejar Dinda sambil terus mengomel.
Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
Reza yang masih berada di sampingnya berdeham pelan.
"Ketua."
"Hm?"
"Kalau setiap hari begini..."
"Ada apa?"
"Kayaknya sekolah jadi lebih ramai gara-gara Alesha."
Arka memandang ke arah koridor tempat Alesha menghilang.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Iya."
Satu kata sederhana itu sudah cukup menjadi jawaban.
Karena memang, sejak kehadiran Alesha, hari-hari di sekolah yang biasanya berjalan datar kini selalu dipenuhi kejadian-kejadian tak terduga yang membuat siapa pun sulit menahan senyum.