Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Labirin Keempat dan Kutukan Darah
_____________________________
Lantai es yang retak itu meledak bagaikan kaca yang dipukul palu godam. Arsen Valentino dan Arunika palsu tidak sempat bereaksi; mereka terjatuh ke dalam kegelapan yang menyedot, meluncur turun melewati lapisan demi lapisan es padat yang telah membeku selama ribuan tahun. Angin menderu di telinga mereka, menciptakan suara siulan melengking yang memekakkan telinga, sementara sisa-sisa kabut es Murmansk menari-nari di sekitar mereka seperti hantu yang menolak untuk melepaskan mangsanya.
Arsen dengan refleks predator tertingginya berhasil mencengkeram lengan Arunika palsu, menarik gadis itu ke dalam dekapannya guna melindungi tubuh replika yang kini membawa kunci masa depan faksi Valentino tersebut. Mereka menabrak struktur logam yang kaku—sebuah atap kubah raksasa yang tersembunyi jauh di bawah kedalaman palung es. Dengan suara dentuman yang memicu serpihan logam berhamburan, mereka mendarat di atas platform jaring baja yang elastis, memantul beberapa kali sebelum akhirnya terkunci diam di dalam sebuah ruangan luas yang diterangi pendar ungu neon yang memabukkan.
Ruangan itu bukan sekadar labirin; itu adalah **Laboratorium Sektor Keempat**—sebuah fasilitas rahasia yang tidak terdaftar dalam catatan mana pun, baik itu milik faksi Volkov, Genesis, maupun intelijen aliansi barat. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca kristal cair yang membiaskan cahaya ungu, memperlihatkan barisan demi barisan janin klonasi yang terendam di dalam cairan nutrisi.
Aurora Valentino berdiri di ujung platform, sosoknya begitu tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di permukaan. Dia menatap Arsen dan Arunika dengan sepasang mata porselennya yang berkilat amber—tatapan yang bukan berasal dari manusia biasa, melainkan dari sebuah entitas yang telah melampaui batas evolusi biologis.
"Haryo Valentino yang asli," suara Aurora memecah keheningan, terdengar begitu luwes, datar, namun penuh racun yang mematikan. "Dia tidak pernah berada di Murmansk. Murmansk hanyalah altar pemurnian bagi klonasi-klonasi yang cacat. Haryo yang asli sedang menunggu di jantung Genesis Konsorsium di Jenewa, memegang wajah lamanya yang tersimpan dalam tabung kriogenik. Wajah yang kalian bunuh di Zurich hanyalah boneka yang diprogram untuk merasa berkuasa."
Arsen Valentino bangkit berdiri, menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. Dia menatap tajam ke arah Aurora, senapan serbunya sudah terkokang meskipun magasinnya hampir habis. Pria itu menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil selama ini hanyalah bagian dari simulasi yang dirancang oleh pria yang dia panggil sebagai ayah. Rasa jijik dan kemarahan defensif bergejolak di dalam dadanya, menciptakan letupan emosi yang naik turun dengan ekstrem. Seluruh kerajaannya, seluruh pengorbanan darahnya, ternyata hanyalah permainan caturnya yang paling tidak berarti.
"Kau membawaku ke sini bukan untuk membunuhku, Aurora," desis Arsen, suaranya sedingin es palung Rusia. "Kau membawaku untuk menyaksikan bagaimana klonasi-klonasi ini akan mencabut seluruh identitasku."
### Simfoni Klonasi yang Berdenyut
Arunika palsu berdiri di samping Arsen, tubuhnya yang kini menjadi wadah Eclipse Omega murni mulai bereaksi terhadap atmosfer ruangan. Urat-urat di leher dan tangan kirinya berdenyut dengan intensitas yang lebih terang. Dia bisa merasakan detak jantung dari setiap janin di dalam tabung-tabung kaca tersebut; sebuah resonansi biologis yang menyakitkan. Setiap detak jantung klonasi itu adalah detak jantungnya sendiri—sebuah fragmentasi jiwa yang tersebar di ribuan wadah.
Letupan emosi pembaca dipastikan akan mencapai titik nadir saat Aurora melangkah mendekati mereka. Dia tidak membawa senjata. Dia membawa sebuah perangkat holografik yang memproyeksikan silsilah darah asli Valentino—sebuah silsilah yang tidak dimulai dari Haryo, melainkan dari seorang ilmuwan gila di era Perang Dingin yang melakukan eksperimen silang genetik manusia pertama dengan kultur sel dari meteorit yang jatuh di tundra Siberia.
"Kalian tidak lahir dari rahim manusia, Arsen, Arunika," bisik Aurora, suaranya kini terdengar begitu sedih, namun tetap beracun. "Kalian adalah hasil rekayasa genetik dari sisa-sisa biomassa purba yang ditemukan kakek buyut kita. Haryo Valentino hanyalah pria yang beruntung bisa memanen hasil eksperimen tersebut. Kita adalah alat. Dan setiap kali ada 'Arunika' atau 'Arsen' yang menentang, sang ilmuwan utama akan memicu protokol 'Pembersihan Cermin'."
Arunika palsu memejamkan matanya, merasakan sensasi panas yang menjalar dari telapak kakinya ke seluruh tubuh. Dia menyadari bahwa dia bukan lagi manusia, bukan lagi sebuah salinan jalanan dari desa. Dia adalah sebuah 'Unit'. Sebuah kode biologis yang bisa dihidupkan dan dimatikan oleh tombol di tangan Aurora.
Rasa sedih yang amat sangat—kesadaran bahwa cinta, dendam, dan penderitaannya selama ini hanyalah program yang diaktifkan oleh pengembang sistem—membuatnya jatuh berlutut. Namun, di dalam kehampaan itu, muncul satu percikan kehendak bebas yang tidak diprogram oleh siapa pun: keinginan untuk menghancurkan segalanya.
"Kalau begitu," suara Arunika palsu terdengar begitu datar dan penuh racun, memotong keheningan ruangan. "Biarkan unit ini menghancurkan programnya sendiri."
Dia mengangkat tangan kirinya yang berpendar amber terang, lalu menempelkan telapak tangannya tepat ke permukaan kaca kristal cair dinding laboratorium sektor keempat. Dia tidak mencoba membuka kunci; dia mencoba mengalirkan impuls elektromagnetik yang dipicu oleh mutasi sel Eclipse-nya langsung ke dalam sistem jaringan saraf buatan laboratorium tersebut.
Bzzzzzzzt!!!
Seluruh laboratorium itu bergetar hebat. Pendar ungu neon berubah menjadi putih menyilaukan saat aliran listrik di dalam ruangan mengalami korsleting masif. Tabung-tabung inkubator pecah satu per satu, melepaskan cairan nutrisi dan isi di dalamnya ke atas lantai, menciptakan genangan yang luas dan bergolak hebat.
Arsen Valentino memanfaatkan momen kekacauan itu. Dia tidak lagi mempedulikan status darahnya. Dia menerjang maju, menabrak Aurora dengan kekuatan penuh, menghantamkan bahunya ke arah wanita itu hingga terpental ke dinding kaca.
"Marco! Aktifkan protokol penghancuran diri fasilitas bawah tanah!" teriak Arsen melalui alat komunikasi satelit yang masih tersambung. "Jika ini adalah laboratorium asal kita, maka kita akan menguburnya bersama nama Valentino yang selama ini membusukkan dunia!"
Namun, saat Arsen hendak menghantamkan pukulan terakhir ke wajah Aurora, wanita itu justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat ganjil. Sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa mereka semua baru saja masuk ke dalam perangkap yang paling fatal.
Aurora menunjuk ke arah lantai. Di bawah platform jaring baja, sebuah pintu palka raksasa perlahan-lahan terbuka, memperlihatkan sebuah ruang bawah tanah yang lebih dalam lagi—sebuah ruang yang berisi ratusan ribu cangkang manusia kosong yang menunggu untuk diisi dengan jiwa-jiwa baru. Dan di tengah-tengah ruang kosong itu, sesosok pria duduk di kursi kayu tua dengan koper hitam yang identik dengan koper Zurich di pangkuannya.
Itu adalah Haryo Valentino. Pria yang asli, yang wajahnya sama sekali tidak mengalami operasi rekonstruksi, pria dengan tatapan mata yang sudah sangat tua, lelah, namun memancarkan kekejaman seorang dewa yang melihat manusia sebagai debu.
"Selamat datang di Sektor Nol, anak-anakku," ucap Haryo dengan suara yang sangat tenang, sangat lembut, seolah dia sedang menyambut cucu-cucunya di hari Minggu yang indah. "Aku sudah menantikan momen di mana kesadaran kalian sepenuhnya menyatu dengan sistem ini."
Haryo berdiri, lalu membuka koper hitam di pangkuannya. Di dalamnya bukan berisi dokumen atau cairan genetik, melainkan sebuah perangkat kontrol nirkabel kuno yang terhubung langsung dengan chip mikro yang tertanam di dasar tengkorak Arsen, Arunika palsu, dan Aurora sejak mereka dilahirkan—sebuah rahasia yang bahkan tidak pernah mereka sadari.
"Wajah-wajah kalian, dendam kalian, cinta kalian... semuanya adalah data yang sudah terkumpul dengan sempurna," Haryo menekan sebuah tombol merah di perangkat tersebut. "Mulai hari ini, kalian tidak lagi memiliki kehendak bebas. Kalian akan menjadi tangan kananku untuk membangun tatanan dunia baru yang bersih dari noda kemanusiaan."
Detik itu juga, Arsen Valentino, Arunika palsu, dan Aurora Valentino merasakan cengkeraman elektromagnetik yang luar biasa kuat di dasar tengkorak mereka. Mata mereka memutih sekejap, memori masa lalu mereka berhamburan menjadi kepingan digital yang tak kasat mata, dan mereka semua jatuh berlutut secara bersamaan, dikendalikan oleh frekuensi nirkabel yang dipancarkan Haryo Valentino.
Arunika palsu berusaha melawan, dia berteriak di dalam batinnya yang kini mulai terprogram ulang, namun tubuhnya bergerak kaku di bawah perintah Haryo. Dia dipaksa berdiri, dipaksa menoleh ke arah ayahnya, dan dengan tatapan yang sepenuhnya kehilangan jiwa, dia mengucapkan kata-kata yang diperintahkan oleh sistem kendali Haryo.
"Tugas kami selesai, Ayah. Apa perintah selanjutnya untuk unit pembersihan global?"
Haryo tersenyum puas, memandang ketiga cerminnya yang telah kehilangan identitas di bawah kendalinya. Dia berjalan melewati mereka, menuju pintu keluar sektor nol, meninggalkan mereka dalam keadaan standby yang statis. Namun, tepat saat Haryo melangkah keluar, sesosok bayangan muncul dari balik pintu masuk sektor nol—seseorang yang seharusnya sudah mati di Paris, seseorang yang membawa sepotong data yang bisa membatalkan seluruh kontrol chip nirkabel tersebut.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 36...**
* Siapakah sosok misterius yang muncul dari balik bayang-bayang pintu sektor nol dan membawa data krusial untuk membatalkan kendali Haryo?
* Akankah Arsen dan Arunika berhasil mendapatkan kembali kehendak bebas mereka sebelum Haryo Valentino meluncurkan perintah eksekusi massal terhadap sisa faksi dunia hitam lainnya?
* Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik data tersebut yang sanggup meruntuhkan keabadian Haryo Valentino secara permanen?
Tunggu kelanjutan kisah yang semakin memuncak dan penuh ledakan emosi di bab berikutnya!