“Kita sudah sama-sama tahu kan, pernikahan ini keinginan orang tua kita, jadi kamu jangan terlalu banyak berharap pada diriku. Asal kamu tahu, dengan pernikahan ini, kebahagiaanku sudah terrenggut. Jangan kuatir, aku tidak akan meminta hak ku sebagai seorang suami. Sampai saatnya nanti tiba, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku.”
“Kamu tahu... gara-gara pernikahan ini, semua rencanaku berantakan, termasuk tinggal di rumah ini bersama istri pilihanku. Rumah ini sudah aku persiapkan untuk dia...”
Karena kalimat itulah, seorang gadis yatim piatu bernama Karina menjalani kehidupan yang penuh liku-liku dengan sorang anak laki-laki yang merindukan sosok ayahnya.
Sementara saat Karina akan belajar membuka hatinya pada sosok laki-laki yang sangat menyayangi anaknya, datang seorang gadis yang sedang hamil anak laki-laki itu.
Masih adakah bahagia yang dapat dia raih? Apa jawaban yang harus diberikan pada anaknya?
Ikuti terus ceritanya ya. Dukung dg vote, like & komen biar smangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Cerita Sam
Sepeninggalan Robby, kembali Seno merenung atas pertemuan yang tidak sengaja dengan Karina. Keinginannya untuk kembali bersama Karina sangat menggebu-gebu. Muncul kembali getaran-getaran aneh di dalam hatinya. Tadi saat mengobrol dengan pak Kristo, sebenarnya ada keinginan untuk mengorek, mencari informasi tentang Karina, tapi keinginan itu dia tahan, karena Seno tidak ingin timbul pertanyaan macam-macam dari pak Kristo, yang mungkin saja pak Kristo belum tahu latar belakang Karina.
Sementara itu, di Medan, Karina juga merasa gelisah saat malam hari. Bayangan wajah Seno selalu muncul dan seolah-olah selalu mengikuti dirinya kemanapun dia melangkah. Kenapa setelah pertemuan tanpa sengaja itu membuat dirinya tersiksa? Kenapa jantungnya selalu berdegup bila membayangkan wajah Seno? Ada apa?
Bermacam-macam pertanyaan muncul dalam benak Karina.
Seminggu telah berlalu sejak pertemuan itu, dan Karina juga sudah kembali bekerja, karena dia di Medan hanya tiga hari. Kenapa Seno tidak mencarinya? Toh dia sudah tahu dimana dirinya bekerja. Ah….. pikiran macam apa ini? Kan dia sudah menikah dengan pacarnya, bahkan mungkin juga sudah punya anak dan hidup bahagia.
Tapi kenapa aku mengharapkan dia mencari dirinya? Perasaan apa ini? Hati dan pikiran Karina bergejolak.
Sepulang dari kantor, Karina melihat wajah Sam agak murung, tidak seperti biasanya yang selalu ceria.
“Sam kenapa mbak, kok agak aneh…?” Tanya Karina pada mbak Sumi
“Saya juga kurang tahu bu, tapi sejak pulang sekolah tadi agak pendiam.”
“Ya sudah…. Biar nanti habis makan saya tanya….”
Meskipun ada tanda tanya besar dalam pikiran Karina, tetapi dia menahannya, karena terlihat Sam sedang asyik dengan mainan legonya.
“Sam…. come here boy….” Sam menoleh ke arah maminya.
“Wait a minute mami….” Jawab Sam pendek kemudian melanjutkan menyusun lego menjadi suatu bentuk. Tak lama kemudian, Sam memasukkan lego-lego ke dalam keranjang. Inilah tanggungjawab yang diajarkan Karina pada anaknya. Setelah selesai bermain, harus merapikan kembali.
Sam mendekati Karina dan duduk di sebelahnya sambil memainkan mainan robotnya. Karina memeluk bahu Sam dan menyandarkan di dadanya.
“Mau cerita sama mami masalahmu….?” Tanya Karina lembut. Sam diam saja dan menunduk. Karina mengangkat dagu anaknya. Mata keduanya bertemu.
“Sam… are you oke…? Cerita ke mami, ada apa….?” Sam belum menjawab, Karina makin bingung.
“Sam…. ada masalah di sekolah….?” Tanya Karina lagi dengan lembut.
“Mami…. Apakah Sam tidak punya daddy? Apa papi Ian its my daddy…?” Karina terperangah dengan pertanyaan Sam. Di tidak pernah membayangkan kalau akan keluar pertanyaan seperti itu dari mulut anaknya. Apakah ada yang terlewat dari pikirannya? Hatinya terasa nyeri, apalagi melihat wajah Sam yang murung. Karina mendekap erat anaknya. Dia berusaha keras menahan air matanya jatuh. Karina tidak menyangka akan secepat ini menerima pertanyaan anaknya, di saat dia belum siap dengan jawaban.
“Sam sayang…. kenapa bertanya begitu? What happen….?” Tanya Karin sambil mengusap lembut kepala Sam.
“Teman-teman Sam tanya dimana my daddy? Why never pick up Sam like their daddy? They played
football with their daddy, slept with their daddy… and…..”
Karina melongo mendengar cerita Sam. Sekarang, apakah dia harus menyalahkan teman-teman Sam di sekolah yang menanyakan hal itu? Apa mereka juga salah yang dengan bangga menceritakan daddynya pada Sam? Kembali Karina mendekap erat Sam, seolah takut kehilangan Sam. Tak lama kemudian, Karina mengangkat dagu Sam. Sekarang dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
“Sam…. lihat mami. Look at me….. Don’t ask about daddy…. You have a daddy and he’s not here…. Okey? Kamu boleh bilang ke teman-teman kamu, kalau kamu juga punya daddy. You have papi Ian….” Karina memandang wajah Sam dengan tatapan luka. Karina tidak tahu, apakah jawaban yang diberikan pada Sam sudah tepat atau belum. Sungguh…. Dia merasa sepertinya ada kerinduan yang Sam sembunyikan pada sosok daddy.
Apakah dia harus mencari Seno dan mempertemukan dengan Sam? Bukankah Seno telah menyakiti hatinya dan tidak pernah menginginkan pernikahan mereka? Ah….. untuk apa? Rasa egonya kembali muncul. Bukankah sekarang Seno sudah menikah dan punya keluarga? Untuk apalagi dia muncul dengan Sam? Toh setelah pertemuan itu, Seno tidak berusaha mencarinya… Sementara itu, tanpa Seno, Sam sudah bahagia. Sudah berlimpah dengan kasih sayang dari semua orang. Itu sudah lebih dari cukup. Tapi…. Apakah Sam sudah benar-benar bahagia, buktinya sekarang….?
“I am sorry mami….” Kata Sam sambil menghapus air mata maminya yang terus menetes. Dia merasa bersalah membuat maminya bersedih dan menangis, karena selama ini maminya tidak pernah menangis seperti sekarang. Karina menciumi wajah Sam dengan masih berderai air mata.
“Mami… Sam janji tidak nakal, Sam sayang mami, jangan menangis lagi ya… Sam promises to be a good boy…” Sam mencium pipi maminya.
Kalau ada kesedihan yang Karina rasakan, saat inilah sepertinya Karina merasa benar-benar sedih, merasa hatinya hancur mendengar pertanyaan dan omongan anaknya. Pelan-pelan Karina menata hatinya, diusapnya air matanya, dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya lagi di depan anaknya.
“Oke… Tapi Sam tidak boleh sedih lagi ya? Masih ada opa, oma, papi Ian, mami Ta, mami Ocha… semua sayang Sam…” Kata Karina sambil tersenyum.
“Om Edo mami….?” Tanya Sam.
“Eee… iya, masih ada om Edo juga…”
Malam itu Karina benar-benar tidak bisa tidur. Pertanyaan Sam selalu saja mengganggunya. Bayangan wajah Sam yang murung, tatapan matanya memancarkan kerinduan pada sosok ayah. Ah…. bagaimana dengan sosok Edo? Apakah dia harus mulai membuka hatinya untuk dokter muda itu? Mulai belajar mencintainya? Ataukah dia akan
tetap mempertahankan egonya dengan tetap menutup hatinya? Lalu bagaimana dengan keinginan Sam untuk sama dengan teman-temannya? Kebahagiaan Sam adalah kebahagiaannya dan kesedihan Sam juga kesedihannya. Kalau memang kebahagiaan Sam adalah bersama Edo, kenapa dia tidak mau mengupayakan? Berbagai pertanyaan terus menerus muncul dalam pikiran Karina.
Rupanya Karina baru menyadari kalau Sam merindukan sosok ayah. Sosok yang bisa dia banggakan pada teman-temannya. Sosok yang bisa mengajaknya bermain, yang bisa menjemput sekolah dan mengajaknya jalan-jalan.
Sosok yang bisa menjadi pahlawan buat Sam.
******
Hai......
Makasih ya... untuk kalian yang masih setia.
Nggak bosan-bosannya ngingetin buat dukung dg vote, like & komen.
Jangan lupaya..... tinggalin jejaknya... 🥰🥰🥰