NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius

"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa kalian mengusir nenek itu secara kasar?" tanyanya dengan suara yang sedikit teredam oleh lapisan masker hitamnya.

"Maaf, Nona Muda Linzy. Sepertinya nenek ini pengemis liar. Dia tadi mencoba menyelinap masuk melewati sensor pagar, Nona," ujar Joko, salah satu satpam bertubuh kekar, sambil buru-buru melepaskan cengkeraman kasarnya pada lengan kurus sang nenek.

Linzy menatap si nenek dengan sorot mata iba dari balik kacamata hitamnya. "Apa betul seperti itu, Nek?"

"Saya... saya hanya ingin meminta sedikit air dan makanan, Nona. Saya belum makan sejak kemarin... saya sangat kelaparan," ucap nenek itu dengan suara parau yang bergetar, pandangannya lurus menembus lensa kacamata Linzy dengan sorot mata yang anehnya terasa sangat teduh.

Linzy memperhatikan buntalan kain yang dibawa si nenek—tampak seperti benda berharga satu-satunya. Tanpa ragu, Linzy bersedekap di depan dadanya, memberikan gestur otoritas tertinggi sebagai pewaris tunggal mansion tersebut.

"Baiklah, biarkan nenek ini masuk ke area paviliun belakang. Toh, hanya memberikan sepiring nasi kepadanya tidak akan membuat keluargaku jatuh miskin dalam semalam," tegas Linzy dingin.

"Buka pagarnya sekarang!"

Tindakan nekat Linzy membuat seluruh pelayan, pengawal, dan tukang kebun yang berada di halaman depan mendadak menghentikan aktivitas mereka secara serentak.

Mereka saling pandang dengan raut wajah heran yang tidak bisa disembunyikan. Ini adalah pemandangan paling langka abad ini—Nona Muda mereka yang kuper akhirnya keluar dari sarang isolasinya.

"Hey, kalian lihat! Itu beneran Nona Linzy, kan?" bisik Lusi, seorang pelayan muda, sambil pura-pura menyapu daun kering dengan gerakan super lambat.

"Iya, aneh banget. Kesambet setan apa dia pagi-pagi begini? Padahal biasanya dia ketakutan setengah mati buat keluar kamar karena penampilannya itu," timpal Tata dengan nada nyinyir yang pelan, hampir tak terdengar.

"Huss! Kalau berbicara itu dijaga mulutnya. Kalau sampai Tuan Besar atau Bi Susi dengar, kamu bisa didepak dari sini tanpa pesangon!" tegur Lusi, menyenggol lengan Tata.

"Memang faktanya begitu, kan? Dia selalu pakai masker dan kacamata hitam begitu karena wajahnya yang buruk rupa setelah kejadian malam itu," pungkas Tata sambil berbisik sangat lirih, nyaris seperti desisan ular berbisa.

Tak lama setelah Linzy menuntun nenek tua tersebut berjalan menuju paviliun belakang, muncul sosok Bi Susi, seorang kepala pelayan paruh baya berwajah tegas.

Wajahnya yang kaku namun penuh kasih segera menyapu tajam ke arah dua pelayan yang sedang asyik bergosip. Sebagai pelayan pribadi yang telah merawat Linzy sejak bayi, Bi Susi tahu persis rasa sakit, trauma, dan air mata yang disembunyikan gadis pirang itu di balik masker hitamnya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?!" hardik Bi Susi dengan suara baritonnya yang tegas. "Kalian digaji mahal di mansion ini untuk bekerja menjaga kebersihan, bukan untuk menjadi komentator gosip murah! Cepat kembali ke pos masing-masing sebelum saya potong gaji kalian bulan ini!"

Para pelayan langsung bubar jalan dengan wajah ciut ketakutan. Bi Susi menghela napas berat, menatap punggung Linzy di kejauhan dengan tatapan sendu. Hatinya terasa hancur. Ia tahu penyamaran rapat Nona Mudanya bukan karena sombong atau gila, melainkan karena sebuah luka bakar psikologis dan fisik akibat tragedi berdarah masa lalu yang belum pernah selesai.

KILAS BALIK: Malam Berdarah di Mansion Alexius

Jakarta, 02 Juni 2023 – 21:00 WIB

Kegelapan malam yang pekat menyelimuti sudut-sudut Mansion Alexius yang megah kala itu. Dua bayangan manusia bergerak dengan kelincahan luar biasa, memanjat dinding tembok belakang yang dipasang kawat berduri. Mereka bukan pencuri amatir; mereka adalah pembunuh bayaran profesional yang disewa dengan bayaran selangit.

Setelah melompat turun ke area rumput tanpa menimbulkan suara sedikit pun, keduanya bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak tanaman hias. Mata mereka yang dingin mengawasi satu-satunya pengawal malam yang berjaga di area pintu belakang. Pengawal itu tampak lengah, duduk membelakangi kegelapan sambil menyesap secangkir kopi hitam hangat demi mengusir kantuk.

Bughhh!

Satu pukulan telak mendarat brutal dihantamkan ke tengkuk pengawal malang itu menggunakan tongkat besi. Tanpa sempat mengeluarkan teriakan peringatan, ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Gelas kopi di tangannya lolos, menghantam lantai beton dengan keras.

Prangg!

Pecahan kaca berserakan di kegelapan. Dengan gerakan cekatan yang terlatih, kedua pembunuh itu menyeret tubuh malang tersebut masuk ke dalam rimbunnya semak.

Salah satu dari mereka—Jack, si pembunuh berdarah dingin—mengeluarkan sebuah jarum suntik dari sakunya, lalu menyuntikkan cairan mematikan ke leher sang pengawal, memastikan nyawanya hilang dalam hitungan menit tanpa jejak kekerasan yang berarti.

Jack kemudian dengan cepat melucuti pakaian seragam sang pengawal untuk dikenakan sebagai penyamaran instan, mengabaikan sedikit noda kopi hitam yang tumpah di bagian dada baju tersebut. Ia memakai topi pet dan masker hitam milik pengawal itu untuk menyembunyikan wajahnya. Sementara rekannya, Bram, menutupi jasad korban di dalam semak dengan tumpukan dedaunan kering.

Tap... Tap... Tap...

Langkah kaki Jack terdengar mantap dan tenang saat ia mulai menyusup masuk melalui pintu belakang yang biasa digunakan oleh para pelayan. Ia menyusuri lorong panjang yang dihiasi pilar-pilar marmer putih tinggi, menuju pusat mansion tempat target utama mereka berada.

Di ruang keluarga lantai satu yang hangat dan dipenuhi aroma esensial mawar, cahaya dari layar televisi besar berpendar menerangi wajah sepasang suami istri terpandang dan kedua anak mereka.

Mereka sedang tertawa lepas, mengobrol santai menikmati malam keluarga, sama sekali tidak menyadari bahwa malaikat maut dengan pakaian bernoda kopi sedang berjalan mendekat di dalam lorong gelap rumah mereka sendiri, siap mencabut kebahagiaan itu dalam hitungan detik.

****

Di ruang keluarga yang megah dengan hamparan sofa beludru berwarna krem, suasana malam itu terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan takdir kelam yang sedang mengintai di luar dinding.

Linzy Alexius, gadis remaja berusia enam belas tahun dengan rambut pirang alami yang tergerai indah, menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.

"Kak, kamu besok beneran jadi pergi kuliah ke London ya kata Bunda? Pasti aku bakalan kesepian banget kalau Kakak nggak ada di rumah," ucap Linzy pelan. Jemari mungilnya memainkan ujung baju tidurnya, menunjukkan rasa berat hati yang mendalam.

Mahen Alexius, pemuda atletis yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya, tersenyum lebar. Ia mengacak rambut adiknya dengan gemas hingga berantakan.

"Hmm, iya Dek. Jangan sedih gitu dong? Kan zaman sekarang masih bisa video call tiap jam. Di sini juga masih ada Bunda sama Ayah yang bisa kamu ajak berantem. Biar Kakak tambah pinter di sana, nanti kalau pulang, Kakak bawain calon kakak ipar sama mantu bule buat Bunda sama Ayah, gimana?"

"Jangan dulu mikirin soal perempuan, Mahen! Kamu di sana harus fokus belajar! Jangan pacaran dulu sebelum lulus, ngerti?!" potong Alysa Tiffany Abraham tegas.

Wanita itu tampak sangat anggun dengan gaun tidur sutra, meskipun raut wajahnya memancarkan ketegasan mutlak seorang ibu.

Bintang Alexius, pria tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang duduk di samping istrinya, tertawa renyah hingga matanya menyipit.

"Sudahlah Sayang, biarkan saja putra kita berkembang. Dia juga sudah cukup dewasa untuk mengenal cinta, jadi apa salahnya?"

"Tapi Bunda belum siap punya cucu, Yah. Dan juga... Bunda nggak mau kalau Mahen harus nikah muda sama seperti kita dulu," ujar Alysa penuh kehangatan sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami, pengusaha sukses yang sangat ia cintai itu.

"Jadi kamu menyesal sudah nikah muda denganku, hm?" goda Bintang sambil menaikkan satu alisnya, melingkarkan lengannya yang kekar di pinggang Alysa.

"Bukan begitu Sayang, aku tidak pernah sedikit pun menyesal. Justru aku yang sangat beruntung karena berhasil mendapatkanmu, yang waktu kuliah dulu jadi rebutan gadis-gadis tercantik sekampus," Alysa menjelaskan dengan rona merah yang mendadak terbit di pipinya.

"Sudah cukup! Mahen cuma bercanda kok Bun soal mantu tadi, jadi nggak usah kalian pamer kemesraan di depan jomblo,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!