Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Misi Pertama
Sinar matahari siang yang hangat menembus jendela-jendela tinggi ruangan guild, jatuh tepat pada kartu berwarna perunggu yang masih digenggam erat kedua tangan Haruto. Ia membalik-baliknya berulang kali, jemarinya mengusap lembut permukaan logam yang mengukir lambang pedang dan tongkat sihir yang menyilang, beserta namanya sendiri: Haruto Kazehara.
"Jadi... ini benar-benar kartu petualangku," gumamnya pelan, senyum lebar tak pernah lepas dari wajahnya hingga matanya menyipit bahagia. Selama di dunia lamanya, ia hanya bisa membayangkan momen seperti ini lewat buku-buku petualangan yang ia baca sembunyi-sembunyi di kelas. Kini, impian itu terasa nyata di genggamannya.
Belum sempat ia meresapi perasaan itu sepenuhnya, Pochi tiba-tiba melompat ringan ke atas kepalanya, tubuh kenyalnya memantul-pantul riang seolah menjadikan rambut Haruto sebagai alas mainan. "Pyoo! Pyoo!" suaranya terdengar begitu gembira, seolah ikut merayakan kemenangan kecil itu bersama sahabatnya.
"Hei! Jangan dijadikan trampolin!" Haruto segera mengangkat tangan dan memindahkan slime kecil itu kembali ke bahunya, meski nada suaranya sama sekali bukan marah, melainkan penuh keakraban. Pochi hanya mengeluarkan bunyi renyah, seolah tertawa menanggapi protes itu.
Melihat tingkah polos mereka berdua, Daichi hanya terkekeh pelan sambil melipat tangan di dada. "Kau benar-benar tak berubah, Nak. Meski kini sudah menguasai aliran mana dan resmi menjadi petualang, sifat polosmu itu tetap sama seperti saat pertama kali kita bertemu."
Mizuna di sampingnya pun tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh penghargaan. "Itu bukan hal yang buruk. Ketulusan hatimu justru akan menjadi penunjuk jalan terbaik bagimu kelak, di saat kekuatan saja tak lagi mampu menyelesaikan segalanya."
Saat itu, langkah kaki Elena terdengar mendekat dari balik meja pendaftaran. Ia membawa sebuah gulungan perkamen yang terikat tali rami, wajahnya menyiratkan dukungan tulus sekaligus harapan yang besar untuk pemuda itu.
"Haruto," panggilnya lembut.
"Ya, Kak Elena?" Haruto segera menoleh, menyadarkan diri sejenak dari rasa bahagianya yang meluap.
"Setiap petualang yang baru terdaftar," jelas Elena sambil menatap kartu guild yang kini diselipkan Haruto ke saku pinggangnya, "wajib menyelesaikan satu misi pemula terlebih dahulu. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan syarat agar kau benar-benar diakui siap menghadapi dunia luar tembok kota."
Mata Haruto seketika berbinar terang. Semangatnya kembali meledak tanpa ia sadari. "Misi pertamaku!" serunya antusias, membuat beberapa petualang yang sedang melintas ikut menoleh sejenak.
Elena tersenyum melihat antusiasme itu. "Aku sudah memilihkan yang paling pas untuk peringkat Kelas F. Tidak terlalu berbahaya, namun tetap mengajarkan hal-hal mendasar yang harus dimiliki setiap petualang: kesabaran, ketelitian, serta kewaspadaan terhadap sekeliling."
Ia meraih gulungan kertas dari papan pengumuman yang dipenuhi ratusan tugas beragam tingkat kesulitan, lalu menyodorkannya kepada Haruto. Pemuda itu segera membuka gulungan itu dengan hati-hati, membaca tulisan tangan rapi yang tertera di atasnya:
Misi: Mengumpulkan 20 buah Jamur Bulan dari wilayah tepian Hutan Lumin.
Syarat: Jamur harus utuh, bersih, dan tidak rusak.
Hadiah: 5 koin perak beserta pengakuan resmi sebagai petualang lulus masa percobaan.
Haruto mengerjap pelan, lalu menatap Elena dengan sedikit keraguan. "Cuma... memetik jamur?"
Daichi tertawa kecil, lalu menepuk pundak pemuda itu pelan. "Jangan pernah meremehkan hal yang tampak sederhana, Haruto. Hampir semua petualang besar yang namanya kini dikagumi memulai langkah pertamanya dari hal serupa. Mengumpulkan bahan obat, menjaga perbatasan desa, atau sekadar mengantar pesan. Di situlah mereka belajar membaca arah angin, mengenali jejak makhluk, dan menjaga diri tetap tenang meski berada di tempat asing."
Haruto merenung sejenak, membayangkan nasihat itu. Perlahan ia mengangguk mantap. "Baiklah! Aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Aku akan mencari dua puluh jamur yang paling bagus dan utuh!"
Namun sebelum Elena sempat menyerahkan surat tugas itu sepenuhnya, suara tawa kasar dan berat tiba-tiba membelah suasana ruangan yang tadinya tenang.
"Hahaha! Jadi bocah yang baru saja diterima itu sudah mau berangkat kerja?"
Mereka serentak menoleh. Seorang pria bertubuh kekar setinggi lebih dari dua meter berjalan mendekat dengan langkah berat yang menggetarkan lantai batu. Ia mengenakan zirah besi penuh yang penuh goresan bekas pertarungan, dengan lambang pedang bersilang berwarna perak yang menandakan peringkat Petualang Kelas B. Di belakangnya berdiri dua orang rekan yang ikut tersenyum meremehkan.
Haruto menatapnya dengan tenang. "Iya. Hari ini adalah misi pertamaku."
Pria itu mendengus sinis, menatap Haruto dari ujung kaki hingga kepala seolah sedang menilai benda tak berharga. "Kalau begitu jangan menangis minta gendong saat melihat monster pertama. Atau jangan sampai kau lari terbirit-birit hanya karena terkejut mendengar suara burung hantu."
Beberapa petualang di sekitar ikut tertawa pelan—sebagian hanya sekadar ingin melihat reaksi pemuda baru itu, sebagian lain memang masih meragukan kemampuan seseorang yang sempat ditolak saat pendaftaran pertama.
Namun Haruto tidak menunduk, tidak pula marah atau membalas dengan kata-kata kasar. Ia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum sopan. "Aku akan berusaha sebaik mungkin. Kalau ada hal yang belum aku mengerti, aku akan belajar."
Jawaban yang begitu tenang dan rendah hati itu membuat pria kekar itu sedikit tertegun. Ia jelas menduga pemuda itu akan terpancing emosi, membalas ejekan, atau malah tampak ketakutan—bukan menjawab dengan ketenangan yang begitu mendasar. Tanpa sempat berkata apa-apa lagi, ia hanya mendengus pelan lalu berbalik pergi.
Daichi tersenyum bangga dalam hati. Anak ini sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Pelajaran terpenting dari Mizuna tidak sia-sia.
Mizuna pun mengangguk samar, sorot matanya penuh kepuasan. Ketenangan bukanlah tanda kelemahan. Ia sudah mulai memahami inti dari segalanya.
Elena yang sedari tadi memperhatikan akhirnya menyerahkan gulungan misi itu sepenuhnya ke tangan Haruto. "Batas waktunya adalah sebelum matahari benar-benar terbenam. Jamur Bulan hanya tumbuh di tempat lembap yang tetap terkena sedikit cahaya matahari, dan akan hancur jika ditekan terlalu kuat. Hati-hati di jalan."
"Baik! Aku berjanji akan kembali tepat waktu!" Haruto menyimpan surat itu rapi di saku dalam jubahnya.
Saat ia hendak melangkah menuju pintu keluar, suara berat namun tegas Master Gensai tiba-tiba terdengar memanggilnya.
"Haruto."
Pemuda itu segera berhenti dan berbalik menghadap pemimpin guild. "Ya, Master Gensai?"
Pria tua itu berjalan mendekat perlahan, matanya yang tajam tak lepas menatap Pochi yang sedang duduk santai di bahu Haruto sambil mengayun-ayunkan tubuh kecilnya.
"Dengarkan pesanku baik-baik," ucapnya serius, suaranya cukup rendah agar hanya mereka berempat yang mendengar. "Selama kau menjalankan misi ini—dan semua misi yang akan kau jalani selanjutnya—jangan pernah memperlihatkan kemampuan asli slime ini kepada siapa pun yang belum kau percaya sepenuhnya. Keberadaan jenisnya sudah lama dianggap punah dan hilang dari catatan sejarah. Ada banyak pihak yang akan berusaha mengambilnya dengan cara apa pun jika tahu apa sebenarnya makhluk ini."
Haruto mengangguk mantap, menyadari betapa berat tanggung jawab yang tersirat dalam pesan itu. "Aku mengerti, Master. Aku akan menjaganya sebaik aku menjaga nyawaku sendiri."
Pochi seolah mengerti isi pembicaraan itu, ikut mengangguk kecil sambil mengeluarkan suara lembut. "Pyoo..."
Daichi kemudian mengambil tas kain kecil yang sudah disiapkan sebelumnya, berisi bekal makanan, botol air minum, perban, serta ramuan penawar racun dasar. Ia menyampirkannya ke bahu Haruto. "Baiklah. Aku hanya akan mengantarmu sampai batas gerbang hutan. Mulai dari sana, kau harus melangkah dan menyelesaikannya sendiri. Itu bagian dari ujian menjadi petualang sejati."
Haruto tersenyum lebar, penuh keyakinan yang tak goyah sedikitpun. "Serahkan semuanya padaku!"
Mizuna melangkah maju sejenak, menepuk pundak pemuda itu dengan lembut namun penuh makna. "Ingat semua yang telah kau pelajari. Tetap tenang di setiap keadaan. Amati segala sesuatu di sekitarmu terlebih dahulu. Dan bertindaklah hanya setelah kau yakin akan apa yang akan kau lakukan. Kekuatan yang besar tak ada artinya jika tidak diiringi dengan kebijaksanaan."
"Aku tidak akan mengecewakan kalian," janji Haruto mantap.
Dengan kartu guild pertamanya tersimpan aman di pinggang, surat misi yang terjaga rapi, serta semangat yang membara namun tetap terkendali, Haruto melambaikan tangan kepada mereka bertiga, lalu melangkah keluar dari pintu besar Guild Petualang Lumin.
Langkah kakinya ringan namun pasti saat ia melintasi jalanan kota yang sibuk. Pedagang yang menawarkan dagangan, penduduk yang berlalu-lalang, hingga petualang lain yang bersiap berangkat atau baru pulang bertugas—semuanya tampak begitu hidup dan nyata. Di kejauhan, rimbunnya pepohonan Hutan Lumin mulai tampak menyatu dengan langit biru yang perlahan berubah warna.