Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masalah yang mengancam
Seminggu berlalu, dan suasana di kantor tempat Arka bekerja semakin tegang. Pak Budi, pemilik perusahaan kecil itu, terlihat semakin murung dan sering menghela napas panjang. Ruangan yang biasanya riuh dengan canda tawa kini menjadi sunyi dan penuh kekhawatiran. Semua karyawan tahu ada yang tidak beres, meski tidak ada yang berani bertanya secara langsung.
Siang itu, saat jam istirahat, semua karyawan berkumpul di ruang makan kecil. Dinda duduk di sebelah Arka, wajahnya terlihat cemas. "Kamu dengar kabar terbaru, Arka? Katanya Pak Budi sudah tidak mampu membayar sewa gedung lagi. Pemilik gedung sudah memberi peringatan, kalau minggu depan belum lunas, kita harus pindah atau ditutup paksa. Dan yang lebih parah, ada pesaing besar yang mau membeli aset perusahaan ini dengan harga sangat murah. Kalau itu terjadi, kita semua pasti dipecat tanpa pesangon," bisik Dinda dengan suara bergetar.
Arka mengangguk pelan. Dia sudah mengetahui hal ini jauh sebelum orang lain tahu. Sebagai orang yang mengurus administrasi, dia memiliki akses ke laporan keuangan perusahaan, dan dia sudah melihat betapa parahnya kerugian yang dialami Pak Budi. Masalah utamanya bukan karena perusahaan ini tidak punya pelanggan, tapi karena manajemen keuangan yang kurang rapi dan adanya pembayaran yang tertunda dari klien-klien besar yang sengaja menunda pembayaran.
"Tenang saja, Din. Pak Budi pasti sedang berusaha mencari jalan keluar. Kita lihat saja nanti," jawab Arka berusaha menenangkan, meski di dalam hatinya dia sudah menyusun strategi.
Sore harinya, Pak Budi memanggil seluruh karyawan ke ruang pertemuan. Wajahnya tampak lelah dan penuh penyesalan. "Teman-teman sekalian, saya minta maaf harus menyampaikan kabar yang kurang baik ini. Seperti yang mungkin sudah kalian duga, perusahaan kita sedang mengalami kesulitan keuangan yang sangat berat. Saya sudah berusaha mencari pinjaman, bernegosiasi dengan kreditur, tapi hasilnya belum ada. Jujur saja, saya sangat khawatir kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Saya tidak tahu apakah saya bisa membayar gaji bulan ini tepat waktu atau tidak."
Suasana menjadi hening seketika. Beberapa karyawan mulai saling berbisik, ada yang tampak marah, ada yang sedih, dan ada yang kecewa. Bagi banyak dari mereka, pekerjaan ini adalah tumpuan hidup keluarga mereka. Kehilangan pekerjaan saat ekonomi sedang sulit seperti ini adalah bencana besar.
Arka memperhatikan semuanya dengan tenang. Dia melihat ketulusan di mata Pak Budi, dia melihat kekhawatiran di wajah Dinda dan rekan-rekannya. Di saat yang sama, pikirannya melayang ke masalah besar di perusahaannya sendiri. Di Grup Wijaya, penyimpangan dana yang dia temukan ternyata lebih rumit dari yang dia duga. Orang yang terlibat bukanlah pegawai biasa, melainkan salah satu direktur utama yang sudah lama dipercaya ayahnya. Orang ini bernama Pak Haris, seorang tokoh berpengaruh di dunia bisnis yang memiliki jaringan luas dan kekuasaan yang cukup besar.
Mengurus Pak Haris tidak bisa dilakukan sembarangan. Dia punya banyak koneksi, dan jika dia merasa terancam, dia bisa melakukan hal-hal berbahaya yang bisa merusak nama baik Grup Wijaya. Arka harus sangat berhati-hati. Dia tidak hanya harus membuktikan kecurangan itu, tapi juga harus memastikan tidak ada dampak buruk bagi perusahaan dan ribuan karyawan di sana.
Malam itu, Arka bekerja lebih keras dari biasanya. Dia membagi waktunya: separuh malam dia menganalisis data keuangan perusahaan Pak Budi, mencari celah dan solusi agar perusahaan itu bisa selamat, dan separuh lagi dia mengumpulkan bukti-bukti kecurangan yang dilakukan Pak Haris. Dia sadar bahwa ada hubungan yang tidak sengaja antara kedua masalah ini. Ternyata, salah satu klien besar yang menunggak pembayaran pada perusahaan Pak Budi adalah anak perusahaan yang berada di bawah kendali Pak Haris.
"Ini bukan kebetulan," gumam Arka dalam hati. Pak Haris sengaja menahan pembayaran itu untuk melemahkan perusahaan Pak Budi, karena dia tahu bahwa perusahaan Pak Budi memiliki aset tanah yang strategis di pusat kota, aset yang sangat diinginkan oleh Grup Wijaya untuk proyek pembangunan baru. Pak Haris berencana membuat perusahaan Pak Budi bangkrut, lalu membeli aset itu dengan harga murah untuk keuntungan pribadinya.
Penemuan ini membuat darah Arka mendidih. Dia marah bukan hanya karena uang perusahaan yang dikorupsi, tapi karena ada orang yang tega menghancurkan kehidupan orang-orang baik hanya demi keuntungan sendiri. Pak Budi yang jujur, karyawan-karyawan yang bekerja keras, semuanya menjadi korban dari keserakahan satu orang.
"Pak Haris, kau pikir kau bisa melakukan apa saja sembunyi-sembunyi? Kau salah besar," ucap Arka pelan, matanya menatap tajam ke layar komputer.
Kini Arka punya rencana ganda. Dia akan menyelamatkan perusahaan Pak Budi, dan sekaligus menjebak Pak Haris menggunakan skema yang dia buat sendiri. Dia akan bergerak di dua dunia sekaligus: sebagai Arka si pegawai biasa yang membantu bosnya, dan sebagai Tuan Wijaya yang mengatur strategi bisnis tingkat tinggi.
Keesokan harinya, Arka menghampiri Pak Budi di ruang kerjanya. Ruangan itu berantakan, penuh berkas berserakan, dan Pak Budi duduk di kursinya dengan wajah tertunduk lesu.
"Pak Budi, boleh saya bicara sebentar?" tanya Arka sopan.
Pak Budi mengangkat wajahnya, sedikit terkejut melihat Arka masuk. "Ah, Arka. Silakan, ada apa? Kamu mau mengundurkan diri juga ya? Tidak apa-apa, saya mengerti keadaanmu."
Arka tersenyum dan duduk di hadapan Pak Budi. "Bukan begitu, Pak. Saya tidak akan pergi. Saya justru punya beberapa usulan dan ide yang mungkin bisa membantu perusahaan kita keluar dari masalah ini."
Mata Pak Budi membelalak tak percaya. "Kamu? Kamu punya ide? Arka, ini masalah besar, soal uang jutaan rupiah, soal utang dan kontrak... Kamu yakin kamu bisa membantu?"
"Saya yakin, Pak. Boleh saya jelaskan?"
Dengan tenang dan rinci, Arka mulai menjelaskan analisisnya. Dia menjelaskan di mana letak kesalahan pengelolaan keuangan, mengapa pembayaran dari klien tertunda, dan langkah-langkah praktis yang bisa diambil. Dia juga menyebutkan bahwa dia punya kenalan yang mungkin bisa membantu menjembatani negosiasi dengan pihak yang menunggak pembayaran, serta menawarkan solusi penyuntikan dana sementara dengan syarat yang sangat menguntungkan dan tidak memberatkan perusahaan.
Pak Budi mendengarkan dengan saksama, semakin lama semakin terkejut dan kagum. Penjelasan Arka sangat mendalam, istilah-istilah yang dia gunakan sangat tepat, dan solusi yang ditawarkan sangat cerdas dan realistis.
"Arka... dari mana kamu belajar semua ini? Ini bukan sekadar pengetahuan administrasi biasa. Ini pengetahuan tingkat manajemen puncak," tanya Pak Budi heran.
Arka hanya tersenyum misterius. "Saya suka membaca dan belajar, Pak. Saya hanya berpikir dari sudut pandang lain saja. Yang terpenting, apakah Bapak bersedia memberi saya kepercayaan untuk mengurus masalah ini? Kalau Bapak izinkan, saya janji dalam waktu satu bulan, perusahaan ini akan aman kembali."
Pak Budi menatap pemuda di depannya dengan pandangan baru. Selama ini dia menganggap Arka hanya pegawai biasa yang rajin. Tapi hari ini, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar tersembunyi dalam diri pemuda itu.
"Baiklah, Arka. Aku serahkan masalah ini ke tanganmu. Lakukan apa saja yang menurutmu terbaik. Aku percaya padamu," kata Pak Budi dengan tekad baru yang tumbuh kembali di hatinya.
Di luar ruangan, Dinda yang tidak sengaja mendengar percakapan itu hanya bisa mengerutkan kening bingung. Dia semakin penasaran, siapa sebenarnya Arka yang dia kenal selama ini?