Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ujian Tanpa Gelar
Rahardja terdiam cukup lama. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Saras langsung meremehkan Enzo saat mengira ia hanya staf.
Ranti pun tidak menegur putrinya hingga ia sendiri yang harus melakukannya.
Chantika ternyata sejak lama memilih menjaga jarak karena merasa tidak benar-benar diterima.
Sementara Enzo rela menanggalkan statusnya hanya demi membuat Chantika merasa tenang.
Pria itu akhirnya menarik napas panjang, lalu menatap Enzo. "Baik. Papa akan merahasiakan identitasmu."
Enzo dan Chantika saling berpandangan. Keduanya baru saja merasa lega ketika Rahardja kembali berbicara.
"Bukan karena Papa ingin berbohong kepada mereka." Sorot mata pria paruh baya itu tenang. "Tapi karena Papa ingin melihat siapa yang benar-benar menghargai seseorang tanpa memandang status."
Ia melanjutkan, "Kalau seseorang baru berubah baik setelah tahu lawannya kaya atau memiliki jabatan, berarti yang ia hormati bukan orangnya, melainkan statusnya."
Chantika mengangguk pelan.
"Tapi ada satu syarat."
Enzo dan Chantika kembali saling berpandangan.
"Apa itu, Pa?" tanya Enzo.
Rahardja menatapnya lurus. "Kalau suatu hari penyamaran ini justru menyakiti keluargaku atau membuat keadaan semakin rumit, Papa sendiri yang akan membuka semuanya."
Enzo mengangguk mantap. "Itu adil, Pa."
Rahardja tersenyum tipis, lalu menyerahkan kembali map hitam itu kepada Chantika. "Ini adalah pemberian calon suamimu untukmu. Maka simpanlah olehmu."
"Iya, Pa." Chantika menerima map itu dari sang ayah.
"Ayo," ajak Rahardja. "Kita kembali kee ruang tamu."
Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruang kerja.
Begitu melihat mereka kembali ke ruang tamu, Saras dan Ranti langsung mengalihkan perhatian. Tatapan keduanya penuh rasa ingin tahu.
Rahardja kembali duduk di sofa bersama Chantika.
"Jadi," katanya tenang, "kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"Setelah izin dari kesatuan keluar, Pa," jawab Chantika.
Rahardja mengangguk. "Lalu resepsinya akan diadakan di mana?"
Chantika menoleh kepada Enzo. "Aku maunya sederhana saja, Pa. Cukup keluarga dan orang-orang terdekat."
Ia tersenyum kepada Enzo. "Kamu enggak keberatan, 'kan?"
Enzo membalas tatapannya. "Selama itu membuatmu bahagia, aku tidak keberatan."
"Gak heran maunya sederhana," gumam Saras lirih. "Mungkin memang kemampuan finansialnya cuma sampai situ."
Walaupun pelan, ucapan itu masih terdengar jelas.
Rahardja memejamkan mata sesaat. Ranti tampak serba salah. Chantika hanya mengembuskan napas pelan, seolah sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu.
Sementara Enzo tetap tenang, seakan tidak terusik sedikit pun.
Marco justru menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya. "Bos... sabar banget. Kalau Bos mau, satu gedung tempat resepsi termewah di kota ini juga bisa langsung dibeli."
Namun ia tetap diam. Bukan haknya ikut campur.
Rahardja menoleh kepada Marco. "Bukankah tadi ada cincin?"
Marco refleks menegakkan punggungnya. "Benar, Pak."
Ia mengambil kotak beludru hitam yang sejak tadi dibawanya, lalu menyerahkannya kepada Enzo.
Enzo membukanya perlahan. Di dalamnya hanya terdapat sepasang cincin emas putih dengan desain yang sangat sederhana, tapi elegan. Tanpa berlian besar. Tanpa ukiran mencolok.
Saras yang melihatnya langsung mengangkat sebelah alis. "Cincinnya... sederhana sekali."
Marco hampir refleks menjawab, tetapi memilih diam.
Rahardja justru memandang Enzo. "Kamu sengaja memilih model seperti ini?"
"Iya, Pa."
"Kenapa?"
Enzo menoleh kepada Chantika. "Karena Chantika seorang polisi. Perhiasan yang terlalu mencolok justru akan merepotkannya saat bertugas."
Ia tersenyum tipis. "Aku ingin cincin ini bisa tetap dipakainya setiap hari, bukan hanya disimpan di kotak."
Chantika menatap Enzo beberapa saat. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu memikirkan hal sekecil itu.
Sementara Saras kembali bergumam, "Atau memang karena..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Rahardja sudah menatap tajam. "Saras."
Saras langsung diam.
Rahardja mengangguk pelan kepada Enzo. "Kalau begitu... silakan."
Enzo mengambil cincin itu. Dengan lembut ia menggenggam tangan kiri Chantika. "Semoga cincin sederhana ini menjadi pengingat bahwa aku akan selalu pulang kepadamu."
Perlahan ia menyematkan cincin itu di jari manis tangan kiri Chantika. Setelah itu Chantika melakukan hal yang sama kepada Enzo.
Tepuk tangan pelan terdengar memenuhi ruang tamu.
Marco melirik Saras dan Ranti. "Kalau mereka tahu harga cincin yang disebut sederhana itu..." Marco menarik napas pelan. "Mungkin mereka gak bakal berani nyebutnya murahan."
Setelah cincin terpasang, Rahardja akhirnya berdiri. "Sudah. Mari kita makan malam. Kebetulan kami sudah menyiapkan hidangan sederhana."
Kalimat itu keluar begitu saja. Namun setelah mengetahui siapa Enzo sebenarnya, Rahardja justru merasa kata sederhana benar-benar memiliki arti yang berbeda malam ini.
Di meja makan, berbagai hidangan telah tersaji.
Marco melihat ada steak wagyu, lobster panggang, foie gras, truffle soup, hingga berbagai hidangan penutup premium.
"Lumayan juga," gumam Marco dalam hati.
Saras melirik Enzo dan Marco sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sengaja berkata kepada Ranti dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.
"Ma, coba minta pelayan ambilin steak knife yang satunya. Yang ini kurang cocok."
"Iya, sekalian ganti sendok supnya juga," sahut Ranti tanpa menyadari maksud putrinya.
Saras kembali tersenyum. "Takutnya nanti ada yang bingung bedain pisau steak sama pisau butter."
Rahardja langsung mengangkat kepala. "Saras. Nanti tamu kita tidak enak hati."
"Oh... aku cuma mengingatkan, Pa."
Saras tersenyum polos. Padahal tatapannya diam-diam mengarah kepada Enzo dan Marco.
Marco hanya melirik Bosnya, lalu berbisik pelan. "Bos... Ini kalau saya tunjukkan sertifikat pelatihan jamuan bisnis internasional yang dulu Bos suruh saya ikuti, kira-kira dia bakal pingsan gak, ya?"
Namun Enzo tetap tenang. Dengan gerakan yang begitu alami, ia mengambil serbet, membentangkannya di pangkuan, lalu menggunakan seluruh peralatan makan sesuai etiket fine dining tanpa sedikit pun ragu. Setiap gerakannya tampak santai, tetapi begitu berkelas.
Marco melakukan hal yang sama.
Saras yang semula hendak menyindir perlahan kehilangan senyumnya. Ia tidak menemukan satu pun kesalahan.
Rahardja diam-diam memerhatikan kedua pria itu. "Seandainya aku belum tahu siapa Enzo... Cara makannya saja sudah cukup untuk membuatku curiga."
Usai makan malam, mereka masih berbincang sejenak di ruang tamu. Tak lama kemudian, Enzo dan Marco berpamitan.
"Terima kasih atas jamuannya, Pa, Ma," ucap Enzo sopan.
Rahardja mengangguk sambil menepuk pelan bahu calon menantunya. "Hati-hati di jalan."
Marco ikut membungkukkan badan. "Permisi."
Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan halaman rumah Rahardja.
Semua penghuni rumah masih berdiri di teras hingga kendaraan itu menghilang di balik gerbang.
Rahardja baru berbalik setelah lampu belakang mobil tak lagi terlihat.
"Ayo masuk."
Mereka pun kembali memasuki rumah.
Begitu tiba di dalam, Rahardja tidak langsung menuju kamarnya. Ia justru mengalihkan langkah ke arah ruang keluarga.
"Kita ke ruang keluarga."
Semua menoleh kepadanya.
"Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan." Nada suaranya tenang. Namun cukup untuk membuat suasana berubah. "Soal kontrak investasi yang dibawa Saras."
Langkah Saras mendadak terhenti. "Kontrak investasi?"
Wajah Saras perlahan memucat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia berusaha tersenyum, tetapi sudut bibirnya terasa kaku.
"Jangan-jangan... mereka benar-benar menemukannya."
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
...🔸🔸🔸...
..."Jangan terburu-buru menilai nilai seseorang dari apa yang ia kenakan, karena harga diri tidak pernah ditentukan oleh harga barang yang dipakainya."...
..."Kekayaan bisa disembunyikan. Jabatan bisa dilepaskan. Namun akhlak akan selalu menemukan caranya untuk terlihat."...
..."Status dapat membuka pintu, tetapi hanya sikap yang mampu membuka hati."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.