Jaka Sakti, seorang anak yang terlahir dari desa kecil, namun ia dilahirkan dengan takdir yang kuat.
Ia dipilih oleh Dewa Suci untuk meneruskan warisannya. Jaka berkelana ke seluruh dunia untuk menemukan 10 Siluman Dewa Suci yang akan menjadi gurunya dan memberikannya kekuatan yang tiada tara.
Aku, Jaka Sakti, Seseorang yang akan berada di puncak, bukan hanya tanah kelahiranku, melainkan mendominasi seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kemal costa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33 - Alam Batin Jaka.
Pertarungan dahsyat yang terjadi antara Jaka melawan Zhurong telah berakhir dan dimenangkan oleh Jaka. Pertarungan tersebut menyisakan retakan pada dinding-dinding dan tanah di dalam goa.
Zhurong menutup matanya kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuhnya berubah menjadi butiran-butiran cahaya biru kecil, yang terbang dan kemudian berkumpul dan bergabung membentuk api biru.
Hal tersebut cukup membuat Jaka tercengang dan membuka mulutnya selama beberapa detik.
Api biru tersebut lalu jatuh perlahan-lahan ke tanah. Sesaat setelah api biru tersebut menyentuh tanah, api itu kemudian menghilang dan berubah menjadi sebuah cincin emas putih pipih dan mempunyai permata biru kecil di atasnya.
Setelah cincin itu tergeletak di tanah, Jaka berjalan perlahan menghampiri cincin tersebut dan mengambilnya. Seketika dinding-dinding goa bergetar hebat, lalu retakan-retakan pada dinding tersebut menjadi lebih besar. Jaka yang melihat hal tersebut, langsung memasukkan cincin yang ia dapat ke dalam gelang galaksinya dan berusaha pergi keluar goa secepatnya.
"Sial! Goa ini akan segera runtuh, aku bahkan masih sulit untuk menggerakkan tubuhku."
Jaka berusaha berlari, namun ia masih sangat sulit untuk bergerak, ia berjalan terseok-seok dengan menggunakan pedangnya yang tersarung sebagai tumpuan yang membantu ia berjalan. Bebatuan besar mulai berjatuhan dari langit-langit goa.
Jaka berusaha melangkah lebih cepat, ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk segera keluar, ia tak ingin mati di goa tersebut. Bebatuan besar berjatuhan dengan lebih banyak dan beberapa hampir menimpa Jaka.
Akhirnya, setelah perjuangan kerasnya melangkah, ia kini berhasil sampai pada bibir goa dan segera melompat keluar menggunakan sisa tenaganya.
Sesaat setelah Jaka keluar. Goa tersebut runtuh dan bebatuan besar menutup sempurna pintu goa itu.
"Syukurlah aku masih bisa keluar, andai aku terlambat sedikit, mungkin aku akan mati," ucap Jaka dengan nafas tersengal-sengal.
Jaka menjadi panik, ia terlihat bingung harus melakukan apa, tenaga dalam yang ia miliki telah habis, belum lagi luka di lengan kanannya semakin parah. Jaka tak ingin mati dengan kondisi seperti ini.
Jaka lalu mengambil cincin yang ia dapat sebelumnya dan memakainya, berharap Zhurong bisa membantunya.
Setelah memakai cincin tersebut, Jaka merasakan adanya energi asing yang mengalir pada tubuhnya, ia merasakan tubuhnya tak menolak kehadiran energi asing tersebut.
Jaka kini merasakan ngilu pada lengan kanannya, terlihat luka yang diberikan oleh Zhurong perlahan-lahan menutup dan darah yang mengalir seketika berhenti, begitu juga dengan luka lain pada tubuhnya.
Jaka merasakan suntikan energi yang positif bagi tubuhnya, rasa sakit yang ia derita, lambat laun menghilang, tubuhnya kembali segar dan rona wajahnya kembali cerah. Ia juga merasakan tenaga dalamnya kembali pulih setengahnya.
Saat Jaka masih bingung dengan apa yang terjadi, matanya menjadi gelap dan seketika ia tak sadarkan diri.
Jaka terbangun dan membuka matanya, tetapi ia tak dapat melihat apa-apa, dunia menjadi gelap gulita.
Tiba-tiba, ada sebuah titik kecil cahaya terang di kejauhan dan Jaka langsung berjalan menghampiri titik tersebut, ia berjalan menyusuri ruang yang gelap itu dengan perlahan-lahan.
Semakin lama ia berjalan dan semakin mendekat, cahaya tersebut semakin lama semakin membesar dan membentuk sebuah ruangan putih.
Jaka kemudian memasuki ruangan tersebut. Setelah masuk, ia pun melihat seisi ruangan tersebut, matanya berkeliling. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok yang ia kenali.
"Zhuroong!!" teriak jaka.
Jaka berjalan menghampiri sosok tersebut yang tak lain adalah Zhurong. Zhurong menatap Jaka dengan senyuman simpul menghiasi wajahnya.
"Kau sudah datang, aku yang memanggilmu ke sini," ucap Zhurong.
"Emm ... Di mana ini? " tanya Jaka.
"Apakah kau belum pernah ke sini sebelumnya?" tanya Zhurong balik.
"Aku sepertinya tidak asing dengan tempat ini, tetapi aku tak mengingatnya dengan jelas."
Jaka menggaruk-garuk kepalanya, ia mencoba mengingat-ingat tentang ruangan tersebut.
"Ini adalah Alam Batinmu, di tempat inilah kau bisa menemuiku dan cincin itu adalah dimensi tempat aku tinggal nantinya. Dimensi yang berada pada cincin itu, langsung terhubung dengan Alam Batinmu ketika kau memakainya."
"Tapi, cincin macam apa ini? Ini dapat menyembuhkanku dalam waktu singkat."
"Hey ... Apakah kau pikir langit terlalu kejam padamu? Jika kau harus bertarung dengan kami, terus kau akan mati akibat luka sehabis pertarungan? Maka daripada itu, cincin ini sudah menyiapkan energi alam penyembuh untuk kau pakai setelah pertarungan dan itu hanya bisa digunakan sekali," ujar Zhurong menjelaskan.
Jaka menautkan alisnya. "Tetapi aku hampir mati dua kali, aku hampir tertimpa reruntuhan goa dan hampir kehabisan darah karena lukaku."
"Hehe ... Apakah kau tidak berfikir? Pertarungan kita sedikit berlebihan, sampai-sampai meruntuhkan goa itu, tapi syukurlah kau selamat, sudah kubilang, takdir langit sudah digariskan padamu, kau tak akan mati semudah itu, jikalaupun kau mati, itu juga kehendak dari langit," ucap Zhurong menyengir.
"Sudahlah, jangan membuatku tambah pusing, aku sudah terlalu pusing dengan semua kejadian ini." Jaka memijat-mijat pelipisnya,"Bisakah kau menjelaskan lagi kegunaan cincin ini untukku?"
"Cincin itu tak berguna banyak untukmu, itu merupakan pusaka keramat yang mempunyai dimensi untuk menampung Roh, kau bisa mengeluarkanku dari situ jika kau mau dan aku akan senantiasa memberi bantuan jika kau memintanya."
"Bagaimana caraku memanggilmu?" tanya Jaka kembali.
"Kau bisa memanggilku dengan mengalirkan tenaga dalammu pada cincin itu, agar membuka pintu ke dunia tempatmu berada dan aku akan segera keluar untuk membantumu," jawab Zhurong.
"Ohh ... Seperti itu, lalu bagaimana dengan alam batinku? Apakah itu? "
"Sudahlah kau terlalu banyak bertanya, aku ingin istirahat seharian, aku tidak membutuhkan waktu istirahat yang lama, karena sebelumnya aku masih berada di dunia.
"Intinya, selamat karena telah berhasil mengalahkanku, aku akan setia padamu, membantumu dan bersekutu denganmu, karena kau memang pantas memiliki kami," ujar Zhurong.
"Aku mengalahkanmu karena kau terlalu lemah dan tua," ucap Jaka dengan nada mengejek.
"Hey ... Kita sudah bersekutu, apa kau tidak berlebihan memanggilku seperti itu?"
"Hehe ... Baiklah, baiklah ... Aku tak akan memulai perdebatan jika bukan kau yang memulai," ucap Jaka.
"Baiklah bocah cengeng," ucap Zhurong lalu tertawa dengan keras.
"Lihat ... Lihat, kau yang memulai ya pak tua...," ucap Jaka ikut tertawa.
"Sudahlah-sudahlah, aku ingin beristirahat, apakah kau tega melihatku tinggal di dimensi yang kosong seperti itu?"
"Kosong? Maksudmu?" tanya Jaka.
"Dimensi pada cincin tersebut masih kosong, bagaimana aku bisa tinggal? Kau harus mengisinya."
"Bagaimana caranya?" tanya Jaka kembali.
"Sudahlah, besok akan kuajarkan, saat kita mulai berlatih," ucap Zhurong menghela nafasnya.
Jaka menjadi sangat antusias mendengar Zhurong akan melatihnya, Jaka masih kagum dengan energi dan teknik yang dimiliki Zhurong dan ia ingin segera mempelajarinya.
"Tunggu aku satu hari, kau pergilah dari situ, cari tempat aman untuk kau mengembalikan tenaga dalammu dan beristirahatlah, sebentar lagi segel pada goa tersebut akan segera hilang dan bisa dipastikan siluman-siluman yang melewati daerah itu akan mengejarmu, berhati-hatilah! Aku pergi dulu." Zhurong mengingatkan dan seketika menghilang.
Jaka kemudian tersadar setelah membuka matanya, ia mengenali tempat ia terbangun, goa yang sudah runtuh, rumput hijau, sungai yang mengalir membelah hutan, dan pepohonan yang rimbun, ia telah kembali ke dunianya.
zhia kan umi kepala suku bintang