Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Zahra menundukkan kepalanya dalam diam. Jemarinya mengepal pelan di sisi tubuh, sementara napasnya terdengar sedikit tidak teratur.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya kembali.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
Bukan ketakutan. Bukan pula penyesalan seperti yang mungkin diharapkan Rayan.
Yang tampak justru sebuah kepedihan yang telah lama tersimpan, luka lama yang selama ini terkubur rapat di balik senyum, keanggunan, dan sikap percaya diri yang selalu ia tunjukkan kepada dunia.
“Aku sudah lama menyimpan perasaan cinta ini untukmu, Rayan.” ucapnya pelan, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.
“Cinta?” Rayan tertawa pelan, getir, tanpa sedikit pun kehangatan di suaranya. “Kau menjebakku dan masih berani menyebutnya cinta?”
“Aku ingin kamu jadi milikku,” ucap Zahra dengan suara yang tegas, tanpa ragu sedikit pun. Ia menatap Rayan lurus, seolah tak memberi ruang untuk menghindar.
“Selama ini kita hanya menjalani sandiwara,” lanjutnya, napasnya sedikit tersengal karena emosi yang ia tahan. “Semua ini hanya formalitas, hanya demi kepentingan orang tua kita. Tapi aku sudah lelah berpura-pura. Aku tidak mau terus hidup dalam kebohongan seperti ini.”
Rayan terdiam sejenak, rahangnya mengatup kuat, tanda ia sedang menahan sesuatu yang tak ingin ia tunjukkan.
“Aku tahu,” lanjut Zahra, suaranya lebih pelan namun tetap mantap. “Kau tidak pernah benar-benar melihatku sebagai seorang wanita.”
Ia menelan ludah, matanya tak lepas dari Rayan.
“Tapi malam itu… aku hanya ingin satu malam saja. Aku pikir, kalau aku bisa dekat denganmu, kalau aku bisa menyentuh batas itu… mungkin kau akan mulai melihatku berbeda. Bukan sekadar rekan bisnis, bukan sekadar pasangan pura-pura yang kita jalani karena tuntutan orang tua kita.”
Suaranya mulai bergetar, bukan karena takut, melainkan karena emosi yang sudah terlalu lama ia pendam akhirnya mulai merembes keluar tanpa bisa ia kendalikan.
“Aku lelah, Rayan,” ucapnya lirih, nyaris pecah di ujung kalimat. “Lelah terus jadi bayanganmu, lelah berdiri di sampingmu tapi tetap tak pernah benar-benar ada di hatimu.”
Rayan menatapnya dalam-dalam, namun tidak ada kelembutan yang muncul di sana. Hatinya tetap dingin, bahkan terasa semakin menjauh setiap detik ia mendengar kata-kata itu.
“Dan untuk itu, kau rela menghancurkan hidup orang lain?” suaranya pelan, hampir seperti bisikan, tapi setiap katanya terasa tajam menusuk.
“Kau tahu aku kehilangan kendali malam itu,” lanjut Rayan, matanya tak lepas dari Zahra.
“Kau tahu aku bisa saja menyakiti seseorang tanpa sadar. Kau tahu semua risikonya… tapi kau tetap melakukannya. Hanya demi memaksaku untuk jadi milikmu.”
Zahra menggigit bibir bawahnya erat-erat, seolah berharap rasa perih itu bisa menahan runtuhnya air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Ya, karena kau tidak pernah memberiku jalan lain!” suaranya meninggi, bergetar oleh emosi yang selama ini ia tahan. “Aku hanya ingin kau memilihku… sepenuhnya. Itu saja yang aku minta darimu.”
Rayan menggeleng pelan, napasnya berat menahan amarah yang tidak ingin ia lepaskan.
“Kau tidak benar-benar memahami apa itu cinta, Zahra,” ucapnya datar namun tegas. “Cinta itu tidak memaksa. Tidak menjerat. Dan tidak pernah berdiri di atas manipulasi.”
Dia perlahan membalikkan tubuhnya, membiarkan punggungnya menghadap wanita itu sepenuhnya, seolah menutup semua ruang untuk perdebatan.
“Pergi dari ruangan ini,” ucapnya dingin, tanpa menoleh sedikit pun. “Dan mulai detik ini… hubungan kita, apa pun itu, selesai. Anggap saja tidak pernah ada.”
“Rayan…” suara itu keluar pelan, hampir seperti bisikan yang patah di tengah dada, membawa sisa harap yang belum sepenuhnya mau mati.
“Keluar.” ulangnya sekali lagi, suaranya lebih tegas, lebih dingin, tanpa celah untuk dibantah. Kata itu jatuh seperti keputusan akhir yang tak bisa digoyahkan lagi.
Zahra berdiri terpaku untuk beberapa detik, seolah kakinya enggan menerima kenyataan yang baru saja jatuh begitu saja di hadapannya.
Namun pada akhirnya, ia berbalik juga, melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Pintu tertutup dengan suara pelan, tapi cukup berat untuk meninggalkan gema yang terasa sampai ke dalam dada,
Rayan kembali berdiri di depan jendela, memandangi dunia luar yang tampak tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa di dalam dirinya.
Namun kali ini pikirannya tidak lagi berkutat pada Zahra, atau pada rangkaian kebohongan yang baru saja pecah. Yang tersisa hanya bayangan sebuah malam yang kabur potongan ingatan yang tak utuh, satu wajah samar yang terus mengganggu, dan sebuah kebenaran yang masih tertutup rapat, belum sepenuhnya berhasil ia genggam.
“Siapa gadis itu?” gumam Rayan pelan, nyaris tak bersuara, seolah pertanyaan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada dunia di sekitarnya.
*****
Zahra melangkah keluar dari ruang kerja Rayan dengan langkah cepat dan napas yang tersengal, seolah setiap detik di dalam ruangan itu masih menempel dan membebaninya.
Suara hak sepatunya menghantam lantai koridor dengan ritme tajam, dipenuhi emosi yang tak lagi bisa ia tahan. Wajahnya memerah, bukan karena rasa malu, melainkan amarah yang sudah mencapai puncaknya panas, pekat, dan nyaris meledak.
Begitu masuk ke dalam mobil mewahnya, Zahra segera membanting pintu dengan keras, lalu meluapkan emosinya dengan menghantam setir beberapa kali, seolah kemarahan yang menumpuk di dadanya butuh jalan keluar seketika.
“Rayan bajingan! Seenaknya saja dia mengusir aku seperti itu!” bentaknya seorang diri di dalam mobil, suaranya bergetar menahan amarah yang hampir tak terkendali.
Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat, jemarinya gemetar bukan karena takut, tapi karena emosi yang terlalu penuh untuk ditahan.
“Semua ini aku lakukan demi dia… demi perasaan ini!” lanjutnya dengan napas tersengal. “Tapi dia malah mempermalukan aku seperti ini!”
Matanya berkilat tajam, bukan semata-mata karena rasa sakit hati, melainkan karena emosi yang sudah bercampur menjadi satu panas, pekat, dan sulit dikendalikan.
Di dalam pikirannya, bayangan malam itu kembali berputar seperti rekaman yang tak bisa ia hentikan malam ketika ia diam-diam memasukkan obat ke dalam minuman Rayan.
Saat itu ia percaya, jika semuanya berjalan seperti yang ia rencanakan dan mereka melewati malam bersama, maka Rayan akan mulai melihatnya sebagai satu-satunya wanita yang layak berada di sisinya.
Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Rayan tetap bersikap dingin, tetap menjaga jarak, seolah tidak ada satu pun yang bisa mengubah pendiriannya.
Dan kini, justru ia yang menutup semua pintu mengusirnya dari hidupnya tanpa ruang untuk kembali.
“Aku akan membuatmu menyesal, Rayan,” desisnya tajam, matanya menyipit penuh dendam yang mulai mengeras.
“Kau pikir bisa menyingkirkanku semudah itu?” ia terkekeh sinis, namun suaranya penuh ancaman. “Lihat saja nanti.”
*****
Setibanya di rumah megah keluarga Mahatma, Zahra langsung membanting pintu masuk dengan keras hingga suara dentumannya menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Para pelayan yang melihatnya hanya bisa menunduk takut, mengenali amarah sang nona muda yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Langkahnya cepat dan berat, menembus lorong rumah tamu tanpa ragu.
Ia terus berjalan menuju ruang kerja ayahnya, Tuan Dafa Mahatma seorang pengusaha ternama sekaligus rekan bisnis ayah Rayan.
Tanpa mengetuk, Zahra langsung mendorong pintu ruang kerja ayahnya hingga terbuka lebar, masuk dengan langkah penuh ketegasan yang sulit disembunyikan.
“Ayah!” serunya lantang, suaranya meninggi hingga terdengar bergetar di seluruh ruangan.
“Aku sudah muak dipermalukan seperti ini!” lanjutnya, emosi yang selama ini ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.
Dafa yang tengah duduk di balik meja besar dari kayu jati itu langsung mengangkat pandangannya, alisnya berkerut melihat putrinya masuk dengan keadaan penuh emosi.
“Zahra?” suaranya tenang namun tegas. “Ada apa ini? Duduk dulu, tarik napas, dan jelaskan pelan-pelan.”
“Aku tidak mau duduk!” suara Zahra meninggi, nyaris pecah oleh emosi yang sudah tidak tertahan.
“Aku dipermalukan… diusir dari kantor Rayan seperti aku ini tidak ada artinya!” ia menghentakkan kakinya, napasnya tersengal di sela amarah yang membara.
“Padahal aku sudah melakukan segalanya untuk bisa bersamanya,” lanjutnya dengan suara bergetar. “Bahkan malam itu… semua itu aku lakukan demi dia!”
Dafa menghela napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius saat menatap putrinya.
“Jadi… kau masih terobsesi pada Rayan?” tanyanya pelan, namun sarat penekanan.
“Ini bukan sekadar obsesi, Ayah! Aku mencintainya!” suara Zahra meninggi, penuh keyakinan yang bercampur luka dan amarah.
“Aku pantas menjadi pendampingnya.”
Ia menatap Dafa dengan sorot mata yang sulit dibaca antara harap yang putus asa dan api dendam yang masih menyala.
“Bantu aku, Ayah,” lanjutnya cepat, hampir memohon sekaligus memerintah. “Gunakan pengaruh Ayah. Tekan dia… tekan perusahaannya. Buat dia kembali padaku.”
Dafa terdiam cukup lama, menatap putrinya dengan sorot mata yang berat dan penuh pertimbangan. Ia bisa melihat jelas bahwa Zahra sedang berada di batas kendali emosinya.
Ia mengenal putrinya terlalu baik sifatnya yang ambisius, kecenderungan manipulatif, dan keberanian yang kadang melampaui batas semua itu membuatnya paham bahwa Zahra bisa melakukan apa saja demi keinginannya tercapai.
“Ayah…” suara Zahra merendah, berubah lebih lembut namun justru terasa dingin di baliknya, seperti sesuatu yang tersembunyi di balik kepedihan.
“Kalau Rayan sampai kehilangan semuanya,” lanjutnya pelan, matanya tak berkedip, “dia akan sadar siapa satu-satunya orang yang tetap ada untuknya… aku.”
Dafa perlahan memutar kursinya, mengalihkan pandangan dari putrinya ke arah jendela besar di belakangnya. Di luar, langit senja mulai meredup, memudar perlahan seiring cahaya yang ditelan malam.
“Baiklah,” ucapnya pelan, jeda singkat menyusup di antara napasnya, “tapi dengarkan ayah baik-baik, Zahra. Apa yang kita jalani ini bukan sesuatu yang aman. Ini permainan yang bisa berbalik melukai siapa saja termasuk kamu.”
“Aku tidak peduli,” suara Zahra terdengar tajam, hampir seperti desisan yang menahan gemetar di dalamnya. Matanya tak berkedip saat menatap lawan bicaranya.
“Aku sudah terlalu jauh melangkah untuk berhenti sekarang. Mundur hanya akan membuat semuanya makin hancur.”
*****
Tiga hari sudah berlalu sejak Rayan memberi perintah kepada Arka untuk menelusuri jejak gadis yang terekam di CCTV itu. Arka bahkan sudah menurunkan tim kecil untuk menyisir area sekitar minimarket, mewawancarai pegawai dan warga setempat, hingga memeriksa data dari toko-toko kecil di sekitar lokasi.
Namun sejauh ini, semua usaha itu belum membuahkan hasil. Jejaknya seperti hilang tanpa arah, seolah gadis dalam rekaman itu memang sengaja tidak ingin ditemukan.
“Gadis itu seperti bayangan, Tuan,” ujar Arka di ruang kerja dengan nada serius. “Jejaknya tidak jelas. Beberapa warga memang merasa pernah melihat sosok yang mirip, tapi tidak ada satu pun yang bisa memberikan keterangan pasti entah soal namanya, maupun di mana dia tinggal.”
Rayan menarik napas panjang, rahangnya mengeras menahan kegelisahan yang sudah tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Aku tidak bisa terus diam seperti ini,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. “Siapkan mobil. Aku turun langsung. Aku yang akan mencarinya sendiri.”
Hari itu juga, Rayan turun langsung ke lapangan. Ia menyusuri jalan-jalan sempit, kembali ke minimarket tempat kejadian, lalu masuk ke gang-gang kecil yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan.
Beberapa kali ia memperlihatkan tangkapan layar CCTV kepada orang-orang yang ditemuinya, berharap ada satu saja yang mengenali sosok itu. Namun setiap jawaban yang ia dapat hanya gelengan kepala, tanpa petunjuk berarti.
Ia juga menelusuri hampir setiap sudut kota, termasuk kembali ke tempat tinggal Alya yang lama. Beberapa warga sekitar memang mengenali sosok gadis pemulung yang dulu sempat menetap di sana, tetapi tak seorang pun tahu pasti ke mana ia pergi setelah itu.
Tim Arka bahkan sempat mengetuk pintu rumah Mbok Lia satu-satunya orang yang dianggap mungkin memiliki sedikit petunjuk tentang keberadaan gadis itu namun hasilnya tetap sama jawaban yang samar, dan lebih banyak kebingungan daripada kepastian.
“Maaf, saya tidak kenal siapa pun dengan ciri seperti itu.” ucapnya singkat.
Namun ada sesuatu yang tak sepenuhnya tenang di tatapannya seperti ada sesuatu yang disembunyikan, meski ia berusaha terlihat biasa saja.eperti sisa emosi yang masih menggantung di udara.
Di balik sikap tenang Mbok Lia, sebenarnya ada kegelisahan yang ia tekan sekuat tenaga. Ia mengenali siapa gadis yang sedang mereka cari, namun bibirnya tetap terkunci rapat.
Rasa takut menahannya ia tidak yakin apakah orang-orang yang datang itu benar-benar berniat baik, atau justru membawa bahaya bagi Alya jika ia mengatakan yang sebenarnya.
Rasa frustrasi mulai mengendap, tetapi di saat yang sama justru memunculkan keteguhan yang baru. Rayan tidak lagi membatasi pencarian pada satu titik.
Ia memperluas jangkauan, menambah jumlah orang yang terlibat, bahkan menyewa tim investigasi lokal untuk menyisir hingga ke sudut-sudut kota lain yang sebelumnya tidak tersentuh.
*****
Ruang rapat Wirajaya Corp terasa padat oleh ketegangan yang tidak diucapkan. Para direksi sudah duduk dengan sikap kaku, menunggu pertemuan dimulai di ujung meja panjang yang membentang dingin.
Rayan berada di kursinya dengan ekspresi datar, nyaris tak terbaca. Namun dari sorot matanya yang kosong, terlihat jelas bahwa pikirannya sedang berada di tempat lain jauh dari laporan dan angka-angka di ruangan itu.
Pi
ntu ruang rapat terbuka perlahan, dan Tuan Dafa Mahatma melangkah masuk. Wajahnya tampak keras, penuh tekanan, tanpa sedikit pun sisa keramahan. Ia langsung duduk tanpa banyak kata, lalu menatap lurus ke arah Rayan.
Tak lama berselang, Tuan Zayan ayah Rayan menyusul masuk. Seketika ia menangkap suasana tegang yang memenuhi ruangan itu, membuat langkahnya sedikit melambat sebelum akhirnya duduk dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Ada apa ini, Dafa?” tanya Tuan Zayan dengan nada serius, matanya menyapu seluruh ruangan.
“Kenapa suasananya seperti akan terjadi pertempuran?”