NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Sisi Lain Damar Wijaya

Sejak percakapan mereka sore kemarin, pikiran Nara terus dipenuhi satu pertanyaan.

Siapa sebenarnya Damar Wijaya?

Semakin lama bekerja bersama pria itu, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal.

Mulai dari cara semua orang menghormatinya.

Kemampuannya mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Sampai fakta bahwa Bianca, wanita yang jelas berasal dari keluarga berada, tampak begitu mengejarnya.

Namun di sisi lain, Damar juga sering makan di warung pinggir jalan, bekerja hingga larut malam, dan bahkan tidak segan turun tangan menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dilakukan staf biasa.

Pria itu seperti teka-teki.

Dan Nara tidak suka teka-teki.

---

Pukul tujuh pagi.

Ruang proyek sudah mulai ramai.

Nara datang lebih awal seperti biasa.

Hari ini ia mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung hingga siku.

Penampilannya sedikit berbeda dibanding karyawan perempuan lain yang cenderung lebih formal.

"Nara."

Siska muncul sambil membawa kopi.

"Kamu pernah ikut olahraga?"

Nara mengangguk.

"Kenapa?"

"Lenganmu kelihatan atletis."

Nara tertawa kecil.

"Aku dulu ikut taekwondo."

Mata Siska langsung membesar.

"Serius?"

"Iya."

"Sabuk apa?"

"Cukup untuk membuat orang yang mengganggu menyesal."

Siska tertawa keras.

"Ternyata kamu menyeramkan."

"Aku anggap itu pujian."

Mereka masih tertawa ketika suara dingin yang sudah sangat dikenal terdengar.

"Kalau obrolannya selesai, kita mulai rapat."

Seketika suasana berubah.

Damar datang.

Membawa setumpuk dokumen.

Dan seperti biasa, wajahnya datar.

---

Rapat pagi berlangsung cukup tegang.

Klien meminta beberapa revisi besar terhadap konsep yang sudah mereka susun.

Artinya seluruh tim harus bekerja lebih keras.

"Deadline dimajukan lima hari."

ucap Damar.

Keluhan langsung terdengar.

"Lima hari?"

"Itu tidak masuk akal."

"Tim desain bahkan belum selesai."

Damar membiarkan semua orang berbicara.

Lalu ia berkata dengan tenang.

"Karena itu kita akan membagi tugas."

Ia mulai menunjuk anggota tim satu per satu.

Semua mendapatkan bagian masing-masing.

Sampai akhirnya...

"Nara."

"Ya?"

"Anda ikut saya."

Nara langsung curiga.

"Untuk apa?"

"Kunjungan lapangan."

"Hanya berdua?"

Ruangan langsung hening.

Siska menahan senyum.

Damar mengangkat alis.

"Ada masalah?"

"Tidak."

"Bagus."

Nara mendesah dalam hati.

Kenapa selalu dia?

---

Dua jam kemudian mereka sudah berada di luar kantor.

Tujuan mereka adalah sebuah pusat perbelanjaan besar yang menjadi salah satu lokasi promosi proyek.

Selama perjalanan, Nara sibuk mencatat berbagai hal.

Sementara Damar menjelaskan detail pekerjaan.

Anehnya, saat berbicara soal pekerjaan, pria itu jauh lebih mudah diajak berdiskusi.

Tidak sesulit yang ia bayangkan.

"Kamu sebenarnya tidak terlalu menyebalkan kalau sedang fokus kerja."

ucap Nara tanpa sadar.

Damar menoleh.

"Kamu baru saja memuji saya atau menghina saya?"

Nara langsung tersedak.

"Saya tidak sengaja."

Sudut bibir Damar bergerak tipis.

"Saya anggap itu pujian."

Untuk beberapa alasan, Nara merasa ingin melempar buku catatannya ke arah pria itu.

---

Selesai melakukan survei lokasi, mereka memutuskan makan siang di area food court.

Nara baru saja duduk ketika mendengar suara ribut dari arah belakang.

Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.

Namun suara itu semakin keras.

Seorang pria mabuk sedang berteriak kepada pelayan restoran.

"Kalian menipu saya!"

Pelayan itu terlihat ketakutan.

Sementara beberapa pengunjung mulai menjauh.

Nara menghela napas.

Ia paling tidak suka melihat orang menindas orang lain.

Pria itu semakin menjadi-jadi.

Bahkan sampai menarik lengan pelayan perempuan yang tampak masih sangat muda.

Sebelum Nara sadar apa yang ia lakukan...

Ia sudah berdiri.

"Mau ke mana?"

tanya Damar.

"Sebentar."

Nara berjalan mendekati keributan.

"Pak."

Pria mabuk itu menoleh.

"Apa?"

"Lepaskan tangannya."

Pria itu tertawa sinis.

"Kalau tidak?"

"Lepaskan."

Suara Nara tetap tenang.

Namun matanya berubah tajam.

Pria itu justru semakin marah.

"Apa urusanmu?"

Tangannya terangkat seolah ingin mendorong Nara.

Kesalahan besar.

Sangat besar.

Dalam satu gerakan cepat, Nara menghindar.

Lalu memutar pergelangan tangan pria itu.

"Aaargh!"

Pria mabuk tersebut langsung berteriak kesakitan.

Tubuhnya membungkuk.

Tangannya terkunci.

Seluruh area food court mendadak sunyi.

Bahkan Damar ikut terdiam.

"Lepaskan pelayan itu."

ucap Nara tenang.

Pria itu langsung menurut.

Beberapa petugas keamanan segera datang.

Situasi berhasil dikendalikan.

Setelah semuanya selesai, Nara kembali ke meja.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun Damar masih menatapnya.

"Apa?"

tanya Nara.

"Kamu tidak pernah bilang bisa bela diri."

"Kamu tidak pernah bertanya."

Damar terdiam beberapa detik.

Lalu...

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...

Pria itu benar-benar tersenyum.

Bukan senyum tipis.

Bukan senyum samar.

Melainkan senyum sungguhan.

"Menarik."

Nara langsung kehilangan kata-kata.

Karena ternyata...

Damar yang tersenyum jauh lebih berbahaya daripada Damar yang marah.

---

Malam harinya.

Mereka kembali lembur.

Namun suasana terasa berbeda.

Beberapa anggota tim sudah mendengar kejadian di pusat perbelanjaan.

Entah dari mana gosip itu menyebar begitu cepat.

"Nara menjatuhkan pria mabuk?"

"Serius?"

"Kecil-kecil cabai rawit."

Siska bahkan hampir menangis karena tertawa.

"Aku tidak percaya."

"Itu cuma bela diri dasar."

jawab Nara.

"Kalau dasar, aku tidak mau lihat tingkat lanjutnya."

Semua orang kembali tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan tim proyek, suasana terasa lebih hangat.

Nara mulai merasa menjadi bagian dari mereka.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Karena seseorang datang.

Bianca.

Wanita itu masuk ke ruang proyek dengan langkah percaya diri.

Membawa beberapa kotak makanan mahal.

"Aku membawakan makan malam."

Beberapa karyawan langsung bersorak.

Sementara Nara hanya fokus pada laptopnya.

Ia tidak ingin terlibat.

Namun saat melewati meja Nara, Bianca berhenti.

"Kamu Nara, kan?"

"Iya."

Bianca tersenyum.

"Aku dengar kamu sering bersama Damar akhir-akhir ini."

Nara langsung menangkap nada aneh dalam kalimat itu.

"Kami satu tim."

"Tentu."

Bianca mengangguk pelan.

Lalu menambahkan,

"Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman."

Nara mengangkat kepala.

"Maksudnya?"

"Damar dan aku sudah saling mengenal sangat lama."

Senyum Bianca tetap terpasang.

Namun matanya tidak tersenyum.

"Sangat lama."

Setelah mengatakan itu, wanita tersebut berjalan menuju ruang kerja Damar.

Meninggalkan Nara yang kini mengerti satu hal.

Bianca menganggapnya ancaman.

Padahal bahkan tidak ada hubungan apa pun antara dirinya dan Damar.

Atau...

Setidaknya itu yang terus ia yakinkan pada dirinya sendiri.

---

Malam semakin larut.

Sebagian besar anggota tim sudah pulang.

Hanya tersisa beberapa orang.

Nara sedang menyelesaikan laporan ketika listrik tiba-tiba padam sesaat.

Ruangan menjadi gelap.

Beberapa orang terkejut.

Namun lampu darurat segera menyala.

"Sepertinya ada gangguan sementara."

ucap seseorang.

Nara menghela napas lega.

Tetapi saat ia hendak kembali bekerja...

Ia menyadari sesuatu.

Damar masih berdiri di dekat jendela.

Memandangi hujan yang kembali turun di luar.

Entah kenapa.

Untuk pertama kalinya.

Pria itu terlihat... kesepian.

Tidak seperti manajer tegas yang selalu ia kenal.

Tidak seperti pria sempurna yang dikagumi semua orang.

Melainkan seseorang yang sedang memikul beban besar sendirian.

Dan tanpa sadar...

Rasa penasaran di hati Nara semakin tumbuh.

Karena semakin dekat ia mengenal Damar Wijaya...

Semakin sulit baginya untuk tetap membenci pria itu.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!