NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua—Jamuan Jenderal Gu

Rasa sesak di dadanya seketika tergantikan oleh helaan napas panjang. Dinginnya malam musim dingin perlahan terangkat, berganti kehangatan yang asing. Gu Mingyue tersentak bangun di atas kasur empuknya saat sebuah suara dari luar menginterupsi pelan.

"Nona, matahari sudah lebih tinggi daripada pohon kesemek di sisi timur." Seorang gadis dengan pakaian pelayan melangkah mendekat.

Gu Mingyue segera memeriksa hanfu-nya. Matanya menunduk, mendapati tubuhnya tengah mengenakan baju tidur yang bersih tanpa noda darah. Pandangannya kemudian terkunci lurus ke arah Fan Li'er—pelayan kecilnya yang setia, yang di kehidupan lalu harus mati mengenaskan pada tahun pertama pernikahannya.

Li'er tewas karena dituduh mencuri perhiasan milik Gu Lian.

"Li'er," panggil Gu Mingyue pelan.

Pelayan kecilnya menoleh dengan senyum simpul. "Ayolah, Nona. Kita harus segera bersiap untuk jamuan kepulangan Tuan Besar."

Namun, alih-alih mendengarkan, Gu Mingyue justru menarik dan memeluk erat pelayan kecilnya itu. Tindakan mendadak tersebut membuat Fan Li'er membeku sesaat, sebelum akhirnya berusaha melepaskan diri sambil terkekeh pelan. "Ya ampun, Nona. Ini sesak."

Gu Mingyue melepaskan pelukannya, lalu menatap Li'er dengan nanar. "Aku senang kamu baik-baik saja."

Fan Li'er mengernyit bingung. "Nona, kita benar-benar harus bersiap sekarang."

"Untuk apa?"

"Jamuan kepulangan Jenderal Besar."

Gu Mingyue memutar kembali roda ingatannya. Jamuan kepulangan ayahnya kali ini ... adalah momen krusial saat ide pernikahan antara dirinya dan Zhao Yuchen pertama kali dicetuskan.

Musim semi tujuh tahun lalu, saat ia dengan malu-malu menunjuk Zhao Yuchen yang tampak kaku di antara para tamu. Mengingat hal itu, rasa jijik seketika membuncah di dada Gu Mingyue. Terlebih ketika ia mengingat bagaimana pria licik itu tega menyuguhkan racun bersama si wanita ular.

Kemarahan dalam dirinya seketika naik drastis, membuat wajahnya memerah menahan kesal.

"Nona?" Panggilan Fan Li'er seketika menyadarkannya dari lamunan kelam.

"Li'er, segera siapkan pakaian terbaikku. Kita harus menyambut tamu agung," ucapnya tegas.

Gadis itu langsung turun dari ranjang, melangkah menuju ruang pemandian di sisi samping paviliun kediamannya. Ia harus memulai pembalasan dendamnya, bahkan dari hal paling dasar sekalipun.

Mingyue memutar otak, mencoba menggali lebih dalam memori di kehidupan lalunya tentang hari ini. Ia mengingat sebuah fakta krusial: pada Jamuan Musim Semi ini, Zhao Yuchen dan Gu Lian datang terlambat secara beriringan dengan napas tersengal-sengal. Di kehidupan lalu, ia mengira itu hanya kebetulan. Namun sekarang, ia tahu persis apa yang sebenarnya mereka lakukan di belakangnya.

Sebuah senyum tipis yang sarat akan intrik terangkat di bibir Gu Mingyue. Ia akan memulai permainannya, bahkan sejak detik ini.

...****************...

Aula di paviliun utama kediaman Jenderal Gu terasa begitu luas, dengan suasana yang jauh lebih ramai daripada biasanya. Sorak-sorai dan bisikan rendah dari para pejabat serta tamu undangan yang hadir memenuhi udara.

Di ambang pintu, Gu Mingyue berdiri dengan anggun dalam balutan hanfu berwarna toska. Aksen giok pada tusuk konde dan perhiasan di pergelangan tangannya memantulkan kilau yang lembut. Ia mulai melangkah, berjalan dengan tenang melalui lorong berlantai kayu yang menimbulkan gema kecil di setiap ketukan langkahnya.

Suara riuh dan bisikan rendah di dalam ruangan itu seketika berangsur hening saat putri sulung dari istri sah Jenderal Gu tersebut melangkah memasuki aula paviliun utama. Pesonanya yang murni dan berwibawa langsung mencuri perhatian semua orang.

Dengan gerakan yang sempurna tanpa cela, ia membungkuk hormat. "Salam, Ayahanda."

Salah seorang pejabat berdiri dan membungkuk hormat. "Jenderal Gu, putri sulung Anda sungguh begitu anggun."

"Terima kasih atas pujiannya, Pejabat Wang. Dia memang sangat mirip dengan mendiang istriku," ucap ayahnya sembari menoleh ke arah samping kirinya yang kosong. Tempat Mendiang Nyonya Besar Gu.

Namun, Gu Mingyue tahu persis bahwa itu semua hanyalah sandiwara ayahnya. Di kehidupan lalu, ayahnya bersikap manis sebelum ibunya tewas secara misterius tepat setelah upacara kedewasaan Mingyue—menyebabkan rumor bahwa dirinya adalah bintang kesialan.

Apalagi kini tatapan Jenderal Gu turun ke selirnya, Nyonya Ling yang duduk dengan wajah angkuh. Garis wajahnya yang tajam dengan mata melirik ke arah Mingyue.

Dengan senyum tipis yang tak mencapai mata, Mingyue melangkah maju. "Putri mendengar Ayahanda kembali hari ini, jadi Putri sengaja menyiapkan sebuah hadiah."

"Hadiah apa, Putriku?"

"Fan Li'er," panggil Mingyue lembut.

Pelayan kecilnya segera masuk, membawa nampan berisi dua guci besar arak yang mengepulkan aroma harum.

Gu Mingyue menjelaskan, "Ini adalah arak racikan istimewa dariku. Sangat cocok dinikmati bersama oleh para tamu di sini."

Jenderal Gu tampak senang. "Tentu, silakan sajikan."

"Li'er," perintah Gu Mingyue pelan. Fan Li'er segera bergerak lincah, menuangkan arak racikan itu ke setiap cawan kosong yang ada.

Sementara itu, Gu Mingyue melangkah dengan anggun menuju kursi yang telah disiapkan khusus untuknya di sisi kanan ayahnya, lalu duduk dengan tenang sembari mengamati reaksi para tamu terhadap araknya.

Mata Gu Mingyue menyapu seluruh aula, menyadari ada tiga tempat duduk yang masih kosong. Kursi-kursi itu milik Zhao Yuchen, Gu Lian, dan Shen Mufeng—yang di kehidupan lalu sama sekali tidak menghadiri jamuan ini.

Namun, seolah takdir mulai bergeser, derap langkah pelan yang membawa aura sedingin es terdengar memasuki aula. Seorang pria dalam balutan jubah putih berdiri dengan tegap di ambang pintu. Garis wajahnya tampak tegas dengan mata tajam sewarna elang yang mengintimidasi.

Shen Mufeng—pria yang di kehidupan lalu memilih mangkir, kini justru menampakkan wajahnya.

Seluruh tamu undangan saling pandang, sebelum akhirnya suasana aula berubah menjadi riuh rendah oleh bisikan. Gu Mingyue menatap sosok itu lekat-lekat. Pria di hadapannya seolah langsung memicu jalinan ingatan lain di kepalanya.

Dia ... sang penolong di Jembatan Xue saat perampokan berandal, sekaligus pria di pasar lentera tahun baru.

Mata gadis itu terus menatap lurus ke arah sosok di depannya tanpa berkedip.

"Wah, ternyata Jenderal Mufeng berkenan datang." Salah seorang pejabat berdiri dan segera memberikan penghormatan.

Shen Mufeng tidak membalas sapaan itu, ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sinisme.

"Tentu saja. Kudengar Jenderal Gu berhasil menumpas kaum barbar di wilayah barat. Prestasi yang sungguh luar biasa," ucapnya dengan nada suara yang dingin dan rendah.

Namun, Gu Mingyue yang kini dibekali pengetahuan masa depan mulai menyadari makna tersembunyi di balik kalimat itu. Kemenangan ayahnya bukanlah kemenangan mutlak yang bersih. Ada harga dari nyawa ratusan prajurit yang dikorbankan, serta rencana pengkhianatan dari pejabat tinggi yang membawa nama ayahnya kian melambung.

Di kehidupan lalu, nama Perdana Menteri Kiri terseret dalam kasus percobaan melengserkan takhta kaisar. Jenderal Gu mendapat penghargaan besar setelah membuka kedok sang Perdana Menteri Kiri. Kekayaan yang ditimbun cukup banyak setelah penghargaan tersebut. Bahkan dapat membeli sebidang tanah dari provinsi Yuan Tengah—memakai nama asistennya.

Jenderal Gu memaksakan seulas senyum, mencoba mencairkan ketegangan. "Jenderal Mufeng terlalu memujiku."

Tanpa menunggu dipersilakan, Shen Mufeng meraih cawan dan meminum arak racikan Mingyue yang baru saja dituangkan pelayan. "Karena ini sangat menarik. Saya penasaran, bagaimana bisa Anda yang dikabarkan kekurangan prajurit, mendadak mampu memukul mundur kaum barbar barat yang terkenal sangat kuat?"

Mendengar suara yang sarat akan kedinginan dan intimidasi itu, Gu Mingyue melirik ke arah ayahnya. Benar saja, wajah sang Jenderal Besar tampak sedikit membeku dengan rahang mengetat.

Gu Mingyue membatin tajam. Ada yang tidak beres di sini.

...****************...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!