"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Penolakan Hana yang Dipatahkan
Bab 17: Penolakan Hana yang Dipatahkan
Malam terakhir di kampung halaman ditutup oleh pekatnya hawa dingin yang turun dari perbukitan. Di dalam ruang tengah rumah joglo Paman Harjo, cahaya lampu bohlam bergoyang pelan ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding kayu. Aroma teh tubruk dan asap rokok klobot milik Paman Harjo membubung tipis, menciptakan atmosfer pertemuan keluarga yang semula tampak hangat, namun perlahan berubah menjadi medan perang dingin psikologis yang mencekam.
Ibu Broto duduk di atas kursi rotan dengan posisi tegak, memangku tas kulit mahalnya seolah takut lantai kayu rumah itu akan mengotori barang-barang kotanya. Di hadapannya, Adrian duduk sembari melipat tangan di dada, sementara Hana memilih duduk bersila di atas tikar pandan dekat Paman Harjo, menciptakan pembatasan kubu yang sangat kontras.
Santi sendiri duduk bersimpuh paling belakang di dekat lorong menuju dapur, menundukkan kepalanya dalam-dalam demi mempertahankan citra gadis desa yang lugu, setelah siang tadi dengan berani membiarkan jemarinya dielus oleh Adrian di teras depan.
"Nah, Pak Harjo," Ibu Broto membuka suara, memecah keheningan dengan nada baritonnya yang sengaja dibuat berwibawa. "Besok subuh kami sudah harus bertolak kembali ke kota. Urusan restoran Adrian tidak bisa ditinggal lama-lama. Dan seperti yang sudah kita bicarakan dari awal, Santi besok akan langsung ikut kami masuk ke rumah kota secara resmi."
Paman Harjo mengangguk-angguk perlahan, lalu menoleh ke arah Hana dengan pandangan mata seorang sepupu yang mengkhawatirkan keponakannya. "Nggih, Mbak Broto. Kalau memang itu sudah menjadi keputusan keluarga kota, saya hanya bisa mendoakan semoga Santi bisa membantu meringankan beban Hana yang sedang hamil besar."
Hana meletakkan cangkir tehnya di atas tikar. Bunyi dencingan keramik yang halus itu seketika menarik perhatian semua orang di ruangan. Hana mendongak, menatap lurus ke arah Adrian, mengabaikan tatapan tajam Ibu Broto yang sudah mulai tidak suka.
"Mas Adrian," panggil Hana, suaranya terdengar begitu jernih, tenang, namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. "Mengenai urusan pengasuh anak atau asisten rumah tangga untuk di kota nanti, aku sudah memikirkannya matang-matang selama kita di kampung ini. Aku rasa... kita tidak perlu membawa Santi ikut ke kota besok."
Suasana di dalam ruangan seketika membeku. Santi yang duduk di belakang langsung mengepalkan jemarinya di balik kain jarik, jantungnya berdegup kencang karena takut kesempatan emasnya untuk mengubah nasib menjadi nyonya kota terancam batal. Ia melirik Adrian dengan tatapan memelas yang sangat tipis, meminta pertolongan.
Adrian berdeham kecil, merasa terusik dengan penolakan Hana yang tiba-tiba di depan Paman Harjo. "Kenapa begitu, Han? Bukankah dari awal kita mudik ke sini memang salah satu tujuannya untuk mencari orang yang bisa membantumu di rumah? Kondisi kehamilanmu lemah, kamu butuh orang yang cekatan."
"Benar, Mas. Aku butuh bantuan," jawab Hana dengan senyuman tipis yang sangat tenang, seolah ia sedang mengendalikan jalannya papan catur. "Tapi setelah aku pertimbangkan, merawat anak dan mengurus rumah mewah kita di kota membutuhkan tenaga yang profesional. Aku sudah menghubungi salah satu yayasan penyalur baby sitter dan asisten rumah tangga resmi di kota lewat ponselku kemarin. Mereka memiliki sertifikasi, rekam jejak medis yang jelas, dan kontrak kerja yang profesional demi keamanan bayi kita nanti. Untuk Santi... kasihan kalau dia harus jauh-gauh dari ibunya di kampung hanya untuk menjadi pelayan biasa di rumah kita."
Mendengar argumen Hana yang begitu logis dan tertata, wajah Ibu Broto langsung berubah merah padam. Ia merasa otoritasnya sebagai ibu mertua yang memilih Santi sejak awal telah diinjak-injak di depan orang kampung.
"Hana! Kamu ini bicara apa toh?!" sergah Ibu Broto dengan suara melengking, memukul sandaran lengan kursi rotan dengan kasar. "Yayasan kota itu mahal! Buat apa kita membuang-buang uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk membayar orang asing yang belum tentu jujur, kalau di depan mata kita ada Santi yang sudah jelas asal-usulnya, anaknya sopan, penurut, dan ibunya pun sudah ikhlas menyerahkan Santi kepada keluarga kita?! Kamu ini jangan sok pintar dan boros jadi istri!"
Hana tidak gentar sedikit pun dengan bentakan mertuanya. Ia menatap Ibu Broto dengan sorot mata yang teduh namun mematikan. "Ini bukan soal boros atau hemat, Bu. Ini soal keamanan jangka panjang di dalam rumah tangga kami. Menggunakan tenaga profesional dari yayasan resmi memiliki jaminan hukum jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di dalam rumah. Sedangkan Santi... dia masih terlalu muda, belum memiliki pengalaman mengurus bayi premium kota, dan kita tidak memiliki ikatan hukum apa pun jika terjadi kelalaian kerja."
"Halah! Alasanmu itu dicari-cari saja karena kamu cemburu dan tidak suka sama Santi, kan?!" tuduh Ibu Broto terang-terangan, mulai kehilangan kendali emosinya. "Adrian! Kamu lihat sendiri bagaimana istrimu ini! Dia selalu merasa paling benar, menolak niat baik Ibunya sendiri yang ingin membantunya berhemat. Mau ditaruh di mana muka Ibu kalau sekarang kita membatalkan Santi setelah Yu Sumi berpamitan pada seluruh tetangga desa?!"
Adrian terpojok di antara dua kubu. Sisi logis ekonomisnya tahu bahwa argumen Hana tentang profesionalisme yayasan ada benarnya. Namun, di dalam sudut tergelap hatinya, kabut gairah dan ego kelelakiannya menolak keras untuk melepaskan Santi. Bayangan leher jenjang Santi yang basah karena keringat di dekat sumur siang tadi, serta janji kepatuhan terselubung yang diucapkan gadis itu, telah menyumbat akal sehat Adrian sepenuhnya. Ia tidak ingin kehilangan 'tempat aman' yang penurut itu di rumah kotanya.
Adrian menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, lalu menatap Hana dengan pandangan dingin yang penuh dengan otoritas mutlak seorang kepala keluarga yang tidak ingin didebat lagi.
"Cukup, Hana," potong Adrian dengan suara baritonnya yang berat dan menekan. "Keputusanku sudah bulat. Santi akan tetap ikut kita ke kota besok subuh. Urusan biaya atau formalitas tidak perlu kamu pusingkan, aku yang membiayai semuanya dari hasil jerih payahku di restoran. Tugasmu sekarang hanya fokus menjaga kandunganmu dan menerima bantuan Santi di rumah tanpa banyak protes lagi. Jangan membuat masalah sepele ini menjadi panjang dan mempermalukan Ibu di depan keluarga kampung."
Paman Harjo hanya bisa menghela napas panjang, menundukkan kepalanya tidak berani ikut campur dalam urusan domestik rumah tangga keponakannya yang kini terasa begitu asing dan penuh tekanan.
Hana menatap Adrian selama beberapa detik, membaca seluruh kebebalan, ego, dan sisa nafsu terselubung yang terpancar dari wajah suaminya. Tidak ada raut kemarahan atau tangisan dari wajah Hana. Penolakannya memang sengaja ia patahkan malam ini, bukan karena ia kalah, melainkan karena ia ingin Adrian sendiri yang menanggung akibat dari keputusan mutlaknya membawa duri itu masuk ke dalam rumah mereka.
"Baik, Mas. Kalau itu sudah menjadi keputusan mutlakmu sebagai kepala keluarga," sahut Hana dengan nada suara yang teramat lembut, hampir seperti bisikan, namun diiringi oleh seulas senyuman tipis yang membuat bulu kuduk Adrian mendadak merinding sesaat. "Aku akan mematuhi perintahmu. Mari kita bawa Santi ke kota... dan mari kita lihat bersama-sama, bantuan seperti apa yang akan dia berikan untuk keluarga kita nanti."
Di sudut ruangan yang gelap, Santi menyembunyikan senyuman kemenangan yang mengembang lebar di bibirnya. Dinding pertahanan Hana akhirnya runtuh malam ini di bawah kuasa Adrian. Santi merasa telah memenangkan pertempuran pertama di tanah kelahiran, tanpa menyadari bahwa persetujuan tenang dari Hana malam itu adalah ketukan palu pertama yang menandai dimulainya hitungan mundur menuju panggung kehancuran mereka semua.