menjadi anak kyai ternama memiliki predikat lulusan terbaik tak menjamin menjalani kehidupan sesuai agama yang di anut
zalwa azzahra
kesal akan sikap abah yang menikah kan secara sepihak ia lebih memilih mengadakan sebuah perjanjian yang seharusnya tidak ia lakukan
bagaimana keseruan cerita nya yukkk baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kasuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 35
" belum mandi ?" tanya nyai pipik ketika melihat zalwa yang menyiram bunga di halaman belakang
zalwa menyengir " abis di panggilin tadi ngak nyaut " sahut zalwa lagi
tradisi yang selalu di pegang keluarga zalwa ketika lepas dari mengantarkan jenazah ke kubur harus mandi dulu tidak boleh masuk rumah apalagi sampai makan dan lain lain
memang tidak ada hadis atau al-qur'an yang menerangkan tentang kewajiban mandi tapi bagi keluarga kyai abdul itu sudah teradat
"ummah mas zaki mana ?" tanya zalwa ketika keluar dari kamarnya
"di teras sama fajrul dan yang lain " sahut nyai pipik dengan terus membuat teh
"antar ke depan gih " zalwa langsung mengambil talenan dan membawa teh kedepan
"di minum dulu aba mas fajrul " sahut zalwa dengan meletakan teh di meja
"mba " panggilan fajrul membuat zalwa yang ingin masuk malah berbalik
"ya fajrul ?"
"fajrul mau minta maaf atas semua yang telah mba nisa lakukan " sahut fajrul
"fajrul ngak tau jika mba nisa melakukan hal senekat ini pada kalian "
zalwa tersenyum" mba sudah memaaf kan mba nisa, mba juga minta maaf ya ngak bisa jaga mba nisa bahkan sampai dia meninggal "
"semuanya sudah takdir mba saya bersyukur pak kyai masih mau memimpin pemakaman mba nisa terlepas dari semua kesalahannya"
"biar bagaimanapun nisa tetap keponakan abah hanya saja dia sedang salah jalan " sahut kyai abdul
"kamu jangan berpikir yang aneh aneh lagi sekarang pokus pada kuliah kamu jika ada masalah kesini ya jangan sungkan" sahut zalwa
fajrul mengangguk
"benar nak jangan angap dirimu yatim piatu karna abah sama ummah orang tua mu dan yang lain adalah keluarga mu jadi jangan sungkan ya " fajrul mengangguk dengan mengelap air matanya
"apa nanti fajrul bisa tinggal di pondok ?" tanya fajru lagi
"kenapa tidak nak silahkan kapan pun fajrul mau tinggal pondok selalu terbuka untuk mu " sahut kyai abdul dengan tersenyum
.
.
.
.
" jadi berita di sebelah bener jika nisa cuma nyewa tu cowok untuk akad nikah " zalwa mengangguk mendengar ucapan heni
"pantes pas cowok itu ngelamar dia langsung nerima " sahut heni lagi
"udah lah ngak usa bahas cerita itu lagi entah benar sewa atau ngak yang jelas semuanya sudah berakhir " sahut zalwa dengan memberikan remot tv pada heni
"udah ah jangan ngerumpi terus sana mandi ngak baik abis lahiran mandinya sorean " sahut zalwa lagi
"la ini baru jam empat sore wa belom magrib " bela heni dengan terus menonton tv
"apa harus nunggu magrib ?"
heni menghela napasnya " iya gue mandi tapi awas cenel nya jangan di ganti ya "
"iya iya sana mandi " usir zalwa dengan halus
"eh anak gue titip " ucap heni dengan beranjak menuju kamarnya
" ulu ulu ulu masyaallah lucu gemoy nya dedek bayi " zalwa terus menoel noel pipi hanan alhafsi bayi mungil yang berusia tiga hari itu
"udah wa nanti bangun " sahut ilham yang duduk di sofa
"ya ela mas cuma noel pipinya aja ngak akan bangun " sahut zalwa dengan terus memandangi wajah bayi itu
"jangan ganti cenel nya mas " sahut zalwa lagi ketika ilham mengganti siaran tv
"kamu kan asik sama hanan masa mau nonton juga " keluh ilham
"itu acara kesukaan heni bentar lagi pasti dia dateng "
belum sempat ilham menjawab heni benar datang dengan wajah yang segar
"kenapa di ganti cenel nye " heni mengambil remot di meja lekas mengganti saluran tv
"maaf mas ngak tau " sahut ilham
"wa sana minggir " usir ilham pada zalwa yang tengah berbaring di samping hanan
" apaan sih mas orang lagi asik juga " keluh zalwa dengan masih memeluk hanan
ilham beranjak pergi namun tak lama kembali dengan mengandeng tanggan zaki
"zaki ni kamu aja istri kamu ke kamar bikin anak sana biar ngak ngurusin anak orang" ucapan ilham membuat zalwa dan heni kaget
"mas apaan sih " tegur heni
"mas ilham ih pakek ngadu segala cuma liat doang anaknya " keluh zalwa dengan beranjak pergi
"wa zalwa, nangis kan, mas awas aja nanti adeknya saya bawa ngak saya balikin lagi " sahut zaki dengan berjalan pergi mengejar zalwa
"hen mas becanda nya keterlaluan ya ?" tanya ilham dengan mendekati heni
heni melihat suaminya " lagian mas sih ngak tau adeknya sensitif banget kalo ngomongin anak ini malah bilang begitu "
"ya mas kan keceplosan hen gimana dong" keluh ilham dengan melihat kamar zalwa yang tertutup rapat
"ngak tau mas bujuk aja sendiri adeknya " heni mengendong hanan mengajaknya ke kamar bersamaan dengan diana yang keluar kamar
"heni mana ham ?" tanya diana pada ilham
namun ilham asik dengan dunianya sampai tak terdengar panggilan dari mertuanya itu
"ilham astagfirullah"
"iya umi kenapa " sahut ilham dengan kaget
" kamu ini heni mana ?" tanya diana lagi
"di kamar umi baru aja masuk " diana mengangguk lalu menuju kamar ilham
.
.
.
.
.
"udah ya ngak usa nangis mas ilham kan cuma becanda " bujuk zaki yang melihat zalwa nangis
"bercandanya ngak lucu mas masa nyuru bikin anak " zaki menghembuskan nafas lalu duduk di dekat zalwa
"namanya juga orang baru punya anak pasti senang bahagia mau dekat dekat anaknya kamu juga harus mengerti " nasehat zaki membuat zalwa menoleh
" yaudah kita bikin anak aja biar dia tau gimana rasanya di usir " ucapan zalwa membuat zaki kaget
"kamu serius ? waktu itu katanya masi pms " tanya zaki
karna zaki tidak ingin seperti kejadian di apartemen karna zalwa yang lupa ia sedang ada tamu bulanan alhasil keduanya benar benar mandi bukan mandi yang ada dalam pikiran zaki
( hehehehe ngereskan otaknya )
"bener waktu itu emang masih sekarang udah bersih " ucap zalwa dengan mengusap wajahnya
membuat senyum simpul di wajah zaki
" ngak pa pa kan kalo ngelakuin sekarang?" zalwa mengangguk malu
" Alhamdulilah, oke let's go" ucap zaki dengan mengunci pintu kamar
.
.
.
.
.
.
" semuanya terserah kamu " ucap fajri dengan menunduk
" saya tidak ingin kita berpisah anak ini butuh seorang ayah dan saya yakin kamu bisa berubah asal kamu mau " sahut aisyah dengan mengelus perutnya yang menonjol
"berapa bulan lagi ?" tanya fajri dengan melihat perut aisyah
"in sya allah dua bulan lagi " sahutnya dengan tersenyum
"sedangkan saya tiga tahun lagi " sahut fajri dengan menunduk
"semuanya bisa berubah mas jika memang mas ingin berubah " shaut aisyah menyemangati fajri
" saya sudah banyak dosa sama kalian aisyah sama bapak ibu kamu saya rasa saya tidak pantas mendapat maaf dari kalian "
" mas mas yakin saja jika bapak ibu sudah me maaf kan mas " ucap aisyah dengan kekeh
" apa kamu yakin ?" tanya fajri lagi
aisyah mengangguk " mereka di luar jika mas tidak yakin saya akan panggilkan mereka "
" bisa bantu saya berubah ?" tanya dengan melihat aisyah
aisyah tersenyum" asal kamu benar benar ingin berubah saya dan keluarga lain bisa membantu "
fajri mengangguk " bantu saya saya ingin menjadi manusia yang lebih baik "
"Alhamdulillah pasti mas apa mas mau bertemu dengan yang lain mereka sangat ingin bertemu dengan mas " fajri mengangguk membuat aisyah beranjak pergi
azzura gadis cantik yang memiliki paras ayu nan manis, kematian sang ibu serta kepergian ayahnya yang misterius membuat nya nekat harus ke kota di mana tempat ayahnya berkejaran
apakah azzura dapat kembali bertemu dengan ayahnya.
seorang istri minta tolong mencari suaminya, konflik ringan tapi dibuat ribet sendiri
faktor2 yang mendukung konflik ini jadi masalah besar pun tidak mendukung, jadi kesimpulan yang cerita ini konflik biasa malah sangat biasa tapi dipaksakan jadi masalah besar
ehhhh pusing pala berbi
sukses
semangat
mksh