" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Mau Kenalan
Di sebuah acara pesta bisnis yang dihadiri ratusan orang, Arasya menemani Daddy-nya menghadiri acara itu karena Mommy sedang ada urusan di luar kota.
"Ara!" panggil Melly dengan sangat senang, berlari sambil menghampiri Ara, sahabat karibnya.
"Pelan-pelan, Melly, kalau Daddy kamu jatuh langsung stroke itu," tawa jahat Daddy Ara melihat sahabatnya yang sudah berumur ditarik sambil berlari oleh anak gadisnya.
"Kalau itu terjadi, aku juga akan menyuruh Ara melakukan hal yang sama padamu agar aku ada teman di rumah sakit," ucap Daddy Melly menepuk lengan sahabatnya itu.
Mereka tertawa bersama.
"Daddy, kami jalan-jalan berdua, ya," kata Ara berdiri memeluk sebelah lengan sahabatnya dengan senang.
"Ehhhhh, Daddy membawa kalian untuk menemani kami, malah mau jalan berdua," geleng kepala Daddy menatap mereka berdua.
"Ayolah, Daddy, kalian kan bisa jalan berdua juga," tawa Melly melihat tatapan geli kedua pria paruh baya itu.
"Cocok, sama-sama terlihat seperti bujang lapuk," tawa jahat Ara mengolok-olok kedua pria paruh baya yang kini bernasib sama.
Sama-sama ditinggal istri keluar kota!
"Kalian ini," mereka berdua langsung lari begitu Daddy akan mencubit bibir mereka.
Mereka berdua berjalan santai menikmati suasana di tengah banyaknya tamu di acara bisnis.
"Mel, duduk di sini dulu, yuk, acara intinya masih setengah jam lagi," kata Ara mengajak Melly duduk di sofa yang tersedia.
"Halah, bilang aja mau cuci mata lihat yang bening-bening," tatapan sebelah mata Melly, namun tetap ikut duduk di sebelah Ara.
"Hehehehe, ayolah, best," kata Ara duduk merangkul pundak Melly, dan seperti dugaan Melly, mata centil Ara tidak berhenti bergerak menatap satu per satu pria yang hadir di acara bisnis ini.
Dari ratusan tamu yang sedari tadi Ara pandangi, ada satu pria yang mencuri perhatian Ara bahkan sejak pertama kali melihatnya, Ara tidak pernah bisa berpaling darinya.
"Ara, sadarlah," ucap Melly sampai menggoyang tubuh Ara yang sedari tadi melek seperti lupa kalau dia masih di atas dunia.
"Hehehe," kekeh Ara, namun matanya masih menatap pria itu hingga Melly mencubit paha Ara saat mengikuti pandangannya.
"Ara, jangan gila, kamu, dia pria dewasa," ucap Melly meraih wajah sahabatnya yang sangat nekat kalau sudah suka itu agar menatapnya.
"Itu pria dewasa, kemungkinan sudah punya istri," ucap Melly menasihati sahabatnya.
Ara ketika suka seseorang, dia akan mengejar layaknya cegil!
"Belum, tidak ada cincin di jarinya," senyum lebar Ara ketika mendapati seseorang yang tipe dia banget.
"Ara, tapi—" belum selesai ucapan Melly sudah langsung disambung Ara.
"Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku," ucap Ara menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa masih dengan stelan jas kerjanya.
"Ara, jangan gila, ya," Melly langsung memegang sebelah tangan Ara yang akan langsung berjalan menghampiri pria itu.
"Haaaaa, lepaskan, Mel, Ara ingin berkenalan dengannya," rengek Ara yang sudah kembali duduk setelah ditarik Melly.
"Ara, ini di acara bisnis, bukan kampus, dan ingat, kita datang ke sini menemani Daddy, jangan melakukan hal-hal yang akan merugikan Daddy," nasihat Melly menyadarkan Ara.
"Ehhhh, iya, untung kamu ingatkan," ucap Ara langsung stay cool mendengar ucapan Melly.
Hilang sudah jiwa cegil Ara yang tadinya meronta-ronta!
.......
Ketika acara inti berlangsung, Ara dan Melly duduk bersama Daddy mereka menyaksikan acara yang sangat meriah itu.
"Ooooh, namanya Sean, dia tampan sekali," bisik Ara meronta-ronta meremas tangan Melly ketika melihat pria pujaannya naik ke atas panggung.
"Ara," Melly mempelototi Ara yang malah meronta-ronta di saat semua tamu diam sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka.
"Hehehe, maaf, maaf, Mell, ampun," kata Ara langsung bersembunyi di balik punggung Melly ketika sahabatnya itu sudah marah beneran dalam mode serius.
"Maafin Ara, Mell," rengek Ara ketika Melly hanya diam saja.
"Sudah, aku bilang, tenang," ucap Melly yang selain sahabat sudah menganggap Ara seperti adiknya yang sangat dia sayangi.
Melly tidak ingin Ara malu nantinya hanya karena hal spontanitas yang dilakukan.
"Mell, Ara, Daddy naik ke atas panggung sebentar, kalian jangan ke mana-mana," pesan kedua Daddy mereka.
"Baik, Daddy," jawab mereka serempak.
Keesokan harinya.
Sepulang dari kampus, Ara mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal bercampur sedih padahal mereka sudah janji bakalan pergi ke mal siang ini, tapi Melly tiba-tiba malah dibawa keluar negeri oleh Daddy-nya.
"Mana baliknya minggu depan, Ara jadi sendirian, mau main sama siapa lagi, Ara," ucap Ara terus merungut kesal di sepanjang jalan menuju mal.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ara berjalan lambat memasuki mal dengan perasaan kurang bahagia karena tidak ada sahabat karibnya.
Ting.
"Wahhhhh, I LOVE YOU, Daddy," kata Ara langsung melonjak senang dan mengecupi ponselnya ketika notifikasi TF-an Daddy-nya masuk.
"Ara benar-benar mencintaimu, Daddy sayang," kata Ara berjalan sambil bergoyang ceria ke dalam mal setelah dikirimkan 200 juta oleh Daddy-nya.
Hilang sudah kesedihan Ara.
Brakkkk.
"Aduhhhh," ringis Ara yang jatuh terduduk di lantai setelah menabrak seorang wanita tinggi bak model internasional, bahkan jika Ara berdiri mungkin hanya sebahunya.
"Siapa yang menaruh tiang listrik di sini," ucap Ara tanpa dosa berdiri sambil membersihkan bajunya setelah ucapannya membuat beberapa orang tertawa.
"Kalau jalan lihat orang di sekitarmu dan perhatikan arah," ucap wanita itu dengan kesal dikatai tiang listrik oleh gadis itu, padahal jelas-jelas gadis itu yang menabraknya, untung dia tidak ikutan jatuh ke lantai karena masih bisa berdiri seimbang.
"Halo, kakak ganteng," sapa Ara melambaikan tangan ketika pria pujaannya lewat bersama beberapa staf ke dekat mereka.
"Hehhhh, dasar genit, aku belum selesai bicara malah merayu pria lain," wanita itu bertambah kesal.
"Ada apa?" suara berat Sean berhenti berjalan, begitu pun 5 orang di belakangnya.
"Mau kenalan," kata Ara langsung mengulurkan tangannya dan menatap Sean sampai pupil matanya membesar.
"Aku bertanya pada dia, bukan padamu," ucap Sean yang sama sekali tidak mengenali gadis itu.
"Tuan Muda, gadis ini menabrakku dan tidak cukup sampai di situ, dia malah mengatai aku tiang listrik, bukannya minta maaf," ucap Rose yang merupakan sekretaris Sean.
Beberapa pria di belakang Sean mengulum senyum yang nyaris menjadi tawa jika tidak menutup mulut.
"Maaf, Tuan Muda," ucap mereka serempak ketika Sean menoleh menatap mereka.
"Gadis, minta maaf padanya," ucap Sean menatap gadis yang berdiri di hadapannya masih mengulurkan tangan dengan tatapan yang tidak pernah beralih dari Sean.
"Baik, maafkan Ara, Tante," kata Ara dengan patuh langsung minta maaf.
"Tante?" ucap Rose mendelik dengan perasaan tidak terima dipanggil Tante.