Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 kejahatan
pukul delapan malam,
usai makam malam,
Shahnaz nampak melangkah menuju kamar utama di lantai tiga.
Di belakangnya juga mengikuti sosok seorang laki laki paruh baya.
" buka..."
Sampai di depan pintu kamar utama, dua orang nampak berjaga di sana.
Shahnaz pun meminta mereka untuk membukanya.
" baik nyonya..."
Pintu terbuka, Shahnaz masuk ke dalam kamar.
Sejenak ia berhenti. Netranya terarah pada sesosok tubuh yang terbaring di atas ranjang mewah berukuran king size.
Kedua bola mata Shahnaz tak berkedip menatap ke sana.
" nyonya...." bisik seseorang yang masih setia berdiri di belakangnya.
Panggilan itu membuat Shahnaz tersadar.
Ia menoleh sejenak kepada sosok di belakangnya.
Dia adalah seorang dokter penyakit dalam yang sudah bekerja kepada keluarganya sejak lama.
Dan sekarang ia membawa dokter Adnan untuk bertanggung jawab atas Ricard yang sudah terbaring koma sejak dua tahun yang lalu tanpa alasan yang jelas.
" dokter Adnan....."
" ya Nyonya...."
" periksa kondisi suamiku "
" baik...."
dokter Adnan melangkah mendekat ke arah pembaringan.
Sementara Shahnaz masih tetap berdiri tegak tak jauh dari ambang pintu.
Namun kedua netranya tak berkedip apalagi beralih dari sosok Ricard di sana.
Dokter Adnan mulai melaksanakan tugasnya seperti biasa.
Dokter itu rutin datang dan memeriksa Ricard setiap tiga kali dalam satu Minggu.
Dan setiap kali datang memeriksa Ricard harus ketika Shahnaz sedang berada di rumah dan harus hanya Shahnaz yang bisa menemaninya ke dalam kamar ini.
Butuh waktu sedikit lama untuk pria paruh baya itu menyelesaikan pekerjaannya.
Puluhan tahun ia bekerja sebagai dokter penyakit dalam.
Tapi baru kali ini ia merasa sangat kesulitan menentukan diagnosis untuk sosok yang terbaring di hadapannya itu.
Sejak awal memeriksanya hingga kini ia tetap tak bisa menemukan apapun.
Ia sudah merongent seluruh tubuh Ricard, tapi tetap saja ia tak bisa mendiagnosis apa sebenarnya yang terjadi kepada pria itu hingga ia terus terbaring tak bersuara seperti itu.
Ia sudah mengajukan untuk membawa Ricard ke rumah sakit,
Tapi Shahnaz menolak.
Alasannya tentu karena kepentingan perusahaan.
Tidak ada yang bolah tahu jika saat ini kondisi pewaris utama group Lee itu dalam kondisi sakit dan tak berdaya.
Karena jika tidak....
maka itu akan berpengaruh besar pada kondisi harga saham group Lee di pasaran.
Karena itu,
Tidak banyak yang tahu bagaimana kondisi sebenarnya Ricard saat ini.
Berita yang beredar tentang laki laki itu sengaja di sebarkan secara simpang siur.
Termasuk Harry sang pengacara. Ia juga tak tahu yang sebenarnya.
Yang ia tahu,
Ricard hanya sedang menenangkan diri paskah kematian tuan besar Lee dan menyerahkan pimpinan sementara group Lee kepada sang istri.
Shahnaz Mariana Harvard,
Putri bungsu dari keluarga Harvard yang di nikahi Ricard.
Beberapa waktu telah berlalu, dan seperti biasa.
Dokter Adnan tetap tak mampu memahami sakit yang di derita Ricard.
Yang bisa ia lakukan hanya memastikan jika laki laki itu masih bernafas, detak jantungnya normal dan begitu juga dengan aliran darahnya.
" semua normal dokter Adnan ?! " tanya Shahnaz dari tempatnya berdiri saat ini.
" iya nyonya "
" kalau begitu keluarlah..."
" baik nyonya...." jawab dokter Adnan dan segera merapikan semua peralatan medisnya kemudian melangkah ke arah pintu dan keluar.
" dokter Adnan...." panggil Shahnaz ketika dokter Adnan baru akan sampai di pintu.
" ya nyonya...." jawab dokter Adnan sambil menoleh menatap sosok Shahnaz yang berdiri membelakanginya kini.
" kau masih ingat pesanku ?! "
" tentu nyonya.....
jangan khawatir, tidak akan ada yang tahu secara pasti kondisi tuan Ricard " jawab dokter itu lagi.
" bagus...
pergilah....." ucap Shahnaz lagi, dokter Adnanpun segera melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu.
Cklek....
Shahnaz menutup pintu setelah dokter Adnan benar benar telah keluar dari pintu itu.
Tak lama ia terlihat melangkah mendekat kepada sosok Ricard.
Ia menyeret kursi dan kemudian duduk di sisi pembaringan.
Di tatapnya wajah Ricard yang nampak memejamkan.
" bagaimana kabarmu ?!
apa kau senang bisa tidur lama seperti ini ?! " ucap Shahnaz pelan dan sedikit senyum yang sulit diartikan tersungging di bibirnya.
" Lee ...
kau tahu ...sebenarnya aku juga tidak mau kau berada dalam kondisi seperti ini.
Tapi kau sudah begitu tidak adil padaku...." sambungnya lagi.
" aku tahu ..
pernikahan kita bukan karena cinta, tapi apakah itu membuatmu merasa pantas menyukai wanita lain sementara ada aku wanita yang telah kau nikahi dan telah memberikan seorang anak laki laki padamu ?!
Kau tidak adil Lee.....
Seharusnya....
Jika kau tak menyukaiku, kau tidak usah menyentuhku....
kau tidak usah membuatku hamil....
Biarkan kita hidup hanya dalam ikatan di atas kertas saja.
Biarkan aku hidup bersama bayangan dan kenangan mendiang suamiku terdahulu.
Kau dan keluargamu yang memaksaku untuk berada di antara kalian.
Tapi apa yang kalian lakukan padaku ?! kalian menyia nyiakan aku seperti sampah hanya karena aku yang seorang janda.
Sekarang....
Kau lihat....
Aku mampu menyaingi kalian, tanpa kalian aku bisa berdiri tegak di atas kedua kakiku sendiri " ucap Shahnaz lagi lebih panjang.
Satu luka yang begitu dalam dan ia simpan selama ini sendirian,
kini bisa ia ucapkan di hadapan Ricard tanpa takut laki laki itu akan membalasnya.
Kekecewaan atas paksaan keluarga Lee kepadanya selama ini ia ungkapkan.
Dulu ...
Ia memang di paksa untuk mau menikah dengan Ricard karena keluarga Shahnaz yang memiliki hutang kepada keluarga Lee.
setelah pernikahan,
Ia bahkan di larang membawa putranya ikut serta bersamanya,
Ia di paksa tinggal dan hidup di rumah besar keluarga Lee tanpa anak hasil cintanya dengan suaminya terdahulu.
Anak yang sebenarnya adalah jantung dan nafasnya.
Shahnaz sangat tersiksa, apalagi keberadaannya yang juga tidak begitu di hargai oleh keluarga besar Lee yang lain. ia dianggap benalu.
Hatinya kian sakit ketika ia menerima kenyataan jika sang suami menghamili wanita lain yang nota bene adalah pelayan ruman ini.
Tidak ada permintaan maaf atau apalah dari Ricard atau keluarganya kepadanya tentang hal itu.
Seolah apa yang di lakukan Ricard adalah hal yang biasa dan ia pantas.
Ia seolah di haruskan menerima semua perlakuan itu.
Apalagi di kemudian hari, ia sering melihat Ricard diam diam memperhatikan wanita yang ia hamili itu.
Usai berkata cukup lama, Shahnaz bangkit dari duduknya.
Memeriksa infus dan selang infus yang menempel di pergelangan tangan Ricard.
Tak lama, ia berlalu dan meninggalkan ruangan itu.