NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Nama di Akta

Kartu nama Hendry Liang tidak langsung disimpan Kevin.

Sepanjang perjalanan pulang dari galeri, kartu itu berada di antara jari telunjuk dan jempolnya. Sesekali Kevin melihat tulisan di atasnya, lalu kembali menatap jalan dari kursi belakang taksi online.

Meilin duduk di sampingnya dengan sepatu hak rendah yang mulai membuat tumitnya pegal.

"Kamu akan hubungi dia?" tanyanya.

Kevin tidak menjawab cepat. "Belum malam ini."

"Kenapa?"

"Kalau sesuatu terlihat terlalu tepat, justru harus dicek lebih lama."

Itu jawaban yang sangat Kevin. Dingin, rapi, dan membuat Meilin ingin mencubit lengannya.

Namun saat mereka tiba di apartemen, Kevin tidak langsung tidur. Dia mengganti kemejanya dengan kaus rumah, membuat air hangat untuk Meilin, lalu duduk di meja kecil dengan laptop terbuka. Kartu Hendry diletakkan di sebelah mouse.

Meilin sudah melepas anting dan membersihkan wajah, tapi rasa kantuknya hilang saat melihat layar Kevin.

Di sana bukan email untuk Hendry.

Melainkan halaman kosong dengan judul: kemungkinan produk.

"Ko," panggil Meilin dari sisi meja, "kamu bilang belum malam ini."

"Belum menghubungi dia." Kevin mengetik beberapa kata. "Bukan berarti belum berpikir."

Meilin menarik kursi dan duduk.

Di bawah judul itu, Kevin menulis tiga masalah. Gudang kecil yang masih mencatat stok manual. Pengiriman yang terlambat karena data sales tidak sinkron. Pemilik usaha yang tidak tahu barang mana paling cepat bergerak sampai uangnya sudah habis di stok mati.

"Ini dari dashboard kantormu?"

"Masalahnya mirip, tapi segmennya beda," jawab Kevin. "Kantorku main di perusahaan besar. Banyak usaha menengah tidak mampu bayar sistem mahal. Mereka butuh dashboard ringan, bisa jalan dari data sederhana, dan tidak membuat staf gudang pusing."

Meilin membaca baris-baris itu. Tulisan Kevin kering, tapi di matanya, baris itu seperti peta jalan.

"Kamu sudah lama memikirkannya?"

"Sejak masih di kos."

Meilin terdiam.

Di kos-kosan Tangerang, saat listrik token habis, saat dia menghitung uang untuk nasi bungkus, Kevin ternyata sudah memikirkan produk untuk orang lain keluar dari kekacauan data.

"Kenapa tidak pernah cerita?"

Kevin berhenti mengetik. "Waktu itu aku bahkan belum bisa memastikan kamu makan tepat waktu."

Kalimat sederhana itu membuat dada Meilin menghangat dan sakit sekaligus.

Besok malamnya, Kevin baru menghubungi Hendry.

Mereka bertemu tiga hari kemudian di sebuah kafe tenang di Kuningan, setelah jam kerja Kevin selesai. Meilin ikut karena Kevin yang meminta.

"Kalau ini menyangkut kita, kamu harus dengar dari awal," katanya.

Hendry datang dengan kemeja biru muda, laptop tipis, dan cara bicara yang langsung ke titik.

"Saya tidak suka buang waktu," katanya setelah memesan kopi hitam. "Saya lihat cara Anda menjawab pertanyaan teknis di presentasi itu. Anda bukan cuma analis. Anda melihat alur bisnisnya."

Kevin menatapnya datar. "Anda butuh apa?"

Hendry tersenyum. "Produk."

Dia membuka laptop dan menunjukkan data dari salah satu kenalannya, perusahaan distribusi makanan beku ukuran menengah. Stok sering selisih. Sales menjanjikan barang yang ternyata sudah hampir habis. Gudang menyalahkan sales. Sales menyalahkan admin.

"Mereka tidak butuh sistem raksasa," kata Hendry. "Mereka butuh alat yang membuat pemiliknya bisa melihat keadaan tanpa menelepon lima orang."

Kevin mengambil serbet kertas dan pulpen dari Meilin.

Dalam sepuluh menit, serbet itu penuh kotak, panah, dan tiga modul utama: stok, order, prediksi reorder.

Hendry yang tadinya santai mulai condong ke depan.

"Berapa lama buat prototype?"

"Dua minggu untuk versi kotor. Empat minggu untuk demo layak."

"Harga?"

"Pilot murah, langganan bulanan setelah mereka pakai. Tapi akses data harus bersih sejak awal."

Hendry menatap Meilin sejenak, lalu kembali ke Kevin. "Anda sudah punya badan usaha?"

Pertanyaan itu membuat jari Meilin mengencang di gelas air.

Kevin meletakkan pulpen.

"Belum."

"Kalau mau serius, jangan pakai rekening pribadi terus. Minimal siapkan badan usaha, NIB, rekening terpisah, kontrak sederhana. Saya bisa bantu operasional dan calon klien, tapi produk ini harus punya rumah."

Malam itu, setelah pulang, Kevin tidak langsung membuka laptop. Dia menaruh kunci di mangkuk kecil dekat pintu, lalu berdiri cukup lama menghadap jendela apartemen.

"Ada masalah?" tanya Meilin.

"Ada risiko."

Meilin melepas sepatu pelan-pelan. "Risiko apa?"

Kevin menoleh. "Kontrak kerjaku tidak melarang semua side project, tapi melarang konflik kepentingan dan penggunaan aset kantor. Produk ini harus bersih dari data, kode, dan klien kantor. Itu bisa diatur."

"Lalu?"

"Nama Halim."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Meilin tidak bertanya siapa. Dia sudah belajar bahwa saat Kevin menyebut nama belakangnya seperti itu, ada pintu gelap di baliknya.

"Kalau namaku muncul terlalu cepat," lanjut Kevin, "orang dari masa laluku bisa mencium. Mereka punya cara membuat sesuatu yang kecil jadi alat tekan. Aku tidak mau produk ini mati sebelum lahir."

"Jadi?"

Kevin menatapnya lama. "Untuk tahap awal, aku ingin badan usaha YunMei Tech tercatat atas namamu. Kamu sebagai direktur dan pemegang kendali. Aku tetap yang bangun produk, Hendry bantu operasi. Semua uang perusahaan masuk rekening terpisah. Tidak ada pinjaman, tidak ada tanda tangan utang, tidak ada kontrak yang mengikat kamu tanpa kamu baca."

Meilin merasa udara di paru-parunya memendek.

YunMei.

Nama itu terlalu jelas untuk pura-pura tidak mengerti.

"Yun itu dari mana?" tanyanya pelan.

Kevin tidak mengelak. "Dari namaku yang lain. Mei dari kamu."

"Nama yang lain?"

"Nanti aku jelaskan."

Meilin duduk di tepi sofa. "Ko, aku mau tanya jujur."

"Tanya."

"Aku ini kamu ajak jadi partner, atau cuma dipakai jadi nama depan akta?"

Kevin tidak tersinggung. Justru wajahnya makin serius.

"Partner. Kalau kamu bilang tidak, kita tunda. Kalau kamu bilang iya, kamu berhak tahu angka, kontrak, password rekening bisnis, keputusan klien, semuanya. Kalau suatu hari kamu tidak nyaman, namamu dicabut sebelum proyek tumbuh besar."

"Bisa begitu?"

"Bisa kalau kita susun dari awal dengan notaris yang benar."

Meilin menatap tangannya sendiri.

Dulu, nama tubuh ini hampir dipakai untuk menjual Kevin. Sekarang Kevin meminta memakai namanya untuk membangun sesuatu bersama. Bedanya terlalu jauh sampai dadanya sesak.

"Aku takut," katanya.

"Aku tahu."

"Tapi aku lebih takut kalau kamu terus berdiri sendirian melawan sesuatu yang bahkan belum mau kamu ceritakan."

Kevin berlutut di depan sofa, bukan seperti melamar, tapi agar matanya sejajar dengan Meilin.

"Aku tidak meminta kamu melawan keluargaku sekarang."

"Tapi kamu meminta aku membuka pintu untuk masa depanmu."

Kevin diam.

Meilin menarik napas panjang. "Kalau begitu, aku mau pegang kuncinya dengan benar."

Sesuatu di wajah Kevin retak sedikit. Bukan sedih. Bukan lega sepenuhnya. Lebih seperti seseorang yang sudah lama mengangkat beban, lalu baru sadar ada tangan lain di bawahnya.

"Kamu yakin?"

"Aku yakin setelah baca semua dokumennya. Dua kali. Mungkin tiga."

Kevin menunduk, lalu tertawa pelan.

Tawa itu pendek, hampir tidak terdengar, tapi membuat ruang kecil mereka terasa penuh.

Seminggu kemudian, di kantor notaris kecil di Jakarta Selatan, Meilin menandatangani berkas dengan tangan yang tidak lagi gemetar.

Nama usaha: YunMei Tech.

Direktur: Meilin Tan.

Di luar ruang notaris, Hendry menunggu sambil membaca draft kerja sama. Kevin berdiri di samping Meilin, tidak menyentuhnya, tapi cukup dekat sampai bahu mereka hampir bertemu.

Notaris menutup map.

"Setelah ini proses NIB dan rekening perusahaan bisa dilanjutkan. Selamat, Bu Meilin."

Meilin menatap tanda tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia novel ini, namanya tidak terasa seperti sisa hidup orang lain.

Nama itu menjadi pintu.

Dan Kevin berdiri di sisinya saat pintu itu mulai dibuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!