Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 05 - Rumah untuk Sari
Dimas datang menjelang asar.
Ia mengendarai mobil tua miliknya, berhenti di depan rumah dengan suara rem yang agak berdecit. Dari balik jendela, Ratna melihat anak sulungnya turun sambil menelepon seseorang. Wajah Dimas tegang, tetapi masih terlihat berusaha santai.
"Iya, Yun. Aku di rumah Ibu dulu. Nanti aku kabari."
Ia menutup telepon, lalu masuk tanpa mengetuk.
"Bu?"
"Di sini."
Ratna sudah menunggu di ruang tengah. Di meja, kotak besi dan map bukti tersusun rapi. Ia sengaja tidak menyembunyikan apa pun. Hari ini, anak-anaknya harus melihat semuanya dengan mata terbuka.
Dimas duduk di kursi seberang. Usianya tiga puluh delapan, tubuhnya sedikit gemuk karena bertahun-tahun mengurus toko bahan bangunan kecil bersama istrinya, Yuni. Ia bukan anak yang buruk. Ia sering mengantar Ratna ke kota jika ada urusan bank. Tapi Dimas juga anak yang selalu menghitung sebelum bicara.
Melati sudah meneleponnya. Ia datang dengan dugaan soal foto lama Bambang, lalu langsung pucat ketika Ratna mendorong map bukti ke hadapannya.
Dimas membuka isinya. Cara wajahnya berubah hampir sama dengan Melati. Bingung, pucat, lalu keras. Ia membaca bukti transfer, chat yang dicetak, dan kuitansi kavling makam.
"Bapak gila," gumamnya.
Ratna tidak menyahut.
Dimas membuka lembar berikutnya. Ada satu dokumen yang Ratna baru temukan pagi tadi, setelah memeriksa ulang kotak besi dan ponsel Bambang. Bukan sekadar kuitansi. Itu fotokopi perjanjian jual beli rumah kecil di pinggir kota.
Nama pembeli tertulis jelas.
Sari Handayani.
Di bagian pembayaran, ada tanda tangan Bambang Santoso sebagai pihak yang menyerahkan uang muka.
Dimas menatap kertas itu lebih lama daripada yang lain. Rumah kecil untuk Sari. Uang muka seratus lima puluh juta. Tanda tangan Bambang di bagian pembayaran.
Dimas menarik napas tajam.
"Aku belum tahu totalnya."
"Bu, ini bukan uang kecil."
"Aku tahu."
Dimas berdiri. Ia berjalan bolak-balik di ruang tengah.
"Uang dari mana? Bapak tidak punya penghasilan sebesar itu. Pensiun juga tidak. Toko dulu sudah lama tutup. Selama ini uang rumah kebanyakan dari klinik Ibu."
Ratna mendengarkan.
Ada perbedaan yang jelas antara Melati dan Dimas. Melati pertama-tama memikirkan malu, tempat tinggal, dan kehamilannya. Dimas langsung memikirkan uang.
Ratna tidak tahu harus lega atau sedih.
Kemungkinan langsung berputar di kepala Dimas: tabungan, tanah sawah, BPKB motor, mobil lama, apa pun yang bisa dijual diam-diam. Ratna menjawab satu per satu bahwa dokumen utama aman. Dimas mengusap wajah, seperti orang baru sadar pengkhianatan juga punya angka.
Angka membuat luka itu lebih sulit disangkal. Selama masih berupa foto, orang bisa menyebutnya salah paham, masa lalu, atau godaan sementara. Tetapi uang muka rumah punya tanggal, tanda tangan, dan niat yang tidak bisa dipoles dengan alasan lupa.
Ratna bertanya pelan, "Kamu marah karena Bapak berkhianat atau karena uangnya?"
Dimas berhenti berjalan.
Ia menatap ibunya, tampak tersinggung. "Bu, maksud Ibu apa?"
"Aku hanya bertanya."
"Tentu aku marah karena Bapak berkhianat. Tapi uang juga penting. Kalau dia pakai harta bersama untuk perempuan itu, Ibu dirugikan. Kita semua dirugikan."
"Kita semua?"
Dimas menyadari kata-katanya. Ia duduk lagi, suaranya turun.
"Maksudku, Ibu. Ibu yang paling dirugikan."
Ratna mengangguk.
Ia ingin percaya. Ia ingin memeluk anaknya dan menangis. Tetapi setelah pembicaraan dengan Melati, sesuatu dalam dirinya lebih berhati-hati.
Ratna ingin tahu dari mana uang itu. Dimas sempat menyebut rekening, kenalan bank, dan kemungkinan menelusuri transaksi, lalu berhenti sendiri karena sadar data orang tidak bisa dibuka sembarangan.
Ratna tersenyum tipis. Mereka tidak perlu melanggar apa pun. Mereka akan bertanya langsung kepada Bambang.
Dimas tertawa pendek, pahit. "Bapak pasti mengelak."
"Maka Raka harus pulang."
Wajah Dimas berubah lagi.
"Bu, kalau Raka tahu, dia pasti langsung ribut."
"Aku tahu."
"Dia bisa pukul Bapak."
"Kalau semua orang takut Raka marah, berarti selama ini semua orang juga tahu Bapak salah."
Dimas tidak bisa menjawab.
Ratna mengambil ponsel dan menelepon Raka. Nada sambung berbunyi cukup lama. Raka sedang bekerja di proyek jembatan di luar kota, sering sulit dihubungi.
Ketika akhirnya tersambung, Ratna hanya memintanya pulang malam itu. Raka langsung bertanya apakah ibunya sakit. Bukan. Klinik bermasalah? Bukan. Bambang yang bermasalah.
Di ujung sana hening.
"Apa dia bikin Ibu nangis?"
Ratna hampir tidak mampu menjawab. Kalimat itu sederhana, tetapi justru menyentuh tempat yang paling sakit. Ia hanya menyuruh Raka pulang dulu, dan anak itu langsung berangkat.
Telepon ditutup.
Dimas menatap ibunya. "Bu, aku benar-benar takut ini jadi besar."
"Ini sudah besar, Dimas."
"Tapi kalau sampai tetangga tahu..."
"Tetangga akan tahu cepat atau lambat. Di kampung ini, ayam bertelur saja masuk grup WA."
Dimas menghela napas. "Aku bukan takut omongan tetangga saja. Aku takut Ibu nanti menyesal. Kalau Ibu cerai, prosesnya panjang. Harta bersama harus dibagi. Kalau rumah ini atas nama Bapak atau atas nama berdua, bisa rumit. Kalau Bapak keras kepala, sidang bisa berkali-kali. Biaya pengacara juga tidak murah."
"Kamu terdengar seperti Melati."
"Karena kami realistis."
Ratna menatapnya.
Dimas buru-buru berkata, "Bukan berarti Ibu harus diam. Tapi kita harus strategi. Jangan langsung bilang cerai. Kumpulkan bukti dulu. Pastikan uang yang dipakai untuk Sari bisa ditarik atau diganti."
Ratna menangkap kata "strategi".
Ada bagian dari Dimas yang mencintainya, ia tahu. Tetapi ada juga bagian yang menghitung, bagian yang lahir dari hidup pas-pasan dan keluarga kecil yang selalu butuh uang.
"Kalau Bapak mengembalikan uang itu, menurutmu semua selesai?"
"Tidak," jawab Dimas cepat. "Tapi itu langkah pertama."
"Langkah pertama untuk apa?"
Dimas diam.
Ratna menunggu.
Akhirnya Dimas berkata, "Untuk memastikan Ibu tidak rugi."
"Aku sudah rugi tiga puluh tujuh tahun, Dim."
Dimas menunduk.
Kalimat itu menggantung di ruangan.
Pintu depan tiba-tiba terbuka.
Bambang masuk. Ia tampaknya tidak menyangka Dimas sudah ada. Langkahnya berhenti di ambang ruang tengah.
"Oh, kamu di sini."
Dimas berdiri. Matanya merah.
"Pak, ini apa?"
Ia mengangkat fotokopi perjanjian jual beli rumah.
Bambang melihat sekilas, lalu wajahnya langsung berubah.
"Kamu bongkar-bongkar barangku juga?"
Dimas menatap ayahnya seolah tidak percaya. "Bapak belikan rumah untuk Sari?"
"Jaga mulutmu."
"Aku tanya, Bapak belikan rumah untuk Sari?"
Bambang melempar tas kecilnya ke kursi. "Itu urusan orang tua. Anak tidak usah ikut campur."
Dimas tertawa kasar. "Urusan orang tua? Uang dari mana, Pak? Dari langit? Dari hasil Ibu buka klinik sampai malam?"
"Kamu jangan kurang ajar!"
"Yang kurang ajar siapa?"
Suara Dimas naik. Ratna melihat tangan anaknya mengepal.
Bambang menunjuk wajah Dimas. "Aku masih bapakmu."
"Justru karena Bapak bapakku, aku malu."
Wajah Bambang mengeras.
Ratna berdiri di antara mereka.
"Cukup."
Dimas masih bernapas cepat. Bambang juga.
Ratna menatap suaminya. "Malam ini Raka pulang."
Bambang langsung berkata, "Untuk apa?"
"Kita bicara sebagai keluarga."
"Tidak perlu. Ini masalah suami istri."
Ratna menatapnya dingin. "Saat kamu memakai uang keluarga, membeli rumah untuk perempuan lain, menyiapkan makam dengan dia, masalah ini bukan hanya suami istri lagi."
Bambang melirik Dimas, lalu berkata dengan nada menekan, "Kalau kamu hormat pada bapakmu, kamu pulang sekarang. Jangan ikut memperkeruh."
Dimas hampir maju, tetapi Ratna menahan lengannya.
"Dimas tetap di sini," kata Ratna.
Bambang menoleh tajam. "Ratna."
Ratna tidak menunduk.
"Kamu sudah terlalu lama bicara dengan Sari. Sekarang giliran kami bicara."
Bambang menatap Ratna seperti baru melihat sisi dirinya yang tidak pernah ia hitung.
Dulu, Ratna selalu menghindari pertengkaran. Kalau suara Bambang naik, suara Ratna turun. Kalau Bambang marah, Ratna masuk dapur. Kalau anak-anak mulai gelisah, Ratna yang menenangkan.
Hari itu, ia tidak bergerak ke dapur.
Dimas melihat perubahan itu dengan jelas. Rasa marahnya pada ayah bercampur dengan rasa bersalah yang sulit ia telan. Selama ini ia juga menikmati ketenangan ibunya. Ia pulang ke rumah dan selalu menemukan makanan, tempat tidur, handuk bersih, nasihat pendek. Ia tidak pernah bertanya berapa banyak luka yang harus ditelan agar rumah tetap terasa seperti rumah.
Sekarang rumah itu tidak lagi bisa pura-pura utuh.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan