"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12 -Debaran yang Kian Nyata
Setelah puas menikmati malam yang singkat namun penuh arti di taman kota, Arden dan Alyssa akhirnya sampai di kediaman utama keluarga Narendra. Suasana rumah mewah itu sudah tampak sangat sepi dan senyap. Jelas saja, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pintu gerbang dan lampu teras utama pun hanya menyisakan pendar temaram.
Alyssa turun dari motor besar Arden, lalu berdiri mematung. Ia menatap bagian depan rumah mewah itu dengan tatapan ragu dan penuh kegundahan. Langkah kakinya mendadak terasa begitu berat untuk masuk kembali ke dalam rumah yang selama ini menjadi penjara emosinya.
“Kenapa, Kak? Ayo masuk,” ujar Arden seolah bisa membaca keraguan di matanya. Pria itu mengulas senyum tipis yang menenangkan. “Tenang saja, Tante Indah sudah resmi pulang ke Jogja sore tadi. Jadi, Kak Alyssa tidak akan mendengar ucapan julid dan sindiran beracunnya lagi malam ini.”
Belum sempat Alyssa memberikan jawaban, Arden sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan lembut namun pasti, menuntunnya melangkah masuk ke dalam rumah.
Suara langkah sepatu mereka menggema samar di seluruh ruangan yang sunyi, memecah keheningan lorong lantai dua yang menuju ke kamar mereka masing-masing. Pertanda jelas bahwa semua penghuni rumah, termasuk Papa Bagas dan Mama Maya, sudah mengistirahatkan diri di kamar mereka.
Tepat di depan pintu kamar Alyssa, langkah mereka terhenti. Alyssa berbalik, hendak mengucapkan terima kasih karena Arden sudah menjadi penyelamatnya malam ini.
Namun, sebelum kata-kata itu sempat lolos dari bibirnya, Arden menatap lekat kedua manik mata Alyssa dengan sorot mata yang teramat dalam dan intens.
“Kak... ucapanku di taman kota tadi, aku tidak main-main. Aku benar-benar serius,” kata Arden dengan nada suara rendah yang berwibawa, mengingatkan kembali tentang niatnya untuk menggantikan posisi Adrian.
Alyssa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh ketegasannya sebagai seorang kakak ipar. “Aku juga serius dengan jawabanku, Arden. Ini salah, dan—”
Cup.
Kalimat Alyssa langsung terputus di udara. Tubuhnya seketika membeku, kaku, dan tak bisa digerakkan sama sekali. Lembar-lembar logikanya mendadak runtuh dalam satu detik ketika Arden tiba-tiba memajukan tubuhnya, menunduk, dan mendaratkan sebuah kecupan yang teramat lembut tepat di kening Alyssa.
Sentuhan bibir Arden di keningnya terasa begitu hangat, seolah menyalurkan seluruh rasa aman dan perlindungan yang selama empat tahun ini tidak pernah Alyssa dapatkan dari Adrian. Ciuman tulus itu menembus jauh ke dalam pertahanan harga dirinya yang selama ini hancur lebur.
“Arden...” lirih Alyssa dengan suara yang bergetar hebat. Matanya membelalak menatap wajah tampan adik iparnya yang kini berada dalam jarak yang teramat dekat.
Arden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Alyssa sejenak, mengunci pandangan wanita itu dengan senyuman tipis yang misterius namun memabukkan.
“Selamat malam, Kak,” bisik Arden lembut tepat di depan wajahnya, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya sendiri tanpa menoleh lagi.
Alyssa masih berdiri mematung di depan pintunya yang tertutup. Dengan tangan yang gemetar, ia perlahan naik menyentuh keningnya yang masih terasa hangat, lalu beralih meremas dadanya sendiri. Di balik jaket kulit hitam pilihan Arden, jantung Alyssa berdegup begitu kencang dan bertalu-talu dengan liar.
Malam itu, di dalam rumah suaminya sendiri, Alyssa menyadari satu hal yang menakutkan: detak jantungnya kini sudah benar-benar tidak aman lagi.
Keesokan harinya, seperti biasa kediaman megah tersebut sudah disibukkan dengan aktivitas membuat sarapan. Pagi ini, Alyssa bisa sedikit bernapas santai karena Adrian sama sekali tidak pulang ke rumah semalaman.
Pagi ini, Alyssa sudah tampak rapi mengenakan dress rumahan sederhana yang membuatnya merasa nyaman. Ia langsung melangkah menuju meja makan yang hidangannya sudah siap tertata rapi. Suasana terasa begitu hening nan damai—sebuah berkah tersendiri karena tidak ada kehadiran Indah yang biasanya selalu sibuk menaruh komentar julid.
"Selamat pagi, Mama... Papa..." sapa Alyssa lembut sembari mengurai senyum manisnya. Entah mengapa, suasana hatinya pagi ini terasa begitu baik.
"Selamat pagi, Sayang," balas Maya hangat, sedangkan Bagas hanya menyahut dengan anggukan kepala ramah.
"Di mana suamimu?" tanya Maya kemudian saat menyadari kursi di sebelah menantunya masih kosong.
"Mas Adrian... dia..."
"Mas Adrian gak pulang, Ma. Mendadak semalam dia harus mengurus urusan mendesak di kantor," sahut Arden tiba-tiba yang baru saja turun dari lantai dua.
Pria itu sempat melirik ke arah Alyssa dan melempar senyum tipis yang sarat akan arti. Tentu saja tidak mungkin bagi Arden untuk mengatakan sejujurnya kepada sang mama, bahwa saat ini Adrian sebenarnya sedang sibuk menunggu dan menemani kekasih gelapnya di klinik.
"Anak itu, benar-benar ya!" ketus Maya kesal. Ia lalu mengalihkan lirikan tajamnya ke arah sang suami. "Mas!"
"Iya, iyaaa... Nanti Mas bakal telepon dan bilang ke Adrian supaya dia bisa meluangkan waktu buat istrinya," balas Bagas pasrah, tahu betul kalau sang istri sudah mulai naik pitam.
"Ingat ya, Mas! Jangan sampai Alyssa nanti ngerasain hal yang sama kayak aku dulu, gara-gara kamu yang terlalu cuek sama istri sendiri," omel Maya lagi, mengungkit masa lalu.
"Huh... astaga. Iya, Canım," sahut Bagas geregetan sekaligus gemas demi menenangkan belahan jiwanya itu.
Alyssa refleks tersenyum tipis melihat interaksi manis kedua mertuanya tersebut. Namun, tanpa sengaja tatapannya justru beradu dengan netra Arden yang rupanya juga tengah menatapnya sembari menyunggingkan senyuman manis.
"Astaga, gak aman banget jantungku!" jerit Alyssa dalam hati. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di kedua pipinya.
*
*
Di sisi lain, tepatnya di dalam ruangan sebuah klinik swasta, Hanum tengah duduk di tepi ranjangnya. Sepasang matanya menatap lekat ke arah Adrian yang masih terlelap pulas di atas sofa. Semalaman penuh, lelaki itu benar-benar membuktikan ucapannya untuk tetap tinggal dan menjaganya tanpa peduli rumah.
Sebuah ide licik mendadak melintas di kepala Hanum. Ia meraih ponselnya, mengarahkan kamera, lalu memotret sosok Adrian yang sedang tertidur lelap di sana. Tanpa membuang waktu, Hanum langsung mengirimkan foto tersebut ke nomor Alyssa.
Sambil menyunggingkan senyum sinis yang penuh kemenangan, jemari Hanum bergerak lincah di atas layar ponsel. Ia mengetikkan untaian kalimat singkat—sesuatu yang ia tahu pasti akan langsung menyayat hati Alyssa dan menghancurkan harga dirinya sebagai seorang istri sah.
Click.
Pesan terkirim. Setelah memastikan pesannya sukses mendarat, Hanum meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Ia kembali memandangi wajah Adrian dengan tatapan penuh kepemilikan.
"Memang kenapa kalau dia istri sahnya? Orang lama tetap akan menjadi pemenangnya," gumam Hanum dengan nada bangga yang teramat kentara.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣