NovelToon NovelToon
Sumayah

Sumayah

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Misteri / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:206k
Nilai: 4.9
Nama Author: aisy hilyah

Teruntuk para wanita yang sedang memperjuangkan haknya untuk hidup. Teruntuk para ibu yang sedang mempertaruhkan segalanya demi si buah hati.

Sumayah, seorang wanita yang baru beberapa saat lalu mendapatkan gelar sebagai wanita sempurna. Menjadi seorang Ibu bagi anak yang baru saja dilahirkannya ke dunia dengan bertaruh nyawa. Berjuang antara hidup dan mati.

Ia harus melarikan diri sejauh mungkin membawa bayi yang baru saja terlahir demi menghindari rencana busuk suaminya. Perjalanan penuh luka, kaki tanpa alas itu harus bertahan di atas bara.

Sumayah difitnah. Di balik jeruji besi ia mendekam. Dingin dan mencekam udara dalam ruang sempit yang tak ramah itu, ia lalui dengan tegar dan keyakinan atas apa yang sedang ia perjuangkan.

Sampai ia mencapai tujuannya, Sumayah tak akan menghentikan langkah meski harus memeras darah, ia tak akan berhenti berjuang.

Sumayah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kau Mencintai Ibuku?

Tiga hari sudah berlalu sejak Kevin tak mampu menjawab pernyataan Salim. Bocah kecil itu dipaksa Kevin untuk masuk ke rumah dan dikurung di dalam kamar. Selama itu pula, Salim menolak makan apa pun yang dibawakan pelayan ke kamarnya.

Ia hanya duduk di atas ranjangnya, terkadang duduk di dekat jendela sembari berharap melihat Sumayah datang menjemputnya.

"Ibu, kapan Ibu akan datang menjemput? Di rumah ini ada Iblis wanita yang selalu melotot pada Salim, Ibu. Dia bahkan sering membentak Salim saat laki-laki itu tidak ada di rumah. Ibu, bangunlah! Cepat jemput Salim!" gumamnya dengan mata sembab memandang keadaan di luar jendela.

Sarapannya bahkan masih utuh di atas nakas. Ia belum menyentuhnya sedikit pun, dan belum ada apa pun yang masuk ke dalam perutnya semenjak ia dikurung di kamar tersebut.

Wajahnya pucat, bibirnya kering. Lingkaran hitam membentuk di sekitar matanya yang sembab. Ia kerap menangis memanggil Sumayah berharap ibunya itu akan datang menjemput secepatnya.

Brak!

Pintu kamarnya terbuka dengan kasar, Salim tahu siapa yang masuk tanpa harus membalik tubuhnya. Ia masih bergeming di tempatnya berdiri. Menatap jalanan komplek yang amat jelas dari jendela kamarnya.

Suara piring dibanting pun terdengar menggema di dalam kamar tersebut. Sebuah kamar istimewa yang sengaja disiapkan Kevin sendiri untuk putranya yang hilang.

"Kau belum juga menyentuh makananmu? Dasar anak tidak tahu diri! Di sini kau hidup dengan enak, semua yang kau butuhkan telah disiapkan oleh para pelayan bahkan untuk makan saja kau tidak perlu repot untuk mencarinya. Semua yang kau inginkan akan terpenuhi. Jangan keras kepala jika kau ingin tetap hidup di sini! Makan makanan ini, aku sudah memberi uang belanja pada pelayan untuk membuat masakan ini!" cecar Cilla yang datang dengan berang saat melihat makanan Salim masih utuh di atas nakas.

"Siapa yang ingin tinggal di neraka ini? Aku lebih suka hidup bersama Ibuku dibanding tinggal di tempat yang dipenuhi binatang buas seperti kalian!" sarkas Salim begitu menohok harga diri Priscilla.

Wanita itu membuka-tutup mulutnya tak percaya kata-kata tajam itu meluncur dengan lugas dari bibir Salim.

"Kau ... tajam sekali mulut kecilmu itu. Apa yang diajarkan Ibumu hingga kau berani berkata buruk seperti itu! Hmm ... seperti inilah hasilnya jika anak itu dibesarkan oleh wanita liar seperti Ibu-"

"Tutup mulut busukmu! Aku tahu siapa kau? Cukup bagiku melihat tingkahmu, aku sudah tahu bagaimana sesungguhnya dirimu. Kau rubah betina yang licik, ular berbisa yang penuh dengan muslihat. Kau pikir, kau bisa menipuku sama seperti kau menipu laki-laki itu!" Salim tertawa kecil meski terdengar lemah.

Priscilla tak menyangka anak sekecil Salim bisa mengatakan hal besar seperti itu. Ia berbalik dengan kesal, hatinya diliputi amarah yang bergolak.

"Bagus! Pergilah, dan jangan temui aku lagi! Aku tidak sudi melihat wajah licikmu!" ucap Salim melirik Priscilla yang berjalan keluar lewat sudut matanya.

Priscilla berhenti sejenak sebelum melanjutkan langkah keluar dari kamar Salim. Wajahnya yang merah padam menjelaskan bagaimana keadaan hatinya.

"Cilla? Kau ...?" Kevin berkerut dahi melihat Priscilla yang keluar dari kamar Salim.

Wanita itu tidak mengurangi rasa panas di wajahnya. Sebaliknya, ia menunjukkan rasa kesalnya pada Kevin.

"Aku membujuknya untuk makan, tapi dia justru menghinaku. Itulah Kevin anak yang selama ini kau cari dan kau inginkan, dia mengatakan rumah ini adalah neraka dan dipenuhi binatang buas. Apa itu yang kau inginkan?" Priscilla melampiaskan amarahnya pada Kevin.

Yah ... Priscilla berhasil menikah dengan laki-laki itu berkat hasil tes yang mengatakan kecocokan antara DNA Kevin dan anak yang dikandungnya.

"Tentu saja dia akan mengatakan itu karena kau memang seperti binatang buas. Berkata kasar padanya dan bahkan membentaknya," sahut Kevin menohok tepat di jantung Priscilla yang tiba-tiba berdegup hebat.

"K-kau ...?" Kevin mengibaskan tangannya kemudian berlalu meninggalkan Priscilla begitu saja.

Keduanya memang sudah menikah secara resmi, tapi meskipun begitu Kevin tetap tidak membiarkan Priscilla untuk memasuki kamarnya. Mereka tinggal di kamar masing-masing.

Kevin memasuki kamarnya untuk mengganti pakaian tanpa ingin tahu bagaimana perasaan Priscilla saat mendengar ucapannya. Wanita itu melangkah dengan kesakitan yang luar biasa.

Pernikahan yang diimpikannya akan bahagia, kandas begitu saja. Awal yang begitu membahagiakan hilang tanpa jejak setelah anak itu lahir. Berbeda dengan Salim yang begitu mirip dengan Kevin, bayi yang dilahirkan Priscilla justru tidak ada kemiripan sama sekali.

Dari itulah, Kevin tak lagi menyentuhnya. Ia bahkan tidak segan menolak anak Priscilla sebagai anaknya. Apa lagi kedatangan Salim sungguh membuat posisi Priscilla di rumah itu terancam.

"Tuan!" Salah satu pelayan yang melayani Salim menyapa Kevin saat laki-laki itu hendak ke kamar putranya.

"Bagaimana dengannya? Apa masih belum mau makan?" tanya Kevin padanya.

"Maafkan saya, Tuan. Sampai saat ini Tuan Muda masih belum mau memakan makanannya," jawabnya menunduk dalam-dalam.

Kevin gelisah, tidak tahu harus apa ia hanya merapatkan rahang hingga giginya berbunyi gemelutuk.

"Apa saja yang kalian lakukan? Kenapa membujuk satu orang anak kecil saja kalian tidak becus?!" bentak Kevin melampiaskan kekhwatiran dalam dirinya pada pelayan tersebut. Bukan marah, tapi Kevin mencemaskan keadaan Salim. Ia tidak ingin anak itu sampai sakit karena dari sejak dibawa masuk ke rumah, ia belum memakan apa pun.

Kevin melangkah dengan hati yang tak menentu. Salim tersenyum mendengar suara membentak Kevin karena tindakannya yang tidak mau memakan apa pun.

Pintu dibuka Kevin dengan pelan, ia harus meredakan gejolak hatinya terlebih dahulu sebelum memasuki kamar putranya. Dilihatnya Salim masih berdiri di dekat jendela. Matanya pula melirik nakas yang masih teronggok sarapan Salim masih utuh tak tersentuh.

Ia menghela napas menutup pintu perlahan dan melangkah mendekati Salim sembari membawa nampan makanan di tangan.

"Salim? Kau belum memakan sarapanmu? Mau Ayah suapi?" ucap Kevin lemah lembut. Ia berdiri di belakang Salim menunggu bocah itu bereaksi atas tawarannya.

"Jangan menyakiti dirimu sendiri, sayang. Ayah tidak ingin kau jatuh sakit karena tidak mau memakan apa pun di rumah ini. Ayo, makanlah dulu biar Ayah suapi," bujuk Kevin dengan sabar. Yah ... seperti itulah sebenarnya Kevin.

Untuk beberapa saat Salim masih bergeming, belum menunjukkan tanda-tanda yang ia akan menyahuti tawaran Kevin. Bocah enam tahun itu masih keras pada pendiriannya. Ia menunggu Sumayah datang menjemput ke rumah besar itu.

"Salim? Apa kau tidak suka bertemu Ayah? Apa kau tidak ingin tinggal bersama Ayah? Katakan sesuatu, Salim, apa kau tidak mau mengenal Ayahmu sendiri?" lanjut Kevin masih dengan nada membujuk untuk melemahkan hati Salim.

Salim memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sebelum membawa tubuhnya berbalik menghadap Kevin. Satu senyum hangat menyambut tatapan dinginnya.

"Salim? Buka mulutmu biar Ayah suapi," pintanya dengan senyum antusias sembari menggenggam sejumput nasi dan lauk di tangan.

"Aaaa ...."

"Apa kau mencintai Ibuku? Katakan, apa kau mencintai Ibuku? Ibu bilang Ayahku sangat mencintainya. Katakan padaku, apa kau mencintai Ibuku? Karena aku tidak ingin memakan apa pun dari tangan orang yang tidak mencintai Ibuku apa lagi ingin membunuhnya!"

1
zz
pembaca ikut tegang
Daliffa
menarik
Endang Sulistia
bagus thor
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Endang Sulistia
mantap Thor 👍👍👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Endang Sulistia
Kevin goblok...udah berapa taon masih aja blom safar2
Endang Sulistia
siro selingkuh kah...🤦🤦🤣🤣🤣
Endang Sulistia
pengen lindas si kevin
Raden
sedih banget🥹🥹🥹🥹
Raden
alhamdulilah akhirnya selamet dari kejaran orang orang zalim, deg deg kan juga bacanya
Raden
kuat kuat sumayah ayo semangat🥹🥹🥹
Raden
ya Alloh bikin dek dek kan critanya, banjir banjir air mata🥹🥹🥹
riiina
salut dengan tekad perjuangan Sumayah....
Aisy Hilyah: setiap ibu pasti akan seperti itu
total 1 replies
riiina
Aku pingin baca ini lagi kak Aisy....😊
Aisy Hilyah: silahkan kakak
total 1 replies
neur
kereeen 👍😎❤
Ra Jib
suka..
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Retno Elek
Luar biasa
Anonim
lafazkan terus nm allah ..
dzat pembawa kehidupan.
novel yg sgt bagus & menyentuh hati nurani prmpuan.
kk .. sgt hebat menuliskannya.
smg novel kk ini membawa rating tertinggi.
Aisy Hilyah: aamiin terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
YK
lari terus, capek...
YK
dasar penjilat...
Wiwin Wintarsih
ya ampun kenapa baru nemu cerita sekeren ini. 🥰👍👍👍👍
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!