Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Topeng di Pesta Amal
Topeng hitam itu menutup setengah wajah Anindya, tetapi tak bisa menyembunyikan bekas luka tipis di bahunya.
Ia menarik kain gaun sedikit lebih tinggi. Lima minggu sejak percakapan di rumah sakit telah membawanya melewati simulator, pemeriksaan medis penerbangan, dan penerbangan pendek di bawah supervisi. Ia sudah kembali bertugas terbatas. Kekuatan bahunya pulih, meski cuaca dingin masih membuat bekas patah tulang berdenyut.
“Undangan sudah diverifikasi hotel,” kata Sisi melalui earphone sebelum Anindya turun dari mobil. “Nama Bos hanya terlihat oleh kepala keamanan. Di daftar ballroom tertulis Tamu Sponsor Tujuh.”
“Pengawal?”
“Dua orang di lobi, sesuai perintah. Saya di ruang kendali hotel bersama panitia.”
“Jangan mengawasi percakapan pribadi tanpa alasan keamanan.”
“Siap, Bos.”
Ballroom hotel di SCBD dipenuhi cahaya emas dan ratusan wajah setengah tertutup. Malam amal bertema topeng itu mengumpulkan dana untuk rehabilitasi sekolah di daerah bencana. Adiwijaya menjadi penyandang dana utama, sementara media menunggu foto keluarga yang akan memimpin acara.
Anindya menyerahkan undangan digital kepada petugas, melewati pemeriksaan keamanan, lalu masuk tanpa diumumkan.
Topengnya merupakan koleksi amal lama merek KIMI yang dipinjam Ratih dari seorang teman desainer. Bentuknya sederhana, tanpa bulu atau batu besar. Cukup berbeda untuk menutupi wajah, tetapi tidak cukup mencolok agar orang bertanya.
Seorang pengelola yayasan menghampirinya setelah membaca kode sponsor pada kartu meja.
“Terima kasih atas donasi untuk pembangunan dua ruang kelas,” katanya. “Sponsor Tujuh juga meminta laporan penggunaan dana dibuka kepada orang tua murid. Itu tidak biasa untuk donor privat.”
“Uang amal tidak menjadi milik panitia hanya karena sudah diserahkan.”
“Kami setuju. Laporan pertama akan dikirim akhir bulan.”
“Pastikan foto anak-anak hanya dipakai dengan izin keluarga. Mereka penerima manfaat, bukan hiasan kampanye.”
Pengelola itu mengangguk serius. Anindya tidak datang hanya untuk mengamati musuh. Jika nama anonimnya membuka pintu ballroom, dana di balik nama tersebut tetap harus melakukan pekerjaan nyata.
Di ujung ruangan, Amara justru memastikan semua orang melihatnya.
Gaun peraknya memantulkan cahaya. Tangannya melingkar pada lengan Arka ketika mereka menyambut sponsor. Sri Wahyuni berdiri di sisi lain, tersenyum kepada kamera seolah dua keluarga sudah resmi dipersatukan.
“Setelah masa sulit di Merapi, kami ingin fokus pada harapan baru,” kata Amara kepada seorang reporter. “Arka dan saya juga sedang menata langkah berikutnya.”
Arka tidak mengiyakan. Ia hanya mengalihkan pembicaraan pada sekolah yang membutuhkan bantuan.
“Apakah malam ini sekaligus pengumuman tanggal pernikahan?” tanya reporter lain.
Amara tersenyum ke arah Arka. “Keluarga sudah membicarakan beberapa tanggal baik.”
“Belum ada tanggal yang disepakati,” potong Arka.
Senyum Amara tertahan. Sri Wahyuni cepat-cepat masuk ke percakapan.
“Anak-anak muda sekarang sibuk sekali. Kami para ibu hanya membantu persiapan.”
“Persiapan seharusnya dilakukan setelah ada persetujuan orang yang akan menikah,” kata Arka.
Kamera terus merekam. Amara merapatkan jarinya pada lengan pria itu, seolah sentuhan bisa menghapus kalimat yang baru saja terdengar.
Anindya menyesap air. Jawaban Arka di telepon ternyata bukan cara menenangkannya. Di depan media pun ia menolak mengakui tanggal yang dibangun dua keluarga tanpa persetujuannya.
Namun, ia masih berdiri di sana. Masih membiarkan Amara menggandengnya. Satu penolakan tidak menghapus seluruh panggung yang ia berikan.
Anindya mengambil air mineral dari pelayan. Ia mencatat siapa yang mendekati Sri Wahyuni, siapa yang menyebut proyek Grup Wicaksana, dan siapa yang menerima kartu nama dari Amara setelah kamera beralih.
Ia datang untuk melihat jaringan, bukan untuk menyaksikan calon pengantin berpura-pura bahagia.
Namun, matanya tetap menemukan Arka.
Pria itu tampak lebih kurus. Seragam kapten diganti tuksedo hitam, tetapi kelelahan di bawah matanya tidak hilang. Setiap kali Amara membicarakan rencana mereka, rahangnya menegang. Dua kali ia melepaskan lengan secara halus untuk menyapa tamu lain.
Pada kali ketiga, tatapan Arka menyeberangi ruangan dan berhenti tepat pada Anindya.
Jari Anindya mengencang pada gelas.
Topeng menutupi wajahnya. Rambutnya ditata berbeda. Namanya tidak ada di daftar tamu. Meski begitu, Arka menatap seperti sedang mengenali cara ia berdiri dengan beban lebih banyak pada kaki kiri.
Amara menyentuh lengannya lagi. “Arka, keluarga dari yayasan menunggu.”
Arka baru berpaling setelah beberapa detik.
Acara lelang dimulai. Salah satu barangnya adalah jaket penerbangan lama milik Arka, lengkap dengan foto saat ia membawa bantuan ke daerah gempa. Amara mengangkat papan penawaran pertama, lalu tertawa saat pembawa acara menyebut mereka pasangan paling dermawan malam itu.
Arka justru menaikkan tawaran atas nama Adiwijaya Airlines dan menyerahkan jaket tersebut kepada museum kecil sekolah penerbangan, bukan kepada Amara.
“Benda ini dibeli dari dana perusahaan,” katanya singkat. “Hasil lelang tetap untuk sekolah, tapi jaketnya harus bisa dilihat para siswa.”
Tepuk tangan terdengar. Amara menurunkan papan dengan wajah kaku.
Di earphone, Sisi berbisik, “Bos, ada dua orang media mencoba mencari nama Sponsor Tujuh. Panitia menolak sesuai perjanjian.”
“Bagus. Kalau mereka terus memaksa, saya pulang.”
“Jalur keluar sisi barat bersih.”
Anindya mengembuskan napas dan bergerak menuju sisi ballroom yang lebih sepi.
“Sendirian?”
Seorang pria bertopeng merah berdiri di sampingnya. Bau alkohol mendahului senyumnya.
“Saya sedang menunggu seseorang,” jawab Anindya.
“Sejak tadi saya lihat tidak ada yang datang.”
“Berarti Anda terlalu lama memperhatikan orang asing.”
Pria itu tertawa. “Tajam juga. Dari meja sponsor mana?”
“Permisi.”
Anindya melangkah pergi. Pria itu menghalangi jalannya.
“Jangan buru-buru. Saya cuma ingin kenalan.”
“Saya tidak ingin.”
“Kita semua pakai topeng. Kenapa tegang sekali?”
Tangannya menyentuh siku Anindya. Ia segera menepis.
“Jangan sentuh saya.”
Beberapa tamu menoleh, tetapi musik dan pidato pembawa acara menelan suara mereka.
Pria itu kehilangan senyum. “Saya tahu tipe perempuan seperti kamu. Datang sendiri ke pesta orang kaya, lalu pura-pura jual mahal.”
Anindya mengangkat ponsel untuk memanggil keamanan. Pria itu lebih cepat menangkap pergelangan tangannya.
Rasa sakit menjalar ke bahu yang pernah patah.
“Lepaskan.”
“Buka saja topengmu. Saya mau lihat siapa yang berani bicara begitu.”
Anindya memutar tubuh untuk melepaskan kunciannya, tetapi gaun panjang membatasi langkah. Ia menginjak kaki pria itu dengan tumit. Cengkeramannya longgar sesaat.
“Dasar perempuan...”
Ia meraih lagi, kali ini menuju wajah Anindya.
Di seberang ruangan, Arka melihat gerakan itu. Ia langsung meninggalkan kelompok sponsor. Namun, jarak dan kerumunan memisahkannya.
Amara memanggil dari belakang. “Arka, mau ke mana?”
Pria bertopeng merah menarik pergelangan Anindya lebih keras. Ujung jarinya sudah menyentuh pita topeng.
Sebuah tangan muncul dari samping dan menahan pergelangan pria itu sebelum pitanya terlepas.
“Pesta ini aturannya tidak boleh membuka topeng orang sembarangan, kan?” Suara rendah itu terdengar santai, hampir seperti sedang bercanda. “Atau undanganmu tidak mencantumkan bagian tentang sopan santun?”