NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

retak yang belum terlihat

Tiga bulan setelah perceraian itu, kehidupan Rangga di permukaan terlihat sempurna. Pertunangannya dengan Vania sudah diumumkan resmi ke media, foto-foto mereka menghiasi beberapa akun gosip bisnis lokal, dan posisinya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di PT Sentosa Abadi Grup semakin diperkuat oleh ayahnya sendiri, sang pemilik perusahaan.

Tapi di balik permukaan itu, ada retak kecil yang mulai terlihat—retak yang belum disadari siapa pun kecuali orang-orang yang cukup dekat untuk memperhatikan.

"Rangga," kata ayahnya, Pak Wijaya, suatu pagi di ruang kerja yang dipenuhi piala penghargaan bisnis keluarga. "Proyek apartemen di Kavling Timur itu, progresnya bagaimana? Investor sudah mulai menanyakan laporan triwulan."

"Masih berjalan sesuai rencana, Pa," jawab Rangga, meski nadanya sedikit ragu.

Kenyataannya, proyek itu tersendat sejak dua bulan lalu—bukan karena masalah teknis, tapi karena Vania, yang belakangan sering ikut campur dalam keputusan bisnis meski tidak punya latar belakang di bidang itu, memaksa mengganti kontraktor lama dengan kontraktor baru yang ternyata jauh lebih mahal dan lebih lambat.

"Vania bilang kontraktor barunya lebih bergengsi," Rangga pernah membela keputusan itu di depan timnya. "Biar hasil akhirnya lebih premium."

Timnya hanya diam saat itu—tidak ada yang berani membantah calon istri bos besar mereka.

Di sisi lain kota, di ruko kecil yang sekarang sudah dilengkapi dua komputer baru dan satu karyawan tambahan, Kirana dan Pak Hadi sedang merayakan pencapaian kecil: Roti Bu Darmi baru saja membuka cabang ketiga, kali ini di area perkantoran yang ramai jam makan siang.

"Omzetnya naik empat kali lipat dari bulan pertama kita masuk," kata Pak Hadi, menunjukkan laporan di layar laptop dengan bangga. "Belum pernah saya lihat usaha kecil berkembang secepat ini dengan modal seminim itu."

"Bukan cuma soal modal, Pak," jawab Kirana, mengingat catatan ayahnya yang selalu ia baca ulang setiap malam. "Ayah selalu bilang, bisnis kecil itu seperti tanaman—kalau akarnya dijaga baik-baik, dia akan tumbuh sendiri. Kita cuma perlu sabar dan nggak serakah di awal."

Keberhasilan Roti Bu Darmi membuat nama "K. Broto" semakin dikenal di kalangan pengusaha kecil-menengah kota itu. Dua UMKM lain datang meminta bantuan serupa—satu usaha kerajinan tangan yang kesulitan pemasaran, satu lagi usaha katering rumahan yang ingin berkembang tapi takut berhutang ke bank.

Kirana menerima keduanya, dengan prinsip yang sama: modal kecil, kepercayaan besar, dan kesabaran untuk tumbuh pelan-pelan tapi kokoh.

Suatu sore, saat Kirana sedang meninjau laporan usaha katering yang baru bergabung, ponselnya berdering. Nomor yang tidak ia kenal.

"Halo, dengan Kirana?" suara di seberang terdengar familiar, meski Kirana butuh beberapa detik untuk mengenalinya.

"Ini... Tante Ratna?" Kirana mengenali suara itu sebagai bibi dari pihak ibunya, yang sudah lama tidak berhubungan sejak pernikahannya dengan Rangga—keluarga besar Wijaya memang tidak suka Kirana terlalu dekat dengan keluarga dari pihak ibunya yang dianggap "kalangan biasa".

"Tante dengar kabar kamu diceraikan," kata Tante Ratna, suaranya penuh simpati. "Kenapa nggak cerita? Kamu sekarang tinggal di mana?"

Ada haru yang tiba-tiba muncul di dada Kirana. Selama lima tahun menikah, ia terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan dunia Wijaya sampai lupa bahwa ia masih punya keluarga sendiri—keluarga yang sederhana, tapi tulus.

"Aku baik-baik saja, Tante," jawab Kirana, suaranya sedikit bergetar. "Aku... lagi mulai usaha kecil-kecilan sekarang."

"Syukurlah kalau begitu," kata Tante Ratna. "Tante cuma mau bilang, kamu selalu boleh pulang ke sini kapan saja. Keluarga ini nggak pernah lupa sama kamu, Kirana, meskipun keluarga sana dulu selalu bikin kita jaga jarak."

Percakapan singkat itu menutup dengan janji untuk bertemu akhir pekan. Setelah menutup telepon, Kirana duduk diam sesaat, membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang jarang ia izinkan sejak malam perceraian itu: rasa dicintai, tanpa syarat, tanpa embel-embel status.

Sementara itu, di kantor PT Sentosa Abadi Grup, masalah proyek Kavling Timur akhirnya sampai ke telinga dewan direksi. Salah satu investor besar mengancam menarik dananya jika laporan triwulan berikutnya tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

"Kamu harus selesaikan ini, Rangga," kata Pak Wijaya, nada suaranya lebih tegas dari biasanya. "Reputasi perusahaan ini dipertaruhkan."

"Saya akan bicara dengan kontraktor, Pa," jawab Rangga, meski di dalam hati ia mulai menyadari bahwa keputusan mengganti kontraktor demi permintaan Vania mungkin adalah kesalahan besar pertamanya sebagai direktur.

Malam itu, saat Rangga pulang dengan wajah lelah, Vania menyambutnya dengan senyum manis sambil menunjukkan katalog gaun pernikahan.

"Sayang, lihat deh, mana yang paling cocok buat aku?" tanyanya, seolah tidak menyadari beban yang sedang dipikul Rangga.

Rangga menatap katalog itu sejenak, lalu menatap Vania—untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, sebuah perbandingan kecil yang muncul tanpa ia minta.

Dulu, saat Kirana masih di rumah itu, ia selalu tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus diam, kapan Rangga butuh ruang untuk memikirkan masalah kerja tanpa diganggu urusan lain. Kirana tidak pernah tampil semewah Vania, tapi ia selalu... hadir dengan cara yang tenang.

Rangga menggeleng cepat, mengusir pikiran itu. "Nanti kita bahas gaunnya, Van. Aku capek."

Vania mengerucutkan bibir, sedikit kesal, tapi tidak berkomentar lebih jauh.

Rangga masuk ke kamar, berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dengan pikiran yang penuh—proyek yang terancam gagal, investor yang mulai gelisah, dan satu pertanyaan kecil yang mulai menggerogoti benaknya tanpa ia sadari sepenuhnya:

Apakah keputusan menceraikan Kirana benar-benar keputusan yang tepat?

Ia belum tahu jawabannya. Yang ia tahu, retak-retak kecil di hidupnya yang tampak sempurna itu, perlahan mulai terlihat—satu per satu.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!