NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PERSAHABATAN ORANG TUA

Bagian 1: tetangga sebelah sahabat selamanya.

Yogyakarta, 2013.

Langit sore Yogya selalu punya caranya sendiri untuk membuat siapa pun jatuh cinta. Warnanya jingga kemerahan, teduh, diiringi angin sepoi-sepoi yang berembus pelan melewati deretan rumah berarsitektur klasik di sebuah kompleks asri kawasan pinggiran kota. Anak-anak kecil riuh berlarian mengejar bola plastik, sementara beberapa ibu rumah tangga menikmati senja di teras sambil bertukar cerita.

Di sudut kompleks itu, ada dua bangunan yang tak pernah sepi. Rumah keluarga Fernansyah dan rumah keluarga Adhitama.

Dua rumah bersejarah itu berdiri berdampingan, hanya dipisahkan pagar besi setinggi pinggang berwarna putih yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Pagar itu lebih sering dibiarkan terbuka lebar daripada terkunci. Menandakan betapa tidak adanya sekat di antara dua kepala keluarga di sana.

"Bu, Arga berangkat dulu!" teriak seorang remaja laki-laki seraya terburu-buru menyengkelit sepatu prapatan tebalnya.

"Jangan ngebut, Arga! Helm dipasang!" sahut ibunya setengah berteriak dari balik jendela dapur.

"Siap, Kanjeng Ratuu!"

Remaja itu menyampirkan ranselnya di satu bahu, lalu mendorong pagar besi yang berderit pelan. Baru dua langkah kakinya menapak di atas paving blok, pintu rumah sebelah mendadak terbuka.

"Masih sempat, kan?"

Arga menghentikan langkah. Ia menoleh, mendapati seorang gadis berseragam putih-abu-abu berlari-lari kecil sambil sibuk merapikan jilbab putih nya yang agak berantakan.

"Nadira?" Arga menaikkan sebelah alisnya. "Lama banget, sih. Kebiasaan."

"Nyalahin alarm, lah! Tadi mati lampu, jam wekerku mendadak mati," elak gadis itu membela diri, sedikit napasnya terengah.

Arga menggelengkan kepala pelan, terkekeh sinis namun pandangannya hangat. "Naik motor aja, yuk?

Udah pepet jam bel, nih."

"Nanti dimarahin Papa. Katanya belum cukup umur," tolak Nadira cepat.

"Yaudah, jalan kaki. Tapi kalau dihukum lari keliling lapangan, kamu yang tanggung jawab ya."

Mereka akhirnya berjalan berdampingan menyusuri gang kompleks menuju gerbang utama. Langkah kaki mereka saling bersahutan secara alami, menciptakan irama yang sudah dihafal oleh jalanan kompleks itu bertahun-tahun lamanya.

Beginilah ritme pagi mereka. Selalu ada Arga, dan selalu ada Nadira. Lahir berdekatan. Tetanggaan sejak bayi. Sekolah di tempat yang sama, dan puncak kesialan atau keberuntungan mereka selalu terjebak di kelas yang sama.

SMA Negeri favorit di tengah Kota Yogyakarta pagi itu mulai riuh.

Arga Fernansyah adalah tipe cowok yang kehadirannya tak pernah bisa diabaikan. Tingginya di atas rata-rata anak seusianya, kapten tim basket, dan namanya langganan dipanggil guru piket bukan karena nakal berat, melainkan karena tingkah ajegnya yang tidak bisa diam seminit pun.

Berseberangan dengan itu, Nadira Adhitama adalah definisikan 'anak emas' para guru. Juara umum kelas, pengurus aktif organisasi, dan terkenal ramah nan anggun.

Namun, semua predikat 'anggun' dan 'kalem' milik Nadira akan menguap begitu saja tanpa sisa jika Arga sudah mulai bertingkah.

"Arga! Balikin buku catatan gue, nggak?!" pekik Nadira, melupakan citra siswi teladan demi mengejar cowok yang sedang melambaikan buku sampul cokelat di atas kepala.

"Kejar dulu! Lagian pelit banget, cuma mau liat tugas sejarah doang!" balas Arga santai sambil berlari kecil menjauhi jangkauan tangan Nadira.

"Arga, sumpah ya, nyebelin banget!"

Langkah patuh dan teriakan mereka memenuhi koridor kelas tiga. Teman-teman yang bersandar di dinding koridor hanya memandangi pemandangan itu sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Duh, kalian berdua tuh ya... besok kalau gede nikah aja sekalian. Daripada berantem terus," seloroh salah satu teman kelas mereka dari pintu depan.

"Ih, amit-amit jabang bayi!" seru Nadira spontan, menepok jidatnya sendiri.

Arga yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan memutar badan, menyahut tak kalah sengit, "Siapa juga yang mau sama cewek galak kayak kamu!"

Mereka saling melotot tajam. Udara di antara mereka mendadak tegang selama tiga detik.

Lalu...

Bffft.

Keduanya meledak dalam tawa yang sama. Pertengkaran itu menguap begitu saja, digantikan oleh cengiran tanpa beban khas remaja belasan tahun.

Sore harinya, matahari mulai meredupkan sinarnya.

Seperti hari-hari biasa, pos ronda kayu di depan kompleks menjadi saksi bisu tumbuh kembang mereka. Tempat itu sudah menjelma menjadi markas pribadi. Ada meja kayu tua yang penuh coretan, beberapa kursi plastik warna biru, dan warung kelontong milik Bu Siti tepat di seberangnya.

"Bu Sitiii!" panggil Arga setengah berteriak, menyadarkan wanita paruh baya yang sedang merapikan dagangan.

"Iya, Ga? Apa lagi?"

"Es teh dua ya, Bu!"

"Utang lagi?" tanya Bu Siti sambil menyipitkan mata, berkacak pinggang.

Arga memamerkan deretan giginya yang putih. "Nanti dibayar pas uang saku minggu depan cair, Bu. Suwer!"

Bu Siti hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Halah, gaya kamu. Ya sudah, ditunggu."

Nadira yang duduk di sampingnya langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Malu-maluin banget, sih, Ga."

"Malu kenapa, coba?"

"Gaya doang sok gagah, jajan es teh aja utang."

"Elah, yang penting dicatat. Prinsip pengusaha itu: arus kas harus tetap berputar, Nad," jawab Arga asal-asalan, mengacak rambutnya sendiri.

"Halah, alasan. Catatan utangmu di Bu Siti itu udah sejilid novel tau nggak!"

Tak lama, dua kantong plastik es teh dengan sedotan merah mendarat di meja.

Arga dan Nadira meminumnya dalam diam, menikmati semilir angin sore sambil menyaksikan anak-anak kecil yang mulai kelelahan bermain sepak bola di lapangan tanah tak jauh dari sana.

"Aku pengen kuliah di luar Jogja," letup Nadira tiba-tiba. Suaranya pelan, menyelinap di antara suara jangkrik yang mulai bersahut-sahutan.

Arga menghentikan sedotannya. Matanya beralih menatap samping wajah Nadira. "Serius?"

"Iya."

"Ke mana?"

"Belum tahu pasti. Mungkin Jakarta, atau Bandung. Pengen cari suasana baru aja."

"Kalau jauh banget?"

"Ya... dijalanin. Kan udah gede," gumam Nadira halus, menatap lurus ke depan.

Arga terdiam sejenak, menatap es teh di tangannya sebelum mengangguk pelan. "Bagus, sih. Kamu emang pinter, sayang kalau cuma mendekam di sini terus."

"Kamu sendiri gimana?" tanya Nadira balik, menolehkan kepalanya. "Mau ke mana habis lulus nanti?"

"Aku?" Arga terkekeh hambar. "Ayah pengennya aku nerusin usaha bengkel dan furnitur keluarga."

"Terus kamu maunya apa?"

"Aku... pengen jadi arsitek."

Nadira membelalakkan matanya kaget. "Hah? Arsitek? Bukannya cita-citamu jadi pemain basket nasional?"

"Basket itu hobi, Nad," sahut Arga santai, ada kilat keseriusan yang jarang terlihat di matanya.

"Tapi merancang bangunan... menggambar sesuatu yang nantinya bakal ditempati orang banyak dan bertahan puluhan tahun? That's my dream."

Nadira tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang membuat matanya menyipit indah. "Baru tahu aku."

"Soalnya kamu nggak pernah nanya," goda Arga.

"Kamu juga nggak pernah cerita!" balik Nadira menonjok lengan Arga pelan.

Mereka kembali terdiam. Hening, namun tidak canggung.

Inilah mereka. Sebuah bentuk persahabatan murni yang terikat oleh waktu dan kebiasaan. Tidak perlu pamer, tidak perlu jaim, dan tidak ada batasan palsu di antara mereka.

Malam menancapkan kekuasaannya. Lampu teras dari dua rumah yang berdampingan itu menyala terang, membiaskan cahaya kekuningan ke arah jalanan yang mulai sepi.

Arga duduk bersila di atas tembok pagar pembatas rumahnya, jemarinya memetik senar gitar akustik secara acak.

Tak lama kemudian, pintu rumah sebelah berdecit. Nadira keluar membawa dua cangkir mug berisi susu cokelat hangat yang berasap tipis.

"Nih," sodor Nadira.

"Buat aku?"

"Bukan, buat hantu pohon mangga. Ya buat kamulah!"

Nadira mendesis gemas lalu duduk di tangga teras, bersandar pada tembok pagar.

"Makasih, ya," kata Arga, menerima cangkir itu lalu menyeruputnya pelan.

"Kok diam aja? Lanjutin main gitarnya."

Arga kembali memetik senar. Sebuah melodi sederhana nan lembut mengalun, menyatu sempurna dengan ketenangan malam Yogyakarta. Beberapa tetangga yang baru pulang dari masjid berjalan melintasi rumah mereka dan tersenyum maklum.

"Masih nongkrong aja, Ga, Nad?" sapa Pak RT yang lewat.

"Iya, Pak. Nyari angin malam," balas Arga ramah sambil melambaikan tangan.

"Hampir tiap malam ya kalian ini," kekeh beliau sebelum berlalu.

Memang benar. Hampir setiap malam, di batas pagar inilah tempat mereka menumpahkan segalanya.

Tentang nilai ulangan yang hancur, tentang cita-cita setinggi langit, tentang film yang baru dirilis di bioskop, hingga tentang masa depan yang masih remang-remang.

Bahkan kadang... tentang tipe pasangan impian masing-masing.

"Nad," panggil Arga pelan di sela petikan gitarnya.

"Hm?"

"Kalau nanti kamu nikah... pengen dapet cowok yang kayak gimana?"

Nadira menengadahkan kepalanya, menatap deretan bintang yang tersebar samar di langit malam. Ia berpikir cukup lama sebelum menjawab, "Yang baik. Yang nggak gampang nyerah."

Arga tertawa kecil. "Cuma gitu doang? Singkat amat."

"Ya lagian ngapain rumit-rumit? Yang penting baik," jawab Nadira jujur. "Kalau kamu sendiri gimana?"

"Aku?" Arga menghentikan petikan gitarnya, menatap Nadira dalam-dalam di bawah temaram lampu teras.

"Aku pengen cewek yang ekstra sabar."

"Kenapa harus yang sabar?"

"Soalnya ngadepin aku itu susah, Nad. Cuma cewek sabar yang nggak bakal kabur di hari pertama."

Tawa ceria Nadira pecah seketika, disusul oleh tawa Arga yang ikut menggema di sunyinya malam.

Mereka tertawa bersama, tanpa sedikit pun menyadari...

Bahwa takdir di masa depan adalah misteri yang paling kejam sekaligus indah. Bahwa beberapa tahun dari malam ini, arus kehidupan akan membawa

langkah mereka ke persimpangan jalan yang berbeda.

Namun, benang merah dan ikatan rapat antara dua keluarga itu tidak akan pernah benar-benar terputus.

Nadira menunduk, memandangi deretan soal Matematika tentang limit fungsi yang rasanya seperti deretan kode rahasia. Pensil di jemarinya terantuk-antuk pada permukaan kertas. Sesekali ia merapikan rambutnya yang terjatuh melintasi pipi, lalu mengembuskan napas panjang hingga poni depannya bergoyang.

"Arga..." panggil Nadira lagi, kali ini dengan nada menyerah.

"Apa?" Arga menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari buku Fisika miliknya.

"Nomor empat ini maksudnya gimana sih? Gue udah muter-muter pakai rumus turunan, tapi jawabannya malah jadi minus tak hingga. Mana ada angka begitu di pilihan ganda..."

Arga menghentikan ketukan bolpoinnya. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Wangi samar sabun mandi yang khas dari tubuh Argan tercium oleh Nadira aroma yang selalu terasa familiar dan menenangkan sejak mereka kecil.

Arga menarik buku catatan Nadira mendekat ke arahnya. Matanya yang tajam membaca kilat setiap baris corat-coret tangan Nadira yang agak berantakan.

"Ini," tunjuk Arga dengan ujung bolpoinnya pada baris ketiga. "Lu salah masukkan pemfaktoran di bagian penyebutnya. Harus ganti tanda."

Nadira mendekatkan wajahnya ke buku, mengamati bagian yang ditunjuk Arga. "Eh? Mana? Oh... astaga, iya! Kok gue bisa salah tanda plus-minus gini sih?"

"Makanya konsentrasi. Jangan ngelamun terus," kata Arga pelan.

"Gue nggak ngelamun ya! Gue cuma... mikir," elak Nadira sambil cengengesan kecil. Ia mengambil penghapus lalu membersihkan coretan yang salah, membiarkan remah-remah penghapus berserakan di atas tikar pandan.

Arga menatap Nadira dari samping. Di bawah temaram cahaya lampu teras yang kekuningan, raut wajah Nadira terlihat begitu jelas. Ada ketulusan yang polos di mata gadis itu, tipe kepribadian yang selalu mengungkapkan apa pun yang dirasakannya tanpa ditutup-tutupi.

"Lu tadi tanya kan..." Arga tiba-tiba bersuara lagi. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh derik jangkrik di pekarangan.

Nadira menoleh. "Tanya apa?"

"Soal cewek yang sabar."

"Oh." Nadira menegakkan punggungnya, tertarik. "Kenapa? Lu nemu contohnya?"

Arga memutar-mutar bolpoin di antara jemarinya dengan lihai. "Lu salah kalau mikir nggak ada cewek yang bisa sabar terus."

"Dih, emang ada?" Nadira memicingkan mata, menantang. "Siapa? Coba sebutin satu aja. Nyokap gue aja yang kelihatan anggun dan sabar banget kadang bisa ngomel kalau Papa lupa taruh handuk basah di kasur."

Arga tersenyum tipis jenis senyuman langka yang selalu berhasil membuat suasana hati Nadira mendadak tenang.

"Ada," jawab Arga singkat.

"Siapa?"

"Cewek yang rela nungguin cowok cuek kayak gue, yang sering ngilang tanpa kabar gara-gara sibuk latihan, tapi pas ketemu masih mau ngajakin belajar bareng di atas tikar kusam gini."

Nadira terdiam seketika.

Suasana di antara mereka mendadak hening. Angin malam berembus lagi, memainkan sudut-sudut kertas buku mereka yang terbuka. Nadira merasa kedua pipinya mendadak menghangat. Ia tahu betul siapa yang sedang dibicarakan oleh Arga, tetapi lidahnya mendadak kelat untuk membalas dengan nada bercanda seperti biasanya.

Nadira buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke buku Matematika, berpura-pura sibuk menghitung ulang pemfaktoran yang tadi salah.

"I-itu mah bukan sabar..." bisik Nadira lirih, usahanya untuk terlihat santai gagal total karena suaranya sedikit bergetar. "Itu mah... kasihan aja sama lu, makanya ditemanin."

Arga tidak tertawa. Ia hanya menatap sisi wajah Nadira yang kini merona merah, lalu terkekeh sangat pelan dalam dadanya.

"Terserah lu mau sebut itu apa," kata Arga seraya menyandarkan punggungnya ke tembok teras yang dingin. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Yang penting, buat gue... cewek itu ada. Dan dia lagi duduk di samping gue sekarang."

Nadira menggigit b1b1r bawahnya rapat rapat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari ritme normal. tanpa berani menoleh lagi ke arga, ia memegang pensil nya erat erat diatas kertas walaupun sebenarnya, konsentrasi sudah buyar sepenuhnya sejak kalimat terakhir arga tadi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!