Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Dipecat
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Kalian jadi anak yang baik ya, nurut sama mami!"
Ayuna memutuskan pergi dari rumah orang tua angkatnya dan mengontrak di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Ia tidak tahu seperti apa kedepannya, tapi ia yakin dengan semangat yang dimilikinya ia mampu melewati setiap ujian dikehidupannya.
"Mami, kami janji akan menjadi anak yang baik. Kami juga janji tidak akan nakal," cicit Kenzie si bungsu yang memiliki sifat cenderung pendiam.
"Terkecuali kalau kami diganggu," sungut Kenzo si bungsu yang terkesan dingin tak tersentuh.
Ayuna menarik napas dan berjongkok di depan kedua anaknya. Mereka masih cukup kecil untuk diajari bersikap dewasa, bahkan diusia mereka yang masih dini harus diajari hidup mandiri, rasanya cukup menyedihkan, tapi apa yang bisa dilakukannya? Hidup bersama orang lain tak seperti hidup bersama keluarga sendiri, mereka menganggap keberadaannya sebagai beban, bahkan tak segan mereka menganggap anak-anaknya sebagai anak haram pembawa sial.
"Sayang, kita di sini nggak punya siapa-siapa. Mami harap kalian harus bisa menjaga diri dengan baik, jangan sampai mengusik ketenangan orang lain, apalagi sampai membuat masalah. Mami nggak selalu ada buat kalian, jadi kalian harus jaga diri dengan baik ya? Ingat pesan mami, jangan nakal."
Dua bocah itu mengangguk. "Kami mengerti mam!"
Ayuna menarik bibirnya memaksa tersenyum. Tangannya mengusap surai kedua putranya dengan mata berkaca-kaca. "Anak pintar."
Cuaca pagi itu tidaklah mendukung. Gerimis datang tiba-tiba dan membuatnya agak susah untuk sampai ke kantor. Sedangkan anak-anaknya masih belum beradaptasi dengan lingkungan sekitar, ditambah lagi mereka masih harus pindah sekolah di tempat yang baru.
"Mami yakin mau pergi?" tanya Kenzie yang terlihat murung didik di teras depan sembari memandangi air hujan yang berjatuhan dari langit.
"Iya sayang, kalau mami nggak kerja bisa-bisa mami bakalan dipecat. Kalau sampai dipecat memangnya mami mau cari kerja di mana lagi," bantah Ayuna.
"Tapi kan hujan mam," cicitnya. " Nanti mami bisa sakit loh!"
"Heh, Kenzie!" Kenzo berdecih dengan tatapan tajamnya. "Mami itu kerjanya di kantor, kalau nggak kerja professional mami bakalan dipecat. Kalau sampai mami dipecat memangnya kita masih bisa bertahan hidup? Kita mau makan apa coba?"
Kenzie mengerucutkan bibirnya. "Abang kok gitu sih, desisnya. "Memangnya Abang nggak kasihan sama mami? Ini kondisinya lagi hujan bang! Kalau mami sakit gimana coba? Jika saja aku sudah besar, aku tidak akan mengizinkan mami bekerja! Biar aku saja yang cari uang! Mami di rumah saja."
Ayuna terkekeh dengan mencemol pipinya gemas. "Anak baik," cicitnya. "Terimakasih sayang, kalian sangat peduli sama mami. Tapi untuk menunggu kalian dewasa itu masih terlalu lama. Kalian aja masih duduk di bangku sekolah TK, masih terlalu jauh menunggu kalian dewasa. Sudahlah, nggak usah terlalu memikirkan mami, mami baik-baik saja kok!"
Ayuna beranjak untuk menyiapkan sarapan. Pagi itu ia sengaja bangun lebih awal. Niatnya ingin mendaftarkan kembali anak-anaknya ke sekolah baru sebelum pergi ke kantor.
"Ayo kalian sarapan dulu sayang!"
Ayuna menggelar karpet di lantai dan menaruh dua piring berisi nasi goreng.
"Loh, kok cuma dua? Punya mami mana? Mami nggak makan?" tanya Kenzie yang hanya mendapati dua piring nasi goreng.
"Mami belum lapar sayang, ini buat kalian aja. Mami buru-buru mau ke sekolah baru kalian buat mengurus pemindahan kalian, setelah itu langsung pergi ke kantor. Kalian di rumah saja ya?"
Dengan mengaduk-aduk makanannya Kenzo memprotes. "Jadi kita nggak ikutan mam?"
"Enggak sayang, cukup mami aja. Mungkin besok atau lusa kalian sudah bisa belajar di sekolah baru."
Ayuna meraih tas kerjanya dengan memberinya nasehat. "Ingat pesan mami, kalau sudah pindah di sekolah baru jangan sampai membuat ulah. Jadilah murid yang baik, jangan buat mami malu!"
"Hm..., siap mam," jawab mereka dengan serempak.
"Yaudah, sekarang mami pergi dulu ya," cicitnya dengan mengecup kening mereka bergantian. "Jangan keluar rumah, biarpun ada yang mengetuk pintu jangan dibuka. Kalian diam saja di dalam, tunggu sampai mami pulang!"
Seandainya saja masih memiliki keluarga yang lengkap mungkin kehidupannya tak serapuh ini. Bahkan ia harus meninggalkan anak-anaknya pergi bekerja seharian penuh tanpa adanya pengawasan. Sungguh, ini bukanlah pilihan yang tepat. Andai saja ia tidak terlibat skandal dengan pria asing mungkin anak-anaknya tidak menjadi korban.
****
Satu jam telah berlalu. Ayuna sudah menyelesaikan urusannya dengan guru di sekolah baru anaknya, kini dia menuju kantor dengan kondisi hujan-hujanan. Semua pegawai kantor sudah berkumpul, hanya sisa waktu tiga menit jam kerja sudah dimulai.
"Ayuna! Apa-apaan kau ini?! Niat kerja nggak sih?"
Pak Iwan, selaku line manager menatapnya dingin dengan mengomelinya. Diantara timnya hanya Ayuna yang selalu datang terlambat. Baginya waktu lebih penting dibandingkan alasan apapun.
"M—maaf pak, saya tadi~~
"Saya tidak butuh alasanmu," bantahnya. " Saya butuh karyawan yang bisa menghargai waktu! Kalau kamu tidak bisa menghargai waktu, maka jangan salahkan saya jika harus bertindak tegas!"
Bola mata Ayuna membulat. "M—maksud Bapak?"
"Ya kamu dipecat!"
Ayuna menggeleng. "A—apa? Saya dipecat?" Tubuh Ayuna membeku bagaikan patung kayu. "Pak, tolong jangan pecat saya, pak! Saya butuh pekerjaan ini. Lagipula saya nggak terlambat, hanya sisa waktu tiga menit."
Iwan menarik ujung bibirnya. "Mungkin sekarang kurang tiga menit, tapi besok? Bisa jadi besok terlambat lima menit atau bahkan satu jam! Kau itu sering terlambat, Ayuna! Apa kau pikir ini perusahaan nenek moyangmu?"
Ayuna mencebikkan bibirnya dengan menggumam lirih. 'kalau ini perusahaan nenek moyangku kamulah yang pertama kupecat, pak Iwan! Jadi manager aja belagunya minta ampun!'
Pria itu meliriknya jengkel. "Ngapain masih berdiri di situ! Ayo cepat masuk!"
"B—baik pak!"
Ayuna langsung bergegas menuju kubikelnya. Di sana dia bergabung bersama teman-teman satu timnya.
"Ayuna, kamu dimarahi lagi sama pak Iwan?" tanya Mila, teman yang cukup dekat dengannya.
"Hm..., pria itu cukup menjengkelkan," cicit Ayuna. "Padahal aku nggak terlambat, tapi mau pecat aja!"
"Tapi nggak sampai di pecat kan?" Mila terkekeh menanggapinya.
"Enggak! Tapi dia gunakan ancaman buat pecat aku!"
Tawa Mila terdengar cukup keras meledek. "Dia itu sebenarnya naksir sama kamu Yun, asalkan kamu mau jadi istrinya hidupmu bakalan aman!"
Refleks Ayuna menonyor pelipisnya gemas. "Kau pikir aku mau dijadikan istri atau simpanannya? Sekalipun aku bukan wanita berkelas aku tak sudi punya suami cerewet macam dia!"
Brak!!
Suara cukup keras terpelanting di mejanya. Seorang wanita dengan tatapan sinis melemparkan map tebal dengan mengomel.
"Ini jam kerja! Kalau masih ngobrol lebih baik keluar!"
Semua orang menunduk, termasuk Ayuna.
"Sebentar lagi pimpinan baru kita berkunjung kemari. Beri sambutan hangat untuknya, jangan pernah menyinggungnya, atau hidup kalian tak tenang!"