Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
Seharian kemarin, Naya melakukan aksi mogok makan dan mengurung diri di kamar. Ia berharap sikap keras kepalanya akan membuat Ayah luluh, atau setidaknya mau mempertimbangkan kembali keputusan gila yang tercetus kemarin sore. Namun, pertahanan Naya hancur berantakan saat Ibu masuk ke kamarnya membawa gaun terusan warna krem polos yang anggun, lengkap dengan wajah memelas yang tidak bisa Naya tolak.
"Tolong, Naya... sekali ini aja turuti kata Ayah," bisik Maya lembut sembari mengelus rambut putrinya. "Ini bukan cuma soal janji. Keadaan keluarga kita dan keluarga Om Adrian sedang... rumit. Kamu akan mengerti nanti. Untuk malam ini, kita makan malam bersama dulu, ya?"
Dan di sinilah Naya sekarang.
Duduk canggung di ruang makan kediaman keluarga Pradipta yang megah, berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahnya. Meja makan dari kayu mahoni berukir itu dihiasi berbagai hidangan mewah yang aroma harumnya biasanya sanggup membuat perut Naya berbunyi nyaring. Namun detik ini, tenggorokannya terasa begitu sempit hingga menelan ludah pun rasanya sakit.
Naya menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada motif serbet kain di pangkuannya. Di sebelahnya, Ayah dan Ibu sedang mengobrol ramah dengan Om Adrian Pradipta—seorang pria paruh baya berwibawa dengan kacamata berbingkai tipis—serta Tante Elena, istrinya yang tampil sangat anggun dengan senyum hangat yang tak pernah pudar.
"Naya sudah makin besar ya, Raka. Cantik sekali, persis Maya waktu muda dulu," puji Tante Elena, membuat Naya menyunggingkan senyum paksa yang teramat kaku.
"Iya, Elena. Tapi sifat keras kepalanya murni diturunkan dari Raka," sahut Maya terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana yang Naya buat begitu tegang.
"Anak laki-laki kami juga sama keras kepalanya," Om Adrian menyela sambil menatap tangga melingkar di sudut ruang makan. "Arka mana, Ma? Kok belum turun? Padahal tadi katanya cuma mau ganti baju sebentar."
"Sebentar ya, Pa. Tante panggilkan dulu—"
"Tidak perlu, Ma. Arka sudah turun."
Suara bariton yang teratur, tenang, dan teramat familier itu membuat tubuh Naya menegang seketika.
Naya refleks mendongak. Dari arah tangga, seorang laki-laki berjalan santai menghampiri meja makan. Arka sudah melepaskan serbagam sekolahnya. Kini ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya yang biasa disisir rapi agak sedikit berantakan secara alami, memberikannya kesan yang jauh lebih santai dibanding penampilannya di sekolah.
Namun bagi Naya, Arka tetaplah Arka: si manusia kaku yang menyebalkan.
Arka membungkuk sopan menyalami Raka dan Maya. "Maaf, Om, Tante... Arka terlambat turun. Tadi baru selesaikan beberapa berkas OSIS untuk besok."
"Tidak apa-apa, Arka. Kamu memang selalu rajin," puji Raka penuh kebanggaan yang membuat Naya di dalam hati ingin muntah.
Saat Arka memutar tubuhnya untuk duduk di kursi yang berseberangan tepat dengan Naya, pandangan mata kedua remaja itu akhirnya bertemu.
Clang!
Naya yang sedang memegang gelas tangkai berisi air putih secara tidak sengaja menyenggol tepi piring, menciptakan suara berdenting yang cukup nyaring. Jarinya gemetar hebat. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut dan kebencian yang berkobar-kobar.
Di sisi lain, Arka yang tadinya hendak menarik kursinya mendadak membeku. Ekspresi wajanya yang biasanya selalu tenang bagaikan permukaan danau tanpa angin, runtuh seketika. Ujung alisnya bertaut tajam. Pipinya menegang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Naya melihat Arka Pradipta melotot tak percaya.
"K-kamu...?" bisik Arka pelan, hampir tak terdengar.
"Lo...?!" balas Naya dengan nada yang ditahan di tenggorokan, giginya menggeretuk sengit.
"Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Tante Elena sumringah, matanya berbinar melihat reaksi kedua remaja di hadapannya.
"Tentu saja kenal, Ma," jawab Om Adrian sambil terkekeh. "Mereka kan satu sekolah. Satu angkatan lagi. Pasti sering ketemu."
"Bukan cuma sering ketemu, Om," potong Naya cepat, tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia menegakkan punggungnya, menatap Raka dan Om Adrian secara bergantian. "Kita berdua itu musuh di sekolah! Dia ketua OSIS yang tiap hari nulis nama Naya di buku pelanggaran, dan Naya adalah orang yang paling benci sama aturan-aturan konyol dia!"
"Naya! Jaga bicaramu!" tegur Raka dengan suara menekan.
"Tapi ini beneran, Yah!" seru Naya meluapkan kekesalannya. Ia menunjuk Arka dengan jari telunjuknya. "Ayah minta Naya nikah sama dia? Sama cowok kaku yang nggak punya perasaan ini?! Mending Naya nggak usah nikah seumur hidup!"
Arka yang tadinya sempat syok, kini kembali menguasai dirinya. Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya menatap ayahnya sendiri dengan raut dingin.
"Papa tidak bercanda, kan?" suara Arka terdengar sangat datar, namun ada nada penolakan yang sangat kuat di sana. "Perjodohan yang Papa maksud sejak minggu lalu... adalah dengan dia?"
"Arka, dengarkan Papa dulu—"
"Pa, ini gila," potong Arka tegas. Ia melipat kedua tangannya di dada, membalas tatapan tajam Naya tanpa rasa takut sedikit pun. "Naya ini siswi paling bermasalah di angkatan kami. Dia kekanak-kanakan, emosional, tidak disiplin, dan sama sekali tidak bisa diajak bicara baik-baik. Bagaimana bisa Papa berpikiran untuk menjodohkan Arka dengan cewek seperti dia?"
"Apa lo bilang?!" Naya berdiri dari kursinya, mengebrak meja makan pelan. "Gue bermasalah?! Lo yang robot! Lo yang nggak punya empati! Lo pikir gue sudi dijodohin sama cowok kaku yang hidupnya cuma berdasarkan buku tata tertib sekolah?! Muka lo emang ganteng, tapi kelakuan lo bikin enek!"
"Naya Aurelia! Duduk!" bentak Raka, suaranya menggelegar di ruang makan.
"Arka, jaga katakatamu pada calon istrimu!" Om Adrian menimpali dengan nada tak kalah tegas.
Suasana ruang makan yang tadinya hangat langsung berubah menjadi medan perang. Maya hanya bisa memegang pelipisnya sambil mengelus dada, sementara Tante Elena justru menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang anehnya muncul melihat dinamika heboh di depannya.
"Naya, duduk," ulang Raka dengan tatapan mata yang tidak menerima bantahan.
Naya menghentakkan kakinya kesal, lalu membanting tubuhnya kembali ke kursi. Dadanya naik turun, membusungkan amarah yang meluap-luap. Di depannya, Arka menyandarkan punggungnya di kursi, memalingkan wajah ke arah lain sambil mengurut pangkal hidungnya. Tampak jelas bahwa cowok itu juga sedang dilanda stres berat.
Om Adrian terbatuk pelan untuk meredakan ketegangan. "Ehem... Arka, Naya. Papa tahu ini mengejutkan buat kalian berdua. Apalagi kalian sudah punya pandangan tersendiri tentang satu sama lain di sekolah. Tapi keputusan ini bukan dibuat tanpa alasan."
"Alasan apa, Om?" tanya Naya tajam. "Kalau soal perusahaan atau bisnis, kenapa harus tumbalin kita berdua?"
"Ini bukan soal bisnis, Naya," sahut Raka tenang namun dalam. "Ini soal rasa tanggung jawab dan perlindungan. Kakek kalian berdua dulu punya perjanjian besar. Dan situasi keluarga saat ini menuntut janji itu harus ditepati sekarang. Kami tidak meminta kalian untuk langsung saling mencintai malam ini."
"Bahkan sampai kiamat pun nggak bakal terjadi, Yah," gumam Naya sinis.
"Arka," Om Adrian menatap putra sulungnya serius. "Sebagai laki-laki dan ketua OSIS yang selalu kamu banggakan itu, Papa harap kamu bisa dewasa menghadapi ini. Ini bukan sekadar tugas sekolah yang bisa kamu tolak kalau kamu tidak suka. Ini keputusan keluarga."
Arka memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik. Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya terkunci pada Naya. Ada rasa frustrasi yang sangat dalam di manik mata hitam itu, namun juga ada kepasrahan terselubung yang perlahan muncul. Arka tahu betul tabiat papanya; jika Adrian Pradipta sudah mengambil keputusan bersama Raka, tidak ada benteng argumen apa pun yang bisa meruntuhkannya.
"Kalau memang tidak bisa dibatalkan..." Arka bersuara, nadanya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Naya meremang. "...Arka punya syarat."
Naya menaikkan sebelah alisnya. "Gue juga punya syarat! Jangan pikir cuma lo yang punya hak buat nawar!"
Tante Elena tersenyum tipis, bertopang dagu menatap kedua anak remaja itu. "Wah, lihat Pa... baru ketemu sebentar saja mereka sudah punya kesepakatan bersama."
"Bukan kesepakatan, Tante! Ini gencatan senjata!" selak Naya cepat.
Arka tidak memedulikan pancingan Naya. Ia menatap ayahnya lurus-lurus. "Pernikahan ini harus dirahasiakan dari siapa pun. Tidak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu. Baik guru, teman-teman, maupun anggota OSIS."
Naya menahan napasnya. Untuk pertama kalinya dalam malam yang mengerikan ini, ia setuju seratus persen dengan ide Arka.
"Kalau sampai ada yang tahu..." Arka melirik Naya dengan tatapan mengancam, "...hidup kita berdua di sekolah bakal hancur. Dan saya tidak mau reputasi saya rusak cuma karena berstatus sebagai suami dari cewek pembuat masalah ini."
"Heh! Muka lo yang bakal hancur kalau orang-orang tahu ketua OSIS idaman mereka ternyata nikah sama cewek yang paling dia benci!" sembur Naya tak mau kalah.
Raka dan Adrian saling berpandangan, lalu tersenyum tipis. Sebuah kesepakatan implisit telah tercapai di antara para orang tua.
"Baik," kata Om Adrian. "Pernikahan akan digelar secara tertutup akhir minggu ini. Hanya keluarga inti yang hadir. Tapi ingat, begitu kalian resmi menikah, kalian harus tinggal di rumah ini bersama."
"WHAT?!" Naya dan Arka berteriak serentak, suara mereka bergema memenuhi seluruh ruangan.
Naya menatap Arka dengan pandangan horor, sementara Arka hanya bisa menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menghembuskan napas berat seolah-olah seluruh beban dunia baru saja dijatuhkan di atas pundaknya.
Malam itu, Naya tahu... masa-masa SMA-nya yang damai resmi berakhir.