Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35: Hukuman
"Tidak usah. Kita habiskan saja waktu bersama seperti ini, hem?"
Nara merasa tak nyaman di dekatnya. Ingin sekali ia lari sekarang, tapi kakinya masih sakit. Terpaksa ia menjawab, "Baiklah. Aku suka melihatmu bahagia."
"Hem?" Pria itu bergumam manja. Dia mengecup cuping telinga Nara sekali lagi. Pria itu menopang dagunya di bahu kanan Nara. "Aku capek."
"Perlu kuurut?"
"Tidak usah. Rasa capekku sudah hilang saat kau bersamaku. Rasanya ... aku telah mendapat apa yang kuinginkan. Aku lebih tenang," kata pria itu dengan sangat manja.
"Oh, baguslah."
Drrtt... Drrtt... Drrtt....
Ponsel milik pria itu di meja kerja berdering. Sudah tiga kali berdering, tapi pria itu tak memedulikan siapa yang menelpon.
"Lorence, ponselmu berdering," Nara mengingatkannya lagi.
"Biarkan. Aku sedang tidak ingin menerima panggilan."
"Lorence, aku takut itu hal yang penting."
"Aku tidak peduli itu penting atau tidak. Jangan memaksaku mengangkat teleponnya, Sayang. Aku tidak suka."
"Baiklah. Aku mesti diam saja jika ada apa-apa."
"Mungkin."
Nara duduk dengan tegang di pangkuan serta di dekapan pria itu. Wangi parfum menusuk indra penciumnya. Dia benar-benar tak nyaman. Ingin dia katakan yang sebenarnya, tapi pria itu pasti akan menahannya lagi.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?"
"Sampai aku puas. Mengerti?"
Oh, tidak! Puas? Kapan dia akan puas? batin Nara.
"Kau tidak nyaman bersamaku?" tanya pria itu seakan tahu tentang pikiran Nara.
"Kenapa kau tanya seperti itu?"
"Aku merasakannya, jadi kau tak usah berbohong padaku."
"Lorence, aku akan menyiapkan ini untukmu. Bagaimana?" Nara mengalihkan pembicaraannya.
Nara bersikeras untuk membantunya karena Nara tahu berkas-berkas seperti itu sangat penting baginya.
"Tidak usah. Aku ingin kita tidak mengerjakan apa pun."
"Tapi, kau, kan, harus bekerja."
Pria itu menegakkan badannya. Tangan kirinya langsung mencengkram pipi Nara. Dia menghempaskan badannya ke sandaran kursi sembari menarik Nara ke dekapannya. Dia mengarahkan wajah Nara dengan paksa ke wajahnya.
"Aku bilang, aku malas menyelesaikan tugas ini, mengerti?"
Menatap mata pria itu, bukanlah keahlihan Nara. Nara langsung mengarahkan tatapannya ke arah lain.
"Aku-aku mengerti," jawab Nara terpatah-patah. Saat Nara menoleh ke arah lain, dia langsung mengarahkan wajah Nara ke arahnya lagi. Nara tak berani menatap matanya, jadi dia menatap bibir tipis pria itu.
"Tatap mataku," pintanya. Nara menggeleng. Cengkraman di pipi Nara, memudahkannya untuk menghentikan gerakan Nara. Nara tak ingin mengalihkan tatapan ke mata pria itu. Mata lihai dengan tatapan tajam, dapat membunuh batinnya dalam sekejap. Jantung bisa berdebar tak normal.
"Lorence, aku tidak berani," jawab Nara jujur dengan kata-kata yang sulit didengar karena tertahan. Pria itu tersenyum miring, mengingatkan Nara betapa licik dia.
"Aku bilang, tatap aku," pintanya sekali lagi. Kali ini, Nara tak bisa melanggar permintaannya. Dengan tekun dialihkan tatapannya ke mata pria itu. Tubuh Nara bergidik. Jantung berdebar cepat. Nara memejamkan mata.
"Lama," titahnya. Nara menggeleng lagi, namun ditahan dengan cengkramannya. "Lama, Nara."
"Aku tak buisa," kata Nara tak jelas. Nara membuka mata dan menatapnya.
"Kubilang, lama, Nara. Kenapa susah? Kau hanya boleh berkedip sesekali. Ini hukuman untukmu."
Nara menggeleng sambil memejamkan mata lagi. "Aku minta maaf, Lorence. Lorence ... aku tidak bisa," kata Nara sambil mengeratkan tangan di kerah jas Lorence.
"Maka kau harus memuaskan nafsuku hari ini?" kata pria itu.
"Tuidak, Lorence. Kakiku suakuit. Tuidak buisa," tolak Nara. Pria itu geram jika ada orang yang menolak.
"Hanya ciuman."
Nara menggeleng. Kini, dia membuka mata dan menatap pria itu.
"Ini percobaan terakhir untukmu, Nara." Nara merasa tertantang. Nara mengingat semua keburukan pria itu agar menambah keberanian, mulai dari pembunuhan orang tua, berlanjut saat dia merenggut reputasinya. Lama, benar... bisa ditatap lama jika ada amarah seperti itu.
"Kau marah?" Pertanyaannya seakan membaca apa yang ada di pikiran Nara. Tapi, bagaimana dia bisa tahu? Apakah dia hanya menebak?
Nara tak menjawab pertanyaan pria itu. "Sudah. Berarti hukumanmu hangus." Pria itu menyudahi. Dilepaskan cengkraman di pipi Nara.
Nara mengalihkan tatapan ke arah lain. Akhirnya, aku bisa menatapnya. Kaki sialan! Aku tak bisa berjalan hari ini! batin Nara.
"Aku ingin ke kamar untuk istirahat." Nara mendaratkan kedua kaki. Tangannya bertumpu di meja. Dia mencoba untuk berdiri. Pria itu langsung melilit perut Nara. Nara terduduk di pangkuannya kembali.
"Siapa yang menyuruhmu untuk berdiri?"
"Aku bilang, aku ingin ke kamar, 'kan?"
"Apa aku bilang 'iya'?"
"Kau tak bilang, tapi seharusnya aku bisa ke kamar."
"Lama-kelamaan, kau selalu membantahku."
"Dan kau selalu melarangku. Itu adil!" Nara mencoba melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya.
"Demi kebaikanmu, 'kan? Kakimu sakit. Kau mana bisa ke kamar."
"Trus? Apa?"
"Diam saja di sini. Sebentar lagi kita kembali."
"Aku tidak sabar!" Nara teringat sesuatu. "Bukannya kau ke pesta hari ini? Ah, mungkin tadi temanmu yang menelpon. Dia pasti menanyakan kau datang ke sana atau tidak."
"Bawel. Aku tak peduli soal itu."
Nara meneguk ludah. Dia berharap pria itu bisa membawanya kembali ke kamar secepat mungkin. Jalan tidak boleh. Membantah tidak boleh. Lama-lama jadi boneka yang bisu dan tak bisa berjalan ke mana-mana.
-oOo-
Pria itu menghadap ke kiri. Jari jemarinya menyentuh pipi Nara. "Aku ingin pernikahan kedua kalinya dilaksanakan." Dia tersenyum manis pada Nara, namun Nara hanya membalas senyumannya dengan paksa.
Sentuhannya menuju batang hidung. "Imut sekali. Aku benar-benar tak sabar," katanya lagi.
"Kenapa? Bahkan aku biasa-biasa saja. Pernikahan kedua... rasanya melelahkan."
Aku harus cepat pergi dari sini. Kalau tidak, aku tidak bisa keluar dari kehidupannya lagi! Pernikahan kedua, itu butuh tanda tangan asliku. Dia licik! Jika tidak secepat mungkin aku pergi dari sini dan menemui orang-orang yang bisa membantuku, jangan harap aku bisa bertemu mereka lagi suatu hari. Aku akan berada di perangkapnya, seperti anjing baik, batin Nara.
"Oh, ya? Lelah, tapi membahagiakan, bukan?"
Nara mengangguk agar menutupi kenyataan selama ini.
Tapi kapan? Aku harus bisa berjalan dulu! Lekaslah sembuh! batin Nara menyemangatinya.
"Aku mungkin tidak di rumah besok." Kalimat itu lantas membuat Nara senang setengah mati sampai meneguk ludah berkali-kali. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu.
"Oh. Kau kerja? Sibuk?" Nara pura-pura perhatian.
"Ya. Aku menyuruh pelayan untuk mengawasi dan merawatmu."
"Jam berapa kau akan pulang? Kau tidak tahu aku rindu denganmu?" Nara berpura-pura lagi. Tangan Nara mengelus pipi pria itu. Ini menjijikkan! batin Nara.
"Mungkin aku akan pulang jam 6 sore."
"Cukup lama ... besok aku akan sendiri." Padahal, besok Nara akan kabur dari rumah. Nara tak sebodoh yang dia pikirkan.
"Tidak apa-apa. Aku akan pulang lebih awal jika aku bisa."
"Aku tidak akan memaksa jika tidak bisa."
"Untuk istriku, apa yang aku tidak bisa lakukan?"
Nara tersenyum. Setelah kau pulang besok, aku tidak akan berada di kamar ini. Reputasimu akan hancur, batin Nara.
"Baik, tidurlah." Pria itu mengecup kening Nara.
Menjauhlah dariku, Lorence. Hidupku bagai penjara, batin Nara.
-oOo-
Nara, kamu pasti bisa!
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP