Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Bianca
Suasana di ruang kerja CEO berubah jauh lebih ramai dari biasanya. Jika biasanya yang terdengar hanya suara ketikan keyboard dan dering telepon, hari ini sesekali terdengar suara tawa kecil Elora.
Balita itu sudah berpindah ke atas sofa dengan beberapa lembar kertas di depannya. "Papa." panggilnya lalu menoleh ke arah Elvano yang sibuk mengetik sesuatu di atas meja.
"Hm?" jawab pria itu tanpa memalingkan wajahnya.
"Aku sudah selesai kerja." ucap Elora yang membuat Elvano memalingkan wajahnya.
"Mana hasilnya?"
Dengan bangga, Elora berlari menghampiri ayahnya sambil membawa gambar yang penuh dengan coretan warna-warni. "Ini."
Elvano menerima kertas itu dengan wajah serius. Nara yang melihatnya hampir tertawa. "Masa gambar seperti itu diperiksa dengan serius?" batinnya gemas.
Beberapa detik kemudian, Elvano mengangguk pelan. "Hasil kerjanya bagus." ucapnya sambil memasang wajah serius.
Mata Elora langsung berbinar. "Yeay." dia bersorak kegirangan.
"Tapi..." Elvano sengaja menggantung kalimatnya. Dia melirik anaknya dengan tatapan jahil.
"Setelah bekerja, karyawan harus menerima gaji." sambungnya yang membuat anak itu bingung.
"Gaji?" Elora memiringkan kepalanya. Dia tidak tahu gaji itu apa?.
Elvano dengan cepat membuka laci mejanya, lalu mengeluarkan sebatang cokelat kecil. "Ini gajimu."
"Wah!" mata anak itu berbinar-binar. Elora langsung mengambil dan memeluk cokelat itu erat.
"Terima kasih, Papa Bos." Kalimat polos itu membuat Nara spontan tertawa.
Bahkan Raka yang baru masuk membawa dokumen ikut terkekeh. "Papa Bos?"
Elora mengangguk mantap. "Iya. Papa kan bosnya Elora." sahut anak itu polos.
Raka menundukkan kepala sambil menahan tawa.
Dia menoleh ke arah Elvano. "Kalau begitu, selamat ya, Pak. Hari ini Bapak resmi menggaji karyawan termuda di perusahaan."
Elvano hanya menggeleng kecil. "Sepertinya begitu."
Tidak lama kemudian, perut Elora berbunyi pelan.
Kruuuk...
Balita itu langsung menutup perutnya. "Lapar." keluhnya.
Nara melirik jam. "Memang sudah waktunya makan siang." "Ayo kita ke kantin."
Raka langsung menggeleng cepat lalu menghampiri Nara. "Bu, jangan ke kantin."
Nara berkedip bingung. "Kenapa?" dia kan rindu makanan kantin kantor.
"Nanti semua orang berhenti makan karena melihat Pak CEO datang." ucap Raka yang ada benarnya. Karena banyak karyawan yang suka memuja ketampanan Elvano, bahkan ada yang terang-terangan menggoda pria itu namun berakhir di pecat oleh Elvano.
Elvano mengangguk pelan. "Benar."
"Lalu kami makan siang dimana?" tanya Nara yang memang sudah lapar.
"Kita makan di restoran dekat kantor." putus Elvano. Dia langsung membereskan beberapa berkas dan pekerjaan nya.
Elora langsung menggandeng tangan Elvano dan juga tangan mamanya, jadilah mereka bertiga bergandengan tangan.
Ketiganya berjalan santai menuju pintu keluar. Namun baru beberapa langkah, seorang karyawan perempuan tidak sengaja menjatuhkan map yang dibawanya.
Bruk....
Puluhan berkas berserakan di lantai. "Aduh." pekik wanita itu panik.
Tanpa berpikir panjang, Nara ikut berjongkok membantu memungut dokumen-dokumen itu. "Terima kasih, Bu." ucap karyawan itu tampak gugup.
"Lain kali hati-hati." ujar Nara yang diangguki karyawan itu. "Iya, Bu."
Tidak jauh dari sana, beberapa karyawan kembali saling berbisik.
"Itu benar Bu Bianca?"
"Kalau dulu, beliau pasti langsung lewat."
"Sejak kecelakaan, dia benar-benar berubah."
Elvano mendengar semua bisikan itu. Namun entah kenapa, dia justru merasa perubahan itu bukan sesuatu yang buruk.
Di restoran, Elora duduk di antara Nara dan Elvano. Dia sibuk melihat-lihat buku menu.
"Mama." panggil anak itu.
"Hm?" gumam Nara tanpa memalingkan perhatiannya pada buku menu.
"Elora mau ayam boleh?" tanya anak itu meminta persetujuan.
"Boleh, tapi makan sayurnya juga ya." ucap Nara yang membuat Elora manyun. Elvano tekekeh kecil saat melihat wajah kesal anaknya.
"Sedikit saja ya mama." anak itu kembali menawar. Dia tidak suka sayur. Tapi papa dan mamanya selalu memaksanya makan sayur.
Nara tertawa kecil. "Kalau bisa di habiskan, nanti sayurnya nangis kalau tidak dimakan."
"Benarkah?" tanya anak itu polos. Jadi sayur yang tidak dia makan selama ini menangis.
Elvano mengelus rambut anak itu pelan. "Iya, jadi mulai sekarang, sayurnya harus habis." ucapnya ikut membohongi sang anak. Dan tanpa perlawanan, Elora mengangguk karena mengira jika ucapan orangtuanya itu benar.
Tidak lama kemudian makanan mereka akhirnya datang. Saat sedang makan, Elora melihat saus tomat di meja.
"Mama. Boleh gambar?" tanya anak itu membuat Nara bingung.
"Gambar apa?"
"Love." Nara belum sempat menjawab, Elora sudah menuangkan sedikit saus ke piring kosong lalu membuat bentuk hati yang bentuknya sangat aneh.
"Ini untuk Papa sama Mama."
Nara langsung tersedak. "Uhuk, Elora."
Sementara Elvano hanya terdiam menatap gambar hati berantakan itu.
Balita itu tersenyum bangga. "Kalau love berarti sayang."
Nara dan Elvano saling pandang beberapa detik.
Wajah Nara perlahan memerah. "Elora, makan dulu." tegur nya.
"Iya." Untung saja balita itu langsung kembali fokus pada makanannya.
Namun rasa canggung masih tersisa di antara mereka.
....
Sepulang dari makan siang, Elvano harus menghadiri rapat mendadak. "Aku ada rapat sekitar satu jam." kalian tunggu disini ya.
Nara mengangguk. "Siap."
Sebelum masuk ruang rapat, Elvano sempat menoleh. "Kalau bosan, bilang Raka. Dia akan mengantar kalian berkeliling."
"Iya."
....
Di ruangan Elvano.
Elora terlihat mulai mengantuk. Jadi Nara membaringkan putrinya di sofa lalu menyelimutinya. Tidak lama kemudian, balita itu akhirnya tertidur pulas.
Nara duduk di sampingnya sambil membaca buku. Suasana terasa damai.
Tiba-tiba. Ponselnya bergetar. Nomor tanpa nama.
Nara langsung menegang.
Dia keluar ke balkon kecil yang berada di samping ruang kerja Elvano.
"Halo."
"Bianca."
Suara Damian terdengar dingin. "Kelihatannya kau menikmati peran sebagai istri yang baik."
"Apa maumu?" tanya Nara dengan nada sinis.
"Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan sampai kau lupa siapa yang memegang rahasiamu."
Nara mengepalkan tangannya. "Aku tidak punya rahasia." desisnya.
"Oh ya?" Damian tertawa pelan.
"Kalau begitu. Bagaimana reaksi Elvano kalau tahu istrinya yang sekarang bukan Bianca yang sebenarnya?"
Wajah Nara langsung memucat. Tangannya gemetar. Dari mana Damian bisa mengatakan hal seperti itu?
Apakah pria itu tahu jika dirinya bukan Bianca?. Tapi tidak mungkin.
"Sampai jumpa lagi, Bianca."
Tut...
Sambungan telepon terputus.
Nara masih berdiri mematung. Dadanya berdebar semakin kencang.
Sementara di balik pintu balkon yang sedikit terbuka, seseorang baru saja selesai berjalan melewatinya.
Elvano.
Dia memang tidak mendengar seluruh isi percakapan itu Namun dia sempat mendengar satu kalimat.
Istrinya yang sekarang bukanlah Bianca yang sebenarnya?
Langkah Elvano terhenti.
Keningnya berkerut. "Apa maksudnya itu...?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, sementara Nara sama sekali tidak menyadari bahwa rahasia terbesar yang dia simpan perlahan mulai mendekati titik untuk terungkap.